<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2343012973253248181</id><updated>2012-03-06T22:47:45.220-08:00</updated><category term='Bahasa Indonesia'/><title type='text'>Kuliah Alternatif Online (KAO) Gratis!</title><subtitle type='html'>Kuliah Alternatif Online (KAO) kini hadir menawarkan pembelajaran yang sesuai dengan Abad 21. 100% GRATIS, SEBULAN 1X!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sampenulis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2343012973253248181/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sampenulis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>zamhari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-KV_ExL0eGO0/TizdxfjjPkI/AAAAAAAAAA4/uSmT3ZbfKe4/s220/zamhari.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2343012973253248181.post-7049004288729573070</id><published>2011-05-27T18:52:00.000-07:00</published><updated>2011-06-14T20:42:00.656-07:00</updated><title type='text'>3 LANGKAH SEDERHANA  Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat         Ahmad Zamhari Hasan</title><content type='html'>Cover Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berisi 3 Langkah Sederhana untuk sukses di dunia dan akhirat; 1. cara mudah untuk Belajar Sendiri, 2. Cara Berwirausaha Islami, dan 3. Cara menjadi Mukmin Sejati.  Tiga Tema dalam satu paket? Terobosan yang luar biasa. &lt;br /&gt;Percayalah! Anda benar-benar membutuhkannya untuk meraih keberhasilan dalam belajar, bekerja, usaha, dan menjalani kehidupan. Apalagi jika Anda mengikuti Pelatihan Learning For Living, wow dasyat sekali pengaruhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya Mencerminkan:&lt;br /&gt;“Kesederhanaan adalah sebagian dari iman,” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dan kerja, adalah kunci-kunci sukses baru menuju masa depan,” laporan Scans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sesungguhnya Takwa memiliki jalan sendiri. Apabila seseorang melalui jalan itu, maka nilai-nilai ketakwaan akan terpatri di dalam dirinya dan perbuatannya akan mencerminkan cahaya Al-Qur’an dan Hadits.” Sa’id Hawwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah, Pemilik keagungan, mencintai tiga perkara dari hamba-hambaNya, yaitu; Mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbakti kepada Allah SWT; menangis ketika sedih karena telah melakukan maksiat; dan bersabar ketika tidak punya sesuatu buat memenuhi kebutuhan.” Malaikat Jibril&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikutilah Pelatihan&lt;br /&gt;Learning For Living (LFL)                (FOTO TRAINER)&lt;br /&gt;LFL merupakan lembaga Pelatihan yang berupaya mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menaklukkan abad 21, mengasah keterampilan kewirausahaan, menemukan potensi manusia dan mengembangkannya, membentuk kepribadian unggul yang tahan uji dan beramal sholeh, didukung Trainer dan Tim berpengalaman. 15% dari ketuntungan disumbangkan pada Pesantren/Lembaga Pendidikan Gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka Tulis Tiwa Press Jakarta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEARNING FOR LIVING (LFL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 LANGKAH SEDERHANA &lt;br /&gt;Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Zamhari Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman judul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEARNING FOR LIVING (LFL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 LANGKAH SEDERHANA &lt;br /&gt;Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyrigt, Zamhari Hasan &lt;br /&gt;Penerbit, Ka TulisTiwa Press Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan I, Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar Penulis&lt;br /&gt;Alhamdulillah buku ini dapat diselesaikan berkat rahmat, hidayah, taufik dan ma’unah Allah, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Shalawat dan salam disampaikan pada Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan terbaik bagi segenap umat manusia di muka bumi.&lt;br /&gt;“Di antara kenikmatan dunia, cukuplah bagi Anda Islam; di antara kesibukan, cukuplah bagi Anda ketaatan, dan di antara pelajaran, cukuplah bagi Anda kematian sebagai pelajaran berharga bagi Anda.” Ali Bin Abi Thalib&lt;br /&gt;Selama ini begitu sulit rumusan yang dipergunakan untuk meraih kesuksesan di berbagai sendi kehidupan, baik di dunia maupun akhirat. Pasti dalam hati Anda terbetik “Kenapa tidak ada buku sederhana untuk sukses?” Buku ini adalah jawabannya.&lt;br /&gt;Buku ini merupakan panduan teoritis dan praktis yang berisi poin-poin penting yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, supaya  Anda mampu menjalani kehidupan yang lebih baik, mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan era global, mampu bangkit di saat krisis dan menaklukkan abad 21 ini.&lt;br /&gt;Isi buku ini sebenarnya merupakan pengembangan Modul Pelatihan Learning For Living (LFL) yang terdiri dari Belajar Otodidak, Wirausaha Islam, dan Mukmin Sejati. Untuk itu, bagi pembaca buku yang hendak mendalami isinya, menyimak penjelasan lengkap setiap poin-poin penting, mengintegrasikan dalam kepribadian dan merasakan manfaat secara langsung, dapat mengikuti Pelatihan LFL. Kebetulan Trainer juga penulis buku ini.&lt;br /&gt;Berhubung manfaat suatu Pelatihan hanya dirasakan dalam kurun waktu sebentar, terkadang seminggu atau tiga bulan saja, maka kehadiran buku ini tentu sangat penting. Diharapkan, mereka mampu memotivasi  dirinya sendiri dengan membaca buku ini, apalagi jika langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Terima kasih pada Habib Saggaf, Nurrohiem, Rahmat, Yan Heriyansyah,  dan guru Sekolah/Pesantren Gratis, semoga Allah senantiasa meridhoi langkah kita. Amin! Terima kasih yang tak terhingga pada semua guru yang pernah berjasa, kedua orang tua; Bapak Mohammad  Hasan dan Ibu Syarrah, Zubairi Hasan, Jumladi dan sahabat penulis di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;Langkah 1: Belajar Otodidak Seumur Hidup&lt;br /&gt;1. 7 Value in living&lt;br /&gt;2. Metode Mengetahui Gaya Belajar &lt;br /&gt;3. Cara Menemukan dan Mengembangkannya 10 Kecerdasan Berganda &lt;br /&gt;4. Beberapa Langkah Penting Agar Sukses Belajar Otodidak&lt;br /&gt;5. Memiliki Kompetensi Pendukung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2 : Menekuni Wirausaha Islam&lt;br /&gt;1. Makna kewirausahaan  &lt;br /&gt;2. Perpaduan ‘Azm dan Tawakkal&lt;br /&gt;3. Cara Sukses Berwirausaha Islami&lt;br /&gt;4. Tes Wirausaha Islami&lt;br /&gt;5. Makropreneur dan Nilai-Nilainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 3: Menjadi Mukmin Sejati&lt;br /&gt;1. Berislam dengan benar&lt;br /&gt;2. Membentuk Kepribadian Mukmin Sejati &lt;br /&gt;3. Menjalani Kehidupan Sehari-Hari&lt;br /&gt;4. Tes Mukmin Sejati&lt;br /&gt;5. Meningkatkan Kualitas Keimanan&lt;br /&gt;Profil Pelatihan LFL (Learning For Living)&lt;br /&gt;Profil Trainer atau Penulis&lt;br /&gt;Bahan Bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami Bukan Saya&lt;br /&gt;Gelega hati membara membakar tubuh yang kian renta, hawa panas menyelimuti tak kira rasa, letupan hasilkan bara api berkobar, hanguskan segenap yang ada, tak peduli apa-apa.&lt;br /&gt;Dalam buaian api membara, kekuatan pikiran seperti bangkai tak berguna, terjerembab dalam tong sampah, hanya para pemulung yang bisa mengambil manfaat, mestikah kita jadi pemulung tuk bisa ambil manfaat.&lt;br /&gt;Menarik nafas perlahan kecilkan bara api, tenangkan diri dengan bisikan Ilahi, asma Allah mengalun merdu penuhi jiwa, basuh bara api dengan air kehidupan, rona muka memerah merona sawo matang, degub jantung bergerak cepat jadi normal, hati nurani terbuka kembali.&lt;br /&gt;Hati nurani mampu atasi bara api, pikiran tak mampu melakukannya, pikiran berfungsi normal berkat bantuan nurani, pikiran tak bisa dibiarkan bergerak sendiri sebagaimana api semakin berkobar dengan kayu. &lt;br /&gt;Rasionalitas adalah produk unggulan Barat yang dijual dengan harga murah meriah.&lt;br /&gt;Ketika segala sesuatu bernilai jual, pikiran bukan lagi sesuatu yang bernilai, pikiran bukan lagi barang antik, pikiran sudah menjadi barang murahan yang di jual di Mall. &lt;br /&gt;Aneh bin ajaib, umat Islam terlena dalam buaian pikiran, meninggalkan nurani pada tong sampah, padahal pikiran dan nurani berjalan seiring dalam keislaman, sesuatu yang tidak dimiliki Barat.&lt;br /&gt;“Alah…! Kami menikmati kehidupan kosmopolit dengan cara melacurkan diri pada Barat, kami keruk kekayaan mereka tuk diri sendiri, tak peduli menginjak-injak nilai Islam, tak peduli Al-Qur’an dan Sunnah; keberadaannya antara ada dan tiada, tak peduli ajaran-ajaran Islam; sesuatu yang tak mampu menangkap nilai-nilai kebaruan. Kami hidup karena Barat, oleh Barat, dibentuk Barat, dan mematuhi Barat.”&lt;br /&gt;Beruntung kami bukan saya, saya tak mau menjual diri demi harta yang tak bisa dibawa ke kubur, saya tidak rela menjadi pelacur meski hidup dalam kekurangan, saya tidak bisa menyamakan diri dengan mobil, rumah, kartu kredit dan popularitas: benda-benda itu tetap objek, saya sebagai subjek.&lt;br /&gt;Islam agama yang mampu mensinergikan semesta; dunia, alam kubur, dan akhirat, dalam kesatuan makna yang hakiki. Islam menumbuhkan keyakinan untuk hidup, Islam memperkuat dasar-dasar jalani hidup penuh arti. Islam mengajarkan berbuat, membela sesama, menegakkan kebenaran hakiki, dan mewarnai kehidupan dengan tinta-tinta emas sejarah. Islam menyatukan; imajinasi, panca indera, pikiran, perasaan, tubuh dan hati nurani dalam kesatuan utuh, hanya saja umatnya tak mampu bersikukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 1: Belajar Otodidak Seumur Hidup&lt;br /&gt;“Tuntulah Ilmu dari pangkuan Ibu sampai ke Liang Lahat,” Hadits&lt;br /&gt;Ruang kelas terbaik di Negara ini atau Negara manapun bukanlah di sekolah atau universitas,  tapi berada di sekitar meja makan di rumah Anda. Dr. Richard Berenden dalam The Creating The Future.&lt;br /&gt;Mengapa di ruang makan? Sebab di sinilah sebuah keluarga menikmati makan dengan senang hati sambil berbicara tentang berbagai hal yang dialami. Tanpa disadari, pembicaraan yang ada, sebenarnya merupakan bentuk pendidikan yang efektif bagi keluarga. Bukankah untuk membangun suatu bangsa yang besar, dimulai dengan membangun keluarga? Meja makan Anda adalah tempat terbaik untuk belajar. Apalagi jika para orang tua semenjak saat ini mengatur sebuah pembelajaran terpadu dengan mempersiapkan satu nasihat, satu kalimat hikmah, satu pesan moral atau satu ayat Al-Qur’an/Hadits, setiap makan bersama, dengan tetap dalam suasana santai dan gembira. Buku ini dapat dijadikan panduan. Penyampaiannya dilakukan seakan-akan spontan sesuai keadaan, masalah yang dihadapi anak, dan kebutuhan waktu itu. Jangan kaget, ketika anak-anak mereka sukses kelak, mengakui secara jujur bahwa guru terbaiknya adalah orang tua. Ini berarti setiap orang harus mau belajar sendiri seumur hidup.&lt;br /&gt;Makna Belajar Otodidak (BO)&lt;br /&gt;1. Definisi BO adalah pembelajaran yang dilakukan seseorang atas kemauan, tekad dan keinginan sendiri, meski terkadang belajar pada orang lain&lt;br /&gt;2. Prinsip utama BO: Filosofi air yang berusaha menembus batu, butuh proses, waktu, ketekunan dan kegigihan untuk berhasil.&lt;br /&gt;3. Ilmu itu seperti air yang dituangkan ke dalam gelas, jika terlalu banyak tumpah, jika terlalu sedikit kita kehausan, jadi secukupnya sesuai kebutuhan dan langsung diminum. &lt;br /&gt;Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Anda memerlukan pegangan nilai-nilai untuk mampu beradabtasi dengan era global atau informasi; zaman ketikdakpastian, kerancuan nilai, resesi ekonomi dunia, kompleksitas masalah dan pemanasan global. Setelah melewati proses panjang, akhirnya ditemukan 7 nilai penting.&lt;br /&gt;“Orang yang paling berbahagia adalah yang mempunyai hati alim, badan sabar dan ridha dengan apa yang ada di tangannya.” Ahli Hikmah&lt;br /&gt;7 Value in living (BPKM SB2):&lt;br /&gt;1. Belajar Otodidak (BO) Seumur Hidup; menghadapi perkembangan pesat di bidang teknologi dan informasi, akselarasi perubahan dan kenyataan hidup, diperlukan kemauan yang kuat dalam diri setiap orang untuk belajar sendiri seumur hidup. Jika dulu pembelajaran seumur hidup Lifelong Education dianggap slogan, kini menjadi keharusan, jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk gagal, putus asa, dan terpinggirkan.&lt;br /&gt;2. Proses dan Hasil; pembelajaran merupakan sebuah proses terus menerus dalam upaya membentuk kepribadian yang unggul secara permanen, proses ini berlangsung seumur hidup, sebab manusia paripurna dicapai ketika kematian menjemput. Tapi Anda butuh hasil jangka pendek yang kasat mata; peningkatan pengetahuan, peningkatan nilai ujian dan penghasilan, jenjang karir atau jabatan, keahlian beberapa bidang ilmu secara mendalam, dan mengelola Wirausaha yang menguntungkan.&lt;br /&gt;3. Kerja Sama; abad 20 merupakan zaman persaingan dengan prinsip seleksi alam atau yang kuat akan menjadi pemenang, sehingga memaksa setiap orang untuk saling menjatuhkan, maka dalam abad 21 justru nilai utamanya ialah kerja sama. Jika Anda ingin sukses, maka harus memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan siapa saja dalam upaya mengembangkan usaha, karir dan pekerjaan, sehingga secara otomatis meningkatkan kualitas hidup.&lt;br /&gt;4. Mandiri; kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup, membuat Anda mampu menjalani kehidupan sesuai yang diinginkan. Jika Anda mampu melakukan sesuatu yang Anda mau, sebenarnya Anda adalah orang sukses, sebab seringkali Anda tidak mampu melakukan apa yang Anda mau walau materi serba berkecukupan. Kemandirian dapat dicapai jika Anda mampu memanfaatkan peluang yang ada di depan mata dengan tanpa memilih-milih pekerjaan atau usaha. Jalani usaha/pekerjaan yang ada, tekuni, kembangkan, evaluasi dan kelola keuntungan!&lt;br /&gt;5. Semangat Pantang Menyerah; menjalani kehidupan penuh liku-liku, jalan terjal, masalah, kesulitan, tantangan dan penderitaan, selama Anda tidak mengenal kata “Menyerah” insya Allah Anda berhasil. Batasan untuk menyerah ialah kematian, artinya jangan pernah menyerah selama Anda masih hidup. Ingat! Thomas Alva Edison mengatakan bahwa dengan menyerah sebenarnya seseorang sudah sangat dekat dengan keberhasilan. Ingat! Ibnu Hajar belajar 10 tahun justru tidak mampu menyerap ilmu yang dipelajari alias merasa bodoh, namun dengan melihat air yang menetes sedikit demi sedikit mampu menembus batu, justru menjadi Tokoh Islam terkemuka yang banyak melahirkan Ulama’ dan Ilmuan.&lt;br /&gt;6. Beriman Penuh Keyakinan; orang Barat lari pada spritualitas karena kebingungan menghadapi era global ini, sebab kehidupan mereka menjauh dari nilai-nilai agama. Spritualitas Islam yang diwujudkan dengan keimanan penuh keyakinan tanpa keraguan, terbukti menjadi pegangan hidup bagi umat Islam yang mampu mencapainya. Untuk itu, dalam menjalankan ibadah sehari-hari, Anda melakukannya sepenuh hati, menjadikannya sebagai kebutuhan hidup dan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;7. Bahagia Dunia dan Akhirat; apalagi yang ingin dicapai jika sudah mampu bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini dapat diraih, jika mampu mengisi kehidupan dengan hal-hal yang bermanfaat, menjalani hidup apa adanya, berbuat baik secara tulus, memiliki manajeman konflik yang baik, beramal sholeh dan melakukan segala sesuatu guna memperoleh ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Mengetahui dan Memahami Gaya Belajar&lt;br /&gt;“Tujuan terpenting pendidikan adalah belajar bagaimana belajar.” Luis Alberto Machado, Ph.D. &lt;br /&gt;Setiap orang memiliki gaya unik masing-masing individu. Dalam berbagai penelitian di Barat ditemukan 3 Gaya Belajar yakni Visual, Auditori dan Kinestetik (VAK). Anda pahami dulu ketiganya, lalu temukan Gaya Belajar yang cocok dengan diri Anda dengan mengisi Tes Metode Mengetahui Gaya Belajar, insya Allah Anda memahami apa yang dimaksud Belajar Bagaimana Belajar (BBB) seperti yang diharapkan Luis Alberto Machado, Ph.D. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya Belajar Unik Masing-Masing Individu (VAK)&lt;br /&gt;Pembelajar Visual ; Memiliki indera mata yang kuat. Beberapa tips untuk Anda;  &lt;br /&gt;1. Memperhatikan dengan seksama proses pembelajaran, &lt;br /&gt;2. Membuat kesimpulan buku dengan menggunakan cara dan bahasa sendiri&lt;br /&gt;3. Membuat kata kunci sepert VAK (Visual, Auditori dan Kinestetik), penjelasan maksud diingat dan disampaikan kembali pada orang lain &lt;br /&gt;4. Berlatih berbicara sendirian dan di depan umum&lt;br /&gt;5. Perlu memanfaatkan waktu kosong dengan merenungkan sesuatu, membaca, menulis, dan menggambar.  &lt;br /&gt;6. Kata Kunci; Melihat, Membaca dan Berbicara.&lt;br /&gt;Pembelajar Auditori; Memiliki indera pendengaran yang tajam. Beberapa tips untuk Anda;   &lt;br /&gt;1. Merekam kesimpulan setiap pelajaran di tape atau Hp, lalu mendengarkan hasil rekaman saat belajar sendiri. &lt;br /&gt;2. Perlu merangsang diri untuk banyak bertanya, &lt;br /&gt;3. Berbicara pada diri sendiri dan bermain drama. &lt;br /&gt;4. Memperdalam suatu bidang ilmu sesuai minat dan kesenangannya, ketika sampai pada titik ini, maka semangat belajar membara dan motivasi meningkat. &lt;br /&gt;5. Mengisi waktu kosong dengan berdongeng/bercerita pada orang lain, bermain musik, bernyanyi, berdebat dan berfilosofi (mengungkapkan kalimat-kalimat penuh makna), &lt;br /&gt;6. Kata Kunci Membaca yang disukai, Menderngar dan Bertanya.&lt;br /&gt;Pembelajar Kinestetik: Memiliki tubuh yang penuh potensi. Beberapa tips untuk Anda;  &lt;br /&gt;1. Membaca buku di tempat terbuka, &lt;br /&gt;2. Paling  baik belajar dengan tindakan fisik dan mengetahui secara langsung lewat pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;3. Belajar sambil menggerak-gerakkan kaki/tangan. &lt;br /&gt;4. Fokus pada buku yang dipelajari selama 7 menit, lalu jalan-jalan sambil mencerna yang dibaca, begitu terus sampai waktu 1 jam belajar tiap hari selesai. &lt;br /&gt;5. Menggunakan waktu kosong untuk; membuat kerajinan tangan, berkebun, merawat tanaman, olah raga, dan memperbaiki barang yang rusak (teknik). &lt;br /&gt;6. Kata kunci Membaca sambil bergerak, Praktik dan Kreativitas fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lingkungan yang positif dan kaya emosional bukan barang mewah tetapi sungguh merupakan kebutuhan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik pada abad 21,” Dr. Koburo Nabayasyi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Mengetahui Gaya Belajar!&lt;br /&gt;Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang cocok bagi Anda; &lt;br /&gt;kepribadian, minat atau kesenangan, dan tingkah laku.&lt;br /&gt;1. a) Duduk tegak saat membaca buku&lt;br /&gt; b) Sering mengangguk-anggukkan kepala sambil membaca &lt;br /&gt;    c) Suka mempermainkan fulpen/kertas dan menggerakkan kaki sambil membaca&lt;br /&gt;2. a) Suka Berhubungan dengan orang lain secara langsung yakni bertemu antar wajah&lt;br /&gt; b) Suka berhubungan dengan orang lain melalui telepon/Hp atau internet&lt;br /&gt; c) Suka berhubungan dengan orang lain sambil melakukan hal lainnya&lt;br /&gt;3. a) Melihat lurus ke depan atau memandang ke pendidik&lt;br /&gt;    b) Melihat ke kiri dan ke kanan atau ke bawah saat pembelajaran.&lt;br /&gt;    c) Seorang yang melihat ke kanan (padahal bukan kidal) atau ke atas saat pembelajaran&lt;br /&gt;4. a) Jika berbicara cepat&lt;br /&gt;    b) Berbicara dengan suara yang berirama&lt;br /&gt;    c) Berbicara dengan lambat atau terpatah-patah.&lt;br /&gt;5. a) Punya ingatan yang bagus walau beberapa hari lalu.&lt;br /&gt;    b) Menghapal kata-kata atau gagasan yang pernah diucapkan&lt;br /&gt;    c) Ingat lebih baik menggunakan alat bantu teknologi/alat peraga&lt;br /&gt;6. a) Tidak merasa bosan duduk lama mendengarkan materi pembelajaran&lt;br /&gt;    b) Kadang merasa bosan dan tidak, suka belajar di ruangan&lt;br /&gt;    c) Merasa bosan duduk lama dan senang belajar di luar di luar ruangan&lt;br /&gt;7.a) Senang membaca buku &lt;br /&gt;   b) Senang bertanya &lt;br /&gt;c) Senang belajar sambil praktik&lt;br /&gt;8. a) Suka mengisi TTS dan menonton &lt;br /&gt;    b) Suka mendengarkan radio, drama dan diskusi/telewicara&lt;br /&gt;    c) Menyukai kegiatan sosial, olahraga atau lintas alam.&lt;br /&gt;9. a) Selera berpakaian penuh gaya&lt;br /&gt;    b) Selera berpakaian yang penting merk&lt;br /&gt;    c) Selera berpakaian sederhana&lt;br /&gt;10 .a) Menyatakan emosi dengan ekspresi muka&lt;br /&gt;      b) Mengungkapkan emosi melalui kata-kata atau ucapan&lt;br /&gt;      c) Mengungkapkan emosi melalui gerak tubuh seperti memukul&lt;br /&gt;11. a) Aktivitas kreatif; menulis, menggambar dan melukis&lt;br /&gt;      b) Aktivitas kreatif; berdongeng, bermain musik, menyanyi dan berdiskusi &lt;br /&gt;      c) Aktivitas kreatif; kerajinan tangan, berkebun, menari dan olah raga&lt;br /&gt;12. a) Saat diam suka melamun atau menatap ke angkasa&lt;br /&gt;     b) Saat diam suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri&lt;br /&gt;     c) Saat diam selalu merasa gelisah, tidak bisa duduk tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjawab, coba dihitung mana yang terbanyak jawabannya &lt;br /&gt;1. Kalau jawabannya banyak a) berarti Anda Pembelajar Visual.  &lt;br /&gt;2. Kalau jawabannya banyak b) berarti Anda Pembelajar Auditori &lt;br /&gt;3. Kalau jawabannya banyak c) berarti Anda Pembelajar Kinestetik&lt;br /&gt;4. Anda dapat memanfaatkan semua Gaya Belajar di atas, jika telah mampu mempraktikkan satu Gaya Belajar yang sesuai dalam kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut dari hasil tes, diperlukan beberapa langkah praktis dalam belajar. Inilah Tips sederhana dalam belajar 5 M:&lt;br /&gt;1. Membaca 10 menit setelah pulang sekolah dan bangun tidur&lt;br /&gt;2. Menyediakan waktu 2 jam setiap hari untuk belajar (membaca/menulis/berpikir)&lt;br /&gt;3. Menyenangi apa yang dipelajari&lt;br /&gt;4. Menyukai semua guru agar dapat barokahnya&lt;br /&gt;5. Membuat suasana dan tempat belajar yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seekor ulat tergelantung di pohon, dia bergerak pelan-pelan untuk mencapai puncak, tapi akhirnya sampai juga, di waktu berbeda ulat di atas tali bergoyang terkena hembusan angin kencang, namun sampai juga merayap ke puncak.” Ahmad Zamhari Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Menemukan dan Mengembangkan 10 Kecerdasan Berganda &lt;br /&gt;Menurut Howord Gardner terdapat 8 Kecerdasan Berganda (Multiple Intelegences) Versi Howard Gardner, sedang penulis yang sudah melakukan penelitian sederhana terhadap 1000 orang lebih selama 2 tahun menemukan 2 kecerdasan tambahan yakni Kecerdasan Otodidaktor dan Kecerdasan Spritualitas, jadilah 10 Kecerdasan Berganda. Untuk mampu menaklukkan Abad 21 Anda harus mampu mengembangkan minimal 4 Kecerdasan Berganda yang dimiliki. Berikut ini uraian 10 Kecerdasan Berganda yang disertai dengan metode mengetahuinya!&lt;br /&gt;1. Kecerdasan Linguistik (Kemampuan Mengeksplorasi Bahasa), yang harus Anda lakukan ialah; bercerita, bermain permainan ingatan dengan nama, membaca dan menulis cerita, melakukan permainan kosa kata, mengerjakan teka-teki, padukan membaca dan menulis, menulis dengan kata-kata sendiri, berdebat, berdiskusi dan berceramah atau pidato. (Hamka, Hatta, Ibnu Taimiyah) &lt;br /&gt;2. Kecerdasan Matematis Logis (Kemampuan Berhitung dan Bermain logika), yang harus Anda lakukan ialah; rangsang dengan pemecahan masalah, lakukan permainan berhitung dengan komputer atau kalkulator, gunakan logika (akal sehat/pikiran), miliki tempat untuk menghimpun semua hal, biarkan segala sesuatu diselesaikan secara bertahab, dan padukan kemampuan menghitung dengan materi lain.  (Habibie, Enstein)&lt;br /&gt;3. Kecerdasan Visual Spasial (Kemampuan Visualisasi yang kuat), yang harus Anda lakukan ialah; gunakan gambar untuk belajar, membuat buku corat coret khusus, padukan seni menggambar dengan pelajaran lain, gunakan gambar  di dinding sebagai perangsang, berpindah ruang untuk mendapatkan pandangan baru, gunakan grafik komputer, mengikuti kursus komputer desaign grafis, menggunakan peta konsep, sketsa, poster dan berlatih membuat iklan, drama atau video. (Dedy Mizwar, Affandi,George Wasington)&lt;br /&gt;4. Kecerdasan Musikal (Kemampuan Bermusik), yang harus Anda lakukan ialah; bermain alat musik, belajar lewat lagu, belajar diiringi musik lebih baik, bergabung dengan kelompok paduan suara, menulis nada musik, padukan musik dengan bidang lain, latihan menulis lirik atau puisi, menciptakan jenis musik tertentu, dan memanfaatkan komputer untuk mengembangkan kemampuan bermusik. (Iwan Fals, Bethhoven)&lt;br /&gt;5. Kecerdasan Kinestetik (Kemampuan Mengeksplorasi Tubuh) yang harus Anda lakukan ialah; gunakan latihan fisik sebagai upaya meningkatkan kecerdasan, gunakan gerak dalam belajar, dramatisasikan proses belajar, mempraktikkan apa yang dipelajari, melakukan kerajinan tangan, olah raga sebagai sarana memfokuskan diri, gunakan permainan peran dan pelajaran lapangan, menulis di buku harian atau catatan, sebaiknya belajar teknik. (Michael Schumacer, Valentino Rosi, Taufik Hidayat, Thomas Alva  Edison)&lt;br /&gt;6. Kecerdasan Interpersonal (Kemampuan Berhubungan dengan Orang Lain), yang harus Anda lakukan ialah; lakukan  aktivitas pembelajaran bersama, belajar kerja sama, memberi banyak waktu bersosialisasi, libatkan diri dalam organisasi, gunakan teknik belajar berpasangan, gunakan keterampilan berkomunikasi, padukan dengan semua mata pelajaran, jadikan proses  belajar mengasyikkan, bekerja dengan tim, ajari orang lain, gunakan sebab akibat. (Amien Rais, Hermawan Kertajaya, Jack Ma)&lt;br /&gt;7. Kecerdasan Intrapersonal (Kemampuan Mengeksplorasi diri), yang harus Anda lakukan ialah; lakukan pembicaraan dari hati ke hati, melakukkan pengembangan diri untuk mendobrak rintangan belajar, berpikir dan mendengarkan, lakukan studi mandiri, beri waktu merenungkan diri, dengarkan suara hati Anda dan diskusikan dengan teman, refleksikan apa yang dirasakan atau dipikirkan dalam tulisan, kontrol proses belajar, ajarkan bertanya dan ajarkan penguasaan diri. (Emha Ainun Nadjib, Frans Kafka)&lt;br /&gt;8. Kecerdasan Naturalis (Kemampuan Belajar dari Semesta); bertani atau berkebun sambil mencari cara-cara bercocok tanam yang baru, menangani secara langsung baru memahami rahasia dari sesuatu, belajar pada jagad raya, lingkungan dan bumi tentang bermacam-macam hal, menguasai tentang tanaman yang bernilai ekonomi tinggi seperti pertanian organik, mengelola lingkungan yang hijau dan Asri, dan mencintai keindahan alam. (Bob Sadino, Fauzi  Shaleh).&lt;br /&gt;9. Kecerdasan Otodidaktor (Kemampuan Belajar Sendiri), yang harus Anda lakukan ialah; belajar dari hal-hal kecil dan sederhana, membantu orang lain mendapatkan kemudahan dalam menyerap suatu makna dan hikmah, mengasah intuisi dengan melakukan kontemplasi (perenungan), mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, mempelopori sesuatu yang dianggap baru, senang membaca buku, pengalaman atau kenyataan, menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran dan melakukan kegiatan sosial.  (Irwan Hidayat, D Zawawi Imron)&lt;br /&gt;10. Kecerdasan Spritual (Kemampuan Spritualitas), yang harus Anda lakukan ialah; melakukan introspeksi diri terhadap perjalanan hidup yang dijalani, membaca dan mendalami Al-Qu’an/Hadits sebagai sarana mendapatkan ilmu atau hikmah, mendekatkan diri pada Allah melalui dzikir dan ibadah supaya komunikasi berlangsung intensif, dan berupaya mengajar atau memberikan ceramah (KH. Idris Jauhari, Ilham Arifin, Ary Ginanjar Agustian)&lt;br /&gt;Setiap orang sebenarnya memiliki banyak Kecerdasan Berganda melebihi yang disebutkan di atas, hanya untuk kesuksesan pembelajaran, peningkatan karier dan pekerjaan masa depan, perlu memfokuskan diri untuk mendalami satu atau dua Becerdasan Berganda saja dalam kurun waktu tertentu. Ahmad Zamhari Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Mengetahui Kecerdasan Berganda &lt;br /&gt;Lingkari atau silang dua kolom (a,b,c,d,e,f,g,h,i,j ), misalnya a) dan g) yang cocok bagi Anda; kepribadian, pemikiran, prilaku, minat, kesenangan dan keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. a) suka membaca buku&lt;br /&gt; b) suka berhitung&lt;br /&gt; c) suka seni, menggambar atau memahat&lt;br /&gt; d) suka menyanyi&lt;br /&gt; e) suka melakukan olahraga fisik        &lt;br /&gt; f) suka bekerja sama    &lt;br /&gt; g) senang melihat sisi batiniah manusia&lt;br /&gt; h) suka memelihara binatang peliharaan&lt;br /&gt; i) belajar dari  buku lebih mudah dari pada melalui orang lain&lt;br /&gt; j) senang membaca Al-Qur’an &lt;br /&gt;2. a) suka ceramah atau pidato &lt;br /&gt; b) suka pada ketepatan &lt;br /&gt; c) suka menggunakan metavora (perbandingan)&lt;br /&gt; d) sensitif (peka) terhadap nada&lt;br /&gt; e) memiliki kontrol terhadap obyek/sasaran&lt;br /&gt; f) pintar berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt; g) selalu melakukan penilaian terhadap diri sendiri&lt;br /&gt; h) dapat mengenali dan menamai pohon, tumbuhan, dan bunga yang beragam&lt;br /&gt; i) memiliki ego yang tinggi &lt;br /&gt; j) suka mempelajari sejarah para Nabi atau Ulama’&lt;br /&gt;3. a) berpikir  sistematis  (runut atau teratur)&lt;br /&gt; b) suka berpikir menggunakan angka &lt;br /&gt; c) berpikir dengan gambar&lt;br /&gt; d) sensitif terhadap warna nada musik&lt;br /&gt; e) berpikir mekanik ( seperti  putaran mesin )&lt;br /&gt; f) mampu membaca maksud hati orang lain&lt;br /&gt; g) memiliki perasaan yang kuat &lt;br /&gt; h) menyukai pengetahuan tentang tubuh bekerja dan kesehatan&lt;br /&gt; i) berpikir radikal atau ekstrim &lt;br /&gt; j) berpikir melingkar&lt;br /&gt;4. a) mampu berargumentasi (berpendapat dengan alasan kuat)&lt;br /&gt; b) menyukai keadaan yang teratur&lt;br /&gt; c) mudah membaca peta, grafik dan diagram&lt;br /&gt; d) sensitif terhadap kekuatan emosi musik&lt;br /&gt; e) belajar dengan bergerak lebih menyenangkan&lt;br /&gt; f) menikmati berada di tengah-tengah orang banyak&lt;br /&gt; g) memiliki kesadaran terhadap kemampuan diri&lt;br /&gt; h) suka bertani atau memancing&lt;br /&gt; i) menyukai keadaan yang tidak teratur&lt;br /&gt; j) memahami  tanda-tanda dari fenomena alam&lt;br /&gt;5. a) teratur dalam melakukan berbagai hal &lt;br /&gt; b) suka berpikir logis (masuk akal)&lt;br /&gt; c) memiliki indera warna yang hebat &lt;br /&gt; d) sensitif (peka) terhadap susunan musik yang rumit&lt;br /&gt; e) memiliki respon dan reflek yang bagus&lt;br /&gt; f) memiliki banyak teman&lt;br /&gt; g) peduli pada tujuan hidup&lt;br /&gt; h) senang bekerja di kebun atau halaman rumah&lt;br /&gt; i) memiliki insting (naluri yang alami) yang bagus&lt;br /&gt; j) memiliki indera keenam yang bersifat spiritual&lt;br /&gt;6. a) Memiliki kemampuan menulis&lt;br /&gt; b) sangat suka bermain angka di komputer&lt;br /&gt; c) mengingat berdasarkan gambar lebih mudah&lt;br /&gt; d) mampu membuat lirik/syair/puisi &lt;br /&gt; e) mahir dalam kerajinan tangan         &lt;br /&gt; f) mampu berkomunikasi dengan baik&lt;br /&gt; g) memiliki motivasi diri yang tinggi&lt;br /&gt; h) berminat pada masalah sosial dan motivasi manusia&lt;br /&gt; i) senang belajar pada hal-hal kecil dan sepele&lt;br /&gt; j) senang shalat dan berdzikir (baik sendiri atau bersama)&lt;br /&gt;7. a) mengeja dengan mudah&lt;br /&gt; b) suka memecahkan masalah&lt;br /&gt; c) menggunakan semua indera untuk membayangkan sesuatu&lt;br /&gt; d) sensitif terhadap irama musik&lt;br /&gt; e) belajar dengan melibatkan diri dalam proses belajar&lt;br /&gt; f) menikmati kegiatan bersama&lt;br /&gt; g) ingin berbeda dari orang kebanyakan&lt;br /&gt; h) senang informasi tentang jagad raya dan bumi&lt;br /&gt; i) mampu melihat makna sesuatu dari sudut yang berbeda&lt;br /&gt; j) suka berkomunikasi dengan hati nurani&lt;br /&gt;8. a) suka permaianan kata-kata  &lt;br /&gt; b) senang melakukan percobaan-percobaan ilmiah &lt;br /&gt; c) Mampu menggambarkan citra mental dalam gambar&lt;br /&gt; d) terkadang suka pada suatu kekuatan di luar dirinya&lt;br /&gt; e) gampang mengingat yang dilakukan bukan yang dikatakan&lt;br /&gt; f) mampu bernegoisasi (tawar menawar) dengan baik&lt;br /&gt; g) amat sadar pada kekuatan dan kelemahan diri&lt;br /&gt; h) menyenangi isu lingkungan hidup dan pemanasan global&lt;br /&gt; i) senang mengajar atau membantu orang dengan ilmu&lt;br /&gt; j) menjadi orang yang paling bermanfaat sebagai prinsip hidup&lt;br /&gt;9. a) punya ingatan tajam tentang hal-hal sepele&lt;br /&gt; b) suka mencatat secara teratur    &lt;br /&gt; c) suka menonton film atau drama&lt;br /&gt; d) menyenangi alat musik tertentu (gitar, suling atau gendang) &lt;br /&gt; e) resah jika tidak melakukan apa-apa   &lt;br /&gt; f)  suka menengahi pertengkaran&lt;br /&gt; g) sadar diri&lt;br /&gt; h) suka pada lingkungan asri dan alami&lt;br /&gt; i) senang mempelopori hal-hal baru &lt;br /&gt; j) melakukan segala sesuatu karena mengharap ridha Allah&lt;br /&gt;10 a) senang belajar Bahasa &lt;br /&gt; b) senang belajar Matematika atau Logika&lt;br /&gt; c) senang belajar Melukis&lt;br /&gt; d) senang belajar Seni Musik&lt;br /&gt; e) senang belajar Ilmu Terapan atau Teknik&lt;br /&gt; f) senang belajar Ilmu Sosial&lt;br /&gt; g) senang belajar Humaniora (kemanusiaan)&lt;br /&gt; h) senang belajar Ilmu Alam&lt;br /&gt; i)  senang belajar sendiri ilmu-ilmu yang bermanfaat&lt;br /&gt; j)  senang belajar Ilmu Agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang hitung berapa jumlah masing masing kolom&lt;br /&gt;a) ......... Kecerdasan Linguistik &lt;br /&gt;b)        ........  Kecerdasan Matematis Logis&lt;br /&gt;c)        ........  Kecerdasan Visual Spasial&lt;br /&gt;d)        ........  Kecerdasan Musikal&lt;br /&gt;e)        ........  Kecerdasan Kinestetis&lt;br /&gt;f)         ........ Kecerdasan Interpesonal&lt;br /&gt;g)       ........  Kecerdasan Intrapersonal&lt;br /&gt;h)       ........  Kecerdasan Naturalis&lt;br /&gt;i)        ........  Kecerdasan Otodidaktor&lt;br /&gt;j)        ........  Kecerdasan Spritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang mencari guru ke sana ke mari, malah ada yang melakukan perjalanan dengan jalan kaki mulai Cirebon sampai ujung pulau Madura, padahal guru ada di mana-mana, pada siapa saja, asal mampu membaca dengan cerdas melalui pandangan yang terbuka.” Ahmad Zamhari Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat memahami berbagai Gaya Belajar dan Kecerdasan Berganda adalah:&lt;br /&gt;1. Untuk dapat belajar dengan mudah, dan memudahkan Anda menerapkan prinsip BO seumur hidup, sebab telah mengetahui cara yang paling efektif dan mudah. &lt;br /&gt;2. Untuk mengendalikan hidup Anda. Semua  orang  memiliki gaya unik, menurut Dr. Robert Sternberg sebagai gaya mengatur. “Cara yang disukai siswa dalam menggunakan kecerdasan mereka,” katanya “sama pentingnya dengan kumpulan kecerdasan itu sendiri.” Sebenarnya semua orang perlu mengatur aktivitasnya sendiri. Dan dalam melakukannya, mereka akan memiliki gaya pengaturan diri yang membuat mereka nyaman. Otak, perasaan dan hati mengendalikan aktivitas seperti pemerintah; legislatif (menciptakan, menfungsikan, membayangkan dan merencanakan), ekskutif (penerapan dan tindakan) yudikatif (penilaian, evaluasi dan perbandingan). Pemerintah mental ini melibatkan ketiga fungsi, setiap orang memiliki salah satu yang dominan.&lt;br /&gt;3. Untuk guru dan orang tua; mereka bisa memahami bermacam-macam  Gaya Belajar  dan Kecerdasan Berganda yang dimiliki anak didik atau anaknya, sehingga bisa melayani semua perbedaan yang ada sesuai kebutuhan. Bagi orang tua bisa menghilangkan kasih sayang berlebihan pada salah satu anak karena ternyata mereka semua berpotensi atau memiliki kecerdasan berbeda sesuai dengan gaya masing-masing, hanya masalahnya belum dioptimalkan.&lt;br /&gt;4. Bagi yang menekuni suatu profesi tertentu, menguasai kecerdasan berganda akan membantu menangani kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat menekuni pekerjaan, sebab diri telah memahami kecerdasan berganda yang dimiliki.&lt;br /&gt;5. Bagi yang berwirausaha, hal ini membantu memudahkan mereka untuk menemukan gaya uniknya dalam bekerja, memberikan cara yang tepat menangani masalah-masalah yang timbul, menumbuhkan kreativitas, inovasi dan terobosan baru yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;  Hal di atas membuktikan firman Allah “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At Tin; 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Langkah Penting Agar Sukses (BO)&lt;br /&gt;“Barang siapa berpegang teguh pada akalnya semata, niscaya dia akan sesat, barang siapa mencari kecukukan melalui harta bendanya, niscaya dia akan menjadi kekurangan; dan barang siapa yang mencari kemulyaan makhluk, niscaya dia akan terhina.” Ahli Hikmah&lt;br /&gt;Supaya berhasil dalam BO, maka perlu empat langkah tambahan yakni meruntuhkan Tembok Mental penghalang dengan membangun Mental Baru, menumbuhkan sikap Percaya Diri, Merumuskan Cita-Cita dengan benar dan Cara Mengatasi Masalah. &lt;br /&gt;Meruntuhkan Tembok Mental Untuk Belajar&lt;br /&gt;1. Saya ini bodoh&lt;br /&gt;2. Belajar itu sulit&lt;br /&gt;3. Belajar itu tidak menyenangkan jadi harus dijauhi&lt;br /&gt;Membangun Mental Baru agar Behasil dalam Belajar&lt;br /&gt;1. Saya meyakini sebagai orang yang cerdas dan pintar&lt;br /&gt;2. Belalar itu mudah asal mengetahui caranya&lt;br /&gt;3. Belajar itu menyenangkan jika mampu mensiasatinya&lt;br /&gt;“80 persen kesulitan belajar berhubungan dengan stress. Singkirkan stress, Maka Anda menyingkirkan berbagai kesulitan,” Gordon Stokes&lt;br /&gt;Tips supaya percaya diri menurut Gordon Dryden &amp; Jeannete Vos&lt;br /&gt;1. Keselamatan dari bahaya fisik&lt;br /&gt;2. Identitas diri; siapa aku? Untuk apa aku hidup? Apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;3. Keamanan emosi dari intimidasi dan rasa takut&lt;br /&gt;4. Afiliasi ; memiliki harga diri dan martabat&lt;br /&gt;5. Misi ; hidup memiliki tujuan dan arah&lt;br /&gt;6. Keahlian di suatu bidang ilmu dalam kurun waktu minimal 3 tahun, lalu memperdalam bidang ilmu lainnya, sehingga memiliki beberapa keahlian.&lt;br /&gt;Tips Mencapai Cita-Cita&lt;br /&gt;1. Menulis cita-cita besar yang diraih&lt;br /&gt;2. Meniti Tangga Sekolah sampai berhasil; Akademis dan Belajar Otodidak (BO)&lt;br /&gt;3. Melakukan hal-hal kecil dalam hidup seperti; membaca/menulis 1 jam tiap hari, membantu orang lain sesuai kemampuan, dan beribadah dengan taat sebab kembali pada masing-masing individu.&lt;br /&gt;4. Menjalani hidup sederhana dan apa adanya &lt;br /&gt;Tips Mengatasi Masalah 5 M&lt;br /&gt;1. Mencari konpensasi positif; berlari, mandi berlama-lama, olah raga dan main Games&lt;br /&gt;2. Melihat masalah dengan cerdas; banyak yang lebih sengsara dari Anda, tapi Anda tetap mampu menjalani kehidupan, contoh; korban Tsunami Aceh.&lt;br /&gt;3. Menghadapi masalah dengan kreatif; menulis dalam puisi, cerpen, novel dan buku&lt;br /&gt;4. Mengadukan masalah pada Allah lewat shalat Tahajjud dan dzikir&lt;br /&gt;5. Menyelesaikan masalah dengan; mempersempit masalah, menemukan jalan keluar terbaik dan menjalankannya dengan segala resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki Kompetensi Pendukung&lt;br /&gt;“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq; 1-5)&lt;br /&gt;Dalam menjalani kehidupan abad 21 ini, kita perlu memiliki beberapa keterampilan atau kompetensi, dalam kaitan dengan pembelajaran, paling tidak harus memiliki 3 kompetensi; memahami  cara membaca buku secara kreatif, mengerti cara-cara menulis, dan mampu berkomunikasi yang bisa mempengaruhi orang lain.&lt;br /&gt;Membaca buku secara kreatif &lt;br /&gt;• Memilih buku bacaan &lt;br /&gt;• Baca kata pengantar dulu, baru daftar isi, dan pendahuluan, hal ini agar kita memperoleh gambaran umum dari buku. &lt;br /&gt;• Selesaikan bacaan secara utuh &lt;br /&gt;• Baca ulang secara cepat dengan membuat garis bawah &lt;br /&gt;• Menulis kesimpulan secara acak dalam komputer atau buku tulis. &lt;br /&gt;• Mengatur tulisan menjadi teratur atau sistematis dan memberikan penjelasan &lt;br /&gt;• Membuat tulisan dengan judul baru&lt;br /&gt;• Melakukan telaah kritis pada beberapa kesimpulan &lt;br /&gt;• mempraktikkan apa yang diketahui &lt;br /&gt;Menulis yang kreatif&lt;br /&gt;• Membiasakan diri mencatat setiap kali mendapatkan ide, ilham, sesuatu yang baru&lt;br /&gt;• Mengulas ide yang ada dengan mengaitkan informasi dengan pengalaman&lt;br /&gt;• Membaca buku yang berhubungan dengan sesuatu yang hendak ditulis &lt;br /&gt;• Mencari informasi tambahan di internet &lt;br /&gt;• Melakukan studi kasus atau lapangan untuk mendukung bukti-bukti yang ada&lt;br /&gt;• Menyusun kerangka karangan Menulis berdasarkan kerangka karangan &lt;br /&gt;• Dalam menulis, buat seakan-akan bercakap-cakap dengan pembaca&lt;br /&gt;• Baca ulang atau diedit&lt;br /&gt;• Manfaatkan tulisan dengan mengirim ke media, memberikan pada yang membutuhkan atau menulis Blok di intertet&lt;br /&gt;Komunikasi yang berpengaruh menurut Michael Leboeuf &lt;br /&gt;• Setiap berkomunikasi, mulailah dengan selalu memikirkan tujuan, &lt;br /&gt;• Sesuaikan pesan Anda dengan audiens Anda, &lt;br /&gt;• Berkomunikasi secara positif dengan menghindari pembicaraan sia-sia, apalagi negatif &lt;br /&gt;• Menarik dan mempertahankan perhatian mereka pada Anda, &lt;br /&gt;• Membangun kepercayaan dengan membangun komunikasi yang jujur dan membina hubungan baik, &lt;br /&gt;• Mengunakan prinsip KISS (Keep it short and simple), semakin pendek dan sederhana pesan Anda, semakin besar pengaruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk Masyarakat masa depan; “Suatu masyarakat pembelajar berkesinambungan dan kreatif analitis dengan keterampilan untuk tidak tergantung secara ekonomi (pentingnya skill kewirausahaan). Suatu masyarakat dimana perolehan produktivitas dibagikan secara adil hingga memungkinkan baik waktu kerja maupun waktu luang menjadi sarana memenuhi potensi personal maksimal.” Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2 : Menekuni Wirausaha Islam&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda; “Ada tiga faktor sebagai penyelamat dan tiga faktor perusak…. Adapun tiga faktor penyelamat adalah takut pada Allah dalam kesunyian dan keramaian; bersahaja baik dalam kondisi faqir maupun kaya; berlaku adil di waktu senang dan marah. Tiga faktor perusak adalah teramat kikir, mengikuti hawa nafsu, dan membanggakan diri senditi…”&lt;br /&gt;Sejarah adalah sebuah perputaran zaman, pada setiap zaman muncul suatu kekuatan yang menguasai ekonomi dunia; zaman kuno dikuasai Funisia atau Mesir, Yunani dan Romawi, abad 5-7 Byzantium sebagai pusat perdagangan (untuk tingkat Asia Tenggara, Sriwijaya berkuasa abad ketujuh selama 600 tahun), Arab Islam memegang kendali pada abad 7-14, dilanjutkan dengan Eropa; Belgia dan Belanda, Itali, Prancis, Jerman, Inggris,  setelah perang dunia kedua muncul Uni Sofyet, Jepang, Inggris dan AS sebagai kekuatan baru, akhir abad kedua puluh dan awal abad 21 sang penguasa tinggal AS sendirian memimpin dunia dengan sewenang-wenang meski Jepang dan Eropa tetap kuat, sedang Uni Soviet hancur karena  salah mengelola ekonomi meski kini Rusia mulai menggeliat, pada awal abad 21 muncul kekuatan baru yakni China, Singapura dan India, bahkan China diperkirakan mampu mengimbangi AS pada tahun 2020, pertanyaannya, kemanakah Indonesia yang kaya dengan kekayaan alam? Menunggu 2050, nggak terlambat? Mari kita mulai saat ini, dengan pelatihan yang akan ditindaklanjuti praktik langsung dalam mengelola usaha! &lt;br /&gt;“Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dan kerja, adalah kunci-kunci sukses baru menuju masa depan,” laporan Scans.&lt;br /&gt;Realitas kehidupan masa kini menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl;&lt;br /&gt;• Dunia berubah dengan laju semakin kencang &lt;br /&gt;• Kehidupan, masyarakat, dan perekonomian, menjadi lebih kompleks &lt;br /&gt;• Sifat dasar pekerjaan berubah dengan cepat; pertanian, industry, jasa dan informasi &lt;br /&gt;• Jenis-jenis pekerjaan menghilang dengan kecepatan tak terbayangkan &lt;br /&gt;• Inilah zaman ketidakpastan&lt;br /&gt;Makna Wirausaha Islam&lt;br /&gt;Entrepreneur adalah seseorang yang mengelola usahanya dengan mengatur sedemikian rupa supaya memperoleh keuntungan, dengan menanggung resiko, usaha tersebut dikelola sebaik-baiknya menggunakan segala sumber daya yang dimiliki, sehingga bisa tumbuh dan berkembang pada masa mendatang. Wirausahawan dianggap berhasil, apabila mampu meningkatkan diri dari usaha kecil menjadi usaha menengah, syukur-syukur meningkat lagi menjadi usaha elit. Intinya ialah keberanian berwirausaha apa saja, mengelolanya secara profesional, bekerja keras dan cerdas. &lt;br /&gt;Sedang Wirausaha Islam ialah pengelolaan usaha yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, tentu saja dikontekstualisasikan dengan era global atau informasi seperti yang kini berlangsung. Contoh yakni Fauzi Sholeh pemilik perumahan Pesona Depok dan Pesona Kahyangan yang berhasil karena menerapkan Manajeman ‘Azm dan tawakkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan Antara ‘Azm dengan Tawakkal&lt;br /&gt;Makna ‘Azm; usaha fisik, pikiran, perasaan, kesadaran dan hati. Usaha fisik bukan hanya kerja keras, melainkan juga cara mengatur waktu, menggunakan waktu minimal 42 jam dalam seminggu untuk usaha (7 jam setiap hari dengan 1 hari libur), dan memanfaatkan peluang sebaik-baiknya, juga ketekunan dalam mengelola usaha. Pikiran bermakna; melakukan kalkulasi terhadap usaha yang dikelola, merancang strategi yang tepat dan sesuai, membaca perubahan dan keadaan dengan cerdas, dan melakukan pencatatan agar diketahui penghasilan dan pengeluaran. Perasaan harus dicerdaskan dengan menjalin hubungan yang harmonis, berkomunikasi yang baik, semangat pantang menyerah, mental baja merasakan berbagai situasi, menjadikan krisis atau keterpurukan sebagai kesempatan, bersaing secara sehat. Semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, alam bawah sadar dimanfaatkan dengan relaksasi setelah lelah berusaha. Huruf  “fa” dalam ayat di atas bermakna hati nurani, yang disucikan dengan memperbanyak istigfar, sehingga dapat bertawakkal dengan benar. Nabi Muhammad SAW membaca 100 Istigfar setiap hari, kita umatnya selayaknya membaca 1000 Istigfar atau minimal 100X setiap hari secara istiqomah seumur hidup.&lt;br /&gt;Sedang tawakkal diwujudkan dalam banyak aspek; shalat karena butuh, memperkuat dengan Tahajjud, Dhuha dan Hajat, membaca surat Waqi’ah sehari sekali, bersedekah, berdoa hanya pada Allah dengan yakin, dan berdzikir. Menjalankan shalat lima waktu bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan sebagaimana kita membutuhkan makan, menyesal rasanya jika tidak shalat. Shalat Hajat, Dhuha dan Tahajjud telah dibuktikan intelektual dan pengusaha Muslim sebagai sarana mendukung upaya mereka dalam meraih keberhasilan. Surat waqi’ah berisi beberapa pertanyaan kritis Allah pada manusia tentang pencipta dan pengatur segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, sebuah ajakan untuk bertawakkal. Bersedekah dapat membantu kelangsungan usaha, sebab akan mendapatkan simpati dari orang lain, sekaligus Allah akan menambah rizki orang yang rajin bersedekah secara ikhlas. Berdoa hanya pada Allah untuk meminta dimudahkan dan dimurahkan rizki, sehingga usaha yang optimal menghasilkan sesuatu yang optimal pula. Dzikir sebagai bentuk tawakkal terakhir untuk mensinergikan usaha dengan tawakkal.&lt;br /&gt;Sebagai Bukti, Aa Gym awalnya memulai usaha dengan menjadi pedagang buku, pedagang bakso dan baru merintis “bengkel akhlak sederhana,” berhubung Aa Gym konsisten menerapkan ‘Azm dan tawakkal, maka dari pedagang buku menjadi unit usaha MQ, dan dari “bengkel akhlak” menjadi Pesantren Daarut Tauhied, bahkan merambah unit-unit usaha lainnya. Dalam konteks ini, Aa Gym berhasil memperoleh “jatah” rizkinya, malah karena konsistensi tinggi dan pengabdian pada Islam melalui ceramah agama, Allah menambah “jatah” rizkinya melebihi yang dibayangkan sebelumnya. &lt;br /&gt;“…apapun yang tengah dijalani saat ini –profesi apa pun- semestinya harus dianggap yang terbaik, oleh karena itu, ia harus pula dikelola secara profesional, secara sungguh-sungguh.” Elvyn G Masassya&lt;br /&gt;Membuat visi dan misi yang sederhana dalam mengelola usaha, misal, Visi; membuat unit usaha makanan yang tiada banding kelezatannya dengan harga terjangkau, Misi; menjadikan makan sebagai gaya hidup baru yang menyenangkan sesuai dengan cara-cara yang Islami.&lt;br /&gt;Menetapkan Tujuan dan Prioritas menurut Michael Leboeuf&lt;br /&gt;Menetapkan tujuan-tujuan Anda sendiri; bisnis, karier, dan hidup.&lt;br /&gt;Menulis tujuan-tujuan Anda&lt;br /&gt;Merumuskan tujuan-tujuan yang menantang namun tetap berkemungkinan untuk dicapai&lt;br /&gt;Sebuah tujuan harus dapat diukur, sebagai contoh; berapa penghasilan perbulan yang ingin dicapai, berapa yang terjual dalam kurun waktu tertentu, berapa besar presentase penjualan, antara biaya dengan pemasukan lebih besar pemasukan.&lt;br /&gt;Tujuan-tujuan Anda harus sejalan dengan pernyataan visi dan misi Anda&lt;br /&gt;Menetapkan prioritas tujuan sangat penting, dan berupaya menjalankan sebaik-baiknya&lt;br /&gt;“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan …..” (QS Ar-Ruum;8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Sukses Berwirausaha Islami&lt;br /&gt;Dalam rangka meraih keberhasilan pengelolaan wirausaha Islam, maka dibutuhkan beberapa hal yakni mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan, memahami cara sederhana memperluas jaringan, dan berusaha menjadi kaya dengan cara-cara yang Islami.&lt;br /&gt;Penerapan nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan&lt;br /&gt; Kejujuran sebagai modal utama; nilai modal kejujuran unlimited (tak terhingga), ingat Nabi Muhammad sukses dengan nilai ini.&lt;br /&gt; Berani memulai usaha dari nol dengan tanpa mengenal kata gagal, gengsi, takut, menyerah, dan malas. &lt;br /&gt; Perhitungan pangkal kaya dan sukses; cara mengelola keuntungan sama pentingnya dengan besarnya keuntungan yang diperoleh, artinya atur keuangan dengan baik.&lt;br /&gt; Mengembangkan usaha terus menerus; terkadang usaha kembang kempis, mampu bertahan, mengalami kemajuan, stagnan atau jalan di tempat, dan terkadang hampir bangkrut, maka dengan prinsip belajar dan terus menerus mengembangkan sumber daya yang ada, insya Allah dapat diatasi&lt;br /&gt; Bangga dengan kesuksesan orang lain membuat Anda bahagia menjalani hidup &lt;br /&gt; Bersabar dalam menekuni usaha &lt;br /&gt; Membayar hak pekerja atau karyawan tepat waktu dan memberikan insentif &lt;br /&gt; Konsumen adalah raja yang dilayani super terbaik&lt;br /&gt; Kreatif dalam mengelola usaha, tidak pernah berhenti untuk melakukan terobosan-terobosan baru yang diperhitungkan dengan matang &lt;br /&gt; Mengelola Hutang Piutang dengan benar&lt;br /&gt; Bekerja dengan cerdas; artinya dalam bekerja senantiasa memanfaatkan pikiran/imajinasi&lt;br /&gt; Sedekah pendukung utama kesuksesan usaha, hal ini sudah dibuktikan kebenarannya&lt;br /&gt;“Perumpamaan  orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah  adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji.  Allah melipat gandakan  bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas  lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah 261) &lt;br /&gt;Cara memperluas jaringan menurut Mechael Le Bouf; &lt;br /&gt; Mempersiapkan sejumlah kartu nama, nomor Hp/telepon, dan email, &lt;br /&gt; Mencari unit usaha lain yang saling melengkapi dengan usaha yang sedang dikelola, misalnya pendakwah, pengajar, dan pengusaha sukses, &lt;br /&gt; Bekerja sama dengan para pesaing yang mau dan mampu bersaing secara sehat merupakan peluang untuk memperluas jaringan dengan cara saling merekomendasikan pada pelanggan atau konsumen,  &lt;br /&gt; “Segala yang berputar akan kembali” kalau ingin memperoleh refrensi, maka harus merefrensikan orang lain.&lt;br /&gt; Menghadiri beberapa pertemuan /undangan atau silaturrahmi untuk memperluas jaringan dan menambah teman baru, pastikan mendapatkan kontak penting dan refrensi dari orang-orang yang hadir, &lt;br /&gt; Bergabung dalam kelompok sosial, kelompok dunia maya atau keagamaan &lt;br /&gt; Memperluas hubungan lewat dunia Maya dengan tetap berhati-hati&lt;br /&gt;Menjadi Kaya dengan cara yang Islami &lt;br /&gt;1. Berpegang teguh pada nilai-nilai dan ajaran Islam &lt;br /&gt;2. Membuka cakrawala berpikir bahwa rizki Allah luas&lt;br /&gt;3. Memiliki kepribadian yang baik&lt;br /&gt;4. Memiliki jiwa Wirausaha yang tahan uji&lt;br /&gt;5. Memiliki mental baja yang terasah dengan masalah dan krisis&lt;br /&gt;6. Mengatur waktu dengan baik &lt;br /&gt;7. Melakukan differensiasi usaha yang beragam&lt;br /&gt;8. Membaca perubahan yang terjadi, melakukan langkah-langkah tepat&lt;br /&gt;9. Mampu mengelola informasi menjadi bahan produktif &lt;br /&gt;10. Menjadikan usaha yang dikelola sebagai anugerah Allah terbaik &lt;br /&gt;“Allah menyayangi orang yang bersikap murah hati, baik ketika menjual, membeli atau menagih (hutang).” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes Wirausaha Islam&lt;br /&gt;Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang sesuai dengan kepribadian, prilaku, kebiasaan, dan tidak boleh berbohong demi kepentingan Anda sendiri.&lt;br /&gt;1) Mau memulai usaha dari nol &lt;br /&gt;2) Mau memulai usaha dengan modal besar&lt;br /&gt;3) Mau mengembangkan usaha yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Saya akan membayar gaji atau upah bekerja dengan lebih baik, malah ditambah bonus&lt;br /&gt;2) Saya akan menunda pembayaran gaji pekerja demi mengembangkan usaha&lt;br /&gt;3) Saya akan membayar gaji pekerja sesuai UMR (Upah Minimum Regional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Prinsip bisnis menggabungkan antara kelancaran dan keuntungan&lt;br /&gt;2) Prinsip bisnis keuntungan besar&lt;br /&gt;3) Prinsip bisnis kelancaran usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Menggunakan cara-cara berwirausaha yang sesuai ajaran agama&lt;br /&gt;2) Menghalalkan segala cara&lt;br /&gt;3) Tidak peduli sesuai ajaran agama atau tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kejujuran sebagai modal utama&lt;br /&gt;2) Uang sebagai modal utama&lt;br /&gt;3) Keahlian sebagai modal utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Menjadikan pesaing sebagai  partner bisnis&lt;br /&gt;2) Menjadikan pesaing sebagai musuh yang berusaha disingkirkan&lt;br /&gt;3) Menjadikan pesaing sebagai sarana pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Senang berhubungan dengan siapa saja&lt;br /&gt;2) Senang berhubungan dengan orang yang berkepentingan saja&lt;br /&gt;3) Senang berhubungan dengan orang yang mendatangkan keuntungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Mengembangkan usaha sesuai situasi dan kondisi&lt;br /&gt;2) Mengembangkan usaha dengan cepat dan terburu-buru&lt;br /&gt;3) Mengembangkan usaha perlahan-lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan peluang untuk maju&lt;br /&gt;2) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan penyebab kegagalan&lt;br /&gt;3) Masalah, krisis, dan tantangan merupakan sarana untuk berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu secara sukarela&lt;br /&gt;2) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu secara terpaksa&lt;br /&gt;3) Menyisihkan sebagian keuntungan untuk orang tidak mampu sebagai tanggung jawab sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Senantiasa berusaha optimal dan bertawakkal pada Allah secara seimbang&lt;br /&gt;2) Mengandalkan usaha dan kemampuan diri saja untuk berhasil&lt;br /&gt;3) Usaha lebih banyak dan kuat dibanding tawakkal (ibadah spritual dan sosial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Riski Allah sangat luas di seluruh jagad raya&lt;br /&gt;2) Rizki Allah terbatas yang ada di sekitar lingkungan kita saja&lt;br /&gt;3) Rizki Allah seluas negara Indonesia di Nusantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Mencari rizki guna menjalani hidup yang lebih baik di dunia dan akhirat&lt;br /&gt;2) Mencari rizki untuk menjadi orang yang kaya raya&lt;br /&gt;3) Mencari rizki guna memenuhi kebutuhan hidup sendiri, keluarga dan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Bersabar dalam keadaan usaha susah, krisis, stagnan (jalan di tempat), dan maju&lt;br /&gt;2) Menggerutu dan menyalahkan orang lain jika bisnis menurun atau stagnan&lt;br /&gt;3) Bersabar jika bisnis menurun dan stagnan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Mengelola usaha dengan menggabungkan teori bisnis dengan praktik&lt;br /&gt;2) Mengelola usaha asal-asalan (yang penting jalan)&lt;br /&gt;3) Mengelola usaha berpekal pengalaman dalam praktik bisnis saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai tes; 1. a) 10 poin&lt;br /&gt;                 2. b) 5 poin&lt;br /&gt;                 3. c) 7 poin&lt;br /&gt;                 4. Coba kalikan jumlah poin Anda; …………. X …………….. = ……………….    &lt;br /&gt;Jika memiliki Poin antara 100-150 berarti Anda di jalur yang benar untuk menjadi  Wirausahawan Muslim yang sukses, tapi jika memiliki poin 100 ke bawah, Anda harus introspeksi diri sekaligus melakukan pembenahan dalam bertingkah laku dan mengelola usaha, sebagai alternatif  Anda bisa bekerja pada orang lain dalam mencari penghasilan, sebab hal ini lebih aman dengan resiko kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila engkau menghendaki suatu urusan, maka hendaklah dilakukan dengan pelan-pelan, sehingga Allah melapangkan (mental) dan menemukan jalan keluar.” (Ibnul Mubarok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makroprenuer dan Nilai-Nilainya&lt;br /&gt;Makroprenuer yakni menekuni pekerjaan yang ada sambil mempersiapkan sebuah usaha yang paling disenangi pada masa mendatang, dan meninggalkan yang lama ketika usaha baru telah berjalan dengan baik. Istilah ini dipopulerkan Michael Le Bouf. Berhubung untuk menjadi makroprenuer butuh perubahan terhadap diri sendiri, maka perlu memahami tentang perubahan dalam mengelola usaha dan nilai-nilai makroprenuer supaya berhasil. Makropreneur juga cocok bagi yang bekerja pada orang lain, tapi merasa tidak aman karena pemecatan atau PHK, pekerjaan yang ditekuni tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh, tidak puas dengan gaji yang diperoleh, dan ingin menikmati tantangan baru dalam hidup. &lt;br /&gt;Perubahan Usaha menuntut 5 hal (Rhenald Kasali); &lt;br /&gt;• Visi tentang arah depan (Vision) &lt;br /&gt;• Keterampilan (Skills) untuk mampu melakukan tuntutan baru, keterampilan ini harus terus dipelihara, ditumbuhkan dan dikembangkan &lt;br /&gt;• Insentif yang memadai (Insentives), baik langsung maupun tidak langsung, cash non-cash, individual maupun kelompok. &lt;br /&gt;• Sumber daya (Resources) yang memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan &lt;br /&gt;• Rencana tindak (Action Plan); rangkaian tindakan yang diintegrasikan dalam langkah-langkah spesifik dan terencana, tertulis dan dimengerti. &lt;br /&gt;Nilai-nilai Makroprenuer. &lt;br /&gt;Menjadikan rumah atau kontrakan sebagai kantor untuk memulai bisnis dengan menyediakan ruang khusus, jam kerja khusus, dan peralatan yang memadai. &lt;br /&gt;Memilih bidang usaha yang menguntungkan sesuai minat masing-masing. &lt;br /&gt;Menjadi pembelajar seumur hidup dan pandai berkomunikasi. &lt;br /&gt;Membidik konsumen, memenuhi kebutuhannya, secara khusus konsumen pertama adalah segalanya, dan mempertahankan hubungan yang baik. &lt;br /&gt;Orientasi usaha fokus pada konsumen, bukan pada ego sendiri. &lt;br /&gt;Ide-ide menarik dan unik banyak sekali yang perlu dicari, dirumuskan dan dituangkan dalam sebuah perencanaan. &lt;br /&gt;Manfaatkan waktu dan energi sebaik-baiknya untuk keberhasilan usaha. &lt;br /&gt;Menguasai peralatan teknologi yang benar-benar dibutuhkan dalam mengelola usaha. &lt;br /&gt;Berkaca pada orang yang telah berhasil di bidang usaha yang ditekuni. &lt;br /&gt;Perlu bekerja sama dengan pakar keuangan, mentor, kolega profesional jika sudah maju. &lt;br /&gt;Dalam menekuni usaha di atas dilakukan dengan penuh kesabaran dan daya tahan yang luar biasa.&lt;br /&gt;Ketika berhasil mengelola usaha, tentu Anda meningkat menjadi bos, baik skala kecil atau besar, untuk itu perlu bekal tambahan cara menjadi bos yang baik dengan memahami Level of Leadership menurut (Rhenald Kasali); &lt;br /&gt;• Level 1; posisi Anda jadi  bos karena SK, berfungsi sebagai manager yang bekerja dengan system dan senang memerintah pada bawahan. &lt;br /&gt;• Level 2; permission (Relationship); memimpin dengan hati, membangun kasih sayang tanpa memandang persamaan atau perbedaan, dan menganggap karyawan atau pekerja sebagai partner bukan bawahan. &lt;br /&gt;• Level 3; production (result) pemimpin yang berorientasi pada hasil bukan prosedur, pekerja atau karyawan dihargai karena prestasi kerja. Pemimpin yang mampu = good company &lt;br /&gt;• Level 4; People Development, pengembagan sumber daya manusia &amp; personhood guna menghadapi kompleksitas zaman dan menuju usaha yang great company &lt;br /&gt;• Level 5; Personhood, pemimpin yang memiliki jati diri yang dibentuk oleh karakter yang kuat, sehingga siapa saja respek  bukan hanya atas apa yang telah ia berikan (personal) atau manfaatnya, melainkan karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut.&lt;br /&gt;Anda awalnya bertindak sebagai bos yang memerintah dengan seenaknya, hal ini kurang baik, untuk itu tingkatkan pada level 2 yakni bertindak sebagai partner bisnis terhadap karyawan atau pekerja, namun supaya usaha menguntungkan  perlu orientasi pada hasil, inilah inti level 3. Agar perusahaan meningkat menjadi Good Company atau perusahaan baik, level ke 4 harus ditempuh, sedang jika ingin menjadi perusahaan yang hebat Great Company, level ke 5 menjadi keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah! Nilai-nilai yang kontekstual dengan era Global seperti; kejujuran, kegigihan, ketekunan, inovasi, kreativitas, pelayanan super terbaik, kepribadian yang baik, mental baja, entrepreneur atau makropreuer dan dermawan, hakikatnya seiring dengan nilai-nilai yang dianut Islam! Ahmad Zamhari Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 3: Menjadi Mukmin Sejati&lt;br /&gt; “Segala tingkah laku setiap mukmin harus berdasarkan tiga perkara, yaitu; melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ridha pada qodar (taqdir). Sekurang-kurangnya keadaan orang mukmin itu tidak lepas dari salah satu di antara ketiganya. Oleh sebab itu, setiap orang mukmin harus memiliki komitmen dalam hatinya, mendorong jiwanya dan merealisasikan melalui anggota tubuhnya sesuai dengan ketiga hal itu dalam setiap kondisinya.” Syekh Abdul Qadir Al-Jailani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini Anda berupaya mencapai derajat keimanan yang tinggi atau Mukmin sejati, namun Anda merasa tidak mampu mencapai hal itu. Salah satu masalahnya ialah kemungkinan Anda tidak tahu caranya, belum adanya panduan praktis tentang upaya menjadi Mukmin Sejati dan barometernya belum jelas. Dalam pembahasan ini, insya Allah merupakan jawaban yang tepat dari permasalahan ini. Bahkan, Alhamdulillah Anda dapat mengetahui dalam Tes Mukmin Sejati, sedang dalam keadaan Islam KTP atau Keturunan, Muslim yang sesungguhnya, atau Mukmin Sejati.&lt;br /&gt;Berislam dengan benar&lt;br /&gt;a) Bersyahadat dengan benar; memahami maknanya, meyakini kebenarannya, dan mempraktikkan dalam kenyataan. ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al-Anbiya’;25). &lt;br /&gt;b) Shalat lima waktu sebagai sarana berkomunikasi dengan Allah dan filter bagi setiap individu&lt;br /&gt;c) Puasa merupakan bentuk pengorbanan sekaligus pengontrol hawa nafsu&lt;br /&gt;d) Zakat atau sedekah sebagai sarana mensucikan diri atau harta, bentuk kepedulian dan menciptakan keharmonisan sosial&lt;br /&gt;e) Haji merupakan penyempurna ibadah, bagi yang tidak mampu memperbanyak ibadah dan amal sholeh pada hari Jum’at&lt;br /&gt;f) Dzikir secara khusyu’&lt;br /&gt;g) Membiasakan dalam kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt; “Beribadahlah pada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya ia melihatmu,” (HR. Abu Nu’aim/hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membentuk Kepribadian Mukmin Sejati&lt;br /&gt;Untuk membentuk kepribadian Mukmin Sejati, intinya melakukan 3 hal yakni Menyucikan dari dari sifat-sifat tercela, Penanaman Nilai-nilai Islam dalam kepribadian, dan Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Poin-poin penting tentang hal ini, berasal dari buku, Kajian Lengkap Penyucian Jiwa Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa berdasarkan Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali.&lt;br /&gt;Menyucikan Diri dari Sifat-Sifat Tercela&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang harus disucikan dalam diri yakni; sombong, kafir, munafik, fasik, syirik, riya’, cinta kedudukan dan jabatan membabi buta, dengki, ujub, pelit, angan-angan kosong, Cinta dunia, marah, dan hawa nafsu, serta menutup pintu-pintu masuk setan &lt;br /&gt;Sombong ialah merasa paling hebat dari yang lain, seperti Iblis yang merasa lebih hebat dari Nabi Adam karena diciptakan dari api, sedang Nabi Adam dari tanah. Kesombongan bermuara pada keinginan untuk disebut yang serba paling dan ingin memperlihatkan pada orang lain. “Tidaklah masuk surga seseorang yang di hatinya terdapat kesombongan sebesar buah dzarrah.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Tingatan-tingkatan sombong; sombong pada Tuhan seperti Fir’aun, sombong pada Rasul dengan merasa lebih berhak menjadi Rasul dibanding Nabi Muhammad SAW yang berasal dari manusia biasa, sombong terhadap manusia dengan merasa paling mulia, sedang yang lain hina, merasa selalu berada di atas orang lain dan meremehkan orang.&lt;br /&gt;Kesombongan berasal dari; merasa paling tinggi ilmu yang dimiliki, paling taat dalam beribadah dan beramal shaleh, merasa memiliki garis keturunan terbaik, merasa memiliki fisik yang sempurna, merasa memiliki harta yang banyak, merasa memiliki kekuatan atau kesaktian yang paling hebat, dan merasa memiliki murid atau pengikut terbanyak.&lt;br /&gt;Supaya tidak sombong; mengetahui siapa diri kita dan siapa Tuhan kita, seseorang yang memahami dirinya sendiri akan bersikap tawadhu’, apalagi jika mengenal Allah dengan sebenarnya, membiasakan diri untuk merendah di hadapan orang lain seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, merasa bahwa diri seperti buih di tengah lautan yang luas, dan menyederhanakan sesuatu yang rumit atau sulit.  “Kesederhanaan adalah sebagian dari iman,” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;Kafir yakni mengingkari Allah dan Rasul yang dapat menggugurkan syariat dan menjerumuskan seseorang pada neraka jahannam. Supaya terhindar dari kekafiran; berkeyakinan pada satu Tuhan yakni Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir yang diutus Allah, meski setiap 100 tahun Allah mengutus seorang mujtahid (pembaharu) Islam. &lt;br /&gt;Munafik terdiri dari pikiran dan perbuatan, munafik secara pikiran yakni apa yang dikatakan tentang keimanannya tidak sama dengan yang diyakini dalam hati (menimbulkan sikap ragu-ragu dalam keimanan), kemunafikan perbuatan apabila apa yang dikatakan tidak sama dengan yang dilakukan dan; suka melanggar janji, suka berbohong, khianat pada amanah, dan melakukan tipu muslihat.&lt;br /&gt;Supaya tidak termasuk orang munafik; bila berjanji ditepati, jujur dalam berbicara dan perbuatan, menjalankan amanah atau tugas dengan penuh tanggung jawab, menjauhi tipu muslihat, berusaha menyesuaikan pembicaraan dengan tingkah laku, lebih banyak berusaha atau berkarya dari berbicara, dan beriman dengan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;Fasiq yakni mengerjakan hal-hal yang telah dilarang oleh Allah dan melanggar apa-apa yang diperintahkan. Supaya tidak termasuk orang fasiq; mengerjakan ibadah wajib, mencari rizki yang halal, memakan makanan yang halal, dan menghindari perbuatan maksiat, jika melakukannya cepat-cepat beritigfar.&lt;br /&gt;Syirik yakni menyekutukan Allah dengan yang selainNya, menyifatiNya kepada sesuatu yang tidak berhak diterimaNya. Hindarilah memohon pada kuburan meski kuburan ahli ibadah atau Ulama’, berdoa pada selain Allah, dan lebih percaya azimat atau kesaktian dari pada Allah.&lt;br /&gt;Supaya tidak syirik; jika menjenguk kuburan ahli ibadah atau Ulama’ sekadar sarana mengingat kematian, memotivasi diri mengikuti jejaknya, dan berdoa hanya pada Allah. Membaca La Ilaha Illallah wa muhammadur rasulullah setiap hari minimal 33X setiap hari, dan membaca surat Al-Ikhlas selesai Al-Fatehah dalam shalat lima waktu.&lt;br /&gt;Riya’ yakni melakukan ibadah atau dzikir dengan mengharap pujian dan imbalan. Tingkatan-tingkatan riya’; melakukan ibadah tanpa tujuan sama sekali, kecuali ingin dipuji orang, orang yang beribadah dengan mengharap pahala dan pujian dengan mengharap pujian lebih besar, orang yang beribadah karena mengharap pahala dan pujian sama besar, orang yang apabila dilihat orang beribadah lebih rajin dibanding beribadah sendirian.&lt;br /&gt;Perbuatan-perbuatan Riya’ atas ibadah; riya’ atas keimanan yakni dimulut mengaku Muslim padahal di hati hakikatnya seorang musrik/kafir/munafik, riya’ atas ibadah fardhu biasanya dilakukan orang bodoh, riya’ atas shalat sunnah dilakukan orang ‘Alim.&lt;br /&gt;Tujuan-tujuan Riya’; kemaksiatan, misalnya orang yang kelihatan wara’ supaya dipuji orang semata, melakukan ibadah supaya mendapat imbalan yang halal, melakukan sesuatu karena khawatir orang lain memberikan penilaian yang buruk.&lt;br /&gt;Supaya tidak Riya’; melepaskan riya’ sampai ke akar-akarnya dengan melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah dan melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi, dan mencegah akibat-akibat dari penyakit riya’ ketika beribadah yakni menghindari bisikin-bisikan setan dan rayuan hawa nafsu.&lt;br /&gt;Cinta kedudukan dan jabatan secara membabi buta, membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mencapainya, termasuk menggadaikan agama yang dianut, tapi bagi orang yang memiliki kecakapan sebagai pemimpin seperti nabi Yusuf, Umar bin Khattap dan Umar bin Abdul Aziz dianjurkan untuk tampil dengan syarat demi kemaslahatan umat Islam dan manusia secara keseluruhan bukan demi tujuan pribadi.&lt;br /&gt;Dengki; mengharapkan hilangnya kebahagiaan atau kenikmatan dari orang lain. “Dengki dapat memakan kebaikan (kebahagiaan) sebagaimana api memakan kayu bakar,” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah). Macam-macam dengki; tidak senang pada kenikmatan yang diperoleh orang lain dan mengharapkannya hilang (hasad), keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang sama dengan orang lain (ghabthah) atau melebihinya (munafasah/ persaingan) yang dilakukan dengan cara-cara tercela, untuk persaingan yang baik tidak termasuk hal ini.&lt;br /&gt;Tidak ada kedengkian kecuali terhadap dua perkara; “seorang yang diberikan harta dan digunakan di jalan yang benar, dan seorang yang diberikan ilmu dan ia mengamalkan serta mengajarkan pada orang lain.” (HR. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;Supaya tidak dengki terhadap orang lain; merasa senang dengan kebahagiaan orang lain siapa tahu dapat mengambil manfaat darinya, ketika timbul rasa dengki cepat-cepat beristigfar dan menghilangkannya agar tidak tertanam dalam jiwa, tawadhu’ atau rendah hati di hadapan siapa saja, menerima apa yang diperoleh apa adanya, malah penuh rasa syukur, dan ridha pada taqdir Allah baik atau buruk.&lt;br /&gt;Ujub atau membanggakan diri sendiri, egois yang salah kaprah dan cepat merasa puas dengan apa yang telah diperoleh atau dicapai. “…janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS An-Najm;32) Zaid bin Aslam berkata; “Jangan meyakini apa yang kamu kerjakan itu telah sempurna karena itulah yang dinamakan ujub.” &lt;br /&gt;Sifat ujub berasal dari perasaan bahwa dirinya telah menjadi manusia sempurna. Idlalu ‘amal ialah seseorang yang merasa memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, sehingga merasa berhak mendapatkan segala kenikmatan dari Allah atas amal atau ibadah yang telah dilakukan, dan tidak menyukai segala perkara yang tidak disukainya. &lt;br /&gt;Ujub terbagi dalam; bangga atas kecantikan atau ketampanan, keindahan suara, dan semua hal yang berkaitan dengan fisik, bangga atas kemampuan atau kekuatan yang dimiliki, bangga atas kepintaran atau kecerdasan yang dimiliki, bangga atas garis keturunan yang berasal dari orang alim, penguasa, orang kaya atau ningrat, bangga karena memiliki banyak keturunan, pembantu dan sanak famili, bangga atas harta yang dimiliki, dan bangga atas pendapat sendiri, padahal keliru atau salah. &lt;br /&gt;Supaya tidak ujub yakni melakukan yang sebaliknya, jika merasa pintar timbulkan bahwa diri bodoh, jika merasa paling taat beribadah, di luar sana masih banyak yang lebih taat, malah Malaikat beribadah setiap detik, jika merasa ujub karena usaha sendiri, coba selidiki dari mana asal semua potensi yang dimiliki manusia, ternyata berasal dari Allah, jadi untuk apa merasa bangga, mempelajari Al-Qur’an atau Sunnah untuk mencari sandaran atas suatu masalah, bersandar pada akal budi yang sehat, dan bertanya pada orang yang lebih alim dan bijaksana. &lt;br /&gt;Pelit ialah tidak mau menggunakan hartanya walau membutuhkan atau tidak mau menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang lain. Pelit merupakan sifat yang menghalangi terciptanya persaudaraan, kehidupan masyarakat yang harmonis, dan saling tolong menolong. “Jauhilah sifat pelit, karena sifat ini telah mengajak umat-umat sebelumnya, sehingga mereka saling menumpahkan darah, menodai kehormatan, dan memutuskan silaturrahmi.” (HR. Hakim) “Tidaklah masuk ke surga orang yang pelit, penipu, pengkhianat dan berperangai buruk.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Tingkat pelit tertinggi; menahan harta yang dimiliki padahal dirinya membutuhkan, seperti sakit tidak mau berobat.&lt;br /&gt;Tingkatan-tingkatan dermawan; itsar yakni mementingkan orang lain, dengan memberikan sesuatu yang sebenarnya dibutuhkannya, sifat ini dimiliki Rasulullah dan Abu Bakar r.a, Umar, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, as-sukha memberikan sesuatu yang tidak ia perlukan, melaksanakan wajib bis syar’i (membayar zakat dan berkurban), wajib bil muru’ah (kebiasaan/ iauran, selamatan, dan sedekah).&lt;br /&gt;Supaya tidak pelit; manusia hidup pasti mati, maka untuk apa bersikap pelit, menjauhkan angan-angan yang berlebihan untuk kebutuhan yang akan datang, melakukan perenungan terhadap akibat-akibat buruk dari sifat pelit, melatih diri untuk mengutamakan orang lain dari diri sendiri, meyakini bahwa bersedekah justru membuat kaya harta dan hati.&lt;br /&gt;Ghurur (angan-angan kosong) hidup dalam dunia khayal bukan kenyataan. Imam Ghazali sebenarnya telah menyusun kriteria ghurur ini sesuai zamannya, namun dalam kesempatan ini, hamba Allah berusaha menjelaskan sesuai keadaan sekarang.&lt;br /&gt;Ingin menjadi orang yang sukses, padahal pemalas dan mudah menyerah pada keadaan. Merasa paling pintar, padahal jarang membaca teks dan kehidupan. Merasa menjadi orang yang suci, padahal sering berbuat maksiat, beribadah karena mengharap imbalan, dan berdzikir di depan banyak orang saja. Ingin shalat di bulan atau planet Mars, padahal tidak pernah melakukan penelitian mendalam untuk sampai ke bulan atau planet Mars. Berangan-angan menjadi orang yang hebat dan terkenal, tapi menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Melakukan musafir di jalan Allah karena kesaktian dan kedigdayaan. Hijrah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tapi tetap melakukan kemaksiatan dan kemunkaran. Mengajak orang lain berbuat baik, padahal diri sendiri tidak pernah melakukan. Merasa mampu mencapai derajat ma’rifatullah (mengetahui Allah dengan mata hati) dan musyahadah (menyaksikan Allah langsung), padahal sebenarnya belum mampu mencapainya.&lt;br /&gt;Supaya tidak ghurur ialah berangan-angan sesuatu yang mungkin, berusaha mewujudkan angan dalam kenyataan, melakukan sesuatu yang ada di depan mata, menjalani kehidupan apa adanya, berusaha menjadi orang yang suci lahir dan batin, melakukan musafir dan hijrah karena Allah dengan mengerjakan hal-hal yang baik, berusaha mencapai cita-cita atau terkenal dengan cara-cara yang benar, dan menyimpan rahasia ma’rifatullah atau musyahadah jika pun mampu mencapainya, apalagi belum mampu. &lt;br /&gt;Kemarahan yang dzalim, Abdulllah bin Amr r.a bertanya pada Rasulullah; “Apa yang menyelamatkanku dari kemurkaan Allah?” beliau menjawab “jangan marah!” &lt;br /&gt;Sifat marah sebenarnya bisa positif jika digunakan untuk melindungi diri dan melawan kemunkaran. “Sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya.” (HR. Baihaqi). Murah hati lebih tinggi dari menahan amarah, sebab orang yang murah hati tidak merasa berat saat menahan amarah. “… Orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati …” (QS Al-Furqan;63). Berkaitan dengan kemarahan manusia terbagi; tafrith yakni sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk marah, ifrath yakni orang marah secara berlebihan sehingga keluar dari akal sehat, syariat dan ketaatan pada Allah, ini disebabkan gharizah (naluri atau tabiat) dan I’tiyadiyah (pergaulan), “Hanya dengan ketenangan hati dapat menahan gejolak emosi,” (hadtis).&lt;br /&gt;Pengaruh amarah; berubahnya warna kulit menjadi merah, lisan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya, anggota tubuh bergerak untuk menganiaya atau melakukan kekerasan, hati dipenuhi kebencian, dendam, dan kemaharahan. “Orang yang kuat itu bukan diukur dengan keperkasaan fisik melainkan yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pada saat marah.” (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;Supaya mampu menahan amarah; merenungkan tentang ayat dan hadits yang mengutamakan menahan amarah dan bersikap lemah lembut, “ ….. dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (QS. Ali Imran;134), takut akan hukuman Allah jika melampiaskan amarah, mengetahui dampak negatif dari akibat kemarahan, dendam, dan kebencian, betapa buruk paras wajah saat marah, merenungkan penyebab-penyebab yang dapat menimbulkan kemarahan dan mencari solusinya, marah merupakan buah dari ujub.&lt;br /&gt;Cinta dunia. “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” (Hadits)&lt;br /&gt;Kategori orang dalam kehidupan dunia; menafikan kenikmatan dunia dengan menyibukkan diri pada kehidupan setelah kematian; ilmu, ibadah dan amal shaleh, sebaliknya kenikmatan yang diperoleh di dunia tidak membawa pada kenikmatan akhirat karena hidup mewah, berlebihan, maksiat dan terbawa permainan dunia, pertengahan antara keduanya yakni menjadikan kenikmatan dunia sebagai sarana menuju akhirat.&lt;br /&gt;Supaya tidak cinta dunia; menikmati kehidupan apa adanya, mengontrol keinginan-keinginan, berhati-hati terhadap tawaran berbagai iklan atau brosur khususnya yang menawarkan sesuatu yang berlebihan, menikmati hiburan yang dibolehkan seperti berjalan-jalan ke tempat wisata, jalan-jalan ke gunung, dan menonton tontonan yang bermanfaat, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat kelak.&lt;br /&gt;Hawa nafsu; hakikatnya semua hal tercela yang disebutkan sebelumnya berasal dari hawa nafsu yakni kecendrungan jiwa yang salah; “Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini ….” (QS. Al-Mukminuun;17). Menurut sufi; “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsu yang ada dalam dirimu.”&lt;br /&gt;Supaya tidak terjebak hawa nafsu; menyucikan diri sesuai ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, mengendalikan hawa nafsu dengan terus mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, mengisi kehidupan dengan amal kebaikan, memanfaatkan waktu kosong dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, berpuasa, dan berolah raga.&lt;br /&gt;Pintu-pintu masuk setan dalam hati menurut Imam Ghazali; marah dan syahwat, dengki dan tamak, kenyang dengan makanan, suka berhias, pakaian yang berlebihan, perabotan yang tidak berguna, dan rumah terlalu mewah, tamak terhadap manusia (menjilat), tergesa-gesa dan tidak berhati-hati, uang dan harta, pelit dan takut miskin, fanatik terhadap madzhab dan pemikiran, mengajak orang awam pada dzat dan sifat Allah, “ …. Hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS an-Nahl;98)&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW bersabda; “Barang siapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemulyaan taat, maka Allah akan menjadikannya kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara, dan menang tanpa pembela.”&lt;br /&gt;Penanaman Nilai-Nilai Islam dalam Kepribadian&lt;br /&gt;Adapun nilai-nilai Islam yang harus diintegrasikan dalam kepribadian ialah Ubudiyah, ikhlas, jujur pada Allah (shiddiq) dan manusia, zuhud, cinta kepada Allah (mahabbah), takut (khauf) dan penuh pengharapan (raja’), takwa dan wara’, syukur, sabar, berserah diri (taslim) dan ridha, tobat, muraqabah, mujahadah, muhasabah, dan mu’atabah.&lt;br /&gt;Ubudiyah atau penghambaan manusia di hadapan Allah sesuai ayat “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al-Kitab …” (QS Al-Kahfi;1). Perlu diingat bahwa gelar hamba Allah hanya satu tingkat di bawah kerasulan, sebab seseorang yang benar-benar menjadi hamba Allah, maka berupaya sekuat tenaga untuk mampu ma’rifatullah sesuai kemampuan, beribadah wajib dan sunnah dengan penuh ketekunan, menyerahkan diri, harta dan tenaga pada Allah semata, mengabdikan hidup untuk Islam, dan menyebarkan kebaikan di muka bumi. Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kesempatan selalu mengaku sebagai hamba Allah dan Rasulnya, ini menunjukkan derajat yang tinggi disebut sebagai hamba Allah. Jika penulis buku ini ingin disebut hamba Allah, sebagai sarana agar mampu melaksanakan hal-hal di atas dalam kenyataan, bukan berarti sudah menjadi “hamba Allah” dalam arti sesungguhnya. Sebab hidup butuh proses untuk mencapai sesuatu yang tertinggi, hanya kematian yang menghentikan proses ini.&lt;br /&gt;Menjadi hamba Allah juga merupakan sebuah sikap rendah hati manusia pada sesama, sehingga dapat menjalin kehidupan yang harmonis, berusaha menjadi yang terbaik sesuai bidang usaha yang dikelola dan beramal shaleh dengan hasil usaha agar umat Islam dapat diangkat dari kemiskinan dan pengangguran, berbicara sesuai kebutuhan sesuai yang dicontohkan nabi Muhammad, ringan tangan membantu orang lain yang membutuhkan, dan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.&lt;br /&gt;Konsep ubudiyah menunjukkan bahwa manusia dalam Islam hakikatnya sama yakni sebagai hamba Allah yang dapat menjadi mulia atau hina, derajat tinggi atau paling rendah, dan sebaik-baik manusia atau sebalinya, tergantung dari tingkah laku, hasil karya nyata, amal shaleh, ketaatan pada Allah, sumbangsih pada sesama manusia, dan kehidupan yang dijalani. Ini juga mengindikasikan pembelaan Islam terhadap kaum lemah, orang-orang miskin, kaum terlantar, orang-orang tertindas, dan orang-orang tak berdaya, sebab mereka semua hamba Allah.&lt;br /&gt;Ikhlas yakni melakukan segala sesuatu karena Allah semata, ketika muncul godaan untuk melakukan sesuatu karena selain Allah, maka cepat-cepat dialihkan kembali. Tingkatan-tingkatan ikhlas; melakukan sesuatu karena mengharap ridha Allah semata (tertinggi), melakukan sesuatu karena mengharap pahala di akhirat, melakukan sesuatu karena mengharap surga, melakukan sesuatu karena Allah meski tetap mendapatkan upah, bayaran dan uang, dan seterusnya sampai karena mengharap surga. “kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS Al-Hijr;40).&lt;br /&gt;Wujud ikhlas dalam kehidupan sehari-hari ialah melihat orang lain kelaparan membantu dengan makanan atau memberikan kebutuhan pokok tanpa ingin dipuji orang, melihat tetangga hidup menganggur, mengajak berdialog, lalu berupaya memberikan sumbangan pemikiran dan modal usaha jika memiliki, melihat orang sekitar hidup dalam kekurangan, maka berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan mencari jalan keluar agar tidak miskin lagi, melihat anak-anak tidak bersekolah, memberikan pendidikan gratis agar mereka bisa membaca dan menulis sebagai bekal untuk belajar sendiri saat dewasa, melihat orang-orang yang berbuat jahat atau maksiat berusaha memberikan nasihat melalui teladan yang baik dengan tidak melakukan hal yang sama, semua itu dilakukan karena mengharap ridha Allah. Sehingga kebaikan menyebar di muka bumi seperti air hujan yang menyuburkan tanaman.&lt;br /&gt;Jika setiap umat Islam di Indonesia, mampu melatih keikhlasan ini sampai mampu mencapai puncaknya, lalu melakukan hal itu secara istiqamah sepanjang hidup, maka problem kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan, perlahan tapi pasti dapat diatasi. &lt;br /&gt;Shiddiq (jujur) kepada Allah dan manusia, “….. orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah …” (QS Al-Ahzab;23).&lt;br /&gt;Jujur pada Allah bermakna; manusia berusaha untuk jujur dalam perkataan, niat, keinginan, tekad, mewujudkannya, perbuatan, bernadzar dan melaksanakan syari’at agama. Jika ingin berniat untuk taat melaksanakan shalat Tahajjud, maka membulatkan tekad di dada, mewujudkannya dalam praktik, dan meningkatkan kualitas ibadah sampai batas kemampuan diri.&lt;br /&gt;Kejujuran adalah barang langka di bumi Indonesia dalam krisis multi dimensi ini. Segala lapisan masyarakat mulai bawah, menengah dan atas, ramai-ramai berikrar “masa bodoh dengan kejujuran”, akibatnya bisa ditebak krisis tanpa kenal akhir menerpa ibu Pertiwi, bahkan ancaman krisis global sedang menanti di depan pelupuk mata.&lt;br /&gt; Kalangan masyarakat kecil yang hidup susah dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan hidup, malah menjadikan kejujuran sebagai hiasan belaka, sedang praktik kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan kebohongan, kepalsuan, kepura-puraan, dan saling menjatuhkan. &lt;br /&gt;Harapan untuk memperbaiki semua itu masih ada, asal mulai detik ini, setiap orang dari kita berusaha untuk jujur. Di sini ditulis “berusaha” yakni mengusahakan untuk bersikap jujur, jika dalam praktik berbohong, maka cepat-cepat beristigfar agar berbohong tidak menjadi kebiasaan. Begitu terus menerus yang dilakukan setiap hari, sehingga perlahan-lahan kejujuran menyatu dalam diri.&lt;br /&gt;Dengan mewujudkan kejujuran dalam berbicara, bergaul, bermusyawarah, berdagang, bertani, bekerja, berusaha, dan berbagai aspek kehidupan, insya Allah rahmatNya akan diberikan pada umat Islam dan pintu rizki dibuka lebar-lebar. &lt;br /&gt;Zuhud bermakna tiga hal; tidak senang ketika memiliki sesuatu dan tidak merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu, menganggap sama antara pujian dan celaan, hatinya dipenuhi kecintaan pada Allah, tapi tidak melupakan dunia.&lt;br /&gt;Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seringkali kita kehilangan sesuatu; dompet, uang, kartu ATM atau kredit, tabungan, tas, barang lainnya, dan salah transfer uang, setelah  hal itu terjadi, tidak menyesalinya, melainkan menganggap sesuatu yang biasa-biasa saja. &lt;br /&gt;Orang yang zuhud; tersenyum saat mendapatkan celaan sebagaimana tersenyum saat mendapatkan pujian, lapang dada saat dibicarakan kejelekan di depan orang banyak sebagaimana lapang dada dibicarakan kebaikannya, bersikap tenang sewaktu mendapatkan fitnah sebagaimana mendapatkan kabar baik, senang mendapatkan rizki yang sedikit sebagaimana mendapatkan rizki yang berlimpah ruah.&lt;br /&gt;Selama ini Zuhud diartikan dengan meninggalkan dunia sama sekali dan hidup penuh ketaatan pada Allah, padahal Allah menciptakan manusia untuk menjalani kehidupan dunia demi rasa cinta padaNya. Seseorang yang pekerjaannya hanya ibadah setiap detik dengan meninggalkan anak dan istri dalam kelaparan atau kekurangan, hakikatnya bukan orang zuhud. Seseorang yang beribadah setiap waktu, tapi kehidupannya ditanggung orang lain, bukan orang yang zuhud. Seseorang yang tidak mau bekerja karena beribadah saja pada Allah, bukan orang zuhud. Orang yang zuhud adalah mau bekerja apa saja asal halal, tapi dalam bekerja diniatkan karena Allah, menggunakan hasil pekerjaan sesuai kebutuhan bukan keinginan, berbagi pada orang lain, dan menjalankan ibadah secara khusu’ karena Allah.&lt;br /&gt;Mahabatullah yakni mencintai Allah di atas siapa pun dan apa pun, sebab cinta sejati hanya milik Allah karena lima alasan; manusia menyukai kesempurnaan, kekekalan, keberadaan dan kehidupan, semua itu milik Allah, manusia mencintai yang berbuat baik kepadanya, sedang kebaikan Allah tidak terhitung dan tidak terbatas “… jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya ….” (QS Ibrahim;34),  setiap manusia mencintai orang yang senang berbuat baik, senang menyebarkan kebaikan dan berbuat adil, siapakah yang mampu melakukan semua itu secara sempurna melainkan Allah, setiap orang mencintai keindahan (lahir dan batin) sebab keindahan memancarkan keagungan dan ketentraman, hanya Allah yang Maha Indah, adanya kesesuaian dan keteraturan dalam segala aspek kehidupan semesta, akhirat dan alam ghaib, siapa yang mengaturnya melainkan Allah.&lt;br /&gt;Kemulyaan para sahabat dan Ulama’ terdahulu; pengetahuan tentang Allah, Malaikat, Kitab dan para Rasulnya, kemampuan memperbaiki diri dan memperbaiki akhlak orang lain dengan nasihat, dan kemampuan mensucikan diri dan jiwa dari perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat tercela.&lt;br /&gt;Cinta pada Allah dapat diwujudkan dengan mencintai sesama manusia karena Allah. Orang yang melakukan perjalanan jauh untuk menemui saudaranya karena ingin bersilaturahmi dan memberikan sebagaian harta yang dimiliki padanya sebagai bentuk cinta pada Allah. Orang bekerja siang malam untuk mampu memenuhi kebutuhan keluarga sebagai bentuk tanggung jawab dan cinta pada Allah. Orang kaya memberikan modal usaha pada 10 orang pengangguran, sehingga memiliki usaha untuk hidup mandiri ditujukan sebagai bentuk cinta pada Allah. Seorang pemuda berbagi skill bidang tertentu pada orang lain sampai dia menguasainya sebagai keahlian yang bermanfaat, ini merupakan bentuk cinta pada Allah. Malah, Allah menegur umat Islam yang tidak mau menjenguk orang yang sakit, memakamkan jika meninggal dunia, dan membantunya jika membutuhkan sesuatu.&lt;br /&gt;Allah Maha Segala, sebenarnya tidak butuh cinta manusia, hanya manusia yang butuh cinta Allah, sebab mereka tergantung padaNya, membutuhkan rizkiNya, memohon ampunanNya, mengharap ridhaNya, dan meminta dimasukkan dalam golongan orang-orang shaleh, jujur, baik, dan sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Jadi, bentuk cinta manusia karena Allah hakikatnya sama dengan mencintai Allah asal dilakukan secara tulus tanpa pamrih.&lt;br /&gt;Raja’ adalah mengharapkan sesuatu pada masa mendatang yang dapat menimbulkan kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan yakni pengharapan pada rahmat dan ampunan Allah. Raja’ berkaitan dengan menunggu, apabila yang ditunggu lemah sebabnya disebut tipuan, sedang bila sebabnya tidak jelas disebut angan-angan.&lt;br /&gt;Perbedaan antara raja’ dengan angan-angan karena adanya sebab. Jika seseorang mengharap untuk sukses dalam usaha, lalu berusaha mewujudkannya dengan cara-cara yang terbaik, ini yang disebut dengan Raja’. Jika orang berharap untuk sukses tanpa melakukan usaha apa pun, ini yang disebut angan-angan. Perwujudan usaha dengan cara-cara terbaik merupakan sebab kesuksesan.&lt;br /&gt;Dalam abad 21 ini, dunia angan-angan seringkali mampu diwujudkan dalam kenyataan. Walt Disney berangan-angan untuk memiliki taman bermain sekaligus tempat hiburan, maka terbentuklah Disney Land di beberapa negara di dunia, sedang di Indonesia disebut Taman Fantasi. Orang-orang bermimpi berkomunikasi secara mudah, muncullah Handphone. Orang-orang bermimpi membuat dunia maya menjadi nyata, lahirlah internet dan ipod. Namun perlu dicatat bahwa mimpi yang diwujudkan menjadi nyata dikarenakan beberapa hal; keberanian mewujudkan mimpi walau ditentang dan diejek banyak orang, usaha yang gigih pantang menyerah, menekuni bidang tersebut selama bertahun-tahun baru menemukan titik terang, berulangkali jatuh bangun, membaca keadaan dengan cerdas, pandai memanfaatkan peluang sekecil apa pun, mampu bersinergi dengan orang lain, menemukan lingkungan yang tepat dengan keahlian yang tepat pula. Hakikatnya mereka yang mewujudkan mimpi menjadi nyata, disebut Raja’ atau pengharapan untuk sukses di dunia dengan sebab yang jelas.&lt;br /&gt;Memang makna Raja’ tidak sekadar berhubungan dengan urusan dunia, tapi juga urusan akhirat. Dalam konteks ini, manusia berharap untuk diampuni dosa-dosanya dengan banyak beristigfar dan berbuat baik, manusia berharap mendapatkan surga dengan menjalankan syari’at agama, manusia berharap mencintai Allah dengan mencintai sesama manusia karena Allah, manusia berharap digolongkan dengan orang-orang shaleh, sahabat dan para Nabi dengan meneladani akhlak mulia mereka, manusia berharap ridha Allah dengan melakukan segala sesuatu yang dikehendakiNya dan menerima ketentuanNya baik atau buruk dengan lapang dada.&lt;br /&gt;Khauf yakni perasaan takut pada Allah semata. Ketakutan terhadap azab Allah, siksa kubur yang dasyat, hari perhitungan, hari pembalasan, takut dimasukkan neraka padahal api sebagai unsur terkecilnya kita sudah ketakutan, dan lebih-lebih sangat takut jika tidak berjumpa dengan Allah. Juga takut bahwa amal ibadah tidak diterima oleh Allah, takut dosa-dosa tidak diampuni Allah, takut amal kebaikan tidak dapat mengimbangi dosa dan keburukan; “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS Al-Mukminuun;60). &lt;br /&gt;Perwujudan rasa takut dalam kehidupan sehari-hari ialah berhati-hati dalam berbicara atau bertingkah laku supaya tidak terjebak pada kesalahan, jika pun berbuat salah dijadikan sarana pembelajaran untuk berbuat yang lebih baik, melaksanakan ibadah srpitual dan sosial secara sukarela, membiasakan diri berbuat baik, senantiasa memberikan yang terbaik dalam usaha agar keluarga hidup berkecukupan dan memberi manfaat pada orang lain, dan menimba ilmu setinggi-tingginya untuk diajarkan pada orang-orang yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Takwa ialah mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah, melaksanakan ibadah dan amal shaleh dalam makna ihsan, mendekatkan diri pada Allah, dan bersikap adil &lt;br /&gt;“Sesungguhnya takwa memiliki jalan sendiri. Apabila seseorang melalui jalan itu, maka nilai-nilai ketakwaan akan terpatri di dalam dirinya dan perbuatannya akan mencerminkan cahaya Al-Qur’an dan Hadits.” Said Hawwa&lt;br /&gt;Pernyataan Sa’id Hawwa penting dipelajari lebih lanjut. Setiap orang berusaha untuk menjadi yang paling bertakwa, sebab itulah bekal terbaik menuju kehidupan akhirat, sekaligus harapan Allah pada hamba-hambaNya. &lt;br /&gt;Ketika Anda membulatkan tekad untuk bertakwa pada Allah, maka langkah yang ditempuh ialah memperbaiki shalat wajib yang dilakukan, khususnya bacaan-bacaan yang benar, pemahaman pada arti, sehingga dapat shalat dengan khusu’, menambah dengan shalat sunnah Qobliah dan Ba’diyah (sebelum/setelah shalat), menambah dengan shalat sunnah hajat, dhuha dan tahajjud, kedua memperbaiki puasa yang dilakukan tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan seluruh jasad lahiriah dan batin juga berpuasa, melakukan hal-hal yang baik selama berpuasa sebagai sarana berbuat baik 11 bulan kemudian, lalu berusaha menambah dengan puasa sunnah; menjelang Idul Adha, senin dan kamis dan puasa-puasa sunnah lainnya sesuai kemampuan atau kerelaan diri, ketiga, mengeluarkan zakat fitrah atau harta secara rutin ditambah sedekah kapan pun memperoleh rizki yang banyak, meningkatkan diri bersedekah sesuatu yang abadi seperti modal usaha atau ilmu, keempat berhubung haji bagi yang mampu, maka yang tidak mampu dapat senantiasa berbuat baik untuk mengimbanginya, kelima, beriman dengan keyakinan, keenam, musafir di jalan Allah tidak mesti berjalan kaki, menempuh kendaraan tidak apa, asal dilakukan dengan benar di tempat yang benar dengan cara yang benar, sebab ada sebagian orang yang berjalan kaki dari Jawa Barat sampai pulau Madura, namun yang dicari kesaktian dan kedigdayaan, suatu jalan yang jelas-jelas salah, ketujuh, melakukan hijrah dari tempat yang kurang baik atau kurang produktif ke tempat yang lebih baik atau produktif, sehingga prinsip orang terbaik ialah yang paling bermanfaat dapat dipegang teguh. Mungkin jalan di atas yang berusaha ditempuh hamba Allah, sedang Anda dapat mencari jalan takwa sendiri.&lt;br /&gt;Makna takwa dalam kehidupan sehari-hari yakni berusaha untuk bermanfaat pada orang lain sesuai kemampuan, hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup sehingga dapat beribadah dengan tenang, bekerja apa saja asal halal, mewujudkan ibadah spritual dalam tingkah laku yang mulia seperti halnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, memiliki kepribadian yang tangguh dan kuat, dan menjadikan musibah, bencana atau nasib sial sebagai cara Allah mendidik seseorang untuk menjadi yang terbaik.&lt;br /&gt;Wara’ ialah meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi diri, orang lain, lingkungan, dengan diniatkan karena Allah.&lt;br /&gt;Tingkatan wara’ menurut Imam Ghazali. Pertama; wara’ wudul yakni meninggalkan segala perkara yang telah diharamkan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan menyebabkan seseorang berbuat maksiat, contoh, minuman keras (khamar) haram hukumnya, maka kita berusaha tidak meminumnya. Kedua, meninggalkan perkara syubhat yang tidak wajib ditinggalkan akan tetapi disunnahkan, dan meninggalkan yang perkara-perkara makruh, “Tinggalkan apa-apa yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu. “ (HR. Nasa’ie, Tirmidzi, Ibnu Hibban), misal menemukan uang di jalan, lalu kita berusaha mencari yang tidak punya, jika tidak ditemukan berinisiatif menyumbang pada orang yang membutuhkan atau masjid. Ketiga, wara’  muttaqien yakni “Tidaklah seseorang sampai kepada derajat muttaqien hingga ia meninggalkan apa yang dibolehkan bagiNya karena takut mengerjakan apa yang tidak diperbolehkan untuknya,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim) “Kami meninggalkan 9/10 perbuatan yang halal karena takut jatuh pada perbuatan yang haram,” Umar bin Khattab, contoh; orang yang makan sedikit atau secukupnya karena khawatir terlalu kenyang yang memudahkan setan untuk masuk, meninggalkan pakaian yang mewah untuk menggunakan pakaian sederhana karena mengharap ridha Allah seumur hidup, jika pada masa Umar bin Khattab dapat meninggalkan 9/10 perbuatan yang dibolehkan, maka untuk zaman kita sekarang, mampu meninggalkan 1/3 saja asal secara konsisten sudah cukup memadai. Keempat, wara’ as-shiddiqien yakni meninggalkan perkara-perkara yang jelas kehalalannya semata-mata karena Allah, sebagai misal; Rabi’ah Al-Adawiyah dan Ibnu Taimiyah tidak menikah karena ingin mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah dan mengabdikan diri pada Islam. &lt;br /&gt;Makna wara’ dalam kehidupan sehari-hari yakni meninggalkan hal-hal yang tidak produktif, tidak bermanfaat, sesuatu yang sia-sia, dan membuat seseorang stagnan atau mandeg. Sesuatu yang jelas-jelas tidak produktif atau tidak menguntungkan sama sekali dalam usaha, berusaha untuk ditinggalkan dengan menggantinya dengan yang produktif. Seringkali seseorang merasa melakukan hal-hal berharga, padahal yang dilakukan nilai manfaatnya kecil atau tidak ada, maka perlu melakukan sesuatu yang bermanfaat agar menjalani hidup penuh makna. Berapa banyak kesia-siaan yang dilakukan dalam satu hari saja, apalagi dalam sebulan atau setahun, susah menghitungnya, mulai saat ini berusaha meninggalkan hal-hal yang sia-sia ini. Stagnan atau mandeg dalam usaha, kreativitas, dan pekerjaan membuat seseorang putus asa, jalan keluarnya, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, merenung di tempat yang sunyi sambil mendekatkan diri pada Allah, dan mencari peluang usaha baru jika yang lama tidak mungkin ditingkatkan.&lt;br /&gt;Syukur adalah mengerahkan secara total apa yang dimilikinya untuk mengerjakan apa yang paling dicintai Allah. Rasulullah yang jelas-jelas dijamin masuk surga dan menjadi makhluk terbaik masih rajin beribadah sampai bengkak kakinya karena bersyukur, sehingga ketika Aisyah menegur secara halus, beliau bersabda “Apakah kamu tidak mau (Aisyah) kalau aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”&lt;br /&gt;Ilmu syukur; nikmat itu sendiri yang disyukuri, penerima nikmat yakni orang yang mendapatkan nikmat dan pemberi nikmat yakni Allah SWT, kebahagiaan atas nikmat yang diperoleh merupakan hal syukur, amal syukur yakni amal lisan dengan hamdalah, amal hati memperbanyak dzikir dalam berbagai keadaan, anggota tubuh melakukan sujud syukur, meningkatkan ketaatan dalam beribadah dan mendekatkan diri pada Allah.&lt;br /&gt;Syukur paling mudah yang enggan dilakukan manusia ialah bersujud syukur, padahal hanya berniat untuk sujud syukur, bersujud sambil membaca “subhanallah walhadulillah wala haula wala quwwata illa billahil aliyil’adzim” atau bisa juga membaca “alhamdulillahirabbil alamien” sebanyak-banyaknya, jika bisa sampai menitikkan air mata. Mengapa hal ini perlu dilakukan?&lt;br /&gt;Tahukah kita bahwa hidup yang dijalani dalam bayang-bayang kematian. Ketika naik angkot, bus, kapal laut dan pesawat rawan kecelakaan, diam di rumah rawan perampokan, tidur di ranjang rawan gempa bumi, duduk santai rawan banjir, berjalan-jalan rawan tertambrak kendaraan, makan daging rawan flu burung, berdiam diri rawan angin topan, berdiri di tanah datar rawan petir, dan lain sebagainya. Maka, kita dapat hidup detik ini harus disyukuri.&lt;br /&gt;Meski Indonesia didera krisis sampai sekarang, namun kita masih dapat makan nyaman meski hanya dengan garam atau krupuk, tidur nyenyak di malam hari, dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga seadanya. Padahal, bisa jadi di bagian dunia berbeda orang-orang hidup kelaparan, ketakutan karena perang, dan kecemasan terus menerus. Bukankah ini pantas disyukuri?&lt;br /&gt;Sampai sekarang, kita sehat walafiat jasmani dan rohani, padahal banyak yang tidak sehat salah satunya. Kita dapat menikmati menjadi orang Muslim dan Mukmin, sehingga mampu bersikap tenang dalam krisis ini, memiliki bekal untuk menjalani kehidupan setelah kematian, sedang orang lain yang tidak beriman hanya menikmati kehidupan dunia yang hampa ini. Adakah nikmat yang lebih besar dari hal ini?&lt;br /&gt;Masih banyak serentetan fakta mengapa Anda harus bersyukur pada Allah. Tapi paling tidak, kini Anda memahami sebagian di antaranya. Dengan bersyukur, luar biasanya, Allah memberikan sesuatu yang lain. Menurut Imam Ghazali, orang yang pandai bersyukur akan memperoleh; kekayaan, doa yang mustajab, memberoleh rizki, mendapatkan ampunan, dan tobat diterima Allah.&lt;br /&gt;Sedang syukur sesama manusia diwujudkan dalam; mengucapkan terima kasih setiap kali mendapatkan kebaikan, rizki, ilmu dan pertolongan, berusaha menempatkan sesuatu pada tempatnya dalam berhubungan sosial, membalas kebaikan dengan yang lebih baik, dan saling tolong menolong atau nasihat menasihati secara tulus.  &lt;br /&gt;Sabar lawannya keluh kesah. Sabar terbagi dalam; sabar yang berkaitan dengan tubuh, dan sabar menghadapi keinginan syahwat dan hawa nafsu. &lt;br /&gt;Pertarungan antara motivasi positif (hati yang suci) dan motivasi negatif (hawa nafsu); Motivasi positif mengalahkan yang negatif hawa nafsu, maka seseorang bisa konsisten dalam bersabar. Motivasi negatif mengalahkan yang positif, sehingga hatinya dikuasai setan dan tidak ada keinginan untuk melawannya, orang yang sama sekali tidak sabar. Antara motivasi positif dengan negatif seimbang, terkadang saling mengalahkan, orang yang berusaha melawan hawa nafsunya, kadang bersabar dan kadang tidak. Untuk memperkuat motivasi positif; menumbuhkan keinginan untuk meningkatkan kualitas diri dalam berbagai aspek kehidupan, meningkatkan maqam diri semampu yang bisa dilakukan, membiasakan diri melawan motivasi negatif (hawa nafsu).&lt;br /&gt;Tiga cara mengalahkan hawa nafsu; mengurangi kualitas dan kuantitas makanan yang lezat, tidak melihat hal-hal yang mengundang gejolah syahwat, menghibur diri dengan yang dibenarkan syariat seperti menikah.&lt;br /&gt;Tingkatan-tingkatan sabar; tashabbbur yakni berusaha untuk bersabar, dalam bersabar seperti menanggung beban berat, orang yang dengan mudah bersifat sabar karena sudah terbiasa, dan tasyabaruu yakni yang memiliki kesababaran luar biasa meski sering didzalimi dan dianiaya lahir/batin.&lt;br /&gt;Sabar dalam zaman sekarang diwujudkan dalam; bersabar dalam mengelola dan menghadapi persaingan usaha, malah menjadikan sarana meningkatkan diri atau mencari usaha yang benar-benar baru dan berbeda, bersabar dalam berhubungan dengan orang lain sebab orang yang bersabar kelihatan kalah dari luar tapi menjadi pemenang sejati, sabar dalam hidup berkeluarga dan membesarkan anak, bersabar dalam menghadapi kemaksiatan di depan mata, bersabar melihat terlalu banyaknya barang yang ditawarkan iklan, supermaket, mall dan pusat perbelanjaan, bersabar menghadapi tetangga, dan bersabar dalam menerima cobaan atau ujian Allah. Salah satu rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam sehingga tersebar di segala penjuru dunia, karena beliau memiliki kesabaran yang sempurna, padahal hampir setiap hari dianiaya, difitnah, diejek, dan didzalimi selama 13 tahun, sehingga memaksa beliau hijrah, sesampainya di Madinah yakni 10 tahun, masih diperangi kaumnya yang memaksa beliau berperang di jalan Allah.&lt;br /&gt;Ridha ialah menerima apa pun ketentuan Allah secara sukarela untuk memperoleh ridhaNya, puncak dari ihsan yakni ridha Allah pada hamba-hambaNya. Untuk mencapai ridha, perlu ditumbuhkan rasa cinta pada Allah, cinta yang total menyebabkan menerima apa pun secara sukarela. Berdoa tidak menjatuhkan makam ridha, demikian juga bagi orang yang hijrah dari tempat maksiat menuju tempat yang lebih baik.&lt;br /&gt;Tingkatan ridha; orang yang mencintai kematian karena rindu bertemu dengan Allah, orang yang mencintai kehidupan di dunia karena ingin berkhidmat pada Allah, dan orang yang berkata “Aku tidak memilih antara keduanya (kematian dan kehidupan), akan tetapi aku ridha atas apa yang dipilihkan Allah untukku,” ini merupakan derajat yang paling tinggi. Berusahalah istiqomah! &lt;br /&gt;Umat islam yang mencintai kematian karena rindu pada Allah, sedangkan orang kafir takut mati, sebab menganggap mati sebagai akhir kehidupan. Alangkah berbahagianya menjadi seorang Muslim yang menjadikan kematian sebagai sarana untuk bertemu dengan Allah yang Maha Segala. Suatu pertemuan yang paling diidam-idamkan setiap hambaNya.&lt;br /&gt;Ternyata mencintai kehidupan karena memanfaatkan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada Allah, membantu umat Islam keluar dari kemiskinan, keterbelakangan dan pengangguran, membantu umat manusia menjalani hidup yang lebih nyaman dan baik di dunia, dan menjalani setiap putaran detik atau jam untuk selalu mengingat Allah, juga termasuk dari bagian dari upaya memperoleh ridha Allah.&lt;br /&gt;Tingkatan yang paling tinggi dari keduanya yakni tidak mencintai kematian dan kehidupan melainkan ridha apa pun kehendak Allah SWT. Jika Allah menghendaki untuk mati, dia menyerahkan nyawanya dengan senyum, jika Allah menghendaki untuk hidup agar bermanfaat lebih banyak pada orang lain, dia menjalaninya dengan senyum, jika Allah menghendakinya difitnah manusia tanpa alasan yang jelas, diterima dengan lapang dada, jika Allah menghendakinya menerima kegagalan demi kegagalan, diterima dengan keinginan untuk memperdalam ilmu, jika Allah menghendaki merenung sendirian mengingatNya semata, dijalani sepenuh hati, jika Allah menghendaki hidup menderita, dijalani sepenuh hati. Memang hal ini sesuatu yang amat sulit, tapi bila seseorang bertekad melakukannya, maka tampak mudah saat dijalani dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;Ridha berkenaan dengan usaha atau pekerjaan yakni menerima hasilnya dengan lapang dada, mensyukurinya sebagai rahmat Allah meski hasilnya lebih kecil, memanfaatkan untuk hal-hal baik, dan terus menerus berusaha untuk kemudian disedekahkan pada kerabat dan orang-orang yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Tobat ialah mengakui kesalahan yang dilakukan, menyesalinya, memperbaikinya dan berusaha tidak mengulanginya. “…Dan bertobatlah pada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung,” (QS Anu-Nuur;31). Menurut Imam Ghazali, Tobat berhubungan dengan ibadah, kemaksiatan dan kedzaliman pada manusia. &lt;br /&gt;Tobat dalam ibadah ialah mengingat sejak balig berapa kali melalaikan shalat, puasa dan zakat, lalu berupaya untuk menggantinya sedikit demi sedikit sampai merasa cukup memadai. Jika tidak dapat menempuh hal ini, dapat dilakukan dengan memperbanyak dzikir pada Allah yakni membaca istigfar 100X setiap hari, atau memperbanyak ibadah sunnah sebagai pengganti.&lt;br /&gt;Tobat berkaitan dengan kemaksiatan yakni mengingat semenjak balig semua kesalahan, kekhilafan, dosa, keburukan, dan kekejian yang dilakukan, lalu menyesali yang telah dilakukannya dan memperhitungkan kadar kemaksiatan secara kualitas dan kuantitas untuk menggantinya dengan kebaikan. “…..sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS. Huud; 114) kemaksiatan pendengaran dengan banyak mendengarkan Al-Qur’an, nasihat agama, dan berdzikir, kemaksiatan dengan mata berusaha ditutup dengan melihat hal-hal positif atau baik, kemaksiatan anggota tubuh dengan memperbanyak ibadah.&lt;br /&gt;Tobat karena melakukan Kedhzaliman pada manusia; apabila menghilangkan nyawa orang, maka harus membayar diyat (denda) dan meminta maaf pada keluarga, apabila dzalim harta atau kehormatan, maka harus meminta maaf dan menggantinya, apabila dzalim hati seperti menyebarkan kejelekan, maka harus meminta maaf pada orang-orang yang pernah mendengarnya.&lt;br /&gt;Pembagian manusia dalam masalah tobat; seseorang yang bertobat dari kemaksiatannya secara total, konsisten sampai meninggal dunia, tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengganti ibadah-ibadah yang telah ditinggalkan, orang yang bertobat dengan rajin melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan sunnah, serta meninggalkan dosa-dosa besar, tapi kadang tergelincir pada dosa yang tidak disengaja atau tidak berniat melakukannya, orang yang bertobat secara konsisten sampai beberapa lama, namun terkadang dikalahkan hawa nafsunya, sehingga melakukan dosa dengan sengaja, ia tetap berusaha taat dan melawan hawa nafsunya, sedang yang paling buruk yakni orang yang melakukan kemaksiatan lagi tanpa ada keinginan bertobat.&lt;br /&gt;Berhubungan dengan tobat ini, rahmat Allah lebih besar dari mukaNya, renungkanlah kisah berikut ini!&lt;br /&gt;“Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 orang, lalu ia bertanya tentang seorang yang paling mengerti agama. Ditunjukkanlah pada seorang pendeta, ketika sampai orang yang mengantarnya berkata, ‘wahai pendeta, orang ini telah membunuh 99 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ Pendeta itu berkata, ‘tidak mungkin!’ maka pendeta itu dibunuh sampai genap 100 orang. Kemudian ditunjuki pada orang alim ‘wahai orang alim, orang ini telah membunuh 100 orang, apakah mungkin bagiNya untuk bertobat?’ orang alim itu berkata, ‘Mungkin, tidak ada yang menghalangi tobat hamba kepada Tuhannya. Lalu orang alim memberikan arahan, ‘Pergilah ke tempat itu, di sana penduduknya menyembah Allah, beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke tempat asalmu karena itu merupakan tempat penuh kemaksiatan.’ Lalu pergilah laki-laki itu ke tempat yang diberitahu orang alim tadi. Ketika di perjalanan laki-laki itu meninggal dunia. Terjadilah perdebatan antara Malaikat Rahmat dengan Malaikat Adzab, Malaikat Rahmat berkata, ‘Orang ini datang untuk bertobat’ Malaikat Adzab menjawab, ‘Akan tetapi ia belum melakukan kebaikan sama sekali.’ Maka datanglah Malaikat yang berwujud sebagai manusia, yang berdiri sebagai penengah dan berkata, ‘Ukurlah jarak antara tempat tujuannya dengan tempat dia berasal, mana yang paling dekat itulah yang menentukannya.’ Ketika diukur, ternyata jarak tempat yang dituju lebih dekat dari tempat ia berasal, lalu Malaikat rahmat membawanya. (HR Bukhari Muslim) Dalam riwayat lain “Perbedaan jarak antara keduanya hanya sejengkal.” Riwayat lain menyebutkan “Allah memerintahkan tanah yang ia berasal untuk menjauh dan tanah yang tujuannya mendekat, lalu memerintahkan Malaikat untuk berkata, ‘Ukurlah mana yang paling dekat.’ Ketika diukur, tempat tujuannya lebih dekat sejengkal, maka dosa-dosanya diampuni Allah. &lt;br /&gt;Sebaliknya, ada orang yang sombong dengan ibadah, ketaatan pada Allah, dan merasa paling mulia di dunia, lalu Allah mengujinya dengan wanita, dia mampu menolak, mengujinya dengan berjudi dia mampu menolak, tapi dengan ujian alkohol atau khamr dia akhirnya meminumnya, sehingga kemudian berjudi dan berzina dengan wanita tersebut, setelah itu Allah mencabut nyawanya. Ini contoh su’ul khatimah karena kesombongannya merasa sok suci.&lt;br /&gt;Melihat kedua kenyataan yang saling bertolak belakang ini, mari kita sekarang melihat posisi masing-masing. Jika kita dalam posisi senantiasa berbuat maksiat, cepat-cepat berusaha tobat. Jika kita taat beribadah, mampu menghindari maksiat, dan mendekatkan diri pada Allah, timbulkan perasaan dalam diri bahwa banyak orang di luar sana yang lebih segalanya dari kita, bahkan kita masih jauh untuk mampu disejajarkan dengan Ulama’, orang shaleh, apalagi dengan para Rasul. Jika kita kadang taat, kadang lalai, kadang-kadang bermaksiat, maka berusahalah untuk mengurangi kelalaian dan kemaksiatan karena takut pada adzab Allah. Sebagai tambahan, perlu memperbanyak doa supaya meninggal dalam husnul khatimah.&lt;br /&gt;Muraqabah; mengawasi dengan tajam setiap amal perbuatan yang dilakukan, sebab jiwa tidak bisa dibiarkan bergerak sendiri, dan merasakan pengawasan Allah dalam segala kondisi “Beribadahlah pada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya ia melihatmu,” (HR. Abu Nu’aim/hasan).&lt;br /&gt;Mujahadah; bersungguh-sungguh dalam beribadah, beramal shaleh, mendekatkan diri pada Allah, menuntut ilmu dan mengamalkannya. Abu Darda; “Jika bukan tiga hal, aku tidak ingin hidup walau hanya sehari, yaitu rasa haus karena Allah di waktu-waktu siang hari (puasa), sujud pada Allah di tengah malam, dan mengikuti majelis-majelis orang-orang yang memilih pembicaraan yang baik-baik sebagaimana kurma yang baik-baik dipilih.” Jika jiwa membangkang lawanlah dengan tekad bahwa kesungguh-sungguhan merupakan kebutuhan sebagaimana fisik membutuhkan makanan.&lt;br /&gt;Muhasabah (introspeksi diri). Menyediakan waktu setiap hari, sejenak untuk muhasabah terhadap apa yang dilakukan dalam sehari (berapa kesalahan yang dilakukan, apa yang dilakukan untuk menutup kesalahan, kebaikan apa yang telah dilakukan, sudah cukupkah untuk menutupi dosa, sifat-sifat tercela apa yang belum hilang dalam diri, bagaimana cara mengilangkan), jika kesalahan lebih banyak dari kebaikan, maka memperbanyak istigfar dan memohon maaf jika bersalah pada orang, jika sebaliknya, berusaha untuk lebih baik keesokan harinya mengingat kesalahan-kesalahan di masa lalu masih belum tertutupi.&lt;br /&gt;Mu’atabah; seseorang hakikatnya tidak memiliki daya dan upaya melainkan Allah, untuk itu berusaha mencela diri. Jiwa biasanya mengajak pada hidup enak, menyenangkan, mengikuti hawa nafsu dan melakukan kemaksiatan, maka kita harus senantiasa mencela kehendak hawa nafsu yang rendah ini.&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud r.a; “Tunaikan apa yang telah Allah wajibkan pada Anda, niscaya Anda menjadi orang yang paling beribadah; jauhilah larangan-larangan Allah, niscaya Anda menjadi orang yang paling zuhud; dan puasalah dalam menerima bagian (rizki) Anda dari Allah, niscaya Anda menjadi orang yang paling kaya.”&lt;br /&gt;Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari&lt;br /&gt;a) Banyak berdoa pada Allah supaya memperoleh Akhlak yang mulia&lt;br /&gt;b) Bertingkah laku seperti Al-Qur’an berjalan&lt;br /&gt;c) Memperbaiki sandal, menjahit pakaian, mengerjakan pekerjaan rumah &lt;br /&gt;d) Menghadiri undangan, menengok orang sakit, dan tidak sombong&lt;br /&gt;e) Memperlakukan pembantu secara sama&lt;br /&gt;f) Cerdas dan dididik langsung oleh Allah&lt;br /&gt;g) Selalu memulai mengucapkan salam dan suka bersalaman dengan erat.&lt;br /&gt;h) Memberikan penghormatan pada tamu &lt;br /&gt;i) Paling dermawan&lt;br /&gt;j) Tawadhu walau menjadi makhluk paling mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalani Kehidupan Sehari-Hari&lt;br /&gt;Luqman hakim berkata pada anaknya; “Wahai anakku! Sesungguhnya diri manusia itu terbagi tiga komponen, yaitu; sepetiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga lagi untuk cacing. Adapun yang untuk Allah adalah rohnya, yang untuk dirinya adalah amalnya, dan yang untuk cacing adalah jasadnya.” &lt;br /&gt;Sebagai pegangan bagi Anda untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang lebih baik, maka perlu melakukan 3 hal yakni senantiasa meningkatkan kualitas pembacaan Al-Qur’an sampai taraf tertinggi seperti yang disarankan Imam Ghazali, melakukan amalan-amalan dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai hadits Nabi, dan beramal sholeh secara langsung.&lt;br /&gt;Cara Mempelajari Al-Qur’an menurut Imam Ghazali&lt;br /&gt;1. Memahami keagungan dan ketinggian firman Allah, karunia dan kasih sayang Allah pada makhlukNya dengan diturunkannya Al-Qur’an.&lt;br /&gt;2. Mengagungkan Allah saat membaca Al-Qur’an di dalam hati, ingatlah ini firman Allah bukan perkataan manusia.&lt;br /&gt;3. Kehadiran hati saat membaca Al-Qur’an dan meninggalkan bisikan hawa nafsu atau jiwa yang tercela.&lt;br /&gt;4. Tadabbur; merenungkan dan memikirkan makna-makna yang dikandung Al-Qur’an, makanya dianjurkan membaca tartil atau pelan-pelan.&lt;br /&gt;5. Tafahhum; mencari kejelasan makna setiap ayat Al-Qur’an dengan tepat dan benar, menyesuaikan pemahaman sesuai konteks zaman sekarang.&lt;br /&gt;6. Menghindari hambatan-hambatan yang menghalangi pemahaman seseorang saat berupaya memahami Al-Qu’an, tidak terjebak pada makharijul huruf, taqlid buta, dan terus menerus berdosa, angkuh dan tergoda hawa nafsu.&lt;br /&gt;7. Takhsys; menyadari bahwa dirinyalah sasaran Al-Qur’an, misalkan membaca ayat yang memberi perintah, maka dirinyalah yang diperintah, demikian juga saat mendengar larangan, nasihat, bimbingan dan petunjuk. “…. yang dengannya Kami teguhkan hatimu,” (QS Huud;120).&lt;br /&gt;8. Taatstsur; hatinya terpengaruh dengan beragam kesan dengan bermacam-macam ayat yang dihayatinya, apapila ilmunya sempurna, maka rasa takut menyelimutinya, rasa cinta mengugah sanubari, dan rasa hormat yang mendalam.&lt;br /&gt;9. Taraqqi; meningkatkan penghayatan sampai ke tingkat mendengarkan Al-Qur’an langsung dari Allah, adapun tingkatan-tingkatannya; seolah-olah seseorang membaca Al-Qur’an di hadapan Allah (tingkat rendah), menyaksikan dengan hati seakan-akan Allah melihatnya, berbicara padanya, membisikkan padanya berbagai nikmat dan kebaikan, melihat mutakallimin (Dzat yang berfirman) pada setiap kalam yang dibacanya, dan melihat sifat-sifatNya pada kalimat-kalimat yang ada, sehingga seluruh pikiran, perasaan, hati terhambat hanya pada Allah, yang lain fana (tingkat paling tinggi).&lt;br /&gt;10. Tabarri; melepaskan diri dari daya dan kekuatan, merasa lemah, hanya memandang dengan pandangan ridha dan kesucian. Apabila membaca ayat-ayat pujian pada orang-orang Muttaqien, dan shaleh dirinya merasa melihat mereka, sehingga ingin memperbaiki diri dan meneladani, sedang apabila mendapat ayat-ayat tentang ancaman, siksa dan azab dirinyalah yang akan mengalami semua itu, sehingga hati tergoncang dan takut.&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sepuluh surat dapat menolak sepulum macam bencana, yaitu; surat Al-Fatehah menolak murka Allah, surat Yaa Siin menolah dahaga di hari kiamat; surat At-Dhukhaan akan mencegah ketakutan di hari kiamat; Surat Waqi’ah mencegah kefakiran; surat Al-Mulk akan mencegah siksa kubur, surat Al-Kautsar akan menolak permusuhan, surat Al-Kafirun menolak datangnya kefakiran ketika dicabutnya nyawa, ssurat Al-Ikhlas menolak kemunafikan, surat Al-Falaq akan mencegah kejahatan dengki dari orang yang dengki, surat An-Naas akan menolak was-was.”&lt;br /&gt;Beberapa Amalan Penting dalam kehidupan sehari-hari &lt;br /&gt;Istigfar minimal 100X setiap hari “Sesungguhnya hatiku mengalami kelupaan sehingga aku beristigfar setiap hari seratus kali,” (HR. Muslim) “Siapa yang terus membaca istigfar, Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitan, kegembiraan dari setiap kesusahan. Dan Allah akan memberi rizki yang tanpa terkira,” (HR. Abu Daud, Nasa’I Ibnu Hibban). Beristigfar 1000X jika memiliki urusan yang sangat penting.&lt;br /&gt;Jika sedang gelisah membaca:&lt;br /&gt;(Ya hayyu ya qoyyuum birahmatika astaghiitsu) (HR. At-Tirmidzi) &lt;br /&gt;(Rabbie Laa Usyrik bihi Syai’a)     (HR. An-Nasa’i)&lt;br /&gt;Sedekah seperti memerdekakan 10 hamba sahaya, ditulis 100 kebaikan, dihapus 100 kejelekan dan menjadi perisai setan dari pagi sampai sore. Membaca setiap hari 100X;&lt;br /&gt;(Laa Ilaha Illallah wahdahu Laa syarikaka Lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir) (HR. Mutafaqun ‘Alaihi)&lt;br /&gt;Seribu kebaikan dan menghapus seribu kesalahan yakni membaca Tasbih 100X tiap hari&lt;br /&gt;“Apakah salah satu dari kalian tidak mampu mendapatkan seribu kebaikan setiap hari? Lalu ada yang bertanya, Bagaimana kita mendapatkan seribu kebaikan?” Nabi SAW bersabda; Bertasbih kepada Allah sebanyak seratus kali hingga ditulis oleh Allah seribu kebaikan atau dihapus seribu kesalahan.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Ringan di lisan tapi berat di timbangan dan dicintai Allah yakni membaca (subhanallah wabihamdihi subhanallhil ‘adzhim) &lt;br /&gt;Salah satu gudang surga yakni membaca (La Haula walaa quwata Illa billah) (HR. Muttafaq ‘Alaihi)&lt;br /&gt;Doa yang paling banyak dibaca Rasulullah yakni doa sapu jagad (Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah, waqina adzabannaar) &lt;br /&gt;Amalan Dzunun atau Nabi Yunus (Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzaalimien) Seseorang yang membaca doa ini dalam keadaan apa pun Allah akan mengabulkan doanya (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad dan Hakim)&lt;br /&gt;Amal Sholeh merupakan salah satu pendukung kesuksesan, bentuk riilnya ialah;&lt;br /&gt;1. Berjanji pada diri sendiri untuk membantu orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimiliki; ilmu, materi, tenaga, pikiran dan doa.&lt;br /&gt;2. Jika Allah memberikan karunia berupa keberhasilan suatu saat nanti, berjanji untuk membantu minimal satu orang miskin, anak yatim piatu, pengangguran atau anak terlantar sampai mampu mandiri.&lt;br /&gt;3. Segera melakukan kebaikan, sebagai misal; 15% keuntungan Pelatihan LFL digunakan untuk mensubsidi Kuliah Alternatif dan Pelatihan Gratis bagi Yatim Piatu, Fakir Miskin dan anak jalanan. Anda juga bisa melakukan hal yang sama agar bahagia di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;“…..sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang yang ingat.” (QS. Huud; 114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes Mukmin Sejati&lt;br /&gt;Lingkari atau silang satu huruf di antara a, b, dan c yang sesuai dengan kepribadian, prilaku, kebiasaan, dan tidak boleh berbohong demi kepentingan Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Biasa bersikap rendah hati terhadap siapa saja&lt;br /&gt;b. Terkadang bersikap rendah hati, terkadang tidak&lt;br /&gt;c. Merasa paling hebat melebihi orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Senang melihat orang lain sukses&lt;br /&gt;b. Benci melihat orang lain sukses&lt;br /&gt;c. Mau menjatuhkan orang lain yang sukses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menjalani hidup apa adanya&lt;br /&gt;b. Merasa beban hidup sangat berat dan susah, sehingga kadang mengeluh&lt;br /&gt;c. Suka hidup dalam dunia angan-angan dibanding kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ketika mau marah, mampu menahannya dengan baik&lt;br /&gt;b. Melampiaskan amarah ala kadarnya&lt;br /&gt;c. Melampiaskan amarah secara berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mampu mengendalikan keinginan dan mengaturnya&lt;br /&gt;b. Kadang mengikuti keinginan, kadang mampu mengontrolnya&lt;br /&gt;c. Menuruti apa pun yang diinginkan, baik atau buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Selalu melihat kebaikan dalam diri orang lain walau berbuar jahat sekali pun&lt;br /&gt;b. Selalu membalas kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan&lt;br /&gt;c. Selalu berburuk sangka pada orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Berbuat baik secara tulus dengan berusaha merahasiakannya&lt;br /&gt;b. Membanggakan kebaikan yang dilakukan di depan orang banyak&lt;br /&gt;c. Melakukan kebaikan karena ingin dipuji dan mendapat penhargaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tidak senang ketika memiliki sesuatu dan tidak merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu&lt;br /&gt;b. Senang ketika memiliki sesuatu dan merasa kehilangan ketika kehilangan sesuatu&lt;br /&gt;c. Kecintaan pada harta melebihi  kecintaan pada diri dan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bersedekah menjadi kebiasaan seperti halnya makan &lt;br /&gt;b. Kadang bersedekah, kadang tidak&lt;br /&gt;c. Tidak suka bersedekah dan memberi  pada orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hanya takut pada Allah SWT&lt;br /&gt;b. Takut pada siksa kubur dan neraka&lt;br /&gt;c. Takut menghadapi kematian dan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sering memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta&lt;br /&gt;b. Kadang memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta&lt;br /&gt;c. Tidak pernah memikirkan sunnatullah (hukum alam) yang ada di alam semesta karena dianggap sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hidup merupakan pencarian jati diri guna mencapai ridha Allah&lt;br /&gt;b. Hidup merupakan upaya mencari bekal guna mendapatkan surga&lt;br /&gt;c. Hidup di dunia sudah dianggap mencukupi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menerima karunia Allah dengan penuh rasa syukur, sehingga menimbulkan ketaatan beribadah dan beramal shaleh&lt;br /&gt;b. Mensyukuri nikmat Allah ketika senang, sedang ketika ditimpa sengsara justru lupa&lt;br /&gt;c. Apa yang diperoleh dianggap hasil jerih payah sendiri, sehingga tidak perlu bersyukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ketika melakukan kesalahan, langsung menyesalinya, membaca istigfar dan berusaha tidak mengulanginya&lt;br /&gt;b. Saat melakukan kesalahan menyesalinya dan beristigfar, tapi kembali melakukan kesalahan &lt;br /&gt;c. Ketika melakukan kesalahan, bersikap cuek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menjalankan ibadah sebagai kebutuhan&lt;br /&gt;b. Menjalankan ibadah sebagai kewajiban&lt;br /&gt;c. Malas beribadah, malah melalaikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Saya beribadah seakan-akan melihat Allah langsung&lt;br /&gt;b. Saya beribadah karena Allah pasti melihat yang dilakukan&lt;br /&gt;c. Saya beribadah karena melihat orang lain melakukan hal yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; a.   Apabila disebut nama Allah, hati gemetar&lt;br /&gt;        b.  Apabila disebut nama Allah, hati merasa tenang &lt;br /&gt;        c.  Apabila disebut nama Allah, biasa-biasa saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, iman bertambah kuat&lt;br /&gt;b. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, mendapatkan suntingkan semangat baru&lt;br /&gt;c. Saat membaca atau dibacakan Al-Qur’an, tidak ada perubahan sama sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Kebaikan dan keburukan berasal dari Allah &lt;br /&gt;b. Kebaikan berasal dari Allah, keburukan berasal dari sendiri&lt;br /&gt;c. Kebaikan dan keburukan berasal dari upaya Manusia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Melakukan segala sesuatu karena Allah dan ikhlas tanpa pamrih&lt;br /&gt;b.  Melakukan segala sesuatu karena Allah, tapi kadang mengharap pujian manusia&lt;br /&gt;c. Melakukan segala sesuatu karena manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menerima taqdir Allah secara sukarela, baik atau buruk&lt;br /&gt;b. Menerima taqdir Allah ketika mendapatkan kebaikan atau rizki&lt;br /&gt;c. Mengingkari kebenaran taqdir Allah karena merasa manusia mampu menentukan taqdirnya sendiri atau suka menyalahkan taqdir Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      a.   Yakin seyakin-yakinnya adanya alam ghaib&lt;br /&gt;b. Percaya adanya alam ghaib dengan tanpa keraguan&lt;br /&gt;c. Percaya adanya alam ghaib, meski kadang-kadang timbul keraguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Saya yakin seyakin-yakinnya kebenaran-kebenaran Islam &lt;br /&gt;b. Saya percaya kebenaran-kebanaran Islam dengan akal atau ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;c. Saya percaya kebenaran-kebenaran Islam karena diberitahu orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Mengharap perjumpaan dengan Allah sebagai tujuan hidup&lt;br /&gt;b. Mengharap kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak&lt;br /&gt;c. Mengharap kehidupan yang lebih baik di dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jawabannya banyak a) berarti Anda memang Mukmin Sejati, Istiqomahlah (konsisten)&lt;br /&gt;Jika jawabannya banyak b) berarti Anda seorang Muslim yang berupaya menjadi Mukmin Sejati, berusahalah untuk meningkatkan diri dengan menjalankan Item a) semuanya&lt;br /&gt;Jika jawabannya banyak c) berarti Anda Muslim karena KTP atau keturunan, berusahalah melakukan yang ada di Item b) supaya meningkat menjadi Muslim sesungguhnya. Wallahu   ‘alam bisshowaab&lt;br /&gt;Ali r.a; “Jadilah Anda sebaik-baik manusia dalam pandangan Allah, sementara dalam pandangan mata sendiri sebagai orang yang terjelek, dan jadilah orang sewajarnya dalam pandangan orang lain.”&lt;br /&gt;Meningkatkan Kualitas Keimanan&lt;br /&gt;Rukun Iman terdiri dari; percaya atau beriman pada Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul khususnya yang berjumlah 25, Kitab-kitab Allah; Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an (khususnya Al-Qur’an), hari kemudian, percaya pada ketentuan Allah. Ini bermakna spritual yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah (hamlum minallah) dan sosial yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan makluk lainnya (hamlum minalmakluk)&lt;br /&gt;Tingkatan Keimanan&lt;br /&gt;1. Percaya Rukun Iman dengan taqlid saja (ikut-ikutan tanpa ilmu)&lt;br /&gt;2. ‘Ainul Yaqin; percaya dengan yakin, seperti kebenaran sunnatullah yang sudah dibuktikan Ilmu pengetahuan yang telah teruji kebenarannya dan muraqobah (Allah pasti melihat kita)&lt;br /&gt;3. Ilmul Yakin; kayakinan tanpa keraguan setelah menyaksikan secara langsung kebenaran-kebenaran Islam dan ma’rifatullah (mata hati seakan-akan melihat Allah langsung)&lt;br /&gt;4. Haqqul yakin; Yakin dengan panca indera, akal dan hati dengan menyaksikan secara langsung lahir dan batin tentang kebenaran-kebenaran Islam dan musyahadah (Melihat Allah langsung tanpa hijab seperti Nabi Musa, yang lebih tinggi seperti  mi’rajnya Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha)&lt;br /&gt;5. Istiqomah dalam keadaan Haqqul yakin&lt;br /&gt;Contoh; Nabi Ibrahim AS memberi tauladan dalam proses keimanan yakni awalnya sebelum diangkat menjadi Nabi Percaya dengan penuh keraguan pada ciptaan Allah, lalu Percaya tanpa keraguan setelah melihat sunnatullah pada bulan, matahari, dan bintang, percaya dengan dengan ‘Ainul yakin setelah dibakar api tapi tidak apa-apa (dzat api yang panas diganti dingin atas kehendak Allah), Percaya dengan  Ilmul yakin setelah melihat langsung mukjizat berupa burung yang dipotong-potong dan disebar ke beberapa gunung tapi bersatu kembali, terbang ke hadapan beliau, percaya dengan Haqqul yakin manakala beliau bersedia mengorbankan anaknya Nabi Isma’il karena Allah semata, meski kemudian diganti kambing/domba sebagai bentuk rahmat Allah, dan puncaknya beliau istiqomah dalam haqqul yakin sehingga mendapatkan gelar Khalilullah. Untuk sahabat Nabi Abu Bakr Shiddiq!&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim a.s pernah ditanya; “ Apakah yang menyebabkan Allah menjadikan Anda sebagai kekasihNya?” Nabi Ibrahim menjawab; “Allah menjadikanku kekasihNya (khaliluhu) sebab tiga hal, yaitu: Saya memilih urusan Allah daripada urusan yang lain; saya tidak pernah gelisah mengenai segala hal yang telah menjadi tanggungan Allah untukku; dan saya tidak pernah makan, baik makan malam maupun siang, melainkan bersama tamu.” &lt;br /&gt;Untuk mampu mencapai semua itu, perlu mengambil langkah-langkah; &lt;br /&gt;a) Memilih hal-hal yang mudah dilaksanakan&lt;br /&gt;b) Setelah mampu, baru memilih hal-hal yang sulit tapi bisa dilakukan&lt;br /&gt;c) Bertekad dalam diri untuk melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt;d) Melakukan semua itu dengan senang hati dan sukarela&lt;br /&gt;e) Bersungguh-sungguh untuk mampu meningkatkan diri dalam segala aspek, &lt;br /&gt;f) Berupaya konsisten sampai meninggal dunia&lt;br /&gt;g) Berkeyakinan pada Allah tanpa keraguan secuil pun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) Hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS; Al-Anbiya’; 47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat Jibril berkata; “Allah, Pemilik keagungan, mencintai tiga perkara dari hamba-hambaNya, yaitu; Mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbakti kepada Allah SWT; menangis ketika sedih karena telah melakukan maksiat; dan bersabar ketika tidak punya sesuatu buat memenuhi kebutuhan.”&lt;br /&gt;3 Langkah Sederhana  untuk meraih kesuksesan; Belajar Otodidak, Wirausaha Islam dan Mukmin Sejati merupakan satu kesatuan langkah yang dilakukan secara terpadu. Artinya, untuk meraih kesuksesan tidak boleh menonjolkan satu Item dengan meninggalkan lainnya, melainkan mengintigrasikan seluruhnya dalam kesatuan langkah. Untuk itu, perlu beberapa langkah berikut ini.&lt;br /&gt;Pertama; Belajar Otodidak seumur hidup merupakan upaya untuk memahami, mengerti dan mendalami segala sesuatu dalam kehidupan yang dijalani dan memahami diri Anda masing-masing, sehingga Anda mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, mengantisipasi masa depan dengan baik, mewarnai kehidupan masa kini dengan kehidupan yang lebih baik, dan membawa bekal yang mencukupi untuk akhirat kelak.&lt;br /&gt;Kedua; Wirausaha Islam merupakan cara untuk mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan abad 21 dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Cara-cara yang ditempuh merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan dengan nilai-nilai masa kini yang terbukti berhasil. Dari sini diharapkan muncul wirausahawan Muslim yang berwawasan global, sehingga dapat membantu kesejahteraan umat Islam lainnya. Berhubung, dalam bisnis tidak ada batasan agama, ras, suku dan latar belakang, maka Wirausahawan Muslim harus mampu bersinergi dengan siapa saja tanpa mengenal perbedaan masing-masing pihak. Hal ini tetap berkesesuaian dengan Islam.&lt;br /&gt;Ketiga; Mukmin Sejati merupakan keharusan dalam abad 21. Inilah yang dimaksud Barat dengan Spritualitas Islam. Dengan menjadi Mukmin Sejati, Anda mampu bersikap benar dalam berbagai keadaan, tahan banting, menjadi manusia yang berusaha sempurna, memiliki benteng yang kokoh terhadap budaya lain yang merusak, dan melakukan segala sesuatu karena Allah dengan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;Keempat; perpaduan harmonis antara ketiganya yang insya Allah membimbing Anda untuk bahagia di dunia dan akhirat. Ketika Anda mencari kebahagiaan di dunia saja, coba renungkan, bukankah segala kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan bersifat semu atau sebentar. Itu karena kebahagiaan di dunia hanya sementara, sedang di akhirat kelak bersifat kekal selamanya. Alangkah nikmatnya menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat! Insya Allah (dengan keyakinan) hal itu dapat Anda capai dengan 3 LANGKAH SEDERHANA MENUJU KESUKSESAN. Selamat mempraktikkan!&lt;br /&gt;Dalam rangka memudahkan Anda menempuh 3 Langkah di atas, maka kami menawarkan Pelatihan Learning For Living (LFL). Pelatihan ini bukan sekadar menjelaskan 3 Langkah tersebut, melainkan upaya mengintigrasikan seluruhnya dalam diri Anda masing-masing. Sehingga setelah Pelatihan, Anda mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin mengingat Pelatihan kembali, cukup membaca buku ini.&lt;br /&gt;Sebagai bahan perenungan, bacalah puisi ini dengan penuh perasaan, serap maknanya, salami jiwanya, dan jadilah Mukmin yang seutuhnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELATIHAN&lt;br /&gt;Learning For Living (LFL)&lt;br /&gt;Pembelajaran Untuk Kehidupan&lt;br /&gt;Barat Balai Desa Wonosari No.26B Bondowoso&lt;br /&gt;Kontak Person: 085235930884&lt;br /&gt; “Tuntutlah ilmu dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat,” Hadits&lt;br /&gt;Lifelong Education (Pembelajaran seumur hidup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LFL merupakan lembaga Pelatihan yang berupaya mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menaklukkan abad 21, mengasah keterampilan kewirausahaan, menemukan potensi manusia dan mengembangkannya, membentuk kepribadian unggul yang tahan uji dan beramal sholeh, didukung Trainer dan Tim berpengalaman. 20% dari ketuntungan digunakan untuk mensubsidi Pelatihan Gratis bagi panti asuhan, anak yatim piatu dan fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi&lt;br /&gt;Membentuk Generasi Visioner yang mau Belajar Otodidak seumur hidup, Mandiri, dan Beriman sempurna.&lt;br /&gt;Misi&lt;br /&gt;1. Membuka cakrawala baru bahwa kesuksesan mampu diraih dengan kemauan yang kuat untuk Belajar Otodidak seumur hidup.&lt;br /&gt;2. Mengerti jenis Kecerdasan Berganda dan Gaya Belajar yang dimiliki, sehingga mampu mengembangkannya sesuai dengan kepribadian masing-masing untuk memudahkan dalam memilih profesi yang cocok.&lt;br /&gt;3. Mampu bekerja sama dengan siapa saja, sehingga dapat hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;4. Memiliki keimanan yang kuat sebagai benteng menghadapi kompleksitas zaman dan akselerasi perubahan.&lt;br /&gt;5. Melakukan Perubahan Pendidikan di Indonesia dengan perubahan yang signifikan dalam diri pelajar dan mahasiswa, sehingga mereka berhasil dalam hidupnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jenis Pelatihan LFL dan Outputnya: &lt;br /&gt;I. Pelatihan Belajar Otodidak&lt;br /&gt;1. Mengerti  Belajar Bagaimana Belajar (BBB), sebab cara belajar sama pentingnya dengan belajar.&lt;br /&gt;2. Belajar bukan sekadar untuk ujian melainkan guna menjalani kehidupan yang lebih baik&lt;br /&gt;3. Meruntuhkan penghalang mental untuk berhasil dalam belajar di sekolah/pesantren&lt;br /&gt;4. Meyakini setiap orang merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah yang cerdas, ini dibuktikan dengan Tes Kecerdasan Berganda yang telah dipersiapkan.&lt;br /&gt;5. Mampu belajar mandiri sesuai dengan gaya masing-masing anak yang memang unik dan khas, dibantu dengan Tes Mengetahui Gaya Belajar.&lt;br /&gt;6. Memiliki semangat belajar seumur hidup&lt;br /&gt;II. Pelatihan Wirausaha Islami&lt;br /&gt;1. Memahami nilai-nilai Islam dalam kewirausahaan&lt;br /&gt;2. Mengerti dunia entrepreneur dan makroprenuer&lt;br /&gt;3. Motivasi untuk bekerja apa saja asal halal&lt;br /&gt;4. Menguasai skill kewirausahaan&lt;br /&gt;5. Sukses menekuni usaha secara Islami&lt;br /&gt;III. Pelatihan Mukmin Sejati&lt;br /&gt;1. Memahami Islam secara spiritual dan sosial&lt;br /&gt;2. Membuang sifat-sifat buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai Islam&lt;br /&gt;3. Meneladani Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt;4. Menjadi Mukmin Sejati&lt;br /&gt;5. Amal Sholeh sebagai pendukung kesuksesan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LFL TEAM&lt;br /&gt;Mengingat kompleksitas dari sistem kerja animasi, terkait dengan jumlah SDM untuk menempati posisi-posisi ideal,  maka kami menyusun Team LFL guna berjalannya proses kerja&lt;br /&gt;Nama-nama anggota team kreatif yang telah bergabung berikut sesuai dengan spesifikasinya, adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Zubairi  &lt;br /&gt;• Penasihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ahmad Zamhari Hasan,  Posisi :&lt;br /&gt;• Direktur&lt;br /&gt;• Trainer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jumladi:&lt;br /&gt;• Editor &amp; Graphics Design&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Iqlimah :&lt;br /&gt;• Administrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengalaman-Pengalaman:&lt;br /&gt;1. Melakukan Pelatihan di tiga Pondok Pesantren di Sumatera Selatan, sekolah Mts/MA (Pondok Pesantren Aulia Cendikia Palembang, Pondok Pesantren Inayatullah Gasing Banyuasin, Pondok Pesantren Raudhatul Qur’an Banyuasin Sumsel)&lt;br /&gt;2. Pelatihan Guru-guru TK Raudhatul Qur’an Banyuasin &lt;br /&gt;3. Pondok Pesantren Syaichona Kholil Batu Besaung Samarinda (sekolah SMP/SMA).&lt;br /&gt;4. MTs Normal Islam dengan 150 peserta di Samarinda Kalimantan Timur&lt;br /&gt;5. Mahasiswa Institut Dirasah Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Madura Jatim&lt;br /&gt;6. Panti Asuhan Raksa Putra Sindang Barang Bogor Jawa Barat&lt;br /&gt;7. Pondok Pesantren Al-Ma’sum (SMP/SMA Terpadu) Cianjur Jabar&lt;br /&gt;8. Pelatihan Pelajar, Orang Tua dan Guru di SD Islam Yasiru Kebayoran Lama Jakarta&lt;br /&gt;9. Pelatihan Mahasiswa dan Guru di Cisarua Bogor&lt;br /&gt;10. Pelatihan Pelajar SMP Terpadu &amp; SMK berikut guru di Cikampek Jabar&lt;br /&gt;11. Pelatihan Santri Pondok Pesantren Nur’aliyah Cibubur Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Pembiayaan, kami atur dengan cara berikut ini:&lt;br /&gt;a. Dibayar Seikhlasnya, paling penting ialah saling berbagi ilmu demi peningkatan mutu anak didik. Malah ke depan, untuk Pesantren Gratis, Panti Asuhan dan Yayasan yang benar-benar sosial, insya Allah Gratis&lt;br /&gt;b. Berhubung pelatihan ini merupakan sebuah upaya untuk membantu para pelajar, generasi muda dan masyarakat umum guna mampu menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Maka masalah pembiayaan disesuikan dengan kemampuan klien kami. Untuk wilayah Jawa Timur; Rp. 200.000 + uang transportasi. Untuk di luar Jawa Timur: Rp. 300.000+ Uang Transportasi. Masalah Ini dapat dirundingkan melalui No. Hp. 085235930884 (Ahmad Zamhari Hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pendaftaran dapat  dilakukan dengan menghubungi; : 085235930884, sedang pembayaran dilakukan di tempat Pelatihan. Peserta setiap pelatihan dibatasi 100 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pelatihan ini juga mendukung program Kuliah Online Gratis yang kini sedang dijalani Trainer. www.sampenulis.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROFIL TRAINER&lt;br /&gt;(FOTO)&lt;br /&gt;Ahmad Zamhari Hasan, 10-11-1974, aktif membaca dan menulis sejak kelas III pesantren TMI Al-Amien Madura atau setingkat kelas III SMP/MTs. Selepas mondok lebih banyak  Belajar Otodidak (BO) tentang; Pendidikan, sastra filsafat, Islam, dan politik.&lt;br /&gt;Mempelopori lahirnya SUASA (Suara Sastra Al-Amien) yang membuatnya aktif menulis kolom, cerpen dan artikel, menjadi staf redaksi majalah Qalam, mempelopori penerbitan majalah Al-Hikam. &lt;br /&gt;Karya  tulis yang dihasilkan adalah novel : Bidadari Posmodern, Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (keduanya sudah terbit), novel Pengabdi Kemulyaan Cinta Sejati, tiga ontologi puisi; Menjangkau Tuhan, Aceh Tersenyum Bahagia, dan SMS TUHAN, satu kumpulan cerpen; Setitik Harapan 17 judul, sedang karya terbatu yakni “BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI, Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!” yang merupakan edisi revisi dari buku “Mau Kuliah Alternatif? BELAJAR OTODIDAK, Dong!” Kha Tulis Tiwa Press Jakarta. Pengalaman mengajar; Pondok Pesantren TMI Al-Amien Madura 2 tahun, Pondok Pesantren Daarul Ulum Bogor 1 tahun setengah, Pondok Pesantren Daarul Fattah Pecalongan Bondowoso, TPA dan MDA Wonosari Bondowoso 6 tahun.  (08176956688&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN BACAAN&lt;br /&gt;Kitab Lengkap Penyujian Jiwa (Tazkiyatun Nafs) Intisari Ihya Ulumuddin, Sa’id Hawwa, PENA Jakarta, Cet IV November 2006&lt;br /&gt;Nashaahi’ul ‘Ibaad; Nasehat Buat Hamba Allah, Muhammad Nawawi ibnu Umar Al Jawi, Surabaya; Amelia, 2005 &lt;br /&gt;Mau Kuliah Alternatif? Belajar Otodidak, Dong, Ahmad Zamhari Hasan, Kha Tulis Tiwa Press Jakarta, April 2007&lt;br /&gt;Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses, Hasan, Zamhari Jakarta: Ka-Tulis-Tiwa Pres, cetakan I 2006 &lt;br /&gt;Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasjid, Bandung; Sinar Baru Algensindo, Cet ke 38 2005&lt;br /&gt;Sosiologi Agama, The Sosiologi of Religion (1962), Max Weber, Penerjemah Mohammad Yamin, , IRCiSoD Yogyakarta, Cet. II 2002&lt;br /&gt;Panduan Lengkap dan Praktis, PSIKOLOGI ISLAM, Muhammad Izzuddin Taufik, Gema Insani  Depok, Desember 2006&lt;br /&gt;Zikir dan Doa dalam Kesibukan, KH. Mawardi Labay El-Sulthani, PT. Al-Mawardi Prima Jakarta, cet. III 1996&lt;br /&gt;Cahaya Pencerahan Dr. Aidh Al-Qarni&lt;br /&gt;Antara Al-Ghazali dan Kant, Filsafat Etika Islam, Abdullah, M. Amin, penerjemah Drs. Hamzah, M.Ag, penyunting Husein Heriyanto, Bandung: Mizan, cet. I Agustus 2002&lt;br /&gt;Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Agustian, Ary Ginanjar, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A, Jakarta: Arga Wijaya Persada 2001&lt;br /&gt;Al-Qu’an Digital Ver 2.1, Jumadil Akhir 1425 (Agustus 2004) Website http://www.alquran-digital.com&lt;br /&gt;Al-Qur’an Terjemahan Berbahasa Indonesia, Penyusun DISBINTALAD, Drs. H.A. Nazri Adlani, Drs. H. Hanafie Tamam, Drs. H.A. Faruq Nasution, Jakarta: Sari Agung, 2001&lt;br /&gt;Terjemah Mukhtasyar Ihya ‘Ulumuddin, Kitab Keajaiban Hati, Al-Ghazali, Bird, &lt;br /&gt;Menulis Dengan Emosi, Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Carmel, Penerjemah Eva Y, Penyunting Femmy Shahrani, Bandung: Kaifa, 2001&lt;br /&gt;Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Camus, Albert, dkk, penerjemah Ade Ma’ruf, penyunting Anas Syahrul Alimi, Yogyakarta: Jendela, Cetakan pertama Maret 2002&lt;br /&gt;BATAS NALAR, Rasionalitas dan Perilaku Manusia, Calne, Donald B. Jakarta: KPG, 2004&lt;br /&gt;Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, Dinsi, Valentino, SE, MM, MBA dkk, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004&lt;br /&gt;Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution,  Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”,  Dryden, Gordon &amp; Jeanette Vos, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, Cet. III Kaifa Bandung 2001&lt;br /&gt;Dunia Sophie, Gaarder, Jostein, Sebuah Novel Filsafat, Penerjemah Rahmani Astuti, Penyunting Yuliani Liputo, Bandung: Mizan Utama, Cet XV 2004&lt;br /&gt;Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Grunder Jr, Martin J. Penerjemah Lovely, Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka, Cet. I Maret 2006&lt;br /&gt;Bidadari Posmodern, Hasan, Zamhari Yogyakarta: Lintang Sastra, Maret 2006&lt;br /&gt;Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, Hanafi, Hasan, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, Yogyakarta: IRCiSoD, September 2003&lt;br /&gt;3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis, Hall, Doug, penerjemah Mursid Widjanarko, Bandung: Kaifa, Cet. I 2004&lt;br /&gt;Change, Kasali, Rhenald, Ph.D, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005&lt;br /&gt;Marketing Your Self, Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis,Kartajaya, Hermawan, Editor Yuswohadi, Sunarto Ciptoharjono, Jakarta: MarkPlus &amp; Co, 2005&lt;br /&gt;Keterampilan Menjelang 2020 Untuk Era Global, Lampiran Satuan Tugas Tentang Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta&lt;br /&gt;Think, LeGault, Michael, penyunting Rani Andriani Koswara, Jakarta: Trans Media, cet.1 2006&lt;br /&gt;Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Pilliang, Yasraf Amir, Kebudayaan, Bandung: Jalasutra, 2004 &lt;br /&gt;Qoelho, Paulo, The Alchemist, Sang Alkemis, penerjemah Tanti Lesmana, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005&lt;br /&gt;Cara Belajar Cepat Abad XXI, Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, Bandung: Nuansa, cetakan ketiga Mei, 2002&lt;br /&gt;Character Building, Membentuk Watak, Mengubah Pemikiran, Sikap, dan Perilaku untuk Membentuk Pribadi Efektif guna Mencapai Sukses Sejati, Soedarsono, Soemarsono, Jakarta: PT Exel Media Komputindo, 2002&lt;br /&gt;Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I dan II, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, Surabaya: pt bina ilmu, 1993&lt;br /&gt;Imaji dan Imajinasi Suatu Telaah Filsafat Postmodern, Tedjoworo, H. Yogyakarta: Kanisius 2001,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2343012973253248181-7049004288729573070?l=sampenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2343012973253248181/posts/default/7049004288729573070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2343012973253248181/posts/default/7049004288729573070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sampenulis.blogspot.com/2011/05/pelatihan-learning-for-living-lfl.html' title='3 LANGKAH SEDERHANA  Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat         Ahmad Zamhari Hasan'/><author><name>zamhari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-KV_ExL0eGO0/TizdxfjjPkI/AAAAAAAAAA4/uSmT3ZbfKe4/s220/zamhari.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2343012973253248181.post-4521679451559453007</id><published>2011-05-27T18:50:00.001-07:00</published><updated>2011-12-06T17:48:02.964-08:00</updated><title type='text'>BUKU: BELAJAR OTODIDAK SAMPAI MATI?</title><content type='html'>Buku Diktat KAO:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BELAJAR OTODIDAK&lt;br /&gt;SAMPAI MATI?&lt;br /&gt;Pembelajaran Seumur Hidup Sebagai Kebutuhan Mendesak Saat Ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHMAD ZAMHARI HASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6  Rahasia Belajar Otodidak (BO)&lt;br /&gt;Memahami makna BO&lt;br /&gt;Mengembangkan semua potensi manusia&lt;br /&gt;Mengelola Pengalaman Hidup&lt;br /&gt;Membaca  Buku, Semesta  dan Kehidupan&lt;br /&gt;Keahlian menulis sebagai ketrampilan plus&lt;br /&gt;Menjalani Kehidupan penuh makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BACA BUKU INI, ANDA PASTI UNTUNG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini belajar dipersempit pada ruang sekolah atau universitas, padahal ruang belajar sebenarnya adalah semesta. Rutinitas hidup sehari-hari dijadikan kebiasaan tanpa makna, padahal merupakan media pembelajaran yang paling baik.  Akselarasi perubahan tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menyesuaikan diri, sebab pembelajaran sudah dianggap selesai. Kompleksitas masalah membuat manusia kebingungan,  padahal manusia makhluk yang sempurna. Konon, Anda hidup di Akhir zaman, padahal apa yang telah Anda dilakukan?&lt;br /&gt;Solusi terbaik dari semua itu ialah berupaya Belajar Otodidak (BO) seumur hidup.  &lt;br /&gt;Ini merupakan rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paripurna  terbaik sepanjang zaman; “Tuntutlah Ilmu dari Pangkuan Ibu sampai ke Liang Lahat.”&lt;br /&gt;Buku ini dibutuhkan bagi siapa saja yang menjalani kehidupan dalam abad 21 ini, termasuk diri Anda Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“MENGAPA BUKU INI BARU ADA SEKARANG?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Isi [iii]&lt;br /&gt;Kata Pengantar Penulis [viii]&lt;br /&gt;Pendahuluan [xii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;BELAJAR OTODIDAK &lt;br /&gt;ALTERNATIF PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF &lt;br /&gt;1. Paradigma Belajar Otodidak (BO) [2]&lt;br /&gt;a. Prinsip Utama BO [4]&lt;br /&gt;b. BO dalam Tatanan Praktik [5]&lt;br /&gt;c. Menumbuhkan Sikap Percaya Diri [8]&lt;br /&gt;d. Merumuskan Rencana dan Tujuan [11]&lt;br /&gt;e. Implementasi dalam Program Harian [15]&lt;br /&gt;2. Beberapa Hal yang Perlu dikuasai [17]&lt;br /&gt;a. Cara Memaknai Sesuatu [17]&lt;br /&gt;b. Cara Menafsirkan Sesuatu [20]&lt;br /&gt;c. Cara Melakukan Tesis, Anti Tesis dan Sintesis [21] &lt;br /&gt;d. Cara Melakukan Kritik [23]&lt;br /&gt;3. Cara Sukses BO [25]&lt;br /&gt;a. Kegagalan adalah Potensi Menuju Sukses [26]&lt;br /&gt;b. Orang lain Sukses, Mengapa Anda Tidak? [29]&lt;br /&gt;c.   Menggabungkan BO dengan  Pekerjaan (31)&lt;br /&gt;d.   Menemukan Gaya Belajar Sendiri [32]&lt;br /&gt;e. Kiat BO yang Efektif [35]&lt;br /&gt;f. BO yang Menyenangkan [39]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;MEMAKSIMALKAN POTENSI DIRI&lt;br /&gt;1. Otak Salah Satu Anugerah Terbesar [44]&lt;br /&gt;a. Otak manusia [44]&lt;br /&gt;b. Dari Otak ke Pikiran [47]&lt;br /&gt;c. Cara Mengasah Pikiran [49]&lt;br /&gt;d. Cara Berpikir Kritis [51]&lt;br /&gt;e. Cara Berpikir Kreatif [53]&lt;br /&gt;2. Imajinasi Sang Penguasa Baru [56]&lt;br /&gt;a. Imajinasi [56]&lt;br /&gt;b. Membedakan Fantasi dengan Imajinasi [57]&lt;br /&gt;c. Menggabungkan Imajinasi dengan Pikiran [58]&lt;br /&gt;d. Memfungsikan Imajinasi dengan Tepat [59]&lt;br /&gt;3. Perasaan Sumber Daya yang Menentukan 61]&lt;br /&gt;a. Panca Indera dan Perasaan [61]&lt;br /&gt;b. Cara Mengelola Perasaan [62]&lt;br /&gt;c. Mencerdaskan Perasaan [64]&lt;br /&gt;d. Keberhasilan dalam Perspektif Baru [66]&lt;br /&gt;4. Hati Potensi yang Terlupakan [69]&lt;br /&gt;a. Hati [69]&lt;br /&gt;b. Antara Suara Malaikat dan Bisikan Setan [71]&lt;br /&gt;c. Menghidupkan Hati Nurani [73]&lt;br /&gt;5. Kesadaran Berada di Jalan yang Benar [79]&lt;br /&gt;a. Kesadaran [79]&lt;br /&gt;b. Kesadaran dan Tingkah Laku [81]&lt;br /&gt;c. Beberapa Etika Al-Qur’an [85]&lt;br /&gt;d. Muara Etika Al-Qur’an [92]&lt;br /&gt;6. Tubuh adalah Wadah Segala Potensi [95]&lt;br /&gt;a. Tubuh [95]&lt;br /&gt;b. Wadah Bukan Sekadar Wadah [98]&lt;br /&gt;c. Antara Tubuh dengan Jiwa [99]&lt;br /&gt;7. Menggabungkan Semua Potensi dalam Kesatuan [101]&lt;br /&gt;a. Cara Menarik Kesimpulan [101]&lt;br /&gt;b. Cara Membuat Keputusan [105]&lt;br /&gt;c. Mengoptimalkan Seluruh Potensi  [107]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;MENGELOLA PENGALAMAN MANUSIA&lt;br /&gt;1.      Masa Lalu Merupakan Pengalaman Berharga  [112]&lt;br /&gt;a. Pentingnya Pengalaman Masa Kecil [112]&lt;br /&gt;b. Masa Lalu Bukan Barang Antik [113]&lt;br /&gt;c. Dengan Masa Lalu Menuju Masa Kini [115]&lt;br /&gt;2. Beradabtasi dengan Kehidupan Masa Kini [117]&lt;br /&gt;a. Masa kini adalah Kenyataan Yang dihadapi [117]&lt;br /&gt;b. Menjalani Hidup Masa Kini [119]&lt;br /&gt;c. Menikmati Masa Kini tanpa Melupakan Masa Depan &lt;br /&gt;[120]&lt;br /&gt;3. Masa Depan Yang Tidak Pasti [121]&lt;br /&gt;a. Memahami Nilai-Nilai Baru [121]&lt;br /&gt;b. Memaknai Nilai-Nilai Baru [124]&lt;br /&gt;c. Menjadi Tokoh Seribu Tahun Lagi [125]&lt;br /&gt;d. Meraih Pintu Masa Depan dengan Berpijak pada Masa Kini [127]&lt;br /&gt;4. Menjadi Pelopor Perubahan [128]&lt;br /&gt;a. Memahami Perubahan [129]&lt;br /&gt;b. Karakteristik Perubahan [132]&lt;br /&gt;c. Mengatasi Efek-efek Negatif dari Suatu Perubahan [136]&lt;br /&gt;d. Melakukan Perubahan terhadap Diri Sendiri [140]&lt;br /&gt;e. Mau Menjadi Pelopor atau Pengikut [142]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;MEMBACA SEBAGAI KUNCI SUKSES UTAMA BELAJAR OTODIDAK (BO)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Beberapa Cara Membaca [147]&lt;br /&gt;a. Cara Kreatif Membaca Buku [153]&lt;br /&gt;b. Cara Membaca Buku “How To”  [157]&lt;br /&gt;c. Cara Membaca Buku Sastra [160]&lt;br /&gt;d. Cara Membaca Buku Ilmiah [161]&lt;br /&gt;e. Cara Cepat Membaca Buku [162]&lt;br /&gt;2. Membaca Universitas Kehidupan [165]&lt;br /&gt;a. Membaca Fenomena Semesta [166]&lt;br /&gt;b. Membaca Krisis Tak Kunjung Usai [169]&lt;br /&gt;c. Membaca Bencana-Bencana Alam [171]&lt;br /&gt;d. Membaca Kehidupan Sehari-Hari [173]&lt;br /&gt;e. Membaca Nasib sebagai Pemicu Semangat [175]&lt;br /&gt;3. Belajar dari Mana, Siapa dan Apa Saja [178]&lt;br /&gt;a. Belajar dari Mana Saja [179]&lt;br /&gt;b. Belajar dari Orang-Orang Terbaik di Bidangnya[182]&lt;br /&gt;c. Belajar dari Orang-Orang Biasa [185]&lt;br /&gt;d. Belajar dari Penyakit, Penderitaan, &lt;br /&gt;dan Kesedihan [187]&lt;br /&gt;e. Belajar dari Film, Televisi dan Dunia Maya [189]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;MENGUASAI BEBERAPA CARA MENULIS&lt;br /&gt;1. Mengapa Anda Ingin Menjadi Penulis? [195]&lt;br /&gt;a. Menumbuhkan Motivasi untuk Menulis [195]&lt;br /&gt;b. Fungsi Seorang Penulis [198]&lt;br /&gt;c. Menulis sebagai Panggilan Hidup [200]&lt;br /&gt;2. Mengupulkan Bahan-Bahan Tulisan [202]&lt;br /&gt;a. Memunculkan Ide-Ide Brilian [202]&lt;br /&gt;b. Kiat Menemukan Ilham [204]&lt;br /&gt;c. Melakukan Klasifikasi Pendapat [206]&lt;br /&gt;d. Melakukan Penelitian Lapangan [207]&lt;br /&gt;e. Melakukan Penelitian Kepustakaan [210]&lt;br /&gt;3. Cara-Cara Praktis dalam Menulis [211]&lt;br /&gt;a. Cara Menulis Puisi [212]&lt;br /&gt;b. Cara menulis Cerpen [216]&lt;br /&gt;c. Cara Menulis Kritik Sastra [219]&lt;br /&gt;d. Cara Menulis Ilmiah Populer [222]&lt;br /&gt;e. Cara Menulis Kolom [223]&lt;br /&gt;f. Cara Menulis Buku [225]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;MENJALANI HIDUP PENUH ARTI&lt;br /&gt;1. Antara Kebutuhan Pragmatis dengan BO [232]&lt;br /&gt;a. Berwiraswasta Guna Memenuhi Kebutuhan &lt;br /&gt;Hidup [233] &lt;br /&gt;b. Menekuni Karir Profesional [236]&lt;br /&gt;c. Menekuni Usaha Tradisional [238]&lt;br /&gt;d. Bekerja Pada Orang lain [240]&lt;br /&gt;2. Menjalani Hidup Apa Adanya [243]&lt;br /&gt;a. Mengelola Tantangan dalam Menjalani Hidup [245]&lt;br /&gt;b. Mengelola Masalah dengan Cara yang Tepat [246]&lt;br /&gt;c. Menikmati Hidup; Baik atau Buruk [249]&lt;br /&gt;3.  Cerita Sukses Otodidaktor Sejati [251]&lt;br /&gt;a. Rahasia Sukses KH. Moh. Idris Jauhari [252]&lt;br /&gt;b. “Prof. Dr.” HAMKA Teladan Paling Ideal [255]&lt;br /&gt;c. Cak Nun: Kisah Anak Jalanan Yang Sukses [257]&lt;br /&gt;d. Muhamad Yunus: Meraih Nobel Perdamaian dengan Menjadi Otodidaktor Sejati [259]&lt;br /&gt;e.   Fauzi Shaleh: Pengusaha Muslim Idaman (261)&lt;br /&gt;F.   Gus Dur, Tokoh Seribu Wajah (263)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog [265]&lt;br /&gt;Daftar Pustaka [270]&lt;br /&gt;Sekilas Tentang Penulis [274]&lt;br /&gt;Lampiran I Metode Mengetahui Gaya Belajar (275)&lt;br /&gt;Lampiran II Memahami Kecerdasan Berganda (278)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Otodidak (BO) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;relung peristiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan penuh liku-liku, duri-duri menghalangi tiap langkah, menghambat rencana-rencana masa depan, &lt;br /&gt;menjauhkan cita dari harapan&lt;br /&gt;kaki berjalan di lereng bukit, jalan setapak sempit berkelok-kelok, nestapa hidup arah bawah, harap raih tujuan arah atas, teman karib arah samping, emas kemilau arah depan, kabut terang arah belakang&lt;br /&gt;kaki telusuri tepi jurang, ketakutan mengiringi perjalanan, bawah cipta ketakutan, atas cipta kecemasan, samping cipta kesepian, depan cipta kekosongan, belakang cipta kegelapan&lt;br /&gt;raih bintang di angkasa nan elok, anugerah besar pada kehidupan, sumbangsih perubahan dunia mengkerut, bintang terbang menjauh, kabut hitam menemani&lt;br /&gt;pelukan rembulan dalam keheningan malam, sejukkan jiwa gersang, hapus ketidakpastian dalam awang, rembulan menghilang dalam temaram, cinta suci tak kunjung sampai&lt;br /&gt;ketidakberuntungan sahabat setia, pikiran tak terasah pintu kuliah, pisau berkarat jarang dibersihkan, tambang emas tak tergarap, kegagalan teman sejati, jalan-jalan berujung buntu, berkelok-kelok tak mendapatkan pintu, keadaan memaksa menyerah kalah&lt;br /&gt;buaian mimpi raup semesta, bau harum negeri sejahtera, hati berkeras berkarya, pasar tak bisa menerima, orang-orang tak bernama, media milik siapa-siapa, bukan siapa tak dapat apa &lt;br /&gt;arah jalan mana mesti ditempuh, semua sisi saling menutup, diri terperosok dalam penjara, kunci terali hilang entah ke mana&lt;br /&gt;kehidupan menyisakan asa, asal peras keringat tanpa pamrih, melahirkan sesuatu, berarti kelak, demi anak cucu tercinta, menanam pohon kehidupan, tak dapat dinikmati hari ini, petik buah dari sorga, hidup bahagia bersama bidadari, tak melakukan apa-apa, petik prahara di neraka, sengsara bersama setan&lt;br /&gt;siapa mendapat apa, tak dapat apa-apa tanpa kuasa, meraih bintang, bulan, cahaya, bisa dilakukan setiap masa, bernyanyi lagu-lagu ceria, menari di atas derita, nurani diliputi sengsara&lt;br /&gt;----- Nasib---Sial---Buntu---Gagal -----&lt;br /&gt;nasib rubah buruk rupa, sial peluang raih harapan, buntu sarana kuak jalan berbeda, gagal upaya mewarnai lukisan monalisa, hasilkan gading dalam belaian ajal&lt;br /&gt;Wonosari, 07 januari 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Paradigma Belajar Otodidak (BO)&lt;br /&gt;BO adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk membaca, memahami, mengerti, dan mendalami sesuatu, dengan melakukannya sendiri. Prinsip utama dalam BO adalah belajar sendiri, meski dalam proses pembelajaran yang dilakukan terdapat unsur belajar pada orang lain, namun maknanya bukan seperti yang dimaksud belajar formal dengan dibimbing seorang guru atau dosen  secara langsung di ruang kuliah. &lt;br /&gt;Ruang belajar bukan kelas, tapi semesta. Dalam semesta terdapat beragam hal yang bisa dipelajari, sehingga ilmu yang diperoleh sangat luas sekali. Menurut Michael R. LeGault, “…Dan juga, faktanya, lebih banyak pengetahuan dan pembelajaran yang didapat anak di luar sekolah, melalui pengalaman dan belajar sendiri….”1 Ini semakin menguatkan motivasi kita untuk belajar sendiri tentang segala hal yang ingin dipelajari, sebab anak-anak saja lebih efektif belajar sendiri di luar sekolah, apalagi orang dewasa.&lt;br /&gt;Perlu diingat, ini tidak boleh membentuk otodidaktor (istilah baru untuk orang yang belajar sendiri) dalam paradigma mengetahui banyak hal tapi sedikit, paradigma yang menjebak seseorang mengetahui sesuatu yang dangkal, sedikit, kecil, padahal yang diperlukan pada masa mendatang adalah mengetahui sedikit hal tapi banyak. Dalam tahap awal, paradigma ini sah-sah saja digunakan, untuk selanjutnya perlu spesialisasi bidang yang ingin diketahui, dibaca, dipahami, dan dimengerti lebih mendalam. Setelah mengetahui banyak hal tapi sedikit, dilanjutkan dengan upaya menemukan bidang yang paling disenangi untuk dijadikan keahlian pada masa mendatang, keahlian yang bisa dijadikan sandaran hidup. &lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, awalnya saya BO tentang filsafat, pindah ke cerpen, pindah ke puisi, pindah ke novel, pindah ke skenario, pindah ke buku marketing, pindah ke buku tentang belajar dan pindah ke buku Islam. Dari proses pembelajaran ini, lantas saya mencari titik temu antara hal-hal yang pernah dipelajari menjadi satu bidang yang ingin diperdalam pada masa mendatang, titik temu tersebut ditemukan dalam upaya memperdalam posmo (wilayah filsafat) ke dalam sastra (cerpen, puisi, novel, drama, dan skenario) dengan cita-cita utama yakni menginspirasi masyarakat Indonesia supaya bangkit dari keterpurukan di berbagai bidang. &lt;br /&gt;Proses yang dialami setiap orang dalam belajar pasti berbeda, sebab perjalanan hidup  tidak persis sama, bersifat khas, dan adanya perbedaan metode pembelajaran yang dilakukan. Ini bukan suatu halangan untuk bisa berhasil BO, sebab semangat yang dianut setiap orang sama dalam konteks berusaha untuk belajar seumur hidup atau Lifelong Education. &lt;br /&gt;Belajar sangat penting bagi siapa saja, sebab belajar upaya untuk menjadikan diri lebih berkembang, membantu peningkatan kualitas hidup, menjadikan seseorang mampu melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi, membantu menjalani hidup penuh makna, merasakan kebebasan yang betanggung jawab, dan bahkan mampu menjadikan manusia “merdeka” dalam makna yang hakiki seperti yang dinyatakan Hasan Hanafi “….. Pada awal Islam, belajar disejajarkan dengan kemerdekaan. Manusia terpelajar tidak akan pernah bisa dimiliki. Belajar adalah prasyarat kebebasan.”2&lt;br /&gt;Ada beberapa yang hal perlu dipelajari sebelum memulai BO, seperti; prinsip utama BO, mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, penumbuhan sikap percaya diri agar bisa belajar dengan mantap, penuh keyakinan, dan percaya dengan kemampuan yang dimiliki, perlu juga menyusun rencana berikut tujuan yang hendak dicapai dan implementasinya pada program harian. &lt;br /&gt;a. Prinsip Utama BO&lt;br /&gt;Sebuah metafora yang tepat bagi otodidaktor ialah bermetaformosis menjadi air yang secara perlahan mampu menembus batu yang kuat. Sekuat apa pun batu yang ada, pasti tertembus air setelah melewati proses waktu yang lama. Apa makna hal ini?&lt;br /&gt;Dalam BO, bisa jadi dalam proses awal berhadapan dengan banyak kesulitan, rintangan, ejekan, hambatan, dan hal-hal yang mendorong otodidaktor tidak mau belajar lagi. Semua itu harus diatasi satu persatu dengan penuh kesabaran, ketekunan, keuletan, kegigihan, dan semangat pantang menyerah, sehingga sedikit demi sedikit dapat diatasi. Lihatlah air yang menembus batu, itu tidak dilakukan dengan mudah, meski dari luar kelihatan mudah, membutuhkan akumulasi energi bertahun-tahun untuk menembus batu.&lt;br /&gt;Proses waktu yang lama untuk berhasil BO dijadikan sarana untuk memperluas pengetahuan, mengasah potensi yang dimiliki; pikiran, imajinasi, perasaan, kesadaran dan tubuh, dan memperkuat mentalitas diri. Air menetes sedikit demi sedikit untuk menggores pada tahap awal, memperdalam goresan, dan baru berhasil menembus batu. Paling tidak otodidaktor membutuhkan waktu 5 tahun untuk berhasil menjadi otodidaktor sejati. Emha Ainun Najdib butuh 5 tahun untuk belajar di universitas kehidupan Marlboro, malah saya butuh waktu 9 tahun untuk menulis buku ini (jika dihitung setelah lulus Pesantren TMI Al-Amien, berarti saya butuh waktu 12 tahun). &lt;br /&gt;Berbekal buku ini, para otodidaktor insya Allah lebih mudah dalam BO, sebab telah memiliki buku panduan yang lumayan lengkap. Buku ini diibaratkan sebagai alat bantu untuk melubangi batu, sehingga proses waktu yang dibutuhkan untuk melubanginya relatif lebih cepat dan mudah. Namun perlu diingat, tidak ada yang instan dalam proses BO.&lt;br /&gt;Ketika otodidaktor mampu mengatasi berbagai kesulitan dalam tahap awal di atas, maka selanjutnya terasa mudah. Ibarat air yang telah berhasil menembus batu, air itu mengalir ke arah mana saja untuk mengarungi samudera kehidupan. Hal ini bukan sekadar pendapat, melainkan sesuatu yang telah saya buktikan sendiri.&lt;br /&gt;Saya butuh lima tahun untuk menghasilkan kumpulan cerpen 22 judul, dua ontologi puisi, dan satu novel, ini disebut tahap awal. Selanjutnya lahirlah; empat skenario film/sinetron, novel  Bidadari Posmodern, dan buku Berniaga Dengan Iman, buku-buku ini masing-masing saya selesaikan dalam kurun waktu antara satu sampai tiga bulan, gampang dan cepat bukan? Mungkin inilah rahasianya mengapa Hamka menghasilkan 79 karya tulis, dan Emha Ainun Nadjib sebanyak 46 buku.  Keduanya adalah contoh otodidaktor sejati yang diceritakan di akhir buku ini.&lt;br /&gt;b. BO dalam Tatanan Praktik&lt;br /&gt;Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai BO bagi siapa saja yang ingin berupaya untuk mengembangkan diri, memperdalam ilmu, mengoptimalkan potensi yang dimiliki, meningkatkan usaha atau pekerjaan dan memanfaatkan waktu luang yang terbuang percuma dengan kegiatan yang sangat bermanfaat, Nabi Muhammad bersabda; “Ada dua kenikmatan yang mayoritas manusia tertipu olehnya, yaitu kenikmatan sehat dan kenikmatan luang waktu,” (H.R Bukhari). Hanya dengan belajar sendiri seumur hidup, upaya otodidaktor mengerti kehidupan sehari-hari, memahami semesta dan menjadikannya sebagai tempat yang nyaman didiami makhluk hidup, bisa diaplikasikan dalam kenyataan.&lt;br /&gt;Rasa puas karena menggangap menguasi suatu bidang ilmu tertentu adalah penyakit yang menggiring manusia menjadi robot. Sebab rasa puas ini dapat membunuh motivasi, mematikan kreativitas, memusnahkan semangat, dan membimbing pada “ketidakpahaman-ketidakpahaman” yang semakin menumpuk, sehingga mengakibatkan keputusasaan, tindakan anarkis, prilaku bawah sadar yang menyimpang, dan menghadirkan “kematian” lebih cepat dari waktu sebenarnya. Ilmu semakin diselami, semakin dalam dan bertambah luas. Tidak ada ilmu yang tetap, manusia saja yang menganggapnya demikian. &lt;br /&gt;Menurut Claude Leroy, fisikawan terkemuka, hanya 4% jagad raya yang diketahui manusia, sedang 96% belum diketahui tersusun dari apa jagad raya ini (Koran Tempo, 20 Agustus 2008). Apakah Anda berhenti belajar padahal hanya tahu 4% saja?&lt;br /&gt;Proses pembelajaran telah dilakukan manusia semenjak nenek moyang yakni Nabi Adam sampai sekarang. Sesungguhnya dalam tatanan konsep manusia lebih maju, namun dari sikap hidup belum tentu demikian. Buktinya dalam abad 21 ini masih ada penjajahan seperti yang dilakukan AS dan Inggris di Irak, mereka juga menginjak-injak hak asasi manusia dengan alasan memberantas terorisme, dan pembunuhan atas nama agama masih saja terjadi. &lt;br /&gt;Salah satu sebabnya, adanya dikotomi antara ilmu-ilmu keduniaan dengan ilmu-ilmu ke akhiratan, atau memaknai ilmu sebagai pemahaman sempit untuk kehidupan dunia semata, padahal kehidupan berlanjut pada alam setelah kematian dan akhirat kelak. Ini dipengaruhi paradigma Barat yang melepaskan ilmu dari agama. Paradigma Islam mengenai ilmu berbeda dengan Barat, sebab dalam Islam tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan dunia, pemahaman ini saya peroleh dari KH. Moh. Idris Jauhari, yang juga diperkuat Prof. Dr. Qomaruddin Hidayat. Namun demikian dalam rangka menguasai ilmu pengetahuan baru, perkembangan teknologi, pemanfaatan informasi, dan hal-hal yang kini dikuasai Barat, umat Islam harus mampu belajar pada mereka dengan tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam. Tapi proses belajar tersebut dalam makna Oksidentalisme seperti yang didengungkan Edward Said dan Hasan Hanafi, artinya umat Islam melakukan studi terhadap Barat dalam rangka menemukan pengetahuan mereka sendiri.&lt;br /&gt;Dalam  proses pembelajaran, umat Islam kadang menghadapi paradoksal, dan pertentangan dalam menjalani kehidupan, itu sesuatu hal yang wajar, asal tidak selamanya terjebak di sana. Ada saat seorang Muslim mampu memaknai segala sesuatu yang dipelajari dari Barat dengan segala efek-efek yang ditimbulkannya. Seseorang bisa jadi pernah bersikap liberal karena pengaruh belajar filsafat barat, pandangan yang membuatnya  merasa tak memerlukan ibadah spritual, menganggap bahwa Al-Qur’an dan Hadits tidak kontekstual lagi, mengakalkan segala sesuatu, dan anggapan-anggapan lainnya. Tapi universitas kehidupan akan membuat orang yang “salah jalan” tersebut memahami bahwa sikapnya keliru, maka suatu waktu dia “pasti” merubah pandangan hidupnya. Pandangan hidup yang menggiringnya untuk semakin meyakini Islam, beriman, dan berbuat baik. Asal proses “liberal” yang dialami bukan karena iming-iming uang dan harta, melainkan karena proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Jika belajar di universitas formal terbatas sampai program Doktoral, maka BO pada universitas kehidupan tidak terbatas pada hal itu, justru ketika otodidaktor telah mampu menjadi “Doktor informal”, dirinya dituntut untuk lebih banyak menghasilkan karya, sebab problematika kehidupan semakin kompleks, ilmu yang dikuasai manusia baru gelombang kecil di tengah samudera lautan luas, manusia belum mampu berbicara langsung dengan Allah, manusia belum menyingkap semua misteri sunnatullah, manusia belum mampu menyingkap misteri dirinya, manusia belum mampu menyingkap jagad raya dan manusia belum mampu menjadi sebenar-benarnya manusia paripurna. Kapan proses belajar sebenarnya selesai? Kematian yang menghentikan proses BO.&lt;br /&gt;c. Menumbuhkan Sikap Percaya Diri&lt;br /&gt;Menumbuhkan sikap percaya diri sangat penting dalam kehidupan setiap otodidaktor, termasuk dalam usaha BO. Dengan kepercayaan diri yang kuat bahwa belajar bisa dilakukan siapa saja karena hakikatnya setiap orang cerdas dan pintar dengan caranya masing-masing. Ini menjadi salah satu langkah penting supaya berhasil belajar sendiri. Untuk itu, enam langkah berikut direalisasikan satu persatu dalam proses BO.&lt;br /&gt;“Enam bahan vital  rasa percaya diri;&lt;br /&gt;1. Keselamatan fisik, kebebasan dari bahaya fisik.&lt;br /&gt;2. Keamanan Emosi, Ketiadaan intimidasi dan rasa takut&lt;br /&gt;3. Identitas diri, Siapa aku? Mau ke mana? Apa tujuan hidup? Apa yang ingin dicapai? Apa yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;4. Afiliasi, rasa memiliki. &lt;br /&gt;5. Kompetensi atau kemampuan, dan bisa melakukan apa yang diinginan.&lt;br /&gt;6. Misi, merasa bahwa hidup seseorang punya arti dan arah.”3  &lt;br /&gt;Otodidaktor merasa percaya diri, jika secara fisik dirinya tidak merasa mendapatkan ancaman dari siapa saja, dalam bentuk apa pun atau dari mana pun. Fisik  merasa aman, apabila dijaga dengan mengatur makanan yang bergizi dan rajin berolah raga secara teratur, sedang aman dari ancaman luar dengan cara menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain atau masyarakat. Keduanya membimbing pada keamanan fisik.&lt;br /&gt;Emosi otodidaktor memang tidak stabil, tergantung faktor dari dalam dan dari luar yang mempengaruhinya. Untuk itu, emosi harus dikendalikan dengan kekuatan kepribadian agar tidak berakibat buruk dalam kehidupan yang dijalani. Rasa amarah diredam dengan kesabaran, rasa benci diredam dengan cinta, rasa dendam diredam dengan kasih sayang, rasa ingin menyakiti orang lain diredam dengan rajin membantu orang, rasa ingin membunuh diredam dengan mengasuh anak orang, itulah beberapa contoh bentuk pengendalian diri. Dari kemampuan mengendalikan emosi, dilanjutkan dengan mengembangkan Kecerdasan Emosi. Artinya  otodidaktor dituntut cerdas secara emosi, yang mana emosi dikelola dengan baik, bahkan bisa dijadikan kreativitas diri seperti menulis puisi atau cerita, menciptakan lagu, membuat komposisi musik, atau memainkan alat musik dari hati nurani.&lt;br /&gt;Ancaman dari luar berusaha dikelola sebaik-baiknya dan diatasi dengan jalan keluar yang tepat, benar, dan menguntungkan semua pihak. Jika mengalah merupakan alternatif terbaik, lebih baik mengalah dari memaksakan diri untuk menjadi pemenang di atas penderitaan orang lain. Mengalah bukan berarti kalah, melainkan mengalah demi kemaslahatan umat manusia. Sebagai contoh; Nabi Muhammad setiap hari didzalimi, dianiaya dan diteror dengan bermacam-macam cara, namun beliau mengalah untuk tidak membalas, malah mendoakan orang-orang yang melakukan semua itu, akhirnya pemeluk agama Islam berkembang pesat dan mampu mencapai masa keemasan.&lt;br /&gt;Sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kelemahannya, kita bertanya-bertanya dalam diri;  Siapa diriku? Mau ke dimanakan hidupku? Apa tujuan hidup? Apa yang ingin dicapai? Apa yang akan dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan ini membimbing manusia pada upaya pengenalan dirinya sendiri dari segala aspek; emosi, pikiran, imajinasi, motivasi, hati nurani, nafsu, keinginan, sifat, sikap, kebutuhan, insting, dan tingkah laku. Semua itu harus dipahami dengan benar, sehingga otodidaktor mampu memahami dan mengendalikan dirinya sendiri. Dengan pemahaman terhadap diri, diteruskan dengan pemaparan secara kongkrit dan tertulis tentang arah dan tujuan hidup dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Supaya lengkap ditambah dengan langkah-langkah kongkrit yang ingin dilakukan agar tujuan mulia atau cita-cita bisa tercapai dengan cara, proses, dan usaha yang benar.&lt;br /&gt;Afiliasi atau rasa memiliki adalah sebentuk perasaan dalam diri bahwa kehidupan itu berharga, paling tidak untuk diri sendiri dan keluarga, lebih-lebih untuk masyarakat sekitar. Diri memiliki beberapa potensi, baik anugerah Allah atau lewat proses pembelajaran, yang bisa dijadikan sarana meraih kesuksesan dalam menjalani kehidupan.  Jika memiliki kelemahan dalam memahami sebuah buku, masih ada cara untuk memahaminya yakni bertanya pada orang yang lebih tahu, membuka kamus (bahasa Indonesia dan Inggris wajib dimiliki), atau membiarkan yang tidak dipahami, lama kelamaan dengan membaca buku lain yang mirip, maka pemahaman muncul dengan sendirinya. Jangan biarkan kesulitan memahami sesuatu menjadi penghalang untuk belajar sendiri.&lt;br /&gt;Setiap otodidaktor, hakikatnya telah memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk memahami sesuatu yang diinginkan, yang dibutuhkan adalah keinginan kuat untuk BO secara sungguh-sungguh. Untuk mempermudah yang ingin dikuasai, mulai dulu dengan buku cerita, lalu buku “how to” yang praktis tentang sesuatu yang ingin dikuasai, membaca buku ilmiah yang ringan, menengah dan berat tentang hal yang sama, sehingga pengetahuan tentang sesuatu itu menjadi banyak, beragam, dari berbagai sudut pandang, dan lengkap. Pembacaan dilanjutkan dengan berusaha mengelola pengalaman dan membaca kehidupan sehari-hari atau semesta. &lt;br /&gt;Jika umtuk kuliah formal butuh 3-5 tahun, maka otodidaktor dalam kurun waktu tersebut harus mampu menghasilkan karya tulis berkualitas dan mampu mempresentasikannya dengan uraian yang dalam. Bahkan jika bertekad dan bersungguh-sungguh mengikuti Kuliah Alternatif yang saya kelola, paling tidak butuh waktu 2 tahun. Kemampuan ini membimbing otodidaktor  memiliki rasa percaya diri yang utuh, yakni berhasil meraih kesuksesan sebagaimana orang yang kuliah formal. Ibu pertiwi pernah melahirkan Hamka, Emha Ainun Nadjid, D. Zawawi Imron, KH. Moh. Idris Jauhari, dan Gus Dur yang secara kualitas tidak diragukan lagi.&lt;br /&gt;Lewat karya tulis, hakikatnya otodidaktor bermanfaat untuk diri sendiri, sekaligus bermanfaat untuk orang lain. Manakala orang lain membaca karya tulis kita (dalam bentuk foto copy, web site, apalagi diterbitkan dalam bentuk buku dengan biaya sendiri), diharapkan mereka mendapatkan inspirasi, ilham, ilmu dan pengetahuan dari tulisan tersebut. Itu artinya hidup otodidaktor punyak makna dan arti. Apalagi sekarang, setiap orang dapat menulis apa saja lewat blog di internet. Blog saya ialah www.sampenulis.wordpress.com.&lt;br /&gt;d. Merumuskan Rencana dan Tujuan&lt;br /&gt;Ada asumsi bahwa dalam menjalani hidup tidak perlu perencanaan, sebab hidup dalam perencanaan menjadikan kehidupan manusia seperti mesin berjalan. Dalam kenyataan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia menjalani hidup tanpa perencanaan, baik karena terjebak asumsi keliru di atas maupun tidak. Hal ini tidak boleh dibiarkan terus menerus, perlu perubahan agar kehidupan mereka juga berubah menjadi lebih baik, bermakna, berhasil, dan mencapai hasil maksimal. &lt;br /&gt;Perencanaan penting dalam upaya menyusun langkah-langkah yang praktis, masuk akal, mudah, aplikatif dan bisa diterapkan, bukan rencana-rencana muluk yang mengawang-awang di angkasa, namun tidak dapat dilaksanakan. Syarat utama sebuah perencanaan adalah bisa dilaksanakan dalam  kehidupan sehari-hari guna mencapai tujuan tertentu. Berhubung perencanaan berkaitan dengan tujuan, maka tujuan dirumuskan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Prinsip pencapaian sebuah tujuan bukan menghindari resiko, melaikan menghadapi dan mengantisipasi resiko yang timbul. Menurut Michael R. LeGault “Ketika tujuan utama di dalam masyarakat berubah menjadi bagaimana menghindari resiko, menjaga diri sendiri, kehidupan akan menjadi sebuah kebosanan. Pikiran kita tercekik. Suplai darah ke otak kita menyurut, dan jumlah synapses di otak kita berkurang. Sekali lagi, kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu. Kita bisa duduk-duduk saja dan secara kolektif membiarkan otak kita menciut dan membiarkan generasi penerus menangani konsekwensi yang timbul…”4 Dalam merumuskan tujuan terbagi; jangka pendek, menengah dan panjang. &lt;br /&gt;Tujuan jangka pendek antara 3-6 bulan, otodidaktor memutuskan untuk memahami teori belajar otodidak melalui buku yang berkualitas, dan mempraktikkannya.&lt;br /&gt;Tujuan jangka menengah antara 1-5/10 tahun, otodidaktor memutuskan untuk menyelesaikan skripsi S1nya di satu bidang, contoh; bagi yang memperdalam puisi dapat membaca buku Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa, Karya  Prof. Dr. Herman J. Waluyo, menulis ontologi puisi 22 judul yang terbaik, dan menulis ulasan tentang puisi setebal 100 halaman diketik 2 spasi.&lt;br /&gt;Tujuan jangka panjang antara 5/10-25 tahun, otodidaktor memperdalam sastra secara keseluruhan, sebab puisi bagian dari sastra, mendalami kritik sastra terutama buku Kritik Sastra Indonesia Modern karya Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, mendalami metode penelitian sastra, mendalami buku sastra kontemporer seperti buku Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta, karya Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, lalu menyelesaikan tesis S2 berupa buku tentang sastra dan menulis ontologi puisi kedua 30 judul yang terbaik. Dalam jangka panjang juga diupayakan untuk menghasilkan masterpiece atau karya terbaik dari yang terbaik dalam bentuk satu ontologi puisi  40 judul dan satu buku tentang kritik sastra yang sehebat buku Pradopo atau buku karangan HB Yassin Paus kritikus sastra Indonesia. &lt;br /&gt;Perlu dicatat, hakikatnya jangka panjang untuk kehidupan manusia sampai kematian menjemput; makanya orientasi BO sampai mati. Untuk itulah, perlu mempersiapkan bekal yang banyak guna menjalani kehidupan setelah mati, sebab akhirat itu nyata saat kematian datang. Jadi, hakikat kehidupan otodidaktor sejati ialah bahagia dunia akhirat dan mengajak orang lain guna menikmati hal yang sama.&lt;br /&gt;Aplikasi dari pencapaian tujuan di atas dalam perencanaan adalah sebagai berikut. &lt;br /&gt;Dalam jangka pendek, mempelajari buku ini dengan sungguh-sungguh, paling tidak butuh waktu 3-6 bulan untuk dapat menguasai seluruhnya. Jika membaca secara intensif, satu minggu selesai dengan perincian satu hari satu bab, tapi ketika hendak mempraktekkan, maka butuh waktu lebih lama, sebab membaca sambil mempraktekkan langsung apa yang dibaca.&lt;br /&gt;Dalam jangka menengah, mulai memfokuskan diri pada satu bidang ilmu, misalnya puisi. Ketika hendak menulis puisi,  perlu mencari ilham dari mimpi, mendengarkan bisikan hati nurani, mencari ilham dari intuisi, menyediakan waktu menikmati hembusan angin pagi atau malam, menikmati pemandangan alam, memahami realitas kehidupan masyarakat apa adanya, menyingkap misteri-misteri nasib baik atau buruk, memahami cara berkomunikasi dengan Tuhan yang sudah ada mediasinya yakni shalat, dizikir dan doa, lalu mencatat semua itu dalam puisi dan catatan pribadi yang suatu saat akan bermanfaat ketika memutuskan untuk menulis skripsi, tesis atau disertasi.&lt;br /&gt;Sedang untuk jangka panjang, mendalami buku-buku yang disebutkan dalam rumusan tujuan, membuat makalah khusus dari setiap buku yang dibaca atau jika membaca buku lain yang terbaru bisa menulis resensi buku (batas buku baru 6 bulan setelah terbit), mendiskusikan isi buku dengan kelompok studi tertentu, orang yang berkompeten atau jika tak ada bisa dengan teman. Sedang bagi yang memperdalam puisi mulai menulis yang lebih berkualitas, menyelesaikan proyek “tesis S2” dengan tema baru, orisinil, menarik, dan bisa diterbitkan penerbit kelak, serta merancang proyek master piece atau terbaik dari yang baik dalam bentuk buku dan ontologi puisi. Untuk memahami master piece ini, perlu membaca kumpulan puisi Khairil Anwar, WS Rendra, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, dan Linus Suryadi, sedang untuk buku sastra seperti yang disebutkan sebelumnya (tentu jika ada buku baru yang lebih berbobot, harus membelinya). Meski telah menghasilkan master piece, tapi diri tidak boleh berhenti, tapi terus berupaya menghasilkan master piece lain. Jauh yang lebih penting, membantu orang lain untuk lebih berhasil dari diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Bagi yang memiliki gaya hidup tidak teratur, semraut, tidak disiplin dan memiliki ego sendiri yang kuat, dalam menjalani hidup biasanya perencanaan yang dibuat bersifat global, meski demikian perumusan tujuan tetaplah penting dilakukan sebagai pedoman. Memang implementasinya disesuaikan dengan kemauan, kesenangan, cara kerja dan keinginan diri. Ada kalanya orang dengan tipe ini suatu waktu aktif membaca buku terus, yang lain dibiarkan terbengkalai, ada kalanya menulis terus, membaca dilalaikan, ada kalanya menikmati hidup di tengah masyarakat, menikmati seni dalam masyarakat, menikmati dunia yang semraut dengan tidak melakukan yang lainnya. Paling penting berkarya, sedang caranya tergantung kebiasaan dan keunikan dari masing-masing individu.&lt;br /&gt;Pentingnya perumusan tujuan juga disinggung Allah dalam Al-Qur’an “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” (QS Ar-ruum 8). Allah saja memiliki tujuan dengan menciptakan langit, bumi dan manusia, mengapa kita hidup tanpa tujuan yang jelas?&lt;br /&gt;e. Implementasi dalam Program Harian&lt;br /&gt;Otodidaktor memprogram waktu 24 jam dengan baik, misalnya; ibadah shalat wajib 5 waktu (berusaha shalat berjamaah di masjid) dan shalat sunnah 1 jam dalam sehari, mengelola usaha paling tidak butuh waktu antara 5-8 jam setiap hari (jika seorang pedagang bisa baca buku sambil usaha), 1 jam dipakai untuk membaca buku, 15 menit merenungkan apa yang dibaca, 15 menit mengaitkan yang dibaca dengan realitas kehidupan, 30 menit mencatat kesimpulan, kata kunci dari yang dibaca, untuk mencatat yang penting, ide, ilham, inspirasi atau menulis sesuai bentuk yang dikuasai, bisa sastra atau ilmiah sederhana, 30 menit sampai 1 jam untuk olah raga (bisa pagi atau sore hari), total waktu 14 jam, 1 jam mengajar atau membantu orang lain, 1 jam belajar bahasa, 2 jam untuk pekerjaan rumah atau rileks, dan sisanya dipakai untuk istirahat secara efektif. Pengaturan waktu disesuaikan dengan kesibukan, rencana masa depan, apa yang hendak dicapai, tujuan jangka pendek atau panjang, dan cita-cita yang ingin diraih.  &lt;br /&gt;Minimal setiap hari menyediakan waktu 1 jam secara konsisten untuk; membaca buku, kehidupan atau semesta, menulis ide, ilham, intuisi dan suara hati nurani, hidup bermasyarakat, berkontemplasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan puisi yang hendak ditulis, menulis puisi  dan catatan dari buku yang dibaca. &lt;br /&gt;Bagi yang hidup tidak teratur, terkadang membaca  dan menulis lebih dari 1 jam, atau malah kegiatan menulis lebih diutamakan karena sedang menyelesaikan sebuah buku atau novel, tak masalah mengganti kegiatan membaca dengan menulis, asal tidak ditinggalkan sama sekali. Sedang  yang tidak disibukkan dengan pekerjaan harian, bisa menyediakan waktu yang lebih banyak untuk  BO, paling penting jangan biarkan waktu berlalu tanpa kegiatan yang bermanfaat.&lt;br /&gt;Pada waktu rasa malas, bosan, merasa sia-sia, dan kejenuhan muncul, maka pertanyakan pada diri sendiri, mau diapakan hidup yang pendek ini? Apa hidup dibiarkan untuk makan, tidur dan bermain-main saja? Mengapa tidak melakukan sesuatu yang bermakna? &lt;br /&gt;Supaya mempermudah BO, perlu memperluas kemampuan bahasa dan kemampuan menggunakan komputer. &lt;br /&gt;Belajar bahasa Indonesia dengan cara; menghafalkan kata-kata sulit yang berasal dari bahasa asing atau daerah, mempelajari tata bahasa, mempraktikkan yang dipelajari dalam tulisan-tulisan sederhana, berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sedang yang ingin belajar Bahasa Inggris, menghafal 5 kosa kata setiap hari dan mempraktekkan dalam tulisan atau komunikasi, mempelajari Tenses, mendengarkan film, berita, dan percakapan dalam bahasa Inggris, berkomunikasi dengan teman menggunakan bahasa Inggris, membuca buku cerita dalam bahasa Inggris dan menulis tulisan sederhana dalam bahasa Inggris. Bagi yang belajar Bahasa Arab; mempelajari buku cara praktis berbahasa Arab, menghapal 5 kosa kata setiap hari, membaca buku Ilmu Nahwu dan Sorrof, serta latihan berbicara, membaca atau mendengarkan cerita berbahasa Arab. &lt;br /&gt;Menguasai program Microsoft Word secara optimal,  dibutuhkan guna mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat menulis di komputer. Untuk menguasai program ini, bisa lewat jalur kursus atau belajar sendiri dengan komputer yang dimiliki. Paling baik jika telah menguasainya sewaktu masa-masa sekolah atau kuliah Diploma. Ingat kesulitan berhadapan dengan komputer terkadang menghentikan seseorang untuk berkarya. Memang dalam tahap-tahap awal menulis tangan adalah langkah terbaik, baru setelah memiliki sejumlah tulisan yang lumayan banyak, memutuskan untuk membeli komputer sendiri. &lt;br /&gt;Belajar yang baik adalah dengan mengajar, maka otodidaktor berusaha untuk mengajar. Mengajar jangan diartikan sempit di dalam di kelas, sekolah atau pesantren (jika bisa lebih baik), tapi bermakna luas termasuk mengajari teman tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, membantu anak-anak kecil menyelesaikan tugas-tugas sekolah, membantu adik dalam belajar, dan mengajar anak-anak jalanan, anak-anak terlantar atau anak-anak yang tidak mampu bersekolah. Paling penting adalah mengajar siapa pun asal  bermanfaat untuk orang lain, sekaligus memanfaatkan apa yang dipelajari untuk kebutuhan orang lain.&lt;br /&gt;2. Beberapa Hal yang Perlu dikuasai &lt;br /&gt;Dalam proses belajar, otodidaktor perlu mengetahui cara pemaknaan sesuatu, cara menafsirkannya, memahami dialektika Hegel sebagai bekal untuk BO, dan cara melakukan kritik. Dengan mengetahui makna sesuatu; bisa memahami kalimat, wacana dan bahasa. Dengan mengetahui cara menafsirkan sesuatu, maka mampu memahami apa yang dipelajari lebih mendalam. Dengan pemahaman terhadap tesis, anti tesis dan sintesis diharapkan memudahkan otodidaktor untuk melihat sesuatu dari berbagai macam sudut pandang sebelum menarik suatu kesimpulan, mengetahui cara melakukan kritik, dan melihat sesuatu secara jernih. &lt;br /&gt;a. Cara Memaknai sesuatu &lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran, otodidaktor perlu mengetahui makna dari sesuatu yang dipelajari, sebelum sampai pada pemahaman. Dalam upaya mengetahui makna sesuatu, bisa ditempuh dengan membuka kamus atau Ensklopedi untuk kata-kata tertentu, meski tidak bisa dijadikan patokan sepenuhnya-, mengaitkan dengan pemahaman yang ada dalam benak  otodidaktor sebelumnya, mengaitkan makna tersebut dengan kenyataan yang ada, dan menunda sementara waktu, baru setelah melakukan perenungan dan diam sejenak mencari makna yang tepat, maka makna hakiki sesuatu bisa diungkap.&lt;br /&gt;Kamus atau Ensklopedi menjadi buku “pintar” yang menerangkan makna dari berbagai macam kata, tapi mengandalkan keduanya semata dalam memahami sesuatu, sama seperti orang yang matanya min parah tanpa kaca mata. Sebab makna sesuatu terus menerus berkembang, berubah dan kompleks, sedang Kamus atau Ensklopedi tidak berubah setiap hari. Tapi, Kamus atau Ensklopedi penting dalam rangka mengetahui makna kata saja, selanjutnya diperlukan langkah-langkah lanjutan sebagai berikut.&lt;br /&gt;Setiap otodidaktor memiliki ‘horison harapan’  atau pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Horison harapan ini bisa membantu mengetahui makna sesuatu lebih mendalam, sebab berkenaan dengan hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya yang tersimpan di dalam kesadaran atau alam bawah sadar. Sehingga hakikatnya Anda bisa memaknai sesuatu berdasarkan horison harapan tersebut. Misalnya, Anda ingin mengartikan makna sabun, secara otomatis horison harapan membimbing pada alat yang bisa membersihkan sesuatu. Ada pertanyaan, bagaimana mungkin bisa mengartikan sebagai alat pembersih bila tidak pernah melihat atau menyentuhnya?&lt;br /&gt;Inilah perlunya mengaitkan horison harapan dengan kenyataan yang ada di sekitar kita, untuk bisa memahami sabun Anda perlu membeli sabun ke toko, melihat secara langsung, mencoba memakainya untuk membersihkan tubuh. Lalu hal itu diobservasi atau diverifikasi bahwa sabun adalah alat untuk membersihkan sesuatu, yang telah dibuktikan secara valid tanpa keraguan sedikit pun. Di kalangan  akademisi,  ini yang disebut dengan ilmiah.&lt;br /&gt;Otodidaktor  sudah mengetahui makna kata yang telah dibuktikan dalam kenyataan, namun tidak boleh berhenti sampai di sini, melainkan melanjutkan dengan mencari makna lain dari kata sabun. Untuk itu perlu memperluas pengalaman, merenung tentang kata tersebut, dan menjelajahi kemungkinan pemakaiannya. Pengalaman mengajarkan bahwa sabun adalah alat pembersih, maka ketika korupsi ingin dihentikan di Republik ini, bukankah sabun bisa digunakan? Jika sabun bisa membersihkan badan, pakaian dan peralatan dapur, mengapa sabun tidak digunakan untuk membersihkan mentalitas korupsi dari dalam diri. Untuk itu makna sabun diperluas dengan makna moralitas agama atau penegakan hukum yang tegas, lho kok begitu? Moralitas agama merupakan perisai, sekaligus pembersih yang efektif dalam diri seseorang agar tidak melakukan korupsi dalam bentuk apa pun, sedang penegakan hukum yang tegas akan menimbulkan efek jera untuk melakukan korupsi. Mari kita bersihkan korupsi dengan “sabun” yang paling ampuh! Ini disebut makna metafora.&lt;br /&gt;Makna sebuah kata itu sangat kompleks dan tidak sesederhana yang dikemukakan di atas, dalam hal ini ungkapan berikut bisa jadi acuan “…..Barthes mendekati teks sebagai sebuah konstruksi berlapis, seperti bawang, yang mengartikulasikan makna-makna bervariasi (kerap bertentangan), yang memberi kemungkinan teks itu sendiri sebuah proses penguraian kritis namun tidak pernah memberi kemungkinan sebuah inti kebenaran yang solid….”5  Pengibaratan kata dengan bawang sesuatu yang cerdas dan bisa mengungkapkan kompleksitas makna dari kata, untuk itu otodidaktor dituntut senantiasa melakukan pembacaan yang kreatif seumur hidupnya untuk menangkap hakikat dari “bawang”.&lt;br /&gt;Di samping itu, Anda dapat memaknai sesuatu dengan makna yang berbeda, tergantung pengetahuan, pengalaman, proses pembelajaran yang dialami, dan budaya yang mempengaruhinya. Perlu diingat, makna tidak pernah bersifat stagnan, melainkan terus berkembang bersamaan dengan perkembangan manusia dalam memaknai seseuatu. Menurut Aminuddin “…kondisi demikian juga sejalan dengan kenyataan bahwa hubungan antara bahasa, pikiran dan acuan, yang dimaknai tidak pernah bersifat tetap karena gambaran makna sesuatu proses berpikir subjek secara potensial senantiasa menampilkan gambaran makna baru.”6&lt;br /&gt;b. Cara Menafsirkan Sesuatu &lt;br /&gt;Menafsirkan sesuatu dapat dilakukan dengan dua cara versi Schleiermacher; pertama; gramatical interpretation, terkait dengan pemahaman terhadap aspek bahasanya, kedua; psichological interpretation; menggali dari informasi dari pengarang tentang proses penciptaan karya tulisnya.7  Sebelum menafsirkan, otodidaktor perlu memahami dari aspek bahasa. Bahasa berkaitan dengan pengungkapan makna, makna berkaitan dengan pemahaman dan keterkaitannya dengan kenyataan, serta upaya pemberian makna baru sesuai dengan ruang dan waktu. Selanjutnya, agar pemahaman ini bisa lebih menyeluruh, perlu diketahui latar belakang pengarang, proses kreativitas dan pendapatnya tentang hal-hal yang diungkapkan. Kedua hal ini memungkinkan otodidaktor untuk menafsirkan teks.&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak membahas cara menafsirkan  kitab suci, melainkan menafsirkan hal-hal yang memungkinkan untuk ditafsirkan. Misalkan wabah “super market, mall atau pusat perbelanjaan apa pun namanya,” bisa ditafsirkan dalam beragam makna; tempat orang-orang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tempat orang membeli segala sesuatu yang diinginkan, tempat jalan-jalan sambil berbelanja, tempat cuci mata sambil makan enak, tempat memuaskan keinginan yang tak pernah terpuaskan, atau bisa ditafsirkan lebih jauh yakni mesin hasrat yang sengaja diciptakan agar manusia kehilangan identitasnya, tempat manusia memakai topeng-topeng untuk menyembunyikan wajah-wajah aslinya, tempat negara maju menjual barang pada negara-negara berkembang atau miskin, tempat yang bisa mengefektifkan mesin globalisasi, tempat penjajahan di bidang ekonomi berlangsung tanpa seorang pun menyadarinya. &lt;br /&gt;Dengan pembacaan terakhir yang kritis, Anda mampu bersikap terhadap “super market, mall atau pusat perbelanjaan apapun namanya”, yakni menjadikannya sebagai sebenarnya “tempat”, tanpa kehilangan identitas diri, tanpa harus memakai topeng di balik “fashion”, mengisinya dengan produk-produk hasil krativitas diri atau hasil produksi dalam negeri, dan meningkatkan kemampun di bidang pemasaran agar bisa menjual kreativitas dengan harga yang layak. Kelemahan bangsa Indonesia bukan pada kemampuan menciptakan sesuatu,  melainkan terletak pada ketekunan menghasilkan karya berkualitas dan kreativitas memasarkan hasil ciptaan yang layak dan laku dijual, sehingga membantu peningkatkan penghasilan.&lt;br /&gt;c. Cara Melakukan Tesis, Anti Tesis dan Sintesis &lt;br /&gt;Dialektika Hegel yang berkenaan dengan tesis, anti tesis dan sintesis,8 sangat menarik untuk ditelaah agar otodidaktor mampu memperluas cakrawala berpikirnya. Keluasan cakrawala berpikir akan memperkuat pemahaman terhadap segala sesuatu yang ingin dipahami dengan lebih mendalam dan beraneka ragam.&lt;br /&gt;Tesis ialah anggapan atau praduga seseorang tentang sesuatu yang ingin dipahami. Praduga ini muncul berkenaan dengan pengetahuan yang diperoleh, pengalaman hidup dan pengaruh dari kebudayaan tertentu. Misalkan Anda menduga bahwa setiap orang akan sukses mencapai cita-citanya. Tapi teman Anda merasa bahwa dirinya tidak sukses mencapai cita-cita, sehingga muncullah anti tesis tidak setiap orang sukses mencapai cita-citanya. Melihat dua kenyataan yang saling bertolak belakang, maka muncullah sintesis antara keduanya yakni orang akan sukses mencapai cita-citanya asal bekerja keras, pantang menyerah, memiliki mental yang kuat, belajar seumur hidup, rajin membaca dalam makna yang luas, dan sabar, sedang orang yang tidak sukses karena tidak mampu menjalankan nilai-nilai tersebut dalam kenyataan.&lt;br /&gt;Tesis, anti tesis dan sintesis menghasilkan triad; anti tesis baru, tesis baru dan sintesis baru, begitulah terus menerus berlangsung sampai kiamat nantinya. Artinya proses ini berakhir dengan kematian manusia, sedang untuk semesta dengan kehancurannya. Hal inilah yang tidak dilakukan umat Islam.&lt;br /&gt;Ketika Al-Ghazali melakukan tesis “Tahafudhut Falasifah” atau Kerancuan Filsafat, lalu Ibnu Rusyd melakukan anti tesis yakni “Tahafudhut Tahafudhut” atau Kerancuan dari Kerancuan, yang berusaha menggugat pemikiran Al-Ghazali, sayangnya proses ini terhenti sampai di sini. Lalu dengan cerdik orang-orang Barat mampu mengeksplorasi pemikiran Ibnu Rusyd atau Averus, sehingga mereka bisa mencapai kemampuan yang mencengangkan. Sedang umat Islam melarikan diri pada “tasawuf atau mistik” dalam arti sempit dan menyerah kalah pada kejumudan.&lt;br /&gt;Seharusnya tidak berhenti sampai di sini, perlu eksplorasi pemikiran sampai ambang batas, asal tidak terjebak pada pemahanan seperti yang diinginkan Barat, yang “menjualnya” di negara-negara Islam dengan label bermacam-macam seperti Feminisme, Islam Liberal, dan berusaha menghujat “Al-Qur’an dan Sunnah” sebagai sesuatu tak berguna.&lt;br /&gt;Berhubung Barat menguasai dunia dalam berbagai aspek kehidupan, mereka perlu belajar pada Barat dengan perspektif berbeda. Artinya umat Islam perlu belajar tentang cara-cara Barat mencapai kemajuan di bidang teknologi, informasi, pengetahuan alam atau sosial, dan cara-cara mengelola kekuasaan “dalam negeri”, tapi umat Islam tidak perlu belajar “Islam” pada Barat, sebab “Islam” Barat terlanjur dikotori virus-virus orientalisme yang justru merusak Islam.&lt;br /&gt;Jika apa yang dimiliki Barat dianggap sebagai tesis, maka umat Islam perlu mencari, menemukan dan menghasilkan anti tesis, lalu menghasilkan sintesis di kemudian hari, sehingga cita-cita kebangkitan Islam bukan sekadar simbol yang bergentayangan di balik jubah, burdah, pakaian putih atau simbol-simbol keislaman lainnya, melainkan penerapan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan umat Islam.&lt;br /&gt;Dalam kontemplasi  saya selama ini, kebangkitan Islam di Indonesia akan hadir dipelopori oleh umat Islam yang berprinsip “berdiri di atas atau bersama semua golongan dan memahami Islam yang rahmatan lil’alamien”. Sebab etika universal sudah mereka miliki, hanya saja mereka dituntut mampu mengekplorasi “tesis” yang dipelajari dari Barat di atas, dan menjadikan krisis sebagai sarana pembelajaran paling efektif untuk mencapai kemajuan di segala bidang. Jika dua hal tersebut dilakukan dengan baik, maka kebangkitan Islam di Indonesia tinggal menunggu momentum yang tepat.&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa kebangkitan Islam di Indonesia, secara otomatis akan membawa kebaikan pada seluruh masyarakat dari latar belakang agama, suku, dan ras berbeda, sekaligus membawanya pada kemajuan yang mencengangkan di segala bidang kehidupan. Ini berarti kejayaan bangsa Indonesia di mata dunia internasional dapat diwujudkan dalam kenyataan yang hakiki. &lt;br /&gt;d. Cara melakukan kritik &lt;br /&gt;Dalam melakukan kritik, bukan sekadar menyalahkan, melainkan mampu memberikan alternatif terhadap sesuatu yang dianggap salah, artinya kesalahan dijadikan sarana memperbaiki pandangan hidup yang keliru dan menjalani hidup yang lebih baik. Kritik di sini tidak diartikan sempit yakni mengkritik segala sesuatu tanpa menemukan alternatif yang tepat untuk keluar dari kesalahan atau mengulang kesalahan yang sama. &lt;br /&gt;Teori dekonstruksi dari Derrida sangat menarik sekali sebagai contoh kritik yang bagus, dekonstruksi dalam makna menghancurkan sesuatu yang dianggap pusat, asal dan narasi besar, dengan menghasilkan narasi-narasi kecil. Teori Derrida ini merupakan pukulan paling telak yang pernah dilontarkan pemikir Barat terhadap kebudayaan mereka sendiri. Namun sebagian pemikir lain menganggap bahwa dekonstruksi Derrida seperti menghancurkan rumah tanpa mampu membangunnya kembali. Ini sebenarnya peluang bagi umat Islam untuk mampu membangun “bangunan baru”  yang telah dihancurkan Derrida sampai berkeping-keping.&lt;br /&gt;Globalisasi merupakan kedok Barat atau negara maju untuk menjual produk-produknya di negara-negara berkembang atau miskin, dengan demikian globalisasi tidak bisa diterima hitam di atas putih, melainkan harus dimaknai dengan cara berbeda oleh negara-negara berkembang dan miskin, sehingga rakyat mereka tidak sekadar menjadi pengkonsumsi dan penonton semata. Ini dilanjutkan dengan upaya sungguh-sungguh untuk mengkreasikan hal-hal baru, memperkuat pasar dalam negeri dari segala bidang, memperkuat kemampuan bersaing, memperkuat fundamental ekonomi, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat agar usaha kecil dan menengah bisa berkembang. Sayangnya Indonesia “belum” melakukan semua itu, melainkan “memaksakan diri demi gengsi” dalam proses globalisasi yang akan berlangsung dalam hitungan hari dan jam.&lt;br /&gt;Dalam skala yang lebih kecil, kita melihat masyarakat miskin semakin susah untuk memenuhi kebutuhan hidup, sikap kritis yang dibutuhkan bukan mengajari mereka tentang cara hidup hemat sebab “mereka sudah dipaksa untuk hemat”, melainkan bagaimana caranya supaya mereka mendapatkan pekerjaan, menawarkan modal usaha yang halal, atau paling tidak membantu kebutuhan pokok mereka yakni berupa beras, mie instan dan lauk pauk. Sebagai bentuk kepedulian, saya merintis Kuliah Alternatif bagi generasi muda yang tidak mampu kuliah formal, sehingga kemiskinan dan pengangguran dapat berkurang secara bertahap.&lt;br /&gt;Paradigma kritik yang saya tawarkan adalah kritik dengan memberikan alternatif atau solusi yang tepat, bukan sekadar mengkritik orang tanpa mampu menawarkan solusi apa pun.&lt;br /&gt;3. Cara Sukses BO&lt;br /&gt;Setelah memahami paradigma BO dan beberapa hal yang perlu dipelajari agar berhasil BO, maka perlu perspektif baru tentang pembelajaran yakni untuk sukses belajar dapat dilakukan melalui BO. &lt;br /&gt;Para Otodidaktor yang sukses dalam sejarah secara kualitas  tidak jauh berbeda dengan yang kuliah formal sepert; Hamka, Emha Ainun Nadjib, KH. Moh. Idris Jauhari, Gus Dur dan untuk orang Barat yang berhasil meraih hadiah Nobel yakni Albert Camus. Mereka berhasil karena BO dengan sungguh-sungguh, kerja keras, penuh keteknunan, ulet, pantang menyerah dan memahami cara BO yang benar. Untuk itu, perlu dipahami beberapa hal dalam upaya untuk meraih keberhasilan dalam BO.&lt;br /&gt;Di samping itu, pada masa mendatang, karir dan pekerjaan di pemerintahan dan perusahaan ditentukan oleh keterampilan, kompetensi, dan keahlian yang dimiliki, ini memberikan peluang yang sama bagi yang kuliah di universitas, belajar non formal (termasuk BO) dan pelatihan sambil bekerja. Jika pendidikan formal memperoleh Sertifikat kompetensi lewat ujian akhir, baru mendapat STTB/DIPLOMA, sedang Pendidikan Non Formal dan Pelatihan Sambil Bekerja harus mengikuti  ujian keterampilan untuk bisa mendapatkan paspor keterampilan SERTIFIKAT KOMPETENSI, keduanya akan mendapat peluang yang sama diterima di perusahaan swasta dan bekerja di birokrasi pemerintah. 9&lt;br /&gt;Lawrence Larry Ellison, Bill Gates, Paul Allen, Michael Dell adalah nama-nama yang pernah masuk 10 besar orang terkaya dunia, dan mereka semua berhenti kuliah di tengah jalan, dari mana semua keberhasilan yang mereka raih jika bukan lewat BO? Menurut Valentino Dinsi “Ya, sudah dikatakan bahwa abad 20 adalah abad di mana gelar akademis dari universitas sangat penting, tapi tidak lagi di abad 21. Kecendrungan ini sudah dimulai di AS, Jepang, dan kemudian di seluruh dunia. Banyak yang drop out dan mulai! Bila Anda punya gelar, itu bagus, tapi jangan jadikan itu sebagai halangan. Jangan biarkan ijazah Anda  menentukan jumlah yang bisa Anda dapatkan atau apa yang bisa Anda lakukan.”10 Ini memberi peluang yang sama pada siapa pun untuk berhasil dalam menekuni usaha, karir dan pekerjaan. &lt;br /&gt;a. Kegagalan adalah Potensi Menuju Sukses&lt;br /&gt;Kehidupan yang Anda dijalani pasti mendapatkan aral rintangan yang tidak mudah, bahkan seringkali semua itu membimbing Anda pada kegagalan. Sekali gagal mencapai apa yang diinginkan atau cita-cita adalah hal lumrah, bagaimana dengan orang-orang yang mengalami kegagalan berulangkali dalam hidupnya, sehingga terjebak dalam stres, putus asa, bingung, kalut, bahkan na’udhubillah memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Agar terhindar dari semua itu, perlu ditemukan cara yang efektif dalam mengelola suatu kegagalan, sehingga kegagalan bisa dijadikan sarana meraih kesuksesan. Ini untuk membuktikan bahwa kagagalan adalah sarana meraih kesuksesan, atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, pengalaman dari Thomas Alva Edison perlu dijadikan contoh, dia gagal dalam 10.000 percobaan, mengenyam pendidikan tiga bulan, tapi menjadi salah seorang tersukses dalam sejarah yang memiliki 1.093 hak paten. Realitas hidup inilah yang membimbing pada ungkapannnya yang tersohor, “Kebanyakan orang gagal adalah orang yang tak menyadari betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka memutuskan untuk menyerah.”11 Pelajaran apa yang bisa dipetik dari hal ini?&lt;br /&gt;Anda sering berusaha dengan sekuat tenaga, mengerahkan pikiran, menjalankan segala sesuatu sesuai rencana, bekerja keras, dan usaha-usaha lainnya, namun ternyata hasil yang diperoleh mengecewakan, bahkan bisa dibilang gagal sama sekali. Ketika Anda gagal, evaluasi kegagalan itu, lalu berusaha lagi, gagal lagi, evaluasi kegagalan itu,  terus berusaha lagi, gagal lagi, evaluasi kegagalan itu, terus berusaha lagi, begitu terus menerus sampai berhasil. Bila usaha yang dilakukan belum seoptimal sejumlah percobaan Thomas Alva Edison yang gagal, Anda harus terus menerus berusaha sampai bisa berhasil. Thomas Alva Edison ketika ditanya tentang kegagalannya menjawab “Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu yang berhasil. Saya pasti sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”12 Yakinlah! Dengan itu semua, momentum kesuksesan tinggal menunggu waktu, dan waktu itu akan datang dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Di  samping cara di atas, ada cara lain yang bisa ditempuh seperti yang saya lakukan. Perlu diketahui, hidup saya dipenuhi dengan berbagai kegagalan; gagal kuliah di perguruan tinggi padahal prestasi di Pondok Pesantren Al-Amien sangat bagus, menjadi pedagang kecil di pasar tradisional Wonosari Bondowoso yang menjauhkan saya dari upaya untuk belajar, karya tulis yang dikirim ke berbagai media via email selama enam tahun tidak pernah dimuat, dan skenario diterima “Satpam dan Resepsionis” di beberapa PH di Jakarta atau kasarnya ditolak. Bagaimana cara saya mengelola berbagai kegagalan tersebut?&lt;br /&gt;Setiap kegagalan yang saya hadapi, selalu dipertanyakan dalam hati, apa makna kegagalan tersebut dalam kehidupan saya? &lt;br /&gt;Dari pertanyaan singkat penuh makna ini, lantas saya mencoba mencari jawabannya; baik dengan membaca buku atau pun membaca realitas kehidupan.  Jawaban dari setiap kegagalan yang saya alami ialah; inilah cara Allah mendidik saya agar kuat secara mental, memiliki semangat pantang menyerah, berusaha melakukan yang terbaik, dan meneguhkan tekad untuk menjadi penulis yang bermanfaat bagi umat manusia. Dari sini, kreativitas menulis saya mengalir seperti aliran sungai yang mengarah ke lautan. Bahkan, salah seorang ibu yang punya indera keenam berkata pada saya; “Air sumbermu sangat dalam sekali?” Sesuatu yang tidak membuat saya bangga dan sombong, justru itu adalah amanah Allah agar saya bisa menghasilkan karya tulis yang banyak dan bermanfaat, seperti yang dilakukan Imam Ghazali, Frans Kafka, dan Hamka.&lt;br /&gt;Jika sekarang saya dianggap berhasil, –keberhasilan dalam perspektif baru seperti yang dijelaskan dalam bab II-maka keberhasilan yang diraih berkat kemampuan mengelola kegagalan-kegagalan yang dialami. Semua kegagalan itu benar-benar dijadikan sarana efektif untuk meraih keberhasilan. Dan ingat, seperti halnya Thomas Alva Edison, tidak boleh menyerah dengan kegagalan yang dialami, tapi terus berusaha sekuat tenaga, mengoptimalkan pikiran, mengerahkan imajinasi sampai ambang batas, belajar dari intuisi yang dilatih dengan banyak merenung dan dari mimpi, bekerja keras, tekun, tidak kenal kata putus asa, dan ini yang terpenting, saya senantiasa bertawakkal pada Allah. Bentuk tawakkal seorang Muslim yang benar adalah shalat lima waktu karena kebutuhan, shalat sunnah tahajjud, Dhuha dan Hajat, dzikir pada Allah secara tulus, menjadikan Al-Qur’an sebagai hidayah, menjadikan kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan, dan memasrahkan hasil usaha pada Allah SWT.&lt;br /&gt;Cara lain untuk mengatasi kegagalan adalah dengan senantiasa bersemangat dalam melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan Valentino Dinsi, SE, MM, MBA “Saya orang yang bersemangat. Saya percaya, bisa sukses karena ditaqdirkan untuk sukses. Saya tolak semua kemungkinan yang buruk. Saya bersemangat tentang diri dan potensi saya.”13 &lt;br /&gt;b. Orang Lain Sukses, Mengapa Anda Tidak?&lt;br /&gt;Dengan BO,  secara bertahap Anda sedang menumbuhkan gairah belajar yang tinggi, ini bisa membantu saat membaca buku dan keadaan atau semesta untuk memahami berbagai hal dalam kehidupan, dan menggabungkan semua itu untuk mencapai keberhasilan di masa mendatang. Agar lebih yakin, Anda perlu belajar pada tokoh-tokoh besar berikut ini agar berhasil dalam proses belajar otodidak.&lt;br /&gt;Albert Enstein kecil suka melamun, menurut guru-gurunya di Jerman dia akan gagal di bidang yang ditekuninya; beberapa pertanyaannya merusak disiplin kelas, dan dia dianjurkan untuk tidak bersekolah. Namun dia tetap belajar, sehingga menjadi ilmuan terbesar sepanjang sejarah.  Winston Churchil, pahlawan Inggris dan salah seorang orator ulung, lemah dalam pekerjaan di sekolah, kalau berbicara cadel atau gagap. Thomas Alfa Edison pernah dipukul gurunya karena banyak bertanya, sehingga dianggap mempermainkannya. Dia sering dihukum dan hanya tiga bulan mengenyam pendidikan sekolah. Untunglah ibunya seorang perintis belajar sejati; dia memiliki pengertian yang tidak lazim pada waktu itu bahwa belajar dapat menjadi kegiatan mengasyikkan. Dia membuat permainan untuk mengajarinya –dia menyebut eksplorasi- dunia pengetahuan yang mengasyikkan. Sang anak mula-mula kaget, namun kemudian menjadi bergairah. Sebentar kemudian dia mulai belajar dengan cepat sehingga ibunya tidak perlu mengajarinya. Bahkan dia terus mengeksplorasi, bereksprimen, dan mengajari dirinya sendiri. Enstein, Churchil dan Edison memiliki gaya belajar khas yang tidak sesuai dengan gaya sekolah mereka. Ketidaksesuaian yang terus berlanjut sampai sekarang, sehingga mungkin menjadi penyebab terbesar kegagalan sekolah. 14 Cerita tokoh-tokoh besar internasional ini memberikan peluang bagi Anda untuk berhasil dengan BO. &lt;br /&gt;Berikut ini contoh pengusaha sukses dari Indonesia tanpa kuliah formal. Fauzi Shaleh hanya lulusan SMP, namun berkat Manajemen Basmalah mampu memberikan kesejahteraan pada karyawan-karyawannya dengan hampir 22 gaji pertahun, sehingga berhasil sebagai pengusaha Real Estate Pesona Depok dan Pesona Kahyangan. Irwan Hidayat hanya lulusan SMU, tapi mampu menjadikan perusahaan jamu Sido Muncul berkembang pesat di saat krisis menerpa Indonesia, bahkan kini berkembang menjadi perusahaan regional, Hamka hanya lulusan SR, tapi mampu meraih gelar Prof. Dr. padahal tidak pernah kuliah formal. &lt;br /&gt;Orang-orang yang berhasil di atas sama seperti Anda, yakni orang biasa dengan segala kelemahamannya, namun mereka mampu menjadikan kelemahan sebagai potensi dalam kehidupan, berusaha dan bekerja dengan sangat keras, tidak pernah mengenal kata menyerah, dan mampu mengoptimalkan segenap potensi, sehingga berhasil menjadi orang besar. Itu berarti Anda memiliki peluang yang sama dalam upaya mencapai kesuksesan, baik yang kuliah formal atau BO, asal benar-benar memiliki motivasi kuat, semangat, gairah belajar dan keinginan kuat untuk menjadi orang yang berhasil. Namun harus diingat, semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin berhembus! Itu berarti tantangan, kesulitan, cobaan, ujian dan musibah yang menimpa bisa lebih besar atau dasyat dari yang sebelumnya diterima.&lt;br /&gt;Realitas ini memperkuat motivasi Anda untuk berhasil, sebab orang-orang hebat sama seperti kita yakni orang-orang biasa yang berupaya sekuat tenaga untuk memberi manfaat pada orang lain dan dunia. &lt;br /&gt;c. Menggabungkan BO dengan  Pekerjaan&lt;br /&gt;Ada fenomena menarik di Indonesia, yakni banyak orang bekerja di bidang yang bukan diketahuinya secara mendalam atau sesuai yang dipelajarinya di universitas.  Seorang insinyur teknik menjadi pedagang,  sarjana agama menjadi sales, sarjana ekonomi menjadi buruh pabrik, sarjana komputer menjadi bendahara, sarjana pertanian menjadi skretaris, dan lain-lain. Bisa ditebak, bidang usaha yang ditekuni tidak mencapai hasil yang maksimal. Padahal “Pikiran yang berkembang baik, gairah belajar yang tinggi, dan kemampuan memadukan pengetahuan dengan kerja adalah kunci-kunci baru menuju masa depan Laporan Scans.15 &lt;br /&gt;Pikiran harus dikembangkan sedemikian rupa agar bisa dimanfaatkan secara maksimal, pembahasan lengkap tentang hal ini diuraikan dalam bab berikutnya. &lt;br /&gt;Anda yang sedang menekuni usaha apa pun dituntut memiliki gairah atau semangat belajar yang membara. Memupuk semangat belajar bisa dilakukan dengan  belajar sendiri, sehingga ilmu yang diperoleh semakin bertambah banyak dan luas. Baru dilanjutkan dengan langkah lanjutan yakni  memadukan antara apa yang diketahui dengan pekerjaan yang ditekuni, sehingga kualitas, kreativitas dan produktivitas kerja menjadi meningkat, yang secara otomatis akan meningkatkan penghasilan. Jika situasi buruk membuat kehilangan pekerjaan, Anda bisa berkreasi sendiri, sebab sudah mampu memadukan antara pekerjaan dengan pengetahuan. &lt;br /&gt;Memadukan antara kerja dan pengetahuan inilah yang  menjadi salah satu pendorong kemajuan Indonesia masa mendatang. Sebab perpaduan tersebut dapat membuat kualitas kerja meningkat, kreativitas juga bisa ditingkatkan karena semangat bekerja dan belajar senantiasa membara, dan otomatis out put yang dihasilkan lebih baik. Ini diperkuat dengan upaya  agar pengetahuan yang diperoleh semakin mendekatkan diri pada Allah, Nabi Muhammad bersabda “Barang siapa yang bertambah ilmunya, dan tidak bertambah mendapatkan petunjuk,  tidak akan bertambah dekat pada Allah, malah menjauh dariNYA.” &lt;br /&gt;Ilmu yang diperoleh telah dimanfaatkan dalam menekuni pekerjaan, lalu dilanjutkan dengan pemaknaan bahwa ilmu yang diperoleh tiada lain merupakan sarana mendekatkan diri pada Allah. Dengan semakin mendekatkan diri pada Allah, manusia mampu menjalani hidup dengan penuh kedamaian, ketentraman dan selalu dalam perlindungan Allah, tentu ini dilakukan setelah pengetahuan senantiasa ditambah dan kerja keras dilakukan.  &lt;br /&gt;Sebaliknya, apabila ilmu yang diperoleh untuk kerja tanpa nilai spritual sama sekali, itu berarti kehidupan dimanfaatkan untuk mengejar harta sebanyak-banyak, suatu kehidupan yang kering, tanpa makna dan hambar. Sebagai bukti, lihatlah gaya hidup orang Barat yang hidup untuk dunia semata, nilai-nilai kehidupan yang mereka anut rancu, menjadikan “sampah” sebagai emas dalam makna negatif, menjadikan “permukaan” sebagai kenyataan, dan selalu merasa takut pada kematian, sebab kematian dianggap akhir segalanya. Ini berbeda dengan seorang Muslim, yang menganggap kematian adalah kehidupan yang baru, sehingga bekal sebanyak-banyak harus dibawa pada kehidupan mendatang. Alangkah nikmatnya menjadi seorang Muslim.&lt;br /&gt;d. Menemukan Gaya Belajar Sendiri&lt;br /&gt;Dalam pembahasan sebelumnya diketahui tentang cara-cara orang hebat mencapai keberhasilan, salah satu pelajaran terpenting dari mereka adalah menemukan gaya belajar yang unik dan khas dari setiap individu. Untuk menemukan gaya belajar sendiri perlu pemahaman tentang beberapa hal berikut ini.&lt;br /&gt;Menurut Profesor Ken dan Rita Dun ada empat kombinasi gaya belajar seseorang. Pertama; Bagaimana Anda menyerap informasi; apakah pelajar visual, auditorial, atau kinestetis. Apakah belajar efektif dengan bergerak, melihat, mendengar atau menyentuh? Jika pelajar kinestetis, biasanya paling baik belajar dengan tindakan fisik dan mengetahui secara langsung lewat pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika pelajar visual biasanya cendrung menggambar dengan sebuah peta, sedang pelajar auditorial biasanya tidak suka membaca buku dan buku petunjuk, dia lebih suka bertanya untuk mendapatkan informasi.  Kedua; Bagaimana Anda mengatur dan memproses informasi; apakah didominasi otak kanan, otak kiri, dan otak seimbang.  Orang yang memilki otak kiri yang kuat mampu menyerap informasi secara logis, mereka menyerap dengan mudah bila informasi disampaikan dalam urutan logis dan linear. Sedang yang otak kanannya kuat; senang menemukan gambaran besar terlebih dahulu, mereka menyukai penyajian dalam bentuk; visualisasi, imajinasi, musik, seni dan intuisi. Jika keduanya bisa dirangkum bersama atau multiple intelegence centres (pusat-pusat kecerdasan berganda) seseorang akan menyerap dan memproses informasi dengan mudah. Ketiga; kondisi yang mempermudah seseorang dalam meraih, menyerap dan menyimpan informasi; emosi, sosial, lingkungan dan fisik. Lingkungan fisik; suara, cahaya, suhu, tempat duduk dan sikap tubuh mempengaruhi peroses belajar. Emosi berperan penting dalam belajar, dalam banyak hal  emosi justru menjadi kunci sistem memori otak. Sebagian orang bertipe pagi, dimana dia mengalami kemudahan kalau belajar di pagi hari,  dan sebagian lagi bertipe burung hantu; dia mengalami kemudahan kalau belajar sore atau malam hari. Keempat; Bagaimana Anda mengeluarkan informasi? Orang dari segala usia dapat belajar apa saja jika diberi kesempatan untuk melakukannya dengan gaya unik mereka dan kekuatan pribadi mereka sendiri. Gaya kerja didifinisikan sebagai cara orang yang termasuk dalam angkatan kerja untuk menyerap dan menyimpan informasi baru, sulit, berpikir atau berkonsentrasi, melakukan pekerjaan harian dan menyelesaikan masalah secara efektif.16&lt;br /&gt;Dalam proses menemukan gaya belajar sendiri, Anda perlu memahami kelemahan dan kelebihan masing-masing. Kelemahan diri dicatat secara detil bersamaan dengan kelebihan yang dimiliki, lalu dibaca secara kritis dan kreatif. Kelemahan dijadikan sarana untuk lebih giat dalam belajar, dan kelebihan dimanfaatkan untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif, sehingga gaya belajar sendiri ditemukan. &lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi, dalam upaya memahami gaya membaca yang sesuai dapat dilakukan pengetesan sendiri; suatu waktu membaca buku dengan duduk serius, bila apa yang dibaca mudah diingat dan dipahami, maka membacalah secara serius, suatu waktu membaca buku sambil mendengarkan musik, bila  apa yang dibaca mudah diingat dan dipahami, maka membacalah sambil mendengarkan musik, suatu waktu membaca buku 30 menit, jalan-jalan sebentar, lalu membaca lagi, bila dengan gaya tersebut mudah diingat dan dipahami, maka membacalah diselingi jalan-jalan, bila membaca gambaran umum buku sebentar, lalu merenungkan apa yang dibaca sambil duduk santai, dan berusaha menyampaikan apa yang dibaca pada orang lain, sehingga mudah diingat dan dipahami, gunakanlah gaya ini dalam BO. &lt;br /&gt;Untuk mempermudah mengetahui gaya belajar Anda sendiri, coba isi kolom Lampiran I di akhir buku ini.&lt;br /&gt;Di samping itu, perkataan Barbara Prashing perlu diingat: “Kunci menuju sukses belajar dan bekerja adalah menemukan keunikan gaya belajar dan gaya bekerja Anda sendiri .”17 Anda dituntut untuk menemukan gaya unik dalam belajar dan bekerja, lalu menggabung keduanya dalam upaya meraih kesuksesan dalam bidang yang ditekuninya. Hanya diri Anda sendiri yang mengetahui gaya belajar unik Anda. Temukan, kembangkan, eksplorasi, dan tingkatkan!&lt;br /&gt;e. Kiat BO yang Efektif&lt;br /&gt;Prinsip utama belajar: Pertama; koneksi pikiran tubuh. Belajar bukan hanya proses akademik, sebab bayi belajar dengan merangkak, merayap, berayun, berjalan dan menyentuh, begitu juga anak-anak dan dewasa. Seseorang mungkin tidak bisa lagi membentuk sel-sel otak cerebral contrial setelah lahir, tapi setiap orang bisa membentuk dendrit-dendrit –cabang-cabang koneksi dan penyimpanan otak- selama hidup. Prof Diamond membuktikan bahwa semakin efektif stimulasi fisik dan mental, semakin bagus pertumbuhan dendrit. Prof. Palmer di Minnesto AS membuktikan bahwa kegiatan fisik rutin di TK dapat meningkatkan kemampuan akademik anak berumur lima tahun, karena aktivitas fisik bisa mengembangkan otak. Kedua; koneksi pikiran otak, sebab otak dan pikiran tidak sama. Sederhananya; otak adalah perangkat keras (hardware), sedang pikiran adalah perangkat lunak (software). Otak bersifat biologis dan neurologis; ia punya neuron, sel glial, dendrit dan selaput meilin yang sama-sama menyediakan mekanisme biologis. Dalam konteks ini, pikiran adalah isi otak.18&lt;br /&gt;Agar BO berlangung efektif, maka lingkungan harus dibuat sekondusif mungkin yang memungkinkan terlaksananya belajar sendiri. Untuk itu perlu memanfaatkan suasana, pemandangan alam, dan lingkungan di sekitar yang mendukung kegiatan belajar sendiri. &lt;br /&gt;Misalnya, bagi yang tinggal di desa, perlu menyediakan ranjang sederhana (bahasa Maduranya lencak) atau kursi dan meja sederhana di luar rumah yang menghadap ke sawah, pepohonon atau taman, sedang yang tinggal di kota bisa menyediakan kursi dan meja di lantai dua rumah (jika tak punya di depan rumah saja) lalu di samping atau depan  diletakkan foto tokoh idola (gambar Imam Ghazali), dan menghiasi suasana dengan bermacam-macam pot bunga agar suasana menjadi segar, tempat tersebut dijadikan sarana membaca atau menulis. Untuk yang tinggal di desa dengan suasana ysng indah, sangat mendukung BO, ketika lelah membaca dan menulis, bisa melihat pemandangan, bagi yang hidup di kota  dapat memanfaatkan lukisan di dinding dan gambar langit di atap rumah, sehingga suasana menjadi menyenangkan. Untuk yang tidak betah duduk lama, perlu membaca sambil jalan-jalan, membaca buku sambil menggerak-gerakkan kaki, dan mendengarkan musik. Mendengarkan musik sambil membaca atau menulis sangat efektif, asal musik yang diputar sesuai kesenangan diri. Selesai membaca buku, perlu teman untuk saling berbagi informasi. Apa yang dibaca berusaha disampaikan pada teman tersebut agar lengket dalam ingatan dan tidak mudah lupa, di samping mendiskusikan berbagai hal, sehingga pengetahuan menjadi bertambah.&lt;br /&gt;Pentingnya lingkungan yang kondusif untuk belajar dinyatakan Dr. Noburo Kabayashi dalam buku Creating the Future, “Lingkungan yang positif dan kaya-emosional bukan barang mewah tetapi sungguh merupakan kebutuhan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik pada abad ke-21.”19 &lt;br /&gt;Apa yang dipelajari dikukuhkan dengan mencatat kata-kata kunci yang harus senantiasa diingat, lalu dilanjutkan dengan berusaha fokus pada buku-buku yang dibaca sesuai dengan bidang yang ingin diperdalam. Jika ingin menguasai cerpen, maka bisa diperluas pada sastra yang lain seperti puisi, drama, novel dan kritik sastra. &lt;br /&gt;Memanfaatkan gelombang otak kanan manusia; panjang gelombang otak berguna untuk tidur lelap, yang lain berguna untuk inspirasi, saat terjaga dari tidur dan menjalani kehidupan sehari-hari, dan frekwensi yang berguna untuk pembelajaran yang relaks dan efektif; kondisi Alfa. Pemanfaatan otak kanan bisa membantu dalam menentukan hasil dan sasaran; ambak (apa manfaatnya bagiku?) memvisualisasikan tujuan yang ingin dicapai dan menjadikan kesalahan sebagai umpan balik.20&lt;br /&gt;Bersikap positif dalam memandang segala hal sangat penting dalam kehidupan. Artinya apa pun yang dibaca merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan atau dalam berkarya jika ingin menjadi penulis. Ini akan membantu menumbuhkan sikap positif dalam memandang sesuatu. Lalu sikap positif diarahkan untuk bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga diri bisa diterima lingkungan atau masyarakat, sekaligus membantu menjalani hidup apa adanya, tanpa terjebak pada ambisi buta, keinginan-keingan semu, dan hal-hal yang merugikan dalam hidup. &lt;br /&gt;Membuat peta pikiran tentang apa yang dibaca dan visualisasikan. Belajar sendiri akan dikuasai dengan mudah apabila dilihat, didengarkan dan dirasakan secara langsung, maka memanfaatkan semua potensi yang dimiliki adalah tuntutan yang harus dijalani. Perkataan Tony Stockwel perlu diperhatikan “Untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan efektif, Anda harus melihatnya, mendengarnya, dan merasakannya.”21&lt;br /&gt;Menggunakan konser musik aktif dan pasif. Menurut Lazanov, setiap orang memiliki keadaan belajar optimum sendiri. Keadaan ini ditandai dengan; detak jantung, kecepatan panas, gelombang otak menjadi berirama sinkron dan tubuh menjadi relaks, tetapi pikiran terkonsentrasi dan siap menerima informasi (pengetahun) baru. Inilah pentingnya musik untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga mudah ditangkap atau dipahami siswa. “Musik mengurangi stres, meredakan ketegangan, meningkatkan energi dan memperbesar daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas,” Jeanete Vos.22 &lt;br /&gt;Meruntuhkan tembok mental dalam belajar. Menurut Lazanov ada tiga tembok mental dalam belajar; pertama; kritis-logis, belajar tidak mudah. Mana mungkin mungkin belajar menyenangkan dan mudah? Kedua; intiutif-emosional, Saya ini bodoh, saya pasti tidak bisa melakukannya, ketiga; kritis-moral, belajar itu kerja keras, jadi harus menundukkan kepala.23 Tembok mental ini dihancurkan, dengan cara menumbuhkan sikap yang sebaliknya yakni belajar itu mudah jika dilakukan secara terus menerus, dan dijadikan kebiasaan hidup seperti halnya makan dan minum, perasaan diri bodoh atau tidak bisa memahami apa pun diganti dengan bahwa semua manusia hakikatnya sama “Sungguh kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan,” (QS At Thien;4) hanya orang yang mampu mengembangkan seluruh potensinya yang akan berhasil di bidang yang ditekuninya. Memang belajar tidak mesti menundukkan kepala atau serius, melainkan juga bisa dilakukan dengan santai sambil menikmati pemandangan alam, menikmati bintang dan bulan, atau sambil mendengarkan musik yang disenangi.&lt;br /&gt;Apa dipelajari berusaha disampaikan ke orang lain dalam bentuk diskusi atau dengan cara mengajarnya tentang apa yang kita pelajari. Proses ini merupakan upaya mengaktifan otak dan memperkuat proses pembelajaran yang dilakukan. Contoh; ketika mempelajari cerpen, coba cerpen yang dibaca, dirubah menjadi naskah drama, lalu ditampilkan oleh beberapa orang dalam panggung sederhana di suatu kesempatan. Dalam konteks ini, otodidaktor dapat bergabung dengan sebuah lembaga pendidikan agar bisa belajar sambil mengajar, sebab belajar yang paling efektif adalah dengan mengajar.  “Mengajar, belajar dan mengetahui adalah aktivitas yang berbeda. Mengetahui –terutama mengetahui bagaimana belajar adalah ciri seorang terpelajar. Belajar adalah cara sederhana untuk mendapatkan hasil,” Prof Charles Wright, universitas Origon.24&lt;br /&gt;f. BO yang Menyenangkan&lt;br /&gt;BO dengan menyenangkan; membaca buku, membaca semesta, membaca kehidupan, menulis, dan belajar apa pun jangan dijadikan beban dalam hidup, namun dilakukan dengan senang hati, riang dan gembira. Caranya adalah dengan menjadikan belajar sebagai hobi, sebagaimana orang hobi memancing, bermain games, nonton bola, dan hobi-hobi lainnya yang menyenangkan. Prinsip ini sangat penting agar program belajar yang dicanangkan berjalan secara sukarela tanpa paksaan. Bukankah menyenangkan melakukan sesuatu yang disukai dalam hidup, apalagi itu merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk diri, orang lain, masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Rutinitas yang dijalani dalam BO, dibuat sedemikian rupa agar bisa menyenangkan. Belajar dengan menyenangkan akan memudahkan dalam memahami suatu pelajaran dan bisa lengket dalam ingatan. Jangan lupa prinsip dari ingatan yakni hanya mampu mengingat yang penting-penting saja dan berkesan saja.&lt;br /&gt;Jika Anda merasa suntuk membaca buku selama satu jam, perlu menaruh buku dan berjalan-jalan sebentar, atau yang tinggal dekat hamparan sawah, pepohonan dan pegunungan bisa menikmati pemandangan alam, sedang yang tinggal di perkotaan, bisa menikmati kepadatan lalu lintas atau orang-orang yang berjalan atau mengalihkan dengan merawat bunga, menyiram tanaman, dan melakukan kegiatan lain yang bermanfaat. Jika malam hari, menikmati bulan atau kerlip bintang di angkasa. Setelah itu, meneruskan untuk membaca buku sampai waktu yang diinginkan.&lt;br /&gt;Suatu saat timbul perasaan tidak berguna, suntuk, atau ingin berhenti belajar. Cara mengatasinya, lihatlah gambar-gambar tokoh idola, mereka semua adalah orang-orang yang bekerja keras, bisa berhasil berkat kepintaran menggabungkan antara kesenangan dengan pekerjaan, melewati proses waktu panjang dan melelahkan sebelum berhasil, berulangkali mengalami kegagalan dan bangkit kembali, mengerahkan segenap potensi supaya sukses, dan mampu menjadikan perasaan-perasaan negatif sebagai pemicu semangat untuk melangkah yang lebih baik. Ketika semangat timgbul kembali, mulailah belajar otodidak. Agar terdapat variasi dalam belajar otodidak, gunakan untuk menikmati kesenian masyarakat, belajar tradisi tertentu, dan kebudayaan yang khas di daerah sendiri.&lt;br /&gt;Cara lain adalah menulis kegiatan apa saja yang paling menyenangkan dalam hidup, misalkan berjalan-jalan di pantai, memancing, menolong orang yang kesusahan, bermain play station atau games komputer, menonton televisi, lalu masukkan kegiatan belajar otodidak menjadi yang paling menyenangkan juga seperti; membaca buku, membaca keadaan, semesta dan kehidupan, menulis. Dengan memasukkan kegiatan-kegiatan BO dalam sesuatu yang paling menyenangkan, maka kelak di kemudian hari, otodidaktor akan mampu mencintai BO sebagaimana mencintai seorang kekasih. Rasanya ada sesuatu yang hilang atau timbul perasaan hampa, jika dalam satu hari dilalui tanpa BO.&lt;br /&gt;1 Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara (Jakarta: Trans Media, 2006), hal 241&lt;br /&gt;2 Hasan Hanafi, Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, (Yogyakarta: IRCiSoD, September 2003), hal 109&lt;br /&gt;3 Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution,  Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni (Bandung: Kaifa, 2001), hal 286&lt;br /&gt;4 Michael R. LeGault , op cit hal 271&lt;br /&gt;5 Dani Cavallaro, Critical and Cultural Theory, Teori Kritis dan Teori Budaya, penerjemah Laili Rahmawati, penyunting Helmi Mustofa, (Yogyakarta: Niagara Mei 2004), Hal 112&lt;br /&gt;6 Aminuddin dkk, Analisis Wacana, Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi, (Yogyakarta: Kanal, Desember 2002), hal 160&lt;br /&gt;7 John B. Thomson, Filsafat Bahasa dan Herneutika, penerjemah Dr. Abdullah Khozin Afandi, (Surabaya: Visi Humanika, 2005) &lt;br /&gt;8 Jostein Gaarder, Dunia Sophie, Sebuah Novel Filsafat, Penerjemah Rahmani Astuti, Penyunting Yuliani Liputo, (Bandung: Mizan Utama, 2004), hal 397&lt;br /&gt;9 Keterampilan Menjelang 2020 Untuk Era Global, Lampiran Satuan Tugas Tentang Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, hal 26&lt;br /&gt;10 Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, (Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004), hal 42&lt;br /&gt;11 Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos, op cit hal 282&lt;br /&gt;12 Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk, op cit hal 99&lt;br /&gt;13 ibid hal 88&lt;br /&gt;14 Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos,  op cit hal 341 &lt;br /&gt;15 ibid hal 276&lt;br /&gt;16 ibid hal 345-347&lt;br /&gt;17 ibid hal 356&lt;br /&gt;18ibid hal 369&lt;br /&gt;19 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, Mei 2002), hal 448&lt;br /&gt;20 Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos, op cit hal 309&lt;br /&gt;21 ibid hal 298&lt;br /&gt;22 ibid hal 310&lt;br /&gt;23 ibid hal 311&lt;br /&gt;24 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 358&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi Manusia  (PM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persimpangan Jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persimpangan jalan menghadang di depan pelupuk mata&lt;br /&gt;melangkah ke barat, hati gelisah&lt;br /&gt;melangkah ke timur, pikiran resah&lt;br /&gt;melangkah ke selatan, nafsu bergelora&lt;br /&gt;melangkah ke utara, badan merona&lt;br /&gt;memilih tidak melangkah, menyalahi norma&lt;br /&gt;Dalam kebingungan&lt;br /&gt;kaki melangkah menurut nurani&lt;br /&gt;sesekali ke barat, menghasilkan karya&lt;br /&gt;sesekali ke timur, melahirkan karsa&lt;br /&gt;sesekali ke selatan, menciptakan ceria&lt;br /&gt;sesekali ke utara, menghadirkan sejahtera&lt;br /&gt;semua arah adalah ada dalam ada&lt;br /&gt;menafikan salah satu sirna segala&lt;br /&gt;masing-masing berjalan sesuai irama&lt;br /&gt;melantunkan arti seribu satu&lt;br /&gt;Persimpangan jalan memiliki banyak makna&lt;br /&gt;seperti kata yang mengalir memenuhi berbagai penafsiran&lt;br /&gt;memenjaran pilihan ke salah satu arah&lt;br /&gt;sama dengan memenjarakan kata dalam kamus&lt;br /&gt;biarlah kata menunjukkan makna sendiri&lt;br /&gt;seperti yang digagas presiden penyair&lt;br /&gt;atau penjara-penjara kata kita musnahkan saja&lt;br /&gt;hingga kata-kata berbicara tentang dirinya sendiri&lt;br /&gt;Hidup adalah menjalani pilihan-pilihan &lt;br /&gt;tidak memilih mati dalam hidup&lt;br /&gt;memutuskan satu pilihan menimbulkan kesempitan&lt;br /&gt;memilih segala pilihan &lt;br /&gt;sesuai kenyataan-kenyataan&lt;br /&gt;seirama nuansa-nuansa&lt;br /&gt;seiring fakta-fakta&lt;br /&gt;menjalani hidup penuh makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonosari, 14 Oktober 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Otak Salah Satu Anugerah Terbesar &lt;br /&gt;a.Otak Manusia &lt;br /&gt;Otak manusia itu sangat canggih, kompleks dan rumit, “Bahkan jagat raya, dengan jutaan galaksinya, pun tidak sanggup menandingi kompleksitas otak manusia yang menakjubkan. Otak manusia adalah cermin ketidak terhinggaan. Tidak ada batas, ruang lingkup, atau kapasitas bagi otak untuk tumbuh secara kreatif.” Norman Cousins dalam Head First: The Biology of Hope.1   &lt;br /&gt;Meski tidak sepenuhnya setuju bahwa kompleksitas otak mengalahkan jagad raya, namun saya sepakat otak manusia memang luar biasa kompleks.&lt;br /&gt;Untuk membuktikan betapa kompleksnya otak manusia, uraian berikut menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan otak manusia; tiga jenis otak, empat gelombang otak, 10 Kecerdasan Berganda, tiga kekuatan otak dan lima memori.   &lt;br /&gt;Tiga jenis otak; otak Reptil; batang otak yang ada dalam rongga kepala bagian dasar, muncul dari tulang punggung, ini juga dimiliki kadal, buaya dan burung, fungsinya mengontrol pernafasan jantung dan instink-instink;  otak Mamalia; bagian tengah otak yang “membungkus” otak ibarat kerah baju, fungsinya mengendalikan emosi, memelihara kestabilan “lingkungan” tubuh,  mengendalikan hormon, rasa lapar, rasa haus, seks, kesenangan, metabolisme, kekebalan tubuh, dan memori jangka panjang (ingatan), Neokorteks; tebalnya hanya seperdelapan inci dan bentuknya berupa lipatan-lipatan, tempat bersemayamnya kecerdasan, ini berhubungan dengan melihat, mendengar, mencipta, berpikir dan berbicara –semua kecerdasan yang lebih tinggi- membantu pengambilan keputusan, membentuk pengalaman, mengapresiasi segala sesuatu seperti musik, lukisan, dan lain-lain.2 &lt;br /&gt;Empat jenis gelombang otak: Beta; gelombang otak pikiran sadar, beroperasi 12-35 siklus perdetik, berfungsi mengawasi atau berjaga-jaga, menganalisa situasi, dan berbicara, Alfa; gelombang otak yang memiliki ciri relaksasi dan meditasi, beroperasi 8-12 siklus perdetik, fungsinya berkhayal dan berimajinasi, Teta; gelombang otak yang berkaitan dengan lamunan atau sebelum tidur, beroperasi 4-7 siklus perdetik, fungsinya memproses informasi hari itu dan hadirnya kilatan-kilatan isnpirasi, Delta; tidur lelap tanpa mimpi, siklusnya 0,5-3 perfetik. Pemanfaatan gelombang Alfa yang dalam keadaan rileks tapi sadar sangat membantu proses pembelajaran dan bisa membantu menyimpan memori-memori jangka panjang, gelombang Beta juga membantu untuk mengkonsentrasikan diri.3 &lt;br /&gt;8 Kecerdasan manusia menurut Howard Gardner peneliti IQ Konstan ditambah 2 Kecerdasan Berganda hasil eksplorasi saya sendiri setelah melakukan penelitian sederhana pada lebih dari 1000 orang selama 10 tahun, berarti total 10 Kecerdasan Berganda. Urutannya ialah Kecerdasan Linguistik (kemampuan berbicara dan menulis; Soekarno dan Rendra), Kecerdasan Logis Matematis (kemamapuan menalar, menghitung dan menangani pemikiran logis; Habibie, Bertrad Russel dan Zhu Rongji), Kecerdasan Kinestetis (kemampuan menggunakan anggota tubuh; Mechael Schumacher dan Ronaldo, Taufik Hidayat), Kecerdasan Musikal (kemampuan menggugah lagu, menyanyi dan memainkan musik; Iwan Fals dan Mechael Jakson), Kecerdasan Interpersonal (kecerdasan berhubungan dengan orang lain; Amien rais dan Barrack Obama), Kecerdasan Intrapersonal (kemampuan mengelola perasaan dan kesadaran diri; Khairil Anwar dan Pramudya Ananta Noer), Kecerdasan Naturalis (kemampuan mengelola sumber daya alam, Bob Sadino), Kecerdasan Otodidaktor (kemampuan belajar sendiri, Hamka dan Gus Dur), Kecerdasan Spritual (kemampuan spritual, Ary Ginanjar Agustian dan KH. Moh. Idris Jauhari).4        &lt;br /&gt;Otodidaktor harus mampu mengetahui Kecerdasan Berganda yang dimiliki, paling tidak dua di antaranya yang paling menonjol, keduanya dikembangkan lebih lanjut sampai menjadi keahlian. Untuk itu, perlu mengisi Lampiran II supaya memahami kecerdasan mana yang paling menonjol dan dimanfaatkan secara maksimal dalam belajar otodidak (BO). Tes ini telah diuji pada lebih dari 1000 orang, hasilnya mencengangkan; mereka yakin bahwa setiap orang cerdas, mengetahui bidang ilmu yang ingin diperdalam pada masa mendatang, dan membuka pintu masa depan yang cerah.&lt;br /&gt;Kekuatan otak manusia terbagi dalam; otak Kanan, otak Kiri, dan otak Seimbang. Untuk memahami kita termasuk yang mana, perlu diketahui ciri-cirinya. Ciri-ciri otak Kiri yang kuat; serius, sederhana, membosankan, hemat, mempercayai fakta, rapi dan terorganisasi, tujuan ide adalah keuntungan, lebih memilih metode keilmuan dan gaya berpikir bersifat logis. Ciri-ciri otak Kanan; humoris, rumit, menyenangkan, pemboros, percaya Instink, berantakan dan kacau, ide adalah ekspresi diri, lebih memilih perasaan sebagai solusi masalah, dan  gaya berpikirnya bersifat radikal.  Ciri otak Seimbang memiliki kekuatan ganda yang dimiliki otak kanan dan otak kiri.5 &lt;br /&gt;Perlu diketahui, untuk memiliki kekuatan otak yang seimbang perlu latihan. Bagi yang kuat otak kanannya, maka berusaha melatih otak kirinya, sedang bagi yang kuat otak kirinya, berusaha melatih otak kanannya, sehingga keduanya dimanfaatkan secara maksimal. Sebagai latihan, cobalah berlatih melakukan sesuatu yang sebaliknya; orang yang kuat otak kiri, biasanya berpikir logis atau masuk akal, sesekali perlu melakukan kebalikannya yakni berpikir radikal, sebab dalam menghadapi perubahan yang semakin kompleks, justru berpikir radikal dibutuhkan.&lt;br /&gt;Lima tipe momori W-I-R-E-S menurut pakar ilmu saraf Dr. Murray Grossman dkk. Pertama Work (kerja); memori jangka pendek, memungkinkan seseorang mengingat beberapa hal secara bersamaan, seperti melambaikan tangan sambil berbicara dan membuka surat. Sebagian besar  orang kehilangan efisiensi memori ini, saat berusia empat puluh tahun. Kedua Implicit (implisit); keahlian yang dikuasai antara belajar dan praktik biasanya tidak pernah lupa, seperti mempelajari cara mengendarai sepeda sampai bisa. Memori ini tidak menuntut kesadaran, hilangnya memori implisit akan menyebabkan gangguan mental. Ketiga Remote (jarak jauh/panjang); akumulasi data sepanjang hidup mengenai bermacam-macam topik yang luas. Penurunan usia menyebabkan menurunnya fungsi ini. Keempat Episodic; memori dari pengalaman seseorang yang khusus, contoh makanan yang dipilih pada rumah makan mana pekan lalu. Informasi yang memuaskan diri bisa diingat dengan baik. Kelima Semantic; memori terhadap kata-kata dan simbol-simbol berikut makna-maknanya adalah jenis memori yang tidak pernah hilang, menggambarkan pengetahuan seseorang tentang dunia.6 &lt;br /&gt;b. Dari Otak ke Pikiran &lt;br /&gt;Sudah dijelaskan tentang otak secara universal beserta bagian-bagiannya secara terperinci, kini kita perlu memahami fungsi utama dari otak yakni pikiran. &lt;br /&gt;Manusia dilahirkan dengan anugerah pikiran yang luar biasa. Sampai luar biasanya anugerah berupa pikiran ini, sampai Descrates berkata “Aku berpikir, maka aku ada”, itu berarti identitas manusia terletak pada pikirannya. Hal inilah yang melahirkan gerakan rasionalisme di Barat, dan menyebar ke berbagai belahan dunia lainnya.  Lantas setiap orang memiliki persepsi yang sama bahwa sesuatu yang bertentangan dengan pikiran adalah irrasional (tidak masuk akal) yang tidak perlu diperhatikan. Sayangnya kenyataan hidup sehari-hari menawarkan banyak irrasionalitas, sehingga perlahan-lahan upaya manusia untuk mendewakan pikirannya semata, mulai tergeser. Ini bukan berarti pikiran tidak lagi penting bagi manusia, pikiran tetap penting, tapi bukan segala-galanya.  Artinya pikiran difungsikan sebagaimana mestinya, tanpa menafikan faktor lain dalam diri yang bisa membimbing pada kesuksesan. &lt;br /&gt;Bahasa lain dari pikiran adalah nalar.  Donald B. Calne menyatakan bahwa Nalar adalah kemampuan mental yang berguna untuk menyesuaikan pemikiran maupun tindakan dengan tujuan, menurut Herber A. Simon “Nalar adalah alat belaka. Nalar tidak dapat menentukan tujuan hidup; paling banter ia hanya dapat memberitahu kita bagaimana caranya sampai ke sana. nalar adalah senjata sewaan yang bisa kita gunakan untuk mencapai tujuan apa saja, baik atau buruk.” Ini mengindikasikan bahwa salah satu sumbangan terbesar nalar boleh jadi justru penegasan batas-batas kemampuannya sendiri, sehingga manusia menunaikan tanggung jawabnya yang lebih besar. 7 Berhubung nalar terbatas, maka sudah sewajarnya bila manusia tidak perlu mendewakannya.&lt;br /&gt;Pikiran atau nalar sekadar memberikan berbagai macam pertimbangan pada manusia dalam upaya mengambil keputusan tentang sesuatu yang berarti dalam hidupnya, saat manusia hendak mengambil suatu keputusan, nalar sedikit berperan, yang berperan besar justru adalah pengalaman, horison harapan, pengaruh budaya, cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan kecerdasan perasaan.&lt;br /&gt;Kekuatan nalar betul-betul merupakan kekuatan manusia yang nyata, jelas, dan tidak boleh tidak bekerja dalam hampir semua kehidupannya, tetapi nalar tidak bisa memberi atau mengendalikan tujuan-tujuan yang terkait dengannya. Agar modul nalar bisa bekerja,  diperlukan fungsi–fungsi otak lain seperti; ingatan, kesadaran, dan kemampuan mencipta serta mengubah lambang-lambang mental, tapi itu belum cukup guna mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai, masih ada aspek lain yakni sikap budaya, kesempatan dan usaha yang gigih.8 &lt;br /&gt;Untuk membedakan manusia purba, klasik, pertengahan, modern dan posmodern adalah sejauh mana manusia mampu mengoptimalkan pikirannya. Jika manusia purba menggunakan pikiran untuk berburu, mengembangkan kerajinan tangan agar bisa menaklukkan alam, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau makhluk lain, secara perlahan-lahan manusia mengembangkan pikirannya sedemikian rupa, sehingga menghasilkan alat cetak pertama yang memungkinkan kebudayaan tulis menulis semakin meluas, ditemukannya teknologi untuk mengeksploitasi alam, dikembangkannya peralatan militer, dan berbagai perkembangan lain. Suatu perkembangan yang dianggap membawa kemajuan, namun sekaligus membawa pada kehancuran karena kemajuan yang dicapai tidak berpijak pada nilai-nilai luhur moral.&lt;br /&gt;c.Cara Mengasah Pikiran &lt;br /&gt;Pikiran diasah dengan berbagai cara; memikirkan kenyataan hidup, melakukan analisa (menjelaskan secara detil tentang sesuatu), melakukan sintesa (mengumpulkan ilustrasi, contoh, fakta, informasi dan topik-topik yang berkaitan dengan sesuatu yang hendak dijelaskan), membaca buku, membaca fenomena alam, membaca informasi lewat berbagai sumber termasuk internet, dunia maya, dan informasi lainnya, asal ekses-ekses negatif seperti pornografi bisa disingkirkan dulu. &lt;br /&gt;Islam menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa menggunakan pikirannya dalam memahami segala ciptaan Tuhan. Sebab dalam penciptaan langit dan bumi, perubahan siang dan malam terdapat tanda-tanda yang harus dipikirkan manusia supaya memperoleh ilmu dan memperkuat keimanan, Allah berfirman “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS Ali-Imran 190). Manusia dituntut mengoptimalkan pikiran untuk memahami realitas kehidupan, perubahan alam, bencana alam, dan segala ciptaan Allah, sehingga bisa hidup yang lebih baik. Ada beberapa langkah-langkah yang harus diampil untuk mengoptimalkan pikiran. &lt;br /&gt;Selalu mempertanyakan segala sesuatu seperti; kenapa Indonesia sering terkena bencana alam? kenapa kita selalu sial? Apa makna dari suatu kejadian? Bagaimana memanfaatkan kelemahan menjadi kelebihan? Pertanyaan-pertanyaan ini untuk menggugah pikiran. Plutarch menyatakan “Pikiran bukan sebuah wadah untuk diisi, melainkan api yang harus dinyalakan,”10 pikiran yang dimiliki manusia perlu dinyalakan dengan cara-cara yang benar, sebab ibarat api yang tidak akan menyala kalau tidak dinyalakan. Pada zaman purba untuk membuat api lewat benturan batu atau gesekan kayu, dalam zaman posmodern, bisa memanfaatkan kemajuan yang ditawarkan sains, sastra dan teknologi.   &lt;br /&gt;Berpikir konseptual; memikirkan sesuatu secara berpola atau memiliki sistematika tertentu. Otodidaktor mencoba untuk berpikir secara runut atau teratur, misalnya memikirkan tentang BO; dipahami maknanya, mencari cara untuk bisa belajar, mempraktikkan BO dalam kehidupan nyata, dan berusaha berhasil lewat BO.&lt;br /&gt;Berpikir analitis atau mendalam tentang sesuatu, bahasa lainnya adalah menguasai sedikit hal dengan banyak hal atau luas. Otodidaktor berusaha memahami sesuatu dari berbagai macam sudut pandang dan mendalam. Contoh; untuk mendalami mengenai cara BO, perlu membaca buku Revolusi Cara Belajar karya Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos,  Cara Belajar Cepat Abad XXI  karya Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, dan buku ini. &lt;br /&gt;“Seorang manusia yang berpikir dan mengetahui cara berpikir selalu dapat mengalahkan sepuluh orang yang tidak berpikir dan tidak mengetahui cara berpikir.” George Bernard Swaw.11&lt;br /&gt;d. Cara Berpikir Kritis&lt;br /&gt;Berpikir kritis merupakan salah satu senjata utama dari upaya otodidaktor untuk memahami sekaligus memberi makna pada segala hal yang dipelajari;  “Bukan hanya nalar kritis diharapkan memainkan peran puncak di dalam sistem segala sesuatu yang baru ini, nalar kritis juga tidak bisa dikesampingkan untuk membuat keseluruhan konsep bisa dipahami….”12 &lt;br /&gt;Dalam abad 21 yang sedang dijalani ini, berbagai informasi, ilmu, paradigma, diskursus, wacana dan konsep hadir di tengah-tengah kehidupan kita, baik melalui internet, media massa, buku, maupun melalui kehidupan keseharian manusia. Berhubung manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat semua hal, melainkan hanya mengingat yang penting, berguna dan melibatkan emosi, maka semua itu harus “diolah kembali” di dalam pikiran. Sarana pengelolaan yang paling tepat adalah dengan berpikir kritis, sehingga setiap informasi, ilmu, paradigma, diskursus, wacana dan konsep dibaca dengan penuh ketelitian, dicari korelasinya, ditelanjangi makna yang dikandung, ditelusuri maksud-maksud tersembunyi, dan mampu memberikan pemikiran alternatif.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, setiap buku yang ditulis seseorang tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan di dalamnya, siapa pun yang menulis, entah orang biasa, Doktor, Profesor atau pakar di bidang tertentu. Kekurangan dari sebuah buku harus ditemukan, lalu dicarikan pemikiran lain yang lebih tepat. Di samping kekurangan yang tidak disengaja, juga ada kekurangan yang disengaja karena kepentingan tertentu di balik buku tersebut; pemiliki modal, lembaga yang menerbitkan, atau ideologi tertentu. Ini sangat berbahaya bagi pembaca, maka perlu dikritisi secara objektif, teliti dan telaten, lalu dilontarkan paradigma yang sebaliknya atau berbeda dengan tujuan mencari kebenaran hakiki. Hal ini diperkuat Michael R. LeGault “Namun, berpikir kritis bukan sekadar pencarian abstrak terhadap arti. Sebaliknya, dia memainkan peran signifikan, bahkan perlu di dalam kesejahteraan fisik dan mental kita.”13&lt;br /&gt;Dalam menghadapi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari; berinteraksi sosial, mengelola usaha, berkeluarga, dan menjalani rutinitas harian, juga harus memanfaatkan cara berpikir kritis. Hubungan sosial dengan masyarakat yang saling mempengaruhi antara individu dengan masyarakat; jangan sampai diri sekadar menjadi “budak” dari lingkungan sosial, melainkan berupaya dengan segala keterbatasan yang dimiliki untuk memberi warna baru yang lebih baik terhadap masyarakat. Dalam mengelola usaha senantiasa dianalisa dengan pemikiran kritis agar ditemukan penyebab-penyebab dari kemandegan, stagnanasi, dan ketidak berkembangan suatu usaha, lalu dicari solusi yang tepat dengan mempertimbangan segala sesuatunya. Kehidupan berkeluarga cendrung membuat sebagian orang tidak kreatif dan produktif disebabkan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya, ini akan terus menerus menghantui jika tidak dipikirkan dengan kritis mengenai solusi pemecahannya. Rutinitas harian juga bisa menjadikan manusia seperti mesin yang berjalan, sebab menjalani hidup bagai putaran mesin tanpa mampu memberi makna berbeda, misalnya bagaimana caranya agar diri bisa memberikan sumbangsih pada orang lain. &lt;br /&gt;Di samping itu, stres juga perlu dilihat secara kritis, sebab stres merupakan kelemahan diri dalam mengelola masalah, semakin kompleksnya permasalahan, hidup yang bertambah sulit akibat krisis tanpa kunjung usai. Menurut Michael R. LeGault, “Yang pasti adalah stres merupakan masalah yang timbul karena berbagai situasi yang sulit. Ini adalah salah satu kepastian dalam hidup. Tetapi kita sepertinya telah membiarkan ego kita menjadi terlalu rapuh dan sensitif. Sikap yang membiarkan sekecil apa pun menimbulkan kemarahan, frustasi, atau kepahitan adalah sebuah bentuk penyerahan psikis yang mengerosi gairah intelektual dan kreativitas hidup banyak orang. Tantangannya adalah bagaimana membebaskan diri kita dari hipnotis massal dan meraih kembali rasa keingintahuan kita, rasa bangga kita akan pengetahuan, sebagai lawan dari emosi murni, dan kekuatan sepenuhnya pemikiran kritis kita -pencegah stres terbaik.”14 &lt;br /&gt;e. Cara Berpikir Kreatif&lt;br /&gt;Berpikir kreatif ialah cara berpikir seseorang yang mampu melahirkan kreasi-kreasi baru, baik demi memenuhi kebutuhan hidup, memberi warna pada kehidupan, memaknai kehidupan, maupun demi kelangsungan proses belajar seumur hidup. Sistem kapitalis telah menyediakan alat-alat, prasarana, dan semua yang dibutuhkan manusia, sebagai warga Indonesia yang baik kita berusaha berpikir kreatif agar mampu menciptakan kreasi-kreasi usaha baru yang bisa melahirkan lapangan pekerjaan bagi diri dan orang lain. Memberi warna pada kehidupan tidak bisa dilakukan, bila diri tidak senantiasi mengekplorasi pemikiran agar melahirkan nilai-nilai baru yang sesuai dengan mayarakat masa kini dan mendatang. Kehidupan memiliki arti yang besar jika diri mampu memaknainya dengan perspektif-perspektif yang benar, tepat dan kontekstual. Proses belajar seumur hidup bisa dilakukan, manakala seseorang mampu mencari celah-celah untuk menjadikan pembelajaran sebagai sarana memahami, mendalami, mengerti, dan melahirkan “penemuan-penemuan” yang bisa dimanfatkan orang banyak. &lt;br /&gt;Ini semua bisa dicapai dengan penggunaan metode Kupiah Kompi P seperti yang dikemukakan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.&lt;br /&gt;“Kupiah Kompi P adalah akronim untuk mengingat bagaimana kita menjadi metodis seraya kreatif. “Kata” tersebut singkatan dari:&lt;br /&gt;Ku-Kumpulkan –informasi yang banyak&lt;br /&gt;Pi -Ber-Pikir Empat-Arah –lihat dari setiap sudut&lt;br /&gt;A -Alternatif –munculkan banyak gagasan&lt;br /&gt;K-om Kombinasi ulang –cari kombinasi terbaik gagasan-gagasan ini&lt;br /&gt;Pi -Pilihlah –pilihalah mana kombinasi terbaik&lt;br /&gt;P -Pengaruh –lakukan tindakan”15&lt;br /&gt;Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang sesuatu yang hendak dipelajari. Misalkan Anda sedang belajar tentang cara BO, semua informasi mengenai hal itu dicari lewat internet, membaca buku-buku tentang pembelajaran, dan mencari informasi tambahan lewat media massa. Informasi yang ada lalu dipilah-pilah mana yang kira-kira benar-benar dibutuhkan; entah untuk keperluan penulisan atau pengembangan teori belajar yang baru, dan menghubungkan semua informasi. &lt;br /&gt;Informasi yang Anda kumpulkan, coba lihat dari empat arah berbeda; depan, belakang, atas dan bawah. Dari depan dilihat sejauh mana informasi-informasi yang ada dapat membantu kesuksesan seseorang dalam belajar sendiri sehingga berhasil sebagaimana orang yang kuliah formal. Dari belakang dilihat bisakah informasi yang ada membantu seseorang untuk bisa terus menerus belajar, tanpa terjebak pada masalah; apakah proses pembelajaran hanya melahirkan kegagalan, trauma atau rasa putus asa. Dari bawah dilihat sejauh mana informasi-informasi yang mampu membantu seseorang untuk mempelajari kehidupan sosial dan sehari-hari supaya memiliki makna lebih dari kehidupan yang dijalani kebanyakan orang. Dari atas dilihat sejauh mana informasi-informasi yang ada dapat membantu dalam memberikan nilai-nilai spritual pada berbagai aspek kehidupan, sehingga Anda bisa mendekatkan diri pada Allah.&lt;br /&gt;Mencari gagasan-gagasan yang bisa dilahirkan, lalu berusaha menemukan gagasan yang berbeda. Untuk itu, teori dekonstruksi Derrida dijadikan alat bantu. Setelah informasi dirunut dalam poin-poin penting, maka lihat tema umumnya, lalu balik informasi itu, dari kebalikannya akan ditemukan gagasan baru, atau menjadikannya sebagai cara mencari celah pemikiran yang berbeda. Inilah yang bisa melahirkan orang-orang “jenius” di muka bumi. &lt;br /&gt;Biasanya yang timbul tidak hanya satu gagasan melainkan banyak gagasan. Untuk itu, gagasan-gagasan yang ada dikombinasikan ulang, atau lakukan proses mulai dari awal kembali, cuman ini dilakukan terhadap gagasan-gagasan baru yang dimunculkan. Lalu dirumuskan gagasan terbaik yang bisa dirumuskan dalam suatu perencanaan yang matang dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu contoh; berhubung selama ini belajar dibatasi di ruang universitas, maka BO harus menawarkan paradigma pembelajaran  baru yakni belajar pada kehidupan, inilah gagasan terbaik yang dipilih.&lt;br /&gt;Semua jenis ilmu tidak akan berguna jika tidak bisa dibuktikan dalam tindakan nyata. Berhubung yang hendak dipelajari tentang cara BO seumur hidup, maka mulai detik ini Anda memiliki komitmen untuk BO seumur hidup, tanpa tindakan ini, maka semua proses yang dijalankan dari awal menjadi suatu kesia-siaan belaka. Itu berarti informasi-informasi yang ada hanya menjadi sampah tak berguna.&lt;br /&gt;2. Imajinasi Sang Penguasa Baru&lt;br /&gt;a. Imajinasi&lt;br /&gt;Menurut  Paul Edwards imajinasi adalah “daya untuk membentuk gambaran (imaji) atau konsep-konsep mental yang tidak didapatkan secara langsung dari sensasi (pengindraan)16”. Dari definisi imajinasi ini jelas bahwa imajinasi adalah daya yang dimiliki setiap manusia dalam upaya menciptakan berbagai macam imaji atau gambaran tertentu yang diinginkan atau menciptakan konsep-konsep mental yang memungkinkan. &lt;br /&gt;Setiap saat Anda dihantam berbagai macam citra yang mucul lewat iklan, informasi, film, tragedi, kenyataan hidup, dan fenomena kehidupan. Citra-citra yang ada secara tidak sadar tersimpan dalam memori Anda, dan secara langsung atau tidak langsung akan menimbulkan citra-citra baru. Citra-citra yang ada diolah sedemikian rupa sehingga menjadi imaji yang jika dimanfaatkan dengan baik akan berbuah ide yang cemerlang.&lt;br /&gt;Imajinasi juga dalam kehidupan sehari-hari. Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna menyatakan, “Dengan pengertian bahwa imajinasi dan kreativitas adalah daya, energi, dan kekuatan, maka imajinasi dan kreativitas jelas mengimplikasikan subjek manusia, lebih khusus lagi subjek kreator. Imajinasi dan kreativitas tidak semata-mata terkandung dalam karya seni. Kehidupan praktis sehari-hari dipenuhi bahkan dikendalikan oleh imajinasi dan kreativitas. Perbedaannya, imajinasi dan kreativitas kehidupan sehari-hari didorong dan dengan demikian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis….” 17&lt;br /&gt;Sewaktu Bill Gates berkunjung ke Jakarta pada tanggal 09 Mei 2008, dia menyatakan bahwa imajinasi lebih unggul dari ilmu pengetahuan. Hal ini juga dialami Enstein saat menemukan teori Relativitas yakni kemampuan imajinasi sebagai inspirasi ditemukannya ilmu pengetahuan. Dua fakta ini menunjukkan bahwa Anda dituntut untuk mengekplorasi imajinasi untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Untuk mengekplorasi imajinasi dalam kehidupan sehari-hari, perlu latihan-latihan; menjelang tidur mengimajinasikan tentang hakikat kehidupan yang dijalani, saat duduk melihat pemandangan mencoba melihat keagungan Allah sebagai penciptaNya, sewaktu menyendiri berimajinasi tentang sesuatu yang bisa dilakukan untuk sesama manusia, manakala melihat kejadian yang luar biasa berusaha berimajinasi tentang hikmah di balik itu. Semua latihan ini dilakukan setiap waktu sampai imajinasi menjadi hidup.&lt;br /&gt;b. Membedakan Fantasi dengan Imajinasi &lt;br /&gt;“Jikalah fantasi (daya yang menghasilkan khayalan) itu biasanya dikaitkan dengan gambaran objek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan, maka imajinasi dipahami sebagai daya yang menghasilkan gambaran objek yang mungkin (=dapat ada) atau “logis”…”18 Pendapat H. Tejoworo ini menarik sekali untuk membedakan antara fantasi dan imajinasi, jika fantasi merupakan cara manusia mengan-angankan sesuatu tanpa mampu mencapai angan-angan tersebut dalam kenyataan, sedang imajinasi justru merupakan citra-citra (bahasa lain dari angan) yang ada dalam benak manusia, yang mana citra tersebut mungkin diwujudkan dalam kenyataan, tentu saja setelah melalui proses sedemikian rupa.&lt;br /&gt;Untuk memudahkan hal ini, misalkan Anda membiasakan diri berangan-angan untuk mendapatkan istri yang cantik seperti Nadine (mantan putri Indonesia), ini yang disebut fantasi, sebab tidak mungkin Nadine mau menjadi istri Anda, namun manakala Anda memunculkan citra bahwa kecantikan tidak bersifat abadi, untuk itu kecantikan wanita dari segi prilaku, adab sopan santun, sikap dan watak, lebih diutamakan dari kecantikan lahiriah, maka Anda akan mendapatkan istri yang “sesuai”, inilah maksud dari imajinasi itu. &lt;br /&gt;Agar  terbiasa berimajinasi bukan berkhayal, dalam benak Anda harus dipenuhi dengan hal-hal yang “mungkin” dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Pembiasaan ini memungkinkan Anda untuk mampu mengoptimalkan imajinasi, dibanding mengkhayalkan hal-hal yang tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan.&lt;br /&gt;Peran imajinasi dalam kehidupan, seperti yang dikatakan Carmel Bird “…Imajinasi Anda memberi Anda kebebasan untuk membangun ulang dunia ini dengan menggunakan, seperti yang disarankan Marques, bahan-bahan realitas.”19 Kenyataan-kenyataan yang ada di sekitar, berusaha diimajinasikan dalam benak Anda, sehingga mampu memahami dunia yang didiaminya, lebih dari itu, imajinasi justru bisa mencipta ulang bentuk dunia, khususnya dalam karya sastra yakni novel, skenario, drama, puisi dan cerpen.&lt;br /&gt;c. Menggabungkan Imajinasi dengan Pikiran&lt;br /&gt;Imajinasi bisa membentuk, membangun dan merekosntruksi sesuatu. “…Justru di dalam kemampuan rekonstruktif imajinasi itulah terdapat “orisinalitas” dalam pemaknaannya yang sudah bergeser. Kreativitas dan “orisinalitas” kini dilihat dari kemampuan mengkonstruksi, mendekonstruksi, dan mere-konstruksi imaji.”20 Bila disederhanakan; imajinasi bisa membangun sesuatu, bisa menghancurkannya, dan bisa membangun kembali, baik tetap menggunakan bahan-bahan yang lama atau sama sekali membangun yang baru. Berkaitan dengan sebuah gagasan atau ide, imajinasi bisa menciptakan suatu ide, bisa menolak sama sekali ide tersebut, dan bisa membangun ide baru berdasarkan pada ide yang lama atau benar-benar menemukan ide yang orisinil.&lt;br /&gt;Berhubung imajinasi terkadang berkaitan dengan kemunculan ide baru, antara imajinasi dengan pikiran perlu bersinergi. Sinergi ini dalam rangka menjadikan ide yang dihasilkan, dapat diterapkan dalam kenyataan, bukan sekadar ide-ide yang mengawang-awang di angkasa tanpa makna. sinergi keduanya juga memudahkan dalam BO, sekaligus senjata ampuh untuk beradabtasi, berkreasi, berinovasi, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Membiarkan imajinasi berkuasa membuat manusia hidup dalam dunia khayal atau dalam bahasa berbeda hiperealitas, sedang membiarkan pikiran berkuasa membuat manusia buta pada sisi spritual dan batin dirinya. &lt;br /&gt;Pada tahap awal, bisa jadi imaji memegang peranan penting ketika seseorang merenungkan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya, lalu perlahan-lahan citra-citra yang banyak itu dikerucutkan menjadi satu atau tiga citra, lalu diolah lagi menjadi satu citra yang mungkin. Di sinilah peran pikiran mulai bermain yakni mencari hal-hal yang bisa menguatkan citra yang mungkin tersebut, menemukan alasan-alasan yang tepat, memberikan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal, sehingga ketika suatu keputusan diambil dalam rangka mengatasi permasalahan yang dihadapi, maka solusi tersebut dianggap bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;d. Memfungsikan Imajinasi dengan Tepat&lt;br /&gt;Biasanya dalam kesendirian, suasana sunyi, termenung, dan terdiam sesaat, secara acak timbul citra tentang sesuatu, berbenturan dengan citra lain, dan begitulah terus menerus, sampai kita mampu mengolah citra ini menjadi “sesuatu” yang berarti bagi kehidupan. Kemampuan mengolah imajinasi merupakan langkah penting untuk mengoptimalisasikan imajinasi. Kalau kita saksikan film-film Hollywood yang meraih Box Office adalah film-film yang menunjukkan kekuatan imajinasi manusia, seperti film Cars, The Superman Begin, dan The Davici Code atau yang fenomenal di Indonesia Ayat-Ayat Cinta. Film-film ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang spektakuler tanpa bantuan imajinasi.&lt;br /&gt;Bahkan dalam kehidupan yang dijalani manusia posmodern ini, tidak jelas lagi antara apa yang disaksikan dalam film dengan kenyataan hidup, sebab orang-orang mencontoh mode pakaian, gaya rambut, gaya berjalan, dan gaya hidupnya. Kehidupan artis berusaha ditampilkan media dengan berbagai sudut pandang, ajaibnya para penonton, baik disadari atau tidak, meniru para artis dalam segala hal. Ini menunjukkan bahwa imajinasi kini menjadi penguasa baru dunia menggantikan akal. &lt;br /&gt;Kenyataan ini sungguh memprihatinkan, sebab diam-diam  tingkah laku artis yang berusaha ditiru justru tidak patut untuk ditiru, sehingga bisa menghancurkan sendi-sendi tradisi, bahkan merusak keyakinan beragama seseorang. Artis adalah “penghibur” yang seringkali bertingkah laku penuh kepura-puraan, jadi tingkah lakunya tidak boleh ditiru. Anda dituntut mengembangkan kepribadian sendiri yang khas  supaya mampu menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks. &lt;br /&gt;Keadaan ini diperparah dengan kemampuan mesin “simulasi” dalam menciptakan kenyataan-kenyataan yang bertentangan dengan kenyataan sebenarnya, yang mana mesin tersebut berfungsi berkat bantuan imajinasi. Akibatnya  semakin mengacaukan kenyataan-kenyataan yang hakiki, sehingga pijakan manusia pada kenyataan menjadi rancu. Anehnya, manusia mengikuti segala hal yang dihasilkan mesin simulasi ini tanpa berupaya bersikap kritis dan konstruktif. Sesuatu yang wajar bila manusia menjadi semacam objek dari sesuatu yang mereka ciptakan sendiri. &lt;br /&gt;Media cetak dan massa dengan segala kemampuannya yang hebat seringkali mampu menciptakan “simulasi”, yang mana kepentingan tertentu, pesan dari pihak lain, dan hasrat menjustifikasi kebenaran, diwujudkan dalam tampilan visual atau informasi di media. Kebenaran yang diciptakan dianggap “penonton dan pembaca” sebagai kebenaran yang harus diikuti,  sehingga mereka semakin dibentuk olehnya.&lt;br /&gt;Tiada jalan dari hal ini, kecuali menciptakan filter dalam diri masing-masing “penonton dan pembaca” agar mampu mengkritisi untuk menelanjangi kepalsuan dari hasil simulasi, mencari alternatif berbeda dalam melihat kenyataan yang sama, dan berusaha mendapatkan pandangan sendiri yang bisa menjadi anti tesis dari hasil ciptaan simulasi. Filter ini diperoleh dengan menjadikan BO sebagai upaya memahami, mengkritisi, melakukan anti tesis dan mencoba melakukan sintesis, sehingga manusia menemukan kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran yang dipalsukan.&lt;br /&gt;3. Perasaan Sumber Daya Yang Menentukan&lt;br /&gt;a. Panca Indera dan Perasaan&lt;br /&gt;Panca indera berkaitan dengan perasaan, di samping dengan pikiran seperti dalam penelitian ilmiah. Dalam kamus Bahasa Indoensia Panca indera adalah alat perasa lima macam: penglihatan, penciuman, perasa lidah, perasa tubuh dan pendengaran.21 Itu berarti bahwa panca indera berkaitan dengan perasaan manusia.&lt;br /&gt;Indera penglihatan yang berupa mata berusaha melihat kenyataan yang dihadapi dengan segala kemampuan yang dimiliki; kelebihan dan kekurangan. Apa yang dilihat di depan mata terkadang bukan kenyataan yang hakiki, melainkan “topeng” dari kenyataan yang sebenarnya tersembunyi. Dalam melihat kenyataan, tidak bisa hanya melihat kurun waktu terntu, lantas memberikan penilaian, hasilnya penilaian tersebut tidak tepat yang merugikan atau menjerumuskan seseorang pada kesalahan, meskipun niatnya baik. Jadi, niat baik saja tidak cukup, jika tidak dibarengi dengan penglihatan yang benar terhadap kenyataan dari berbagai macam sudut pandang.&lt;br /&gt;Indera penciuman berupa hidung tidak hanya berfungsi mencium yang berupa makanan, wanita, bau atau hal lainnya, melainkan juga sebagai saluran pernafasan yang sangat penting agar seseorang bisa menjadi rileks, santai dan gembira. Latihan pernafasan sangat dianjurkan agar indera-indera yang lain bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Berpikir, belajar dan membaca dalam keadaan rileks sangat membantu otodidaktor. &lt;br /&gt;Indera perasa lidah dan mulut, sarana komunikasi efektif bagi otodidaktor, di samping bahasa tulisan. Bahkan beberapa teori seperti dialog, tuturan,  dan speech act, merupakan upaya untuk mengotimalkan indera ini. Dialog dibangun dari beberapa orang yang memiliki pengetahuan yang sejajar tentang hal-hal yang didiskusikan, bila tidak sejajar, maka dialog atau beragam arah menjadi monolog atau satu arah. Bahasa lisan apa pun istilah akademisnya, salah satu bahasa yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat Indonesia semenjak dulu kala, khususnya yang berkaitan dengan hubungan sosial masyarakat. Bahasa lisan yang baik adalah bahasa yang menyejukkan bagi orang lain, menimbulkan rasa suka, menggugah semangat, menimbulkan inspirasi, dan bisa mengakomodir kepentingan orang lain dalam percakapan. Bahasa lisan berkembang setiap waktu dan hari, inilah keunggulan bahasa lisan dari bahasa tulisan.&lt;br /&gt;Indera pendengaran sesuatu yang sering “dianaktirikan”, khususnya dewasa ini, sedang untuk indera tubuh dibahas kemudian. Orang lebih senang berbicara dibanding mendengarkan. Jika berbicara mulut sampai berbusa, tak peduli menyakiti orang lain atau justru menimbulkan masalah baru, ini didukung media dalam bentuk tayangan infortanment, jadilah gosib sebagai budaya. Padahal sesungguhnya, kebijaksanaan lahir dari kemampuan mendengarkan orang lain, mendengarkan suara alam, mendengarkan bisikin Tuhan dari hati, dan mendengarkan hikmah-hikmah yang diperoleh dalam menjalani kehidupan sehar-hari. Jika ini dilakukan, mungkin sebagian masalah di Republik ini bisa teratasi perlahan-lahan.&lt;br /&gt;b. Cara Mengelola Perasaan &lt;br /&gt;Semua jenis perasaan manusia berusaha dikendalikan, diarahkan, dan disalurkan pada jalur yang tepat. Misalnya tidak terlalu sedih menghadapi kegagalan, tidak terlalu gembira menghadapi kesuksesan, menyalurkan kekecewaan pada hal yang positif, pantang menyerah tanpa mengenal kata putus asa, takut hanya pada Allah, berani menempuh resiko demi sebuah keberhasilan, bertekad melakukan yang terbaik dalam hidup,  dan menyalurkan nafsu pada jalur yang tepat bukan sembarangan.  Inilah salah satu contoh optimalisasi perasaan.&lt;br /&gt;Perasaan tidak bisa dibiarkan melakukan segala sesuatu secara sendirian, melainkan dibimbing dengan pertimbangan moral, hati dan pikiran. Seseorang yang terlampau kuat perasaan bersikap sensitif atau peka dan mudah tersinggung, segala sesuatu dilihat dari sudut perasaan, akibatnya bukan solusi yang diperoleh, tapi masalah.&lt;br /&gt;Perasaan yang kacau direlaksasi menggunakan pernafasan, mata dibuka lebar-lebar untuk melihat segala sisi dari sesuatu yang mengacaukan, telinga dibuka lebar-lebar untuk mendengarkan masukan-masukan yang membangun, lalu baca cara Islam melihat masalah tersebut sebagai pertimbangan moral, baru dibuat pemecahan masalah yang tepat.&lt;br /&gt;Sewaktu BO, Anda akan dikacaukan dengan berbagai masalah seperti manfaat dari membaca buku; memang dari membaca mampu menghasilkan tulisan, tapi tulisan yang dihasilkan kadang tidak diterima media atau tidak bisa dimanfaatkan untuk orang banyak, padahal dirinya masih disibukkan dengan masalah komputer yang sering ngadat, penghasilan usaha yang tak tentu, dan masalah dari keluarga. Jika semua masalah itu menghentikan Anda untuk terus menerus belajar, maka itu berarti membiarkan Anda terjebak dalam “masalah” tanpa mampu menghentikan masalah, sebab begitu Anda berhenti belajar, maka semakin hari akan bertemu dengan ketidaktahuan yang tentu saja membimbing pada kesalahan-kesalahan yang berulang. Hanya keledai yang terjebak dalam lubang yang sama dua kali.&lt;br /&gt;Bisa jadi, dalam kurun tertentu Anda berhenti sejenak untuk belajar, menyibukkan diri dengan hal-hal lainnya, tapi kesibukan ini tidak dibiarkan untuk menghentikan proses belajar yang dilakukan. Berhenti sejenak untuk memulai lagi, berhenti sejenak untuk memulai lagi, berhenti sejenak untuk memulai lagi, begitu terus menerus sampai ajal menjemput. Maka dalam konteks ini, seseorang telah berusaha menjadi sebenar-benarnya manusia, apa pun hasil yang diperoleh di kemudian hari.&lt;br /&gt;Kunci utama keberhasilan BO ialah mengelola perasaan dengan benar; perasaan cemas dijadikan sarana untuk hati-hati, perasaan takut hanya pada Allah semata, perasaan sepi dijadikan upaya untuk banyak merenung, perasaan hampa justru potensi untuk meniadakan segala sesuatu dengan menjadikan Allah sebagai sandaran hidup, perasaan resah dan gelisah dijadikan sarana menggali nilai-nilai baru, perasaan sedih bisa jadi potensi untuk mendatangkan kebahagian, perasaan pesimis diganti dengan optimis dalam menghadapi segala hal, perasaan rendah diri diganti dengan rendah hati, perasaan menjadi orang tak berguna diganti dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat, perasaan kurang mendapat perhatian diganti dengan memberikan perhatian pada orang lain, perasaan lemah diganti dengan kekuatan yang dilatih lewat pembelajaran, perasaan tidak berdaya diganti mentalitas baja, perasaan malas diganti semangat membara, perasaan bosan diganti dengan melakukan sesuatu yang berbeda-beda, dan perasaan manusia yang tidak diharapkan diganti dengan menjadi manusia yang memberi harapan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mencerdaskan Perasaan&lt;br /&gt;Perasaan merupakan potensi manusia yang sering terlupakan, padahal dalam beberapa hal faktor perasaan manusia menentukan keputusan yang hendak diambil, mengambil peran pikiran dalam diri manusia, dan menjadi salah satu sarana penopang kesuksesan. Dalam ilmu psikologi banyak ditemukan bahwa perasaan memegang peranan sangat penting dalam kehidupan kita. &lt;br /&gt;Daniel Goleman yang mengenalkan teori “Emotional Intelegence” atau EQ, menurutnya ada lima wilayah emosi yakni; mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain, dan membina hubungan.22 Pembahasan tentang mengenal perasaan dan mengelola perasaan, cara memotivasi diri sudah dijelaskan dalam bab pertama sebelumnya, berarti yang belum ialah mengenal perasaan orang lain dan cara membina hubungan sosial yang baik. &lt;br /&gt;Anda perlu mengenal perasaan orang lain agar bisa bersikap bijaksana. Dalam mengenal perasaan orang lain dilakukan dengan cara berkomunikasi secara kreatif. Ketika berbicara, coba perhatikan reaksinya  dan tingkah lakunya dalam arti yang positif, bukan untuk memata-matai, melainkan lebih mengenal perasaan mereka. &lt;br /&gt;Dari pengenalan awal diketahui ciri-ciri perasaan orang lain, lalu dari mengetahui mencoba untuk merasakan seperti yang dirasakannya. Misalkan seorang tetangga jatuh sakit, kita datang menjenguknya, ini bermakna mengibur sekaligus upaya memahami yang sedang dirasakannnya, sehingga ketika diri menderita sakit, lebih bisa bersikap bijaksana, bukan menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam.&lt;br /&gt;Dengan mengenal perasaan orang lain, secara otomatis membuat Anda bisa berhubungan dengan mereka. Dalam skala yang lebih luas, Anda mampu membina hubungan sosial dengan masyarakat yang harmonis dengan prinsip saling memahami, saling memberi dan menerima, dan saling bertenggang rasa. Memang terkadang tidak selamanya suatu hubungan berlangsung harmonis, terkadang ada saja aral melintang, khususnya sifat iri, dengki dan hasud yang bisa merusak keharmonisan. Setiap masalah yang timbul berusaha diatasi dengan kepala dingin, pikiran jernih dan hati lapang.&lt;br /&gt;Selanjutnya, berusaha menggali makna keberhasilan dalam perspektif baru, hal ini hasil eksplorasi saya dibantu Allah melalui intuisi dan hati nurani. Diharapkan hal ini dapat memberikan paradigma baru dalam melihat sebuah keberhasilan atau kesuksesan, sehingga setiap orang merasa berhasil dengan cara dan usaha masing-masing.  &lt;br /&gt;d. Keberhasilan dalam Perspektif Baru&lt;br /&gt;Keberhasilan dalam sistem kapitalis dilihat dari kekayaan, prestasi, pujian dan uang yang berlimpah ruah. Seseorang yang tidak kaya, maka dianggap gagal hidupnya. Dengan paradigma ini, jangan kaget bila “orang-orang terpelajar pun” rela menggadaikan diri demi hal-hal di atas, sesuatu yang harus dihindari otodidaktor. Akibat buruk dari paradigma yang kuno ini, orang-orang yang sukses bisa dihitung dengan jari, sedang yang lain dinilai gagal dan menjadi pecundang. Prinsip ini juga diterapkan di bidang olah raga yang hanya melahirkan satu pemenang, yang lain menjadi orang-orang yang kalah. Ini berarti kehidupan tidak adil, padahal sesungguhnya kehidupan hakikatnya adil, asal perpektif kemenangan dan keberhasilan dinilai dalam makna baru.&lt;br /&gt;Dalam dunia olah raga, yang dianggap pemenang hanya satu orang atau satu tim, sedang yang lain dianggap kalah atau pecundang. Tradisi berpikir picik ini, salah satu dari sekian banyak hasil simulasi media dan didukung banyak orang, sehingga orang memberikan penghargaan yang besar pada pemenang atau juara. Padahal, yang paling penting sebenarnya proses atau upaya seseorang dalam suatu pertandingan atau kejuaraan, asal proses dan usahanya sudah dilakukan semaksimal mungkin, maka hakikatnya, dia pemenang meskipun realitasnya kalah. Dalam konteks ini, penghargaan pada proses dan usaha lebih diutamakan dibanding hasil yang diperoleh. &lt;br /&gt;Berkaitan dengan profesi yang ditekuni, Anda harus melakukan sebaik-baiknya, menggunakan cara terbaik supaya mendapatkan hasil terbaik, bekerja keras sekaligus kerja cerdas, gigih pantang menyerah dan berupaya senantiasa menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi. Di samping itu, berusaha terus belajar, lalu memanfaatkannya untuk meningkatkan etos kerja, bekerja dengan pengetahuan, dan menjadikan pekerjaan sebagai salah satu bentuk ibadah spritual. Ini secara otomatis dapat meningkatkan karir dan penghasilan. Dari hasil jerih payah, sebagian yang diperoleh disedekahkan pada orang-orang yang membutuhkan, memberi modal pada anak jalanan untuk mulai berwiraswasta kecil-kecilan, dan menyantuni anak-anak yatim. Anda sebenarnya berhasil, meski belum memiliki rumah megah atau mobil mewah.&lt;br /&gt;Untuk mengukur suatu keberhasilan; dari sudut kekayaan yang dimiliki Anda melihat ke bawah, bila ada orang di bawah Anda berarti hakikatnya telah berhasil, dari sudut ilmu yang dikuasai Anda melihat ke atas, jika ada orang yang lebih ilmunya, berarti Anda harus lebih keras memanfaatkan segenap potensi agar berhasil memperdalam ilmu yang dimiliki, berkaitan dengan hubungan sosial, Anda melihat ke samping supaya bisa membina hubungan yang harmonis dengan orang lain, dan dalam konteks hubungan dengan Allah, melihat pada para Ulama’ dan Nabi, jika ibadah spritual dan sosial belum setara, maka berusaha untuk mencapai kesetaraan. Inilah makna keberhasilan dalam Islam yang tentu saja bertolak belakang dengan paradigma kapitalisme.&lt;br /&gt;Dengan melihat ke bawah, orang biasa yang hidup sederhana, hakikatnya berhasil, bukankah masih banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, apalagi orang yang hidup berkecukupan atau golongan menengah dan atas. Hanya saja, manusia dikendalikan oleh keinginan yang tiada henti, sehingga selalu merasa kurang dengan kekayaan yang dimiliki. Tentu, hal ini tidak boleh membuat Anda menyerah pada nasib atau keadaan, melainkan bagaimana caranya supaya mampu meningkatkan taraf hidup. Kunci utamanya ialah mensyukuri apa pun yang diperoleh setelah usaha optimal dari berbagai aspek, dan menjalani hidup apa adanya.&lt;br /&gt;Ilmu semakin diperdalam  bertambah luas dan dalam, sehingga Anda dipacu untuk terus menerus belajar agar mendapatkan ilmu yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Supaya mendapatkan motivasi yang kuat dalam belajar, maka perlu menelusuri dan meneliti orang-orang yang mamiliki keilmuan yang hebat. Sebagai misal, Hamka merupakan contoh ideal dari otodidaktor yang mampu mensejajarkan diri dengan akademisi, Emha Ainun Nadjib contoh penyair dan sastrawan yang berhasil, KH. Moh. Idris Jauhari yang mampu meneladani gurunya KH. Zarkasyi menjadi contoh ideal bagi para santri yang ingin menjadi Ulama’ dalam makna hakiki. Jika otodidaktor belum mampu seperti mereka, maka dituntut terus menerus menimba ilmu. Sebab dengan ilmu yang luas dan dalam, insya Allah berhasil dalam kehidupan di dunia dan akhirat kelak.&lt;br /&gt;Memiliki hubungan sosial yang baik, menjadi tugas utama otodidaktor, mengingat mereka dipaksa keadaan untuk langsung terjun di tengah-tengah masyarakat. Dalam membina hubungan sosal dengan tetangga dan masyarakat sekitar dilakukan secara harmonis tanpa menghilangkan jati diri. Artinya, otodidaktor dituntut mampu bersosialisasi dan beradabtasi dengan masyarakat, saat bersamaan integritas diri yang kuat membuat seseorang mampu bersikap sebaiknya-baiknya dalam berbagai situasi yang dihadapi, sehingga antara individu dan masyarakat dapat hidup berdampingan secara harmonis. Ini dapat dilakukan dengan cara berupaya aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, peduli pada tetangga dan orang sekitar, dan bersikap bijaksana dalam menyelesaikan setiap persoalan.&lt;br /&gt;Sedang berkaitan hubungan vertikal dengan Allah, otodidaktor dapat mencontoh para Nabi dan sahabat dalam menyeleraskan antara ibadah sosial dan sepritual, serta menegakkan Islam sebagai agama yang membawa kebaikan pada manusia, makhluk ciptaan Allah lainnya dan semesta. Misalnya, supaya menjadi seorang penguasa yang adil dapat mencontoh nabi Sulaiman, nabi Yusuf,  Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, dalam menghadapi ujian dan cobaan mencontoh nabi Yunus, nabi Isa, Abu Ubaidah, guna menjadi manusia paripurna dari berbagai aspek dapat mencontoh nabi Muhammad SAW. Insya Allah, hal ini membimbing otodidaktor mampu mengatasi berbagai macam problematika umat Islam, dan mampu menghadapi arus perubahan yang dasyat.&lt;br /&gt;Dengan perpektif baru keberhasilan ini, diharapkan setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk berhasil, sebab ruang keberhasilan tidak dipersempit pada materi semata. Mari berlomba-lomba untuk berhasil dalam segala aspek kehidupan dengan cara yang baik dan demi kemaslahatan diri, keluarga dan masyarakat.&lt;br /&gt;4. Hati Potensi yang Terlupakan&lt;br /&gt;a. Hati&lt;br /&gt;Menurut Imam Ghazali Al-Qolbu (hati jasmani) merujuk dua makna; hati jasmaniah, segumpal daging berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri, yaitu segumpal daging yang mempunyai tugas tertentu yang di dalamnya ada rongga-rongga yang mengandung darah hitam sebagai sumber Ar-Ruh,  dan kedua; pengertian yang lebih halus berkaitan dengan ketuhanan dan rohaniah yang berkaitan dengan hati jasmaniah; hati dalam arti kedua berkaitan erat dengan mukasyafah ilmu yang semata-mata didapat dengan ilham Allah tanpa belajar (istilah masa kini intuisi), dan memahami hati dalam konteks ini berarti berusaha membuka rahasia Ar-Ruh. 23  &lt;br /&gt;Hati ada empat macam menurut Nabi Muhammad SAW hati yang bersih, di dalamnya ada lampu yang bersinar, yang demikian inilah hati Mukmin, hati yang hitam terbalik, itulah hati orang Kafir, hati yang terbungkus dan terbalut dengan bungkusan, itulah hati orang Munafik, hati yang dicampur aduk, di dalamnya terdapat iman dan nifaq.&lt;br /&gt;Dari keterangan di  atas dipahami bahwa hati manusia adalah rahmat Allah yang sangat besar seperti halnya  otak, malah dalam beberapa hal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki otak. Sebab hati manusia menjadi sarana yang paling efektif untuk berkomunikasi dengan Allah, bahkan dalam pemahaman sufi, hati yang suci membimbing manusia mampu melihat Allah secara langsung atau apa yang disebut dengan mukasyafah atau tajalli.&lt;br /&gt;Menurut Syaikh Aftadah al-Buruswi: “Sebagaimana lahiriah manusia memiliki dua mata, demikian pula dia memiliki dua mata dalam kalbunya. Apabila dua mata kalbu terbuka, dia akan menyaksikan tajallinya sifat-sifat. Kami mengatakan: “Dengan kedua mata itu ia menyaksikan tajallinya sifat-sifat” tiada lain karena tajallinya zat tidak dapat disaksikan kecuali dengan mata ma’nawi di balik mata kalbu yang tidak mempunyai biji mata...”24 &lt;br /&gt;Menghadapi kenyataan hidup yang tak menentu, situasi yang buruk, dan krisis, Anda dituntut untuk berbesar hati menghadapinya. Berbesar hati tidak dalam pengertian pasrah tanpa berbuat apa-apa, tapi bersikap tenang, bijaksana, sabar, dan memperkuat signal dengan Tuhan. Anda harus bijaksana melihat krisis, tenang menghadapi masalah, sabar pada musibah, dan tidak kalah pentingnya memperkuat hubungan dengan Allah.&lt;br /&gt;Sewaktu terjepit Anda ingat Allah, maka seruan “Ya Allah, tolong saya ya Allah! (Oh my God, Help me God!)” merupakan bentuk ekspresi manusia pada saat membutuhkan Allah. Hanya jeleknya manusia butuh pada   waktu terjepit, sehingga signal dengan Allah menjadi tidak begitu dekat. Seharusnya signal ini tetap dipelihara setiap hari lewat ibadah spritual, dzikir dan doa, sehingga ketika terjepit, Allah benar-benar membantu kita. Hubungan manusia dengan Allah berlangsung dalam wilayah hati, maka menjaga hati sama artinya dengan menjaga hubungan manusia denganNya. Signal Allah hanya ditangkap dengan suara hati yang suci.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari seringkali Anda berbenturan dengan keberuntungan, ketidakberuntungan, kebetulan dan sesuatu yang di luar dugaan. Beberapa kenyataan inilah yang membimbing manusia menyadari keterbatasannnya, kesadaran yang membimbing pada Allah. &lt;br /&gt;b. Antara Suara Malaikat dan Bisikan Setan &lt;br /&gt;Menurut Ary Ginanjar Agustian “Jika kita pelajari dan mendalami secara cermat, kita akan menyadari bahwa sebenarnya Pikiran Bawah Sadar baik menurut Napoleon Hils; atau Keajaiban Berpikir Besar  menurut David J Scwartz, PhD; maupun Kecerdasan Emosi Robert K Cooper PhD; semuanya memiliki kaidah yang sama namun menyandang perbedaan nama saja. Inilah bentuk usaha pencarian mereka, mencari nilai-nilai kebenaran yang pada akhirnya, kelak akan tiba di satu sumber (secara sadar atau tidak sadar) -mengakui kebenaran Allah, Al-Qur’an serta ajaran Nabi Muhammad SAW. Bahwa suara hati sebenarnya dorongan yang berasal dari sifat-sifat keilahian menjadi sebuah kebenaran yang sesungguhnya mampu terbuktikan…”25 Ini membuktikan bahwa suara hati yang suci merupakan manivestasi dari cara manusia berdialog dengan Allah melalui Malaikat. Tapi saat bersamaan, terkadang setan juga berbisik lewat hati untuk menggoda manusia agar menempuh jalan yang salah.&lt;br /&gt;Dalam Islam, niat yang baik meski belum dilaksanakan diganjar pahala, sedang niat buruk yang belum dilaksanakan tidak apa-apa dengan catatan tidak dilaksanakan secara terus menerus. Sebab niat jahat yang terus menerus dipelihara walau tidak dilaksanakan, justru memudahkan setan masuk dan membisikkan sesuatu yang jahat, akibatnya niat-niat jahat tersebut benar-benar dilaksanakan. Niat jahat juga akan mengotori hati, sehingga tersumbat untuk mendapat hidayah Allah. Lebih baik memperbanyak niat baik asal dilakukan tidak dengan main-main, sebab niat baik membawa kebaikan bagi diri dan orang lain, bila diimplementasikan dengan cara yang benar dan pada hal yang benar.&lt;br /&gt;Bisikin setan adalah sebuah godaan yang benar-benar “maut” bagi manusia, sebab setan rela untuk dikutuk Allah untuk menjadi penghuni neraka jahannam kelak dengan syarat bisa merayu, menggoda, dan mengajak manusia pada kesesatan. Bisikan setan akan mudah memasuki hati yang dibiarkan kotor, jarang tersentuh dzikir Allah, jarang shalat, jarang puasa, dan jarang berbuat baik. Bisikan setan ibarat api, sedang sikap-sikap manusia di atas adalah kayu yang membakarnya. &lt;br /&gt;Bisikan setan juga mudah mempengaruhi manusia, bila sifat-sifat buruk seperti; iri, dengki, hasud, ghibah, marah, dendam, benci, dan nafsu yang merusak, dibiarkan tumbuh subur dalam kehidupan sehari-hari. Melihat orang lain sukses atau bisa membeli sesuatu, diri iri. Tidak senang dengan orang lain tanpa alasan yang jelas, diri dengki. Suka mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang buruk seperti mencuri, merampok, mencopet, menganiaya orang, memprovokasi kerusuhan, dan menyakiti orang lain, diri hasud. Suka membicarakan kejelekan orang lain, seakan-akan waktu tiada berlalu tanpa membicarakan kejelekan orang lain, diri ghibah. Membiarkan api amarah meluap-luap tanpa kendali. Suka mendendam pada orang lain. Lebih senang membenci sesorang dari menyukainya. Membiarkan nafsu seks, nafsu yang berupa keinginan-keinginan semu, dan nafsu jahat merasuki jiwa, sehingga hidup dalam kekacauan. Semua itu adalah segala sesuatu yang berusaha dihindari setiap orang agar setan tidak mudah menggodanya.&lt;br /&gt;Dengan kemampuan menghindari bisikan-bisikan setan, perlahan-lahan hati menjadi terbuka; terbuka untuk menerima ilmu yang mampu dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak, terbuka untuk melakukan sesuatu yang baik, terbuka untuk menjadi sebenar-benarnya manusia, dan ini yang lebih penting; terbuka pada bisikan Malaikat yang berupa hidayah (petunjuk Allah), rahmat (kasih sayang Allah), intuisi (ilmu yang diperoleh secara langsung tanpa proses belajar), dan ilham (ide cemerlang yang muncul secara tiba-tiba). Alangkah indahnya hidup, bila mampu memiliki semua itu dalam kenyataan. &lt;br /&gt;c. Menghidupkan Hati Nurani&lt;br /&gt;Adapun cara menjaga, merawat dan menghidupkan hati ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Uraian berikut penjelasan lengkapnya.&lt;br /&gt;Memperbanyak dzikir pada Allah. Alih-alih membuang waktu secara percuma, lebih baik berdzikir pada Allah; alhamdulillah (ungkapan syukur pada Allah), Subhanallah (Maha suci Allah), La ila ha illallah (mengesakan Allah), Allahu Akbar (mengagungkan Allah), Allah (hanya menyebut asma Allah), dan berdzikir asmaul husna yang 99. Dzikir di sini tidak sekadar membersihkan hati dan menenangkan jiwa, melainkan juga menghidupkan hati agar mampu membisikkan hal-hal yang sangat berguna dalam kehidupan manusia. Dalam berdzikir diusahakan untuk diungkapkan secara tulus, sebab ketulusan itulah yang mendekatkan hati dengan Allah.&lt;br /&gt;Shalat lima waktu merupakan kewajiban yang harus dijalankan setiap Muslim. Karena suatu kewajiban, maka sebagian Muslim mengerjakan dengan terpaksa, sering melalaikan, malah ada yang “berani” meninggalkan shalat sama sekali. Shalat yang dijalankan secara terpaksa tidak bisa dijadikan sarana efektif untuk berbicara langsung dengan Allah, sebab tidak dijalankan dengan khusu’. Khusu’ di sini bermakna; setiap apa yang dibaca dalam shalat dipahami maknanya, dirasakan dalam tubuh, dan diresapi dalam hati. Memang untuk mencapainya dibutuhkan proses latihan terus menerus sampai benar-benar dikuasai. Peresapan bacaan shalat dalam hati, akan menghidupkan komunikasi dengan Allah, sebab saat shalat seakan-akan Allah benar-benar nampak di hadapan kita, atau paling tidak kita yakin bahwa Allah menyaksikan saat kita shalat. &lt;br /&gt;Shalat sunnah banyak macamnya; sebelum atau sesudah shalat wajib, shalat Tahajjud, Dhuha, hajat dan lain-lain, tapi dalam kesempatan ini difokuskan pada shalat sunnah tahajjud, dhuha dan hajat dengan beberapa pertimbangan. Shalat tahajjud merupakan paling utamanya shalat sunnah, shalat tahajjud dalam kesunyian tengah malam akan memudahkan komunikasi dengan Allah lewat hati, bahkan dalam penelitian kedokteran terbukti shalat tahajjud sebagai terapi efektif mengobati penyakit saraf dan stroke. Shalat dhuha merupakan sarana bagi Muslim agar melakukan aktivitas dengan baik, waktu pelaksanaannya pagi hari sampai sebelum dhuhur. Shalat hajat dilaksanakan agar keinginan-keinginan mulia dikabulkan Allah. Ketiga shalat sunnah ini juga diyakini kalangan intelektual Muslim  atau ulul albab, dapat membantu setiap orang berhasil dalam hidupnya. Ingat makna keberhasilan yang telah dimaknai dengan cara baru, bukan dalam konteks kapitalisme.&lt;br /&gt;Puasa selama satu bulan penuh menjadi sarana pembersihan hati yang efektif, jika dilaksanakan dengan benar, dilakukan secara tulus, dan mengisi bulan puasa dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Puasa yang benar ialah melaksanakan puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan mengendalikan hawa nafsu, mengganti sifat-sifat buruk dalam diri dengan sifat-sifat yang baik, menjaga panca indera; mata, mulut, telinga, hidung dan tubuh dari hal-hal yang maksiat atau dilarang Islam. Ketulusan dalam berpuasa sangat penting, sebab yang mengetahui puasa seseorang hanya Allah semata, ini berarti puasa adalah sarana efektif  mendekatkan diri pada Allah melalui hati nurani. Mengisi puasa dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat adalah upaya seseorang untuk meningkatkan kualitas puasa sampai taraf yang maksimal; berdzikir pada Allah, membaca buku, beri’tikaf di masjid, membaca Al-Qur’an, dan menghasilkan karya tulis. Alhamdulillah, penulisan buku ini sebagian ditulis pada bulan puasa. &lt;br /&gt;Insya Allah, malam Lailatur Qodar yang lebih baik dari 1000 bulan, akan datang dengan sendirinya bagi orang-orang yang mampu melakukan hal-hal di atas.&lt;br /&gt;Zakat fitrah dan harta bagi Muzakki atau orang yang mengeluarkan zakat dapat membersihkan harta sekaligus membersihkan hati nurani,  sedang untuk penerima zakat, hal ini merupakan salah satu upaya umat Islam untuk melakukan keadilan ekonomi di muka bumi. Islam mengakui adanya perbedaan kelas sosial, tapi pengakuan itu disertai catatan yakni dengan berusaha menerapkan keadilan pada semua kelas sosial, salah satunya adalah melalui zakat. Itu berarti pengelolaan zakat secara profesional bisa membantu penerapan keadilan di atas dalam kenyataan hidup, ini dilakukan dengan dua cara yakni melalui pengelola zakat yang dapat dipercaya atau mengelola sendiri. Untuk mengelola sendiri yakni dengan cara; memberikan modal usaha pada orang-orang miskin, bukan memberikan dalam bentuk uang yang mudah digunakan untuk kebutuhan konsumtif, menanggung biaya pendidikan anak yatim piatu, memberikan buku-buku yang bermanfaat pada generasi muda Muslim yang tidak mampu, dan menyediakan pekerjaan yang layak. &lt;br /&gt;Haji ialah puncak dari semua hal di atas. Haji bagi Mukmin sejati ialah sarana menyempurnakan hati nurani dan menyempurnakan diri sebagai manusia. Saat seseorang melaksanakan ibadah haji dapat membayangkan ketika Nabi Muhammad SAW yang keluar dari gua Hira’ setelah menerima surat pertama Al-Qur’an yakni 5 ayat surat Al-‘Alaq, yang mana merupakan pengangkatan resmi Allah sebagai utusanNYA, dan menjadi bukti kongkrit kesucian hati beliau. Waktu itu beliau berumur 40 tahun, hati nurani bersih dan suci, memiliki sifat-sifat yang mulia, senantiasa melakukan kebajikan, dan menjadi contoh manusia paripurna. Dengan itu semua, insya Allah seseorang akan menjadi haji yang mambrur atau diterima di sisi Allah. Selama ini umat Islam melaksanakan haji demi gengsi, prestise, kebanggaan, gelar Haji yang disematkan dalam diri, kerinduan pada Allah tanpa berupaya untuk mengaplikasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNYA, dan demi kesenangan batiniah semata. Sehingga, ibadah haji yang merupakan puncak dari rukun Islam belum bisa membawa umat Islam pada Kejayaan Islam yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;Bagi yang tidak mampu berhaji tidak usah khawatir, asal shalat, puasa, zakat dan beriman dengan benar, dan melakukan segala sesuatu yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, hakikatnya “telah haji” dengan makna berbeda. Artinya setiap Muslim harus berupaya menjadi muslim dan mukmin sejati, dari upaya yang maksimal itulah yang dinilai Allah, baik mampu melaksakan ibadah haji atau tidak.&lt;br /&gt;Sarana menghidupkan hati lainnya adalah membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Anjuran membaca Al-Qur’an bukan semata demi pahala yang bentuknya diperoleh pada kehidupan setelah kematian, melainkan sarana paling efektif untuk berbicara dengan Allah. Ayat-ayat Al-Qur’an merupakan firman Allah yang penuh mukjizat, mempunyai kebenaran mutlak, dan bersifat abadi sepanjang kehidupan manusia masih ada. &lt;br /&gt;Bagi orang-orang yang dididik di pesantren, memahami ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah sulit, sebab pengetahuan bahasa Arab sudah diajarkan. Sedang bagi yang tidak memiliki pengetahuan bahasa Arab, bisa membaca terjemahannya, percayalah nilainya tidak akan jauh berbeda, sebab itu tergantung pada ketakwaan seseorang pada Allah. Bagaimana cara memperoleh sesuatu dari hasil membaca Al-Qur’an? &lt;br /&gt;Ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an, makna yang dikandung berusaha diresapi dalam hati, diusahakan sampai hati bergetar dan air mata menetes di pipi tanpa disadari, ayat-ayat yang bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari berusaha diamalkan, ayat-ayat yang memperkuat mental dilekatkan dalam jiwa, ayat-ayat yang memberi inspirasi dalam karya tulis, berusaha dituangkan dalam tulisan, ayat-ayat yang bisa memunculkan ide-ide cemerlang, dieksplorasi menggunakan pikiran untuk mampu menghasilkan wacana atau paradigma baru, ayat-ayat yang mengajak untuk peduli pada orang miskin, yatim piatu, orang tidak mampu, pengemis, dan orang-orang terpinggirkan lainnya berusaha diwujudkan dengan membantu mereka sesuai kemampuan yang dimiliki; bisa membantu dengan uang bantulah dengan uang, bisa membantu dengan harta bantulah dengan harta, bisa membantu dengan ilmu bantulah dengan ilmu, bisa membantu dengan mengajak pada kebaikan ajaklah pada kebaikan, ayat-ayat yang mengajak pada nilai-nilai kejujuran, kesabaran, kesederhanaan, istiqomah atau konsisten, disiplin, kerja keras, semangat pantang menyerah, motivasi, dan kerendah hatian, berusaha disinergikan dalam diri.&lt;br /&gt;Suatu waktu, saya pernah mengalami rasa putus asa, sebab banyak membaca buku dan menghasilkan karya tulis, tidak satu pun tulisan dimuat media, sedang buku-buku yang dihasilkan tidak diterbitkan setelah bertahun-tahun berkarya. Dalam rasa hampir putus asa, saya membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS Fushilaat 49). Saya tersentak mendengar ayat itu, sebuah kesadaran muncul dalam benak. Saya merenung lama tentang kegagalan demi kegagalan, akhirnya saya memahami; itulah cara Allah mendidik, memperkuat; mental, keislaman, keimanan dan ketakwaan saya. Dari itu, saya memutuskan untuk terus menulis asal bermanfaat. Pada akhirnya, buku-buku yang saya tulis terbit satu persatu.&lt;br /&gt;Hati  nurani juga harus sering diajak bicara tentang berbagai hal yang dialami seseorang, sebab jika hati sering didiamkan, maka hati akan “membisu” saat benar-benar dibutuhkan. Di samping itu, hati nurani juga membantu manusia mencapai impian dan cita-cita, tentu dengan bantuan potensi manusia lainnya. Petikan dialog dalam novel Sang Alkemis karya Paulo Qoelho berikut dapat dijadikan bahan perenungan.&lt;br /&gt;“Maka kami, hati manusia, bicara makin pelan dan makin pelan. Kami tak pernah berhenti bicara, tapi kami mulai berharap perkataan kami tidak terdengar: kami tak ingin orang-orang menderita karena mereka tidak mengikuti suara hati mereka.”&lt;br /&gt;“Mengapa hati manusia tidak menyuruh mereka terus mengejar impian-impian mereka? Tanya si anak pada sang alkemis.&lt;br /&gt;“Sebab itu akan membuat hati sangat menderita, dan hati tidak suka menderita.”26 &lt;br /&gt;Berbekal semua itu, Anda akan mampu mendengarkan suara-suara hati nurani yang lebih merdu dari lagu paling merdu, lebih indah dari yang paling indah, lebih bermakna dari yang paling bermakna, intuisi akan hidup selalu, ide-ide yang baik mengalir seperti aliran sungai, dan hidup menuju ridha Allah. &lt;br /&gt;5. Kesadaran Berada di Jalan yang Benar&lt;br /&gt;a. Kesadaran&lt;br /&gt;Freud membagi kehidupan jiwa menjadi tiga tingkat kesadaran: Kesadaran conscious; berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Isi daerah kesadaran merupakan hasil proses penyaringan yang diatur stimulus atau cue-ekternal.  Isi-isi kesadaran bertahan secara singkat di sana lalu pindah ke daerah percencius yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak sadar dan unconscious ketidaksadaran. Dalam perkembangan selanjutnya kesadaran dibagi ke dalam Ego, Id dan Super Ego. Ego (concius); berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu, Isi-isi kesadaran bertahan secara singkat di sana lalu pindah ke daerah percencius dan uncecius. Id: Sistem kepribadian yang dibawa sejak lahir, ia beroprasi di wiliyah uncencius mewakili segala aspek yang tidak disadari sepanjang hayat. Super-Ego: kekuatan moral dan etik dari kepribadian yang beroperasi dengan prinsip idealistik, berkembang dari ego.27&lt;br /&gt;Kesadaran bisa dimaknai sebagai sesuatu yang disadari manusia dalam melakukan sesuatu dalam hidupnya. Berhubung tidak setiap sesuatu disukai dan diinginkan manusia, maka manusia berusaha menekannya ke alam bawah sadar, alam bawah sadar yang menyimpan segala sesuatu yang berusaha dihindari dan dihilangkan menurut Frued sangat menentukan dalam kehidupan manusia, tapi kenyataan hidup mengajarkan bahwa antara kesadaran dan ketidaksadaran sama-sama penting dalam kehidupan manusia, ini bisa menjadi sintesis menarik. &lt;br /&gt;Bisa jadi manusia bertingkah laku sesuai dengan yang diinginkan kesadaran dan bisa jadi pada kurun waktu tertentu justru bertingkah laku sesuai dengan bimbingan alam bawah sadar. Sebagai contoh; ada orang yang berusaha untuk bersikap sabar, ketika dia bersabar justru orang lain menganggapnya penakut, sehingga mereka melakukan segala cara untuk menghina, menjelek-jelekkan, dan memancing amarah, suatu saat orang itu tak kuasa lagi menahan kesabaran, sehingga dia melakukan tindakan buruk pada orang yang menganiaya dirinya dengan segala cara, tindakan buruk ini dilakukan lewat alam bawah sadar, sebab kesadarannya selalu berusaha untuk bersabar. &lt;br /&gt;Konsep Id-Ego-Super-Ego berusaha diperbaiki Henry Murray. Id; gudang semua kecendrungan impulsif yang dibawa semenjak lahir, Id menguasai enerji dan mengarahkan tingkah laku, sehingga menjadi dasar kekuatan motivasi kepribadian. Makna Ego lebih luas dari yang dikemukan Freud; ego menjadi pusat pengatur semua tingkah laku, secara sadar merencanakan tingkah laku, mencari dan membuat peluang untuk memperoleh kepuasan Id yang positif.  Super Ego terkristalisasi saat berusia 5 tahun tidak tepat, sebab superego berkembang terus menerus sepanjang hayat merefleksi pengalaman manusia yang dewasa semakin kompleks dan canggih.28&lt;br /&gt;Erik H. Erikson secara spesifik memperbaiki konsep Ego dengan istilah ego kreatif; kemauan berjuang aktif (otonomi), membantu diri menangani dunianya, lingkungan bukan semata-mata menghambat dan menghukum seseorang seperrti klaim Freud, tapi mendorong dan membantu individu. Sejumlah kualitas yang dimiliki ego kreatif; kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas.  &lt;br /&gt;“…Ego yang sempurna, digambarkan Erikson  memiliki tiga dimensi; faktualitas, universalitas, dan aktualitas: &lt;br /&gt;1. Faktualitas: kumpulan data, fakta, dan metode yang dapat diverivikasi dengan metode kerja yang sedang berlaku. Ego berisi kumpulan data dan fakta dari hasil interaksi dengan lingkungan.&lt;br /&gt;2. Universalitas: kesadaran akan kenyataan (sens of reality) yang menggabungkan hal-hal yang praktis dan kongkrit dengan pandangan semesta&lt;br /&gt;3. Aktualitas: cara baru berhubungan yang satu dengan lainnya, memperkuat hubungan untuk mencapai tujuan bersama. Ego adalah realitas kekinian, yang terus menerus mengembangkan cara baru dalam memecahkan masalah kehidupan, menjadi lebih efektif, prospektif dan progesif.”29&lt;br /&gt;Beberapa pandangan tentang kesadaran di atas, diharapkan membuat Anda mengetahui maknanya dari berbagai macam sudut pandang. Tidak perlu terpaku pada suatu pendapat yang dianggap benar, melainkan senantiasa berusaha mencari makna-makna baru dari kesadaran agar manusia mampu bersikap dengan benar. Di samping itu, pengetahuan manusia tentang kesadaran terus berkembang sampai detik ini, maka mencari dan menemukan pandangan baru yang benar-benar mewakili kesadaran menjadi tanggung jawab otodidaktor dalam menggali ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;b. Kesadaran dan Tingkah Laku&lt;br /&gt;Allah berfirman; “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah 11-12). Dalam tafsir Ibnu Katsir ayat ini ditujukan untuk orang munafik, Ibnu Jabir berkata; “Orang munafik merusak diatas (sic) bumi karena maksiat dan pelanggaran mereka terhadap larangan Allah serta mengabaikan perintah Allah dan ragu terhadap ajaran agama yang mengharuskan percaya dan yakin, juga mereka membantu pada orang-orang yang mendustakan ajaran Allah dan Rasulullah saw. Dan orang-orang munafik itu selalu merasa bahwa perbuatan kejahatan mereka itu sebagai sebagai perbaikan dan kebaikan.”30 &lt;br /&gt;Dalam ayat ini, diuraikan tentang klaim orang-orang tertentu yang senantiasa menggembar-gemborkan bahwa dirinya berusaha untuk memperbaiki kehidupan, padahal yang dilakukan adalah kejahatan demi kejahatan yang dibungkus dengan sangat rapi dalam bahasa eufemisme yang bermacam-macam. Menilik kenyataan hidup sekarang, di samping hal ini masih dilakukan orang-orang munafik di kalangan umat Islam, ini juga mirip dengan yang dilakukan Barat. &lt;br /&gt;Barat senantiasa mengajak bangsa-bangsa lain untuk bersikap toleran, pluralis, menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokrasi, memperbaiki ekologi dunia, dan semboyan-semboyan lainnya. Sayangnya apa yang mereka lakukan bertentangan dengan semua klaimnya; bukan bersikap toleran, tapi mereka melakukan segala acara agar orang lain hidup seperti mereka, bukannya menjujung tinggi pluralitas, malah berusaha sekuat tenaga agar “Islam” tak dianggap di bumi dengan mengaitkannya pada kekerasan, pemboman dan terorisme, bukannya menjujung tinggi hak asasi manusia, malah menginjak-injaknya demi alasan yang dibuat-buat, bukan mendukung pemerintahan yang demokratis, malah akan menggulingkannya jika tidak mematuhi mereka seperti yang terjadi di Aljazair, bukannya membuat dunia lebih enak didiami dengan perbaikan ekologi, malah berusaha menghancurkannnya dengan menciptakan nuklir dan senjata-senjata kimia yang bisa merusak alam.&lt;br /&gt;Ini dibuktikan Michael R. LeGault “…. Budaya negara adidaya adalah budaya yang angkuh, gemar mendesak, kuat, fisikal, dan disibukkan oleh perdagangan dan pertukaran barang serta upaya melindungi kerajaan mereka dari serangan musuh (atau di masa sekarang ini, teroris). Negara adidaya selalu terpesona akan dirinya sendiri; bangsa Romawi kuno sepertinya berhasil menciptakan budaya selebritas dan berbagai penyerapannya pada kesuksesan dan kekuasaan. Prinsip dasarnya seperti ini: pengaruh budaya dan politik dari sebuah kekuatan imperealis pada bangsa lain selalu melebihi pengaruh bangsa lain kepadanya. Berbagai ketimpangan yang timbul sebagiannya disebabkan oleh berbagai konsekuensi yang dimiliki kekuasaan, bukan kebodohan. Dibatasi oleh samudera di sisi Barat dan Timur wilayahnya, AS juga secara geografis terisolir dari pengaruh budaya, bahasa, dan masyarakat asing.”31&lt;br /&gt;Jika dalam Al-Qur’an yang disindir adalah orang-orang yang berbuat kerusakan dengan tidak menyadari apa yang dilakukan, Barat justru memanfaatkan seluruh kesadarannya untuk melakukan “ketidaksadaran kolektif” terhadap budaya lain, sehingga budaya lain berada dalam keadaan inferior, lemah, tak berdaya dan boneka yang bisa dimainkan. Kesadaran dimanipulasi bukan untuk menciptakan kebaikan, tapi menciptakan kerusakan demi kerusakan, padahal untuk memperbaikinya butuh proses waktu yang sangat lama. &lt;br /&gt;Sebagian besar umat Islam di muka bumi, selalu menganggap silau apa yang dicapai Barat, padahal yang mereka silaukan tidak lebih adalah upaya pemanfaatan umat Islam untuk senantiasa tergantung pada mereka. Umat Islam secepatnya menyadari hal ini. Salah satu caranya adalah dengan berpedoman pada firman Allah “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” QS Al-Imran 178. &lt;br /&gt;Orang-orang yang dikagumi, ditiru dan diadaptasi  umat Islam tiada lain adalah orang-orang yang dibiarkan Allah untuk berbuat sesuka hati di muka bumi, tapi kelak Allah akan menyediakan siksa yang paling pedih bagi mereka. Untuk itu, tidak setiap hal ditiru dari Barat, melainkan harus berupaya menciptakan kreasi sendiri, tentu dengan cara melakukan pembacaan yang kreatif terhadap kebudayaan Barat. Jadi kebudayaan Barat sekedar dijadikan “bahan” untuk “kreasi” yang akan dibuat. Di samping itu, sebenarnya Barat telah melakukan  proses ketidaksadaran terhadap umat Islam, hal ini dilakukan selama berabad-abad, agar mereka tidak dapat mampu bangkit, apalagi mampu menandingi Barat.&lt;br /&gt;Menurut Carl Gustav Jung, ego yang menyaring semua pengalaman manusia, pengalaman yang tidak disetujui ego tersimpan dalam alam tak sadar pribadi personal unconceus sehingga isinya adalah pengalaman yang berusaha dilupakan, ditekan, dan yang gagal menimbulkan kesan sadar. Di dalam tak sadar pribadi, sekelompok ide (perasaan-perasaaan, pikiran-pikiran, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan), bisa mengoraganisir menjadi satu, sehingga menimbulkan penyakit lebih dikenal dengan sebutan kompleks. Salah satu penyebabnya adalah tak sadar kolektif (unconceus collektife) evolusi manusia tidak hanya memberi cetak biru tubuh tetapi juga kepribadian, tak sadar kolektif adalah gudang ingatan laten yang yang diwariskan leluhur.32  &lt;br /&gt;Umat Islam kini berada dalam keadaan Kompleks tanpa mampu menemukan obat tersebut. Sebenarnya obat dari penyakit ini ialah berusaha untuk terus menerus belajar agar kesadaran yang “dikacaukan” bisa diperbaiki sedikit demi sedikit, lalu menumbuhkan kesadaran baru yang tercerahkan dengan cahaya Al-Qur’an, Sunnah dan bimbingan hati nurani, kesadaran baru diwujudkan dalam bentuk tingkah laku yang mampu menjadi filter terhadap serangan “ketidaksadaran” yang datang dari luar, dan sekaligus melahirkan tingkah laku mulia yang mampu memberikan kemaslahatan pada sesama umat Islam, sesama manusia, dan seluruh semesta. Inilah pentingnya BO seumur hidup.&lt;br /&gt;c. Beberapa Etika Al-Qur’an&lt;br /&gt;Anda harus mampu menggali nilai-nilai moral dari Al-Qur’an, Sunnah dan hati nurani. Untuk itu, konsep Al-Qur’an tentang etika sangat penting agar bisa bersikap benar. &lt;br /&gt;“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 177). &lt;br /&gt;“Ayat ini mengandung garis-garis besar, dan kaidah yang sangat dalam dan aqidah yang lurus, ketika Allah menyuruh kaum mukminin pada awal pertamanya menghadap kiblat Baitul Maqdis, kemudian mengalihkan mereka ke Ka’bah, terasa berat bagi sebagian orang ahli kitab dan sebagian kamu muslimin, maka Allah menurunkan hikmatnya bahwa pengertian ibadat dan bakti ialah taat dan patuh kepada Allah, menurut perintahNya dan menghadap ke arah mana saja yang diperintahkan oleh Allah, dan mengikuti apa yang disyariatkan Allah itulah albirr (bakti) dan bertakwa atau iman yang sempurna, dan bukannya sekadar menghadap ke timur atau barat, jika tidak melalui perintah Allah dan syariatNya.”33  &lt;br /&gt;Ayat di atas menjelaskan fondasi utama dari etika Islam yakni: pertama; memperkuat keimanan pada Allah dan hari kemudian, beriman pada malaikat-malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah pada umat manusia; Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an yang asli tanpa perubahan (berhubung hanya Al-Qur’an yang asli, maka beriman pada Al-Qur’an sudah cukup memadai), beriman pada para Nabi (minimal 25 di antaranya yang disebutkan dalam Al-Qur’an), dan beriman pada qadha’ dan qodar (keterangan tentang hal ini dalam ayat berbeda), kedua; menjalankan syariat Islam secara sukarela; shahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji jika mampu, mencari rizki dengan cara yang halal dan memakan harta yang halal pula,  ketiga; berbuat baik atau menyedekahkan harta pada keluarga yang membutuhkan, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang melakukan perjalanan di jalan Allah dan butuh pertolongan, dan membantu orang lain agar merdeka dari kebodohan, menepati janji yang diungkap pada Allah atau orang lain, baik secara langsung atau bernadzar di dalam hati, bersabar dalam segala kondisi; kaya atau miskin, gembira atau sedih, tenang atau kacau,  dan damai atau perang.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl 90) Ayat ini jelas mengajak agar Anda mau melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan bersikap adil; tindakan terpuji diwujudkan dalam sikap peduli pada keadaan lingkungan sekitar, makanya ini dikaitkan dengan konsep keadilan, sebab kepedulian pada keadaan sekitar akan mampu melahirkan keadilan. Memberi pada kerabat diwujudkan dalam hal-hal yang bisa membantu mereka keluar dari kesulitan yang dihadapi, membantu sesuai kemampuan dan memberikan kehidupan yang tentram dengan tidak bertengkar terhadap mereka. Anda tidak hanya melakukan kebajikan, keadilan dan membantu kerabat, melainkan juga dituntut untuk menghindarkan diri dari sikap-sikap yang mengarahkan Anda untuk melakukan tindakan-tindakan yang keliru, sekaligus menjauhkan diri dari sikap permusuhan dengan orang lain. Semua itu bisa dilakukan dengan terus menerus mempelajari segala sesuatu secara seksama, dengan proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan mampu memperoleh pelajaran darinya.&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujuraat 11) Budaya gosip yang berusaha menjelekkan orang atau kelompok lain berusaha dihindari, baik sesama muslim atau dengan non muslim, sebab itu akan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Dari pada bergosip, lebih baik mengisi waktu dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang terjadi pada diri dan orang lain adalah sebuah kekeliruan, sebab dengan terus menerus menyalahkan diri sendiri, akan membuat diri menjadi lemah, sepi dan terkurung oleh penjara yang diciptakannya sendiri. Ini dilanjutkan dengan berusaha untuk tidak menyebut orang lain dengan julukan tertentu yang tidak disenanginya, sebab akan menyakiti hati mereka, meskipun hal ini “dibungkus” dengan lawakan.&lt;br /&gt;“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan” (QS Al-Mu’minuun 96). Pelajaran etika ini sangat bernilai sekali, membalas tindakan buruk orang lain dengan kebaikan, malah dianjurkan melakukan sesuatu yang lebih baik. Membalas keburukan dengan kebaikan, butuh kesadaran mental, rohani yang kuat dan hati nurani, sebab hakikatnya manusia cendrung membalas keburukan dengan keburukan. Melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan ini, dapat dilakukan melalui proses latihan dalam kehidupan sehari-hari. Jika orang lain berusaha berbuat jahat, berusahalah untuk tersenyum dan mendoakan supaya menyadari yang dilakukan. Orang itu masih tetap berusaha berbuat jahat, berusahalah untuk memberikan sesuatu pada mereka tanpa pamrih apa pun. Masih tetap, berusahalah untuk bersilaturahmi untuk memberikan pengertian. Masih tetap, pasrahkan pada Allah dan tidak perlu takut terhadap mereka, sebab pelindung kita adalah Allah, Allah pasti akan melindungi, baik disadari atau tidak.  Kenyataan ini didukung firman Allah “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imran 159)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujuraat 12). Anda harus berupaya untuk memperbanyak husnud dzan atau sikap positif, bukan memperbanyak su’ud dzan atau buruk sangka pada orang lain, sebab buruk sangka yang ditanam terus menerus akan melahirkan prilaku yang menggiring Anda untuk melakukan kesalahan demi kesalahan, baik disadari atau tidak. Salah satu caranya adalah tidak berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, melainkan berusaha mengingat kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, dan tidak membicarakan kejelekan orang lain. Untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama ini, tiada jalan lain kecuali bertobat atas tindakan-tindakan yang dilakukan selama ini, dalam bertaubat diiringi dengan upaya untuk meningkatkan ketakwaan pada Allah; baik dengan ibadah spritual, sosial, maupun menyebarkan kebaikan di muka bumi. &lt;br /&gt;Allah berfirman: “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian. Berat terasa olehnya beban yang menimpa kalian, sangat menginginkan kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah 128). Kehadiran Nabi Muhammad sebagai utusan Allah bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi orang Arab saja, dan beliau berasal dari manusia biasa bukan Malaikat. Karakter utama beliau yakni dibagi dalam tiga bagian. ‘Azizun Alaihi ma ‘Anittum (berat terasa olehnya beban yang menimpa kalian). Beliau mengkhawatirkan umat Islam ditimpa sesuatu yang buruk dan mendapat adzab Allah. Itu berarti benar-benar merasakan penderitaan yang dialami umat Islam dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini ditunjukkan dengan berulangkali beliau memohon pada Allah agar umat Islam bisa memperoleh ampunan dan syafa’at. Beruntunglah umat Islam, Allah mendengarkan doa nabi Muhammad. Harishun ‘alaikum (sangat menginginkan kalian). Al-Hirshu artinya permintaan sesuatu dengan sangat dibarengi dengan pengupayaannya, sebagaimana yang dikatakan dalam tafsir Al-Haddadi itu berarti beliau menginginkan dan mengupayakan agar umat Islam senantiasa menjaga keimanan dan memperkuatnya dengan keyakinan yang tidak goyah oleh apa pun jua. Bil  Mu’minina ra-ufur rahim (amat belas kasihan dan penyayang pada kaum Mu’minin), Beliau juga sangat sayang sekali pada orang mukmin, sedang orang kafir tidak disayangi dan disantuni, bentuk kasih sayang tidak hanya diucapkan dengan kata-kata, melainkan diwujudkan dalam tindakan. Ini menunjukkan supaya Anda mau meneladani kehidupan nabi Muhammad dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, sebab “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam 4) Jika kita pernah melihat secara langsung orang yang benar-benar baik, maka Nabi Muhammad lebih baik dari orang-orang yang terbaik sekali pun.&lt;br /&gt;Sebagian  ahli hikmat berkata: “Sungguh Allah swt. (sic) menciptakan ruh Muhammad, Dia menciptakan untuk Muhammad, bentuk ruhaniah sebagaimana keadaannya di dunia. Kemudian Allah swt. menjadikan bagian kepalanya dari berkah, kedua matanya terbuat dari malu, kedua bibirnya dari tasbih, wajahnya dari ridha, dadanya dari ikhlas, kalbunya dari rahmat, fuadnya dari penyantunan, kedua telapak tangannya dari kedermawanan, rambutnya dari tumbuhan surga, ludahnya dari madu surga. Betapa hebatnya, beliau pernah mengubah sungai yang airnya asin, menjadi tawar. Setelah Allah swt. menyempurnakan Nabi saw dengan sifat-sifat ini, maka Allah swt. mengutusnya kepada umat ini.”34&lt;br /&gt;Untuk senantiasa berakhlak mulia, tiada lain kecuali senantiasa mengingat kehidupan setelah kematian yakni kehidupan akhirat yang menawarkan kehidupan hakiki pada manusia. Selalu mengingat kematian yang berarti mengingat akhirat akan membawa seseorang berusaha untuk selalu berbuat baik. “Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS: Shaad 46)&lt;br /&gt;Kaitan antara etika Islam dengan peoses belajar adalah umat Islam dituntut mampu membaca keadaan, buku, kenyataan, dan informasi dengan benar. Sebab semua itu bisa mempengaruhi tingkah laku. Manakala Anda mendapatkan informasi atau pengetahuan, maka “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS: Al-Hujuraat 6) Memeriksa yang teliti dalam ilmu pengetahuan disebut observasi. Observasi secara teliti terhadap objek yang dijadikan bahan penelitian, dapat melahirkan tingkah laku yang disertai dengan ilmu.&lt;br /&gt;Berbekal semua itu, lantas Anda berupaya untuk menjadi muslim dan mukmin sejati, tapi dengan tetap mengingat bahwa hal itu dilakukan bukan demi kepentingan Allah, melainkan demi kebaikan manusia itu sendiri.  “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Hujuraat 17-18) Selama ini umat Islam merasa bahwa segala anugerah, petunjuk, rahmat, karunia, mukjizat, ilmu dan hikmah yang diajarkan Allah pada mereka dianggap untuk kepentingan Allah, padahal justru itu sangat bermanfaat untuk diri mereka sendiri. Jadi, saat Anda menjalankan syariat secara sukarela, beriman secara hakiki, melakuakan amal sholeh, berbuat baik, dan semua tindakan mulia lainnya, hakikatnya itu akan kembali pada Anda sendiri, baik dalam kehidupan dunia, atau pun kehidupan akhirat kelak.&lt;br /&gt;Apa yang disebutkan tentang etika Al-Qur’an di atas, mungkin tidak mewakili keseluruhan dari etika Islam, paling tidak beberapa di antaranya yang berusaha diyakini dalam hati, diteguhkan dalam pelaksanaan ibadah spritual dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.&lt;br /&gt;d. Muara Etika Al-Qur’an&lt;br /&gt;“Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab)”, dan supaya Kami menjelaskan Al Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS: Al-An ‘Aam 105) Dalam ayat ini jelas disebutkan bahwa banyaknya pengulangan dalam Al-Qur’an agar Anda memiliki pengetahuan. Kata kunci pertama dari muara etika Islam ialah mengetahui. Mengetahui sesuatu bisa dilakukan lewat proses belajar. Itu berarti BO yang Anda lakukan bertujuan untuk memiliki pengetahuan yang dalam terhadap apa yang dipelajarinya. &lt;br /&gt;“…Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS: An-Nuur 31) Manusia harus bertobat setiap kali berbuat kesalahan, dalam bertobat tidak berusaha mengulang kesalahan yang sama, sehingga sampai pada  muara etika yang kedua yakni menjadi orang yang beruntung. Selama ini Anda mencari cara, berusaha sekuat tenaga, bekerja keras, dan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki mencapai hasil maksimal, tapi sayang hasil yang diperoleh kurang memuaskan. Ini menunjukkan keberuntungan dibutuhkan setiap orang, sehingga berhasil dalam melakukan interaksi sosial, berhasil mengarungi kehidupan dunia, dan berhasil di akhirat kelak. Keberuntungan dapat diperoleh dengan berpegang teguh pada etika Islam, yakni nilai-nilai kebaikan yang diajarkan Allah pada manusia, sehingga manusia bisa mencapai hal-hal yang disebutkan sebelumnya. Ingat! Beruntung di sini jangan dipersempit dengan harta atau uang, melainkan beruntung dalam makna yang luas.&lt;br /&gt;“… Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS: Al-Baqarah 187). Muara ketiga dari etika Islam ialah agar manusia bertakwa. Makna takwa sesuai keterangan Alqur’an dalam beberapa ayat berbeda ialah takut hanya pada Allah, memelihara diri untuk tidak berbuat kesalahan dan dosa, pemaaf, bersikap adil, berbuat baik, tolong menolong dalam kebajikan, dermawan, mengikuti perintah-perintah Allah, dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Dengan bertakwa secara hakiki ini, bisa menjadi yang sebaik-baik manusia di hadapan Allah; semua manusia sama di hadapanNya, kecuali yang paling bertakwa. Dengan bertakwa, manusia menjadi sebenar-benarnya manusia yang berusaha menjadi paripurna. Dengan bertakwa manusia mampu mengatasi berbagai macam problematika hidup. &lt;br /&gt;“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS: Ali Imran 103). Maksud “habl” atau tali dalam ayat di atas bermakna; “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali Allah yang kokoh, cahaya yang menerangkan, obat penyembuh yang berguna, pelindung bagi yang berpegang kepadanya dan aman bagi yang mengikutinya,” hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Ibnu Mardaweh dan Abdullah.35  Muara keempat dari etika Al-Qur’an ialah agar manusia mendapat petunjuk. Petunjuk di sini bukan  seperti menunjukkan jalan yang tepat pada seseorang yang kesasar, melainkan petunjuk dalam makna “hidayah”. Hidayah Allah tidak diberikan pada sembarang orang, melainkan diberikan pada orang-orang tertentu yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Salah satu syarat utama untuk mendapatkan hidayah Allah ialah menjalankan kehidupan sehari-hari dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan menjaga persatuan sesama umat Islam, sebab dengan terpecah belah umat Islam menjadi lemah dan tidak berdaya seperti yang dialami umat Islam Indonesia. &lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS: Luqman: 12) Muara etika Islam selanjutnya ialah bersyukur pada Allah dan berterima kasih pada orang-orang yang berjasa, membantu, dan mendidik kita sehingga menjadi seperti sekarang ini. Dengan mensyukuri segala nikmat, rahmat, hidayah dan karunia Allah, manusia akan bisa bersikap apa adanya terhadap apa pun yang dialaminya. Sikap ini sangat penting supaya manusia menjalani kehidupan dengan baik dan tidak berusaha mencari kesalahan-kesalahan orang lain, apa lagi mau menyalahkan Allah. Wujud syukur pada Allah yang paling mudah bersujud syukur setiap kali mendapat rizki, rahmat, hidayah, ilham dan ilmu. Sedang berterima kasih pada sesama dalam rangka menjaga keharmonisan hubungan sosial dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua orang. Jadi, syukur dalam makna luas adalah menempatkan sesuatu sesuai proporsinya.&lt;br /&gt;“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS: A-Baqarah 186) Muara etika yang terakhir adalah agar manusia senantiasa berbuat kebenaran. Kebenaran adalah suatu norma yang amat sulit bagi seseorang, sebab makna kebenaran bisa berbeda antara yang terima setiap orang. Meski demikian, setiap orang bisa senantiasa berbuat kebenaran jika niat ditujukan untuk sesuatu yang baik, dicari cara yang benar untuk mewujudkan niat, dilaksanakan dengan tingkah laku yang benar, dan tujuan yang ingin dicapai ialah kebenaran. Berapa banyak orang yang ingin berbuat kebenaran justru terjebak dalam kesalahan, itu karena mereka gagal dalam salah satu bagian di atas, atau belum sampai dalam taraf selalu berada dalam kebenaran. Untuk itu, mari kita berpegang teguh pada etika Al-Qur’an agar selalu berada dalam kebenaran.&lt;br /&gt;Hidup dipenuhi dengan kabaikan, amal sholeh, niat tulus yang diwujudkan dengan sikap tulus, berusaha menjadi orang yang bermanfaat sesuai kemampuan diri, tiada hari tanpa upaya untuk membantu orang, tiada waktu untuk; menyakiti, membicarakan kejelekan orang, menghina, memfitnah, dan mendiskreditkan orang lain, dan senantiasa bertawakkal pada Allah apa pun yang diterima dan dihadapi.&lt;br /&gt;Jadi, muara etika Islam ialah mengetahui, beruntung, bertakwa, mendapat hidayah, bersyukur dan selalu berada dalam kebenaran. Jika Anda mampu mencapai semua itu, insya Allah akan mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat, menjadi manusia yang berusaha paripurna, dan menatap kematian dengan senyum dikulum. Semoga kita semua bisa mencapai itu semua. Amin! &lt;br /&gt;6. Tubuh adalah Wadah Segala Potensi&lt;br /&gt;a. Tubuh&lt;br /&gt;“Apa yang disebut tubuh? Kita tidak bisa mendifinisikannya dengan mengatakan bahwa ia merupakan suatu medan daya, sesuatu media yang diperebutkan oleh berbagai macam daya. Karena di sini tidak ada “media”, tidak ada mendan daya, atau pun perang. Tidak ada kuantitas realita, karena semua realita adalah kuantitas atas daya dalam “hubungan ketegangan” bersama (VP 373/WP 635). Setiap daya berhubungan dengan yang lain dan daya tersebut bisa merupakan daya yang menguasai atau dikuasai. Apa yang menentukan suatu tubuh adalah hubungan antara daya yang dikuasai dan yang menguasai. Semua hubungan daya membentuk suatu tubuh – baik itu secara kimiawi, biologis, sosial, atau politik. Apabila ada dua daya yang tidak sama masuk  ke dalam hubungan seperti ini maka akan terbentuk suatu tubuh. Inilah mengapa tubuh selalu merupakan buah kemungkinan, dalam pandangan Nietsche, dan tampak sebagai sesuatu yang “menakjubkan”, jauh lebih menakjubkan dibandingkan dengan kesadaran dan semangat…”36 &lt;br /&gt;Pernyataan di atas menunjukkan tidak ada definisi yang benar tentang tubuh, sebab berkenanaan dengan kompleksitas kerjanya yang sangat rumit, bahkan dalam bidang kedokteran pun yang sering berurusan dengan tubuh manusia, definisi pasti belum ditemukan.&lt;br /&gt;Namun demikian, dalam konteks buku ini, tubuh diartikan sebagai organ yang menampung semua potensi manusia; pikiran, imajinasi, perasaan,  kesadaran dan hati. Sebagai sesuatu yang mewadahi semua potensi manusia, maka peran tubuh sangat penting sekali, sama pentingnya dengan pikiran, imajinasi, perasaan dan hati nurani. Malah bisa jadi lebih penting, sebab pemfungsian potensi-potensi tersebut tidak dapat dilakukan tanpa adanya tubuh.&lt;br /&gt;Menjaga agar tubuh selalu terjaga dengan baik adalah suatu keharusan. Sebagai ilustrasi, dalam  sistem belajar cepat ditemukan kenyataan bahwa banyak pelajar yang mampu belajar dengan cepat setelah guru mampu mensinergikan antara gerakan fisik dengan belajar.  Ini menunjukkan bahwa antara pikiran dan tubuh berjalan seiring.&lt;br /&gt;Optimalisasi tubuh dalam abad 21 ini sudah menjadi komoditi yang mampu menghasilkan uang, baik lewat fashion atau gaya berpakaian, dunia hiburan, dan olah raga. Banyak orang yang berhasil di bidang semua itu, dan mereka juga bisa mempengaruhi dunia dan masyarakat luas, seperti Paris Hilton, Lionel Messi, dan Ronaldinho, meski pengaruh yang dihasilkan lebih banyak bersifat negatif. Umat Islam harus memasuki bidang-bidang itu, dengan berusaha menawarkan paradigma baru yang berkesesuaian dengan nilai-nilai Islam.  &lt;br /&gt;Jika pikiran, perasaan, imajinasi dan hati nurani butuh latihan-latihan khusus agar bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, maka tubuh juga harus mendapatkan yang terbaik. Perwujudannya adalah dengan makan teratur, bergizi baik, minum secukupnya, mengatur istirahat, dan rutin olahraga. &lt;br /&gt;Masalah makan dalam masa sekarang bukan sesuatu yang sepele atau dianggap “tabu” seperti dalam dunia sastra lama Indonesia, melainkan sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Secara normal orang makan tiga kali sehari dengan pengaturan tertentu, meski ada sebagian orang yang makan dua kali sehari. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, makan nasi menjadi kebiasaan dengan lauk pauk yang bermacam-macam, supaya lebih sehat ditambah buah-buahan dan susu. Meremehkan makan akan menimbulkan penyakit yang tentu berakibat pada kreativitas dan produktivitas manusia. Sesuatu yang menarik masalah makan ini ialah kenikmatan makan, bukan apa yang dimakan. Antara makan di restoran mewah sama nikmatnya dengan makan di pinggir jalan, padahal harga, jenis, mutu dan penyajian berbeda. Di sinilah letak keadilan Allah.&lt;br /&gt;Mengatur istirahat yang cukup setiap hari diperlukan supaya seluruh organ dan potensi manusia memiliki saat yang cukup untuk menenangkan diri. Dalam masa istirahat, otak Beta dan Delta berfungsi, imajinasi bermain-main dalam ruang mimpi, di antara beberapa mimpi ada yang bisa dijadikan ilham dan sumber ide, ada yang bisa dijadikan sarana membantu pemecahan masalah, ada yang merupakan tanda-tanda tertentu menyangkut kehidupan di masa pendatang. Maka, mencatat mimpi yang berkesan dan bermakna harus dilakukan demi alasan-alasan di atas. Pembacaan terhadap mimpi dilakukan pikiran, meminta perasaan menyelami berbagai kemungkinan, dan mendengar suara-suara hati nurani tentang mimpi yang dialami.&lt;br /&gt;Olah raga setiap hari minimal 15 menit agar sirkulasi darah lancar, pengeluaran keringat, pernafasan menjadi teratur, pengahancuran lemak negatif, dan menggerakkan seluruh organ yang ada dalam tubuh. Olah raga dilakukan dengan jalan kaki, jalan-jalan di tempat, berlari-lari kecil, menggerakkan tubuh dengan irama atau tanpa irama, dan hal-hal lainnya yang tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang yang besar untuk membeli alat-alat fitnes. Pada hari libur bisa berolah raga lebih lama sambil menikmati suasana sekitar.&lt;br /&gt;b. Wadah Bukan Sekadar Wadah&lt;br /&gt;Tubuh dalam penjelasan sebelumnya dimaknai sebagai wadah dari segala potensi manusia, namun ada pandangan lain yang menyatakan bahwa kesadaran yang menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia berfungsi dalam tubuh. “…Roger Poole membenarkan pendapat ini: ‘kesadaran tidaklah “murni”, melainkan ada dalam sebuah membran daging dan darah’; ini menunjukkan bahwa ‘tubuh sebenarnya menghidupkan dunia, dan dengan demikian memproyeksikan nilai-nilai “tubuh” di atas dunia’ (Poole, 1990: 264-265).”37 Dari penjelaan Poole nampak bahwa tubuh tidak sekedar merupakan wadah dalam makna pasif, melainkan bersama dengan kesadaran turut membantu manusia untuk mewarnai kehidupan di dunia, mengisi kehidupan, dan turut memberikan sumbangsih pada pemberian nilai-nilai terhadap dunia.&lt;br /&gt;Bahkan dalam proses mendapatkan pengetahuan peran tubuh sangat signifikan sekali, seperti yang dinyatakan Dani Cavallaro “Dalam menilai peran yang dimainkan oleh tubuh dalam mendapatkan pengetahuan, sebuah pembedaan harus ditarik antara skema tubuh (body schema) yang merujuk pada sebuah penyesuaian diri yang instinktif dan nonsadar terhadap lingkungan seseorang, dan citra tubuh (body image) yang mengacu pada tindakan-tindakan badaniah yang ditampilkan secara sengaja dan sadar…”38 Jadi dalam konteks skema tubuh; proses alam bawah sadar manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, sedang body image mengacu pada segala sesuatu yang dilakukan seseorang secara sadar. Karena dilakukan secara sadar, maka body image menjadi salah satu pengarah manusia untuk mencari dan menemukan pengetahuan.&lt;br /&gt;Mau dibentuk seperti apa pun, dan dijaga menggunakan alat-alat tercanggih pun, setiap tubuh akan mengalami proses kematian. Dalam kematian wujud tubuh menjadi hancur dimakan rayap atau binatang-benatang tanah lainnya. Menurut Dani Carvallo “…Ia tak punya bentuk atau makna definitif. Karena itu, ia bertindak untuk mengingatkan kita bahwa hidup adalah struktur yang kompleks yang tak bisa diperkecil lagi menjadi sebuah keseluruhan organis, dan bahwa semua makhluk hidup yang diwujudkan lahir, tumbuh dan binasa dengan bergaul sepanjang waktu dengan tubuh yang mulai tumbuh, berkembang atau mati.”39 &lt;br /&gt;c. Antara Tubuh dengan Jiwa&lt;br /&gt;Ada beberapa pendapat tentang keterkaitan tubuh dengan jiwa; ada pendapat yang menyatakan tubuh terpisah dari jiwa, ada pendapat yang menyatakan bahwa tubuh menyatu dengan jiwa, ada pendapat yang menyatakan bahwa tubuh dan jiwa bersatu di dalam kehidupan dunia dan akan berpisah dalam kematian.&lt;br /&gt;Pendapat terakhir adalah hasil pemikiran saya pribadi sebagai sintesis antara dua pendapat yang berbeda. Selama manusia menjalani hidup di dunia ini dengan segala macam kompleksitas hidup, hakikatnya antara keduanya menyatu dalam diri manusia. Berhubung keduanya menyatu, maka tidak dapat dipisahkan antara tubuh dengan jiwa. Sebagai bukti, kaki menginjak paku, secara otomatis perasaan mengatakan “aduuuh!” pada saat yang sama jiwa merasakan rasa sakit itu, sehingga seluruh yang ada dalam tubuh mengalami hal yang sama. Bukti kedua adalah kematian manusia; manusia mati dan dikuburkan. Sesuatu yang jelas-jelas di kubur adalah tubuh, kemanakah jiwa? Dalam hal ini mau tidak mau kita harus memahami pandangan Islam yakni; setelah kematian jiwa terbisah dari badan, lalu jiwa menghadapi Malaikat yang mengajukan beberapa pertanyaan menyangkut keyakinan, kepercayaan, tingkah laku, dan hal lainnya, baru ditentukan arah “kehidupan selanjutnya ke mana” surga atau neraka.&lt;br /&gt;Berhubung tubuh menyatu dengan jiwa dalam kehidupan, sudah sewajarnya apabila keduanya mendapatkan perlakuan yang sama. Jika tubuh makan dengan teratur, maka jiwa harus diberi makanan ibadah wajib, jika tubuh diberi minuman, maka jiwa diberi dzikir yang tulus pada Allah, jika tubuh diberi istirahat, maka jiwa diberi istirahat juga, jika tubuh diberi olah raga, maka jiwa diberi amal sholeh, kebaikan, keridhaan/kerelaan atas taqdir apa pun, ketenangan, dan keharmonisan. Insya Allah dengan ini semua, tubuh dan jiwa selamat dan bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Ketika manusia mati, mayatnya dikubur, kondisi mayat terwujud dalam beberapa bentuk; mayat hancur tak bersisa dimakan binatang-binatang tanah, mayat hancur tinggal tulang, mayat utuh bersama kain kafan meski sudah dikubur tahunan, mayat hilang meninggalkan bekas yang bersih (tiada tanda dimakan binatang tanah). &lt;br /&gt;Apa yang dialami tubuh di atas,  tergantung amal perbuatan manusia di dunia. Jika Anda menginginkan utuh mayat di kubur, bahkan jasad hilang  dari kubur sebagai bentuk kesempurnaan lahir dan batin, maka dalam kehidupan sehari-sehari senantiasa beribadah spritual dan sosial, bertingkah laku yang baik, menjaga seluruh anggota tubuh dari kesalahan, makan dan minum barang-barang yang halal, beramal shaleh pada sesama dan semesta. &lt;br /&gt;Sebagai manusia yang diciptakan Allah dengan sebaik-baiknya ciptaan, manusia dapat mencapai derajat yang tinggi melampaui makhluk lainnya. Inilah salah satu rahasia penciptaan manusia di bumi. Semua itu dicapai dengan kesempurnaan tubuh dan jiwa.&lt;br /&gt;7. Menggabungkan Semua Potensi dalam Kesatuan&lt;br /&gt;Seluruh potensi manusia telah diuraikan secara panjang lebar sebelumnya, otodidaktor dituntut berusaha mengoptimalisasikan sedemikian rupa, sehingga dalam belajar otodidak dilakukan sebaik-baiknya dan mencapai hasil yang maksimal. Untuk itu, perlu sinergi antara keenam potensi dalam kesatuan.&lt;br /&gt;Bentuk dari sinergi ini ialah otodidaktor berusaha menarik kesimpulan dengan cara yang benar, membuat keputusan yang tepat dengan melihat berbagai aspek, dan mengoptimalkan semua potensi secara maksimal. Insya Allah dengan itu semua, upaya otodidaktor mencapai tujuan yang diinginkan dan berhasil dalam menjalani kehidupan bisa dicapai. &lt;br /&gt;a. Cara Menarik Kesimpulan&lt;br /&gt;Otodidaktor terlebih dulu memahami beberapa cara menarik kesimpulan yang pernah dilakukan manusia, seperti; teori koherensi, korespondensi, sintesis Kant, dialektika Hegel, dekonstruksi Derrida, dan sillet Ockham. Setelah dipahami, dilatih dalam upaya membuat sebuah kesimpulan, dan baru menentukan teori apa yang hendak diterapkan. Di samping itu, menggunakan multi teori tidak masalah, bahkan  dianjurkan menemukan teori baru yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia. &lt;br /&gt;Teori koherensi; sesuatu dianggap benar jika merupakan hasil pemikiran logis penalaran (Rasionalisme; Parmenides, Plato, Descartes, Spionoza, dan Lebnis). Teori korespondensi; sesuatu dianggap benar apabila berkesesuaian dengan kenyataan (empirisme; Francis Bacon, Locke, Barkeley dan Hume). Kant berusaha mendamaikan keduanya bahwa pengetahuan itu diperoleh sebagai hasil dari pengalaman inderawi (teori korespondensi) dan pemahaman (teori koherensi).40 Kelanjutan dari hal ini yakni menjadikan bahasa sebagai titik pusat baru, pendapat ini dikembangkan Heidegger, Derrida, Ricour. Bahasa yang dimaksud adalah metafora.&lt;br /&gt;Contoh dari teori koherensi ialah saya adalah manusia, manusia adalah makhluk yang berakal, maka saya adalah makhluk yang berakal. Contoh teori korespondensi ialah, apakah kenyataan dengan memanfaatkan indera manusia bisa membuktikan bahwa manusia merupakan makhluk berakal atau bukan, jika kenyataan membenarkan, maka pernyataan tersebut menjadi benar. Sedang contoh dari Immanuel Kant sebagai sintesis ialah, saya adalah makhluk yang berakal, pikiran menyatakan hal itu dan indera manusia turut membuktikan dengan kenyataan yang ada, benarkah saya sebagai manusia adalah makhluk yang berakal, setelah dibuktikan ternyata benar, barulah hal ini dianggap benar.&lt;br /&gt;Teori dialektika Hegel menyatakan bahwa suatu kebenaran itu berasal dari tesis, anti tesis dan sintesis, juga merupakan salah satu cara untuk menarik kesimpulan. Hal ini sudah dijelaskan dalam bab I. &lt;br /&gt;Muncul teori Dekonstruksi Derrida yang berusaha menghancurkan semua klaim kebenaran yang dihasilkan teori rasionalisme, korespondensi, Kant dan dialektika Hegel; tidak ada kebenaran yang mutlak, kebenaran yang dihasilkan narasi-narasi besar di atas bukan kebenaran absolut, melainkan “kebenaran-kebenaran dalam k kecil” seperti yang dilansir Nietsche. Teori dekonstruksi ini yang menghancurkan sekat Barat dengan Timur, Utara dan Selatan, dan konsep biner lainnya, sehingga semua manusia berada dalam posisi sejajar. Di samping itu, teori Derrida ini membuka cakrawala berpikir baru seperti yang dinyatakan John Lechte “… Akan tetapi, kecendrungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreativitas dan penemuan baru …”41&lt;br /&gt;Meski teori dekonstruksi mengandung “kebenaran”, tapi tidak bersifat mutlak, maka tidak bisa diterapkan dalam “ajaran dan keyakinan Islam”, sebab keduanya dalam konteks yang berbeda, yang satu berhubungan dengan pikiran, sedang yang satunya berkaitan dengan hati nurani. Tapi berkenaan dengan budaya Islam, hal ini perlu agar kebudayaan Islam mampu berkembang dan tidak stagnan, sehingga Kebangkitan Islam di Indonesia bisa diwujudkan dalam kenyataan. &lt;br /&gt;Ada teori lain dalam menarik kesimpulan yakni Silet Ockham mengajukan kebersahajaan sebuah teori; apapun jangan dilipat gandakan tanpa alasan, jika dimungkinkan hipotesis dengan kekuatan serupa, kita seyogyanya memilih yang paling bersahaja, dan pisau Galileo; teori tanpa observasi hanya menunjukkan yang mungkin terjadi (might be), teori dengan observasi menunjukkan yang nyata (is).42 &lt;br /&gt;Silet Ockham sangat menarik sekali, artinya ketika seseorang berusaha membuat kesimpulan tentang sesuatu jangan diperumit, baik dengan istilah atau teori yang memutar, tapi justru menyederhanakan kesimpulan yang dibuat. Misalnya; untuk mengakomodasi konstruksi dari budaya Islam yang intelek dan kontemporer, umat Islam harus bersikap rasional dan menjauhkan diri dari irrasionalitas, sehingan humanisme mampu dijalankan dalam berbagai sendi kehidupan, hal ini bisa disederhanakan menjadi; untuk membangun kebudayaan Islam yang cerdas dan baru, maka umat Islam harus bersikap berdasarkan akal budi, sehingga mereka menjadi manusia yang sesungguhnya. Agar silet Ockham ini berfungsi dengan baik, perlu ditambah dengan observasi atau pengamatan langsung dan mendalam seperti yang ditekankan Galileo, agar teori yang ada bisa dimanfaatkan dalam kehidupan manusia, dan memberikan maslahat pada mereka.&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi, upaya otodidaktor untuk mendapatkan kesimpulan yang benar. Apa pun bentuk “kebenaran” yang ditawarkan harus “diasah” dalam seluruh kawah candradimuka potensi yang dimiliki manusia; pikiran, perasaan, imajinasi, kesadaran, hati nurani, dan tubuh, dan berusaha diwujudkan dalam tindakan. Berhubung kebenaran yang disampaikan manusia tidak bersifat mutlak, dalam proses waktu dan tempat berbeda, kebenaran yang dihasilkan perlu dievalusi ulang, diuji ulang dengan fakta dan konteks yang baru, dan dilalaui proses “pengolahan potensi” dari awal, sehingga menghasilkan “kebenaran baru lagi”. &lt;br /&gt;Ini merupakan jawaban dari mengapa salah seorang mujtahid Islam yakni Imam Syafi’ie memiliki istilah qoulul qodiem (fatwa lama) dan qoulul jadied (fatwa baru) di bidang Fiqh menyangkut beberapa hal yang sama, artinya masalah yang sama menghasilkan kesimpulan berbeda, sebab berbeda tempat, waktu, konteks dan fakta yang ditemukan. Apa yang dilakukan Imam Syafi’ie sengaja ditampakkan Allah pada umat Islam agar mereka senantiasa memanfaatkan segenap potensi semaksimal mungkin, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan segala keadaan, memberikan warna terhadap kehidupan, menawarkan nilai-nilai baru yang lebih baik dan sesuai dengan waktu dan keadaan, dan menjelma menjadi manusia yang hakiki.&lt;br /&gt;b. Cara Membuat Keputusan&lt;br /&gt;Sebelumnya telah diuraikan tentang pemahaman pada otak dan pikiran, beberapa cara berpikir, dan cara menarik kesimpulan. Semua itu dimanfatkan dalam rangka membuat suatu keputusan tertentu; baik keputusan kecil, keputusan sedang, maupun keputusan besar. Agar bisa membuat keputusan yang baik, berikut proses pengambilan keputusan menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.&lt;br /&gt;“A-FAN” digunakan untuk mengambil keputusan. Kata itu adalah singkatan dari:&lt;br /&gt;Assumtions = asumsi-asumsinya? Apa yang tengah saya putuskan? Berapa banyak informasi yang dibutuhkan? Apakah implikasinya?&lt;br /&gt;For = untuk apa? Sudahkah bukti memperkuat opini saya? Sudahkah bukti benar-benar kuat? Apakah bisa dipercaya? Sejauhmana kepercayaan atasnya?&lt;br /&gt;Againts = atas apa? Apa yang mungkin menjadi argumen dari sudut pandang saya? Bisakah masalah ini dilihat dari sudut yang berbeda? Bagaimana para penentang mengajukan argumen-argumennya?&lt;br /&gt;Now what = lalu apa? Penilaian yang lebih hati-hati dan teliti atas semua hal di atas akan menghasilkan suatu keputusan yang tepat, baik dan bijaksana.43&lt;br /&gt;Sebelum mengambil suatu keputusan, Anda membuat asumsi-asumsi tentang apa-apa yang hendak diputuskan. Asumsi-asumsi yang dibuat tidak hanya satu, melainkan beberapa asumsi, dari beberapa asumsi dimunculkan satu asumsi yang terbaik. Setelah itu, mencari informasi-informasi yang dibutuhkan mengenai hal, informasi-informasi ini dicatat yang penting-penting saja. Baru mencatat akibat-akibat yang ditimbulkan bila suatu keputusan dibuat.&lt;br /&gt;Asumsi terbaik dianggap sebagai opini pribadi, lalu dimunculkan suatu pertanyaan kritis tentang kebenaran dari asumsi terbaik, atau sudahkah asumsi terbaik ini memiliki cukup bukti untuk dimunculkan menjadi sebuah keputusan. Jika bukti-bukti yang ada sudah mencukupi, perlu ditambah dengan kepercayaan Anda pada bukti-bukti yang ada, jika memang Anda mempercayainya tanpa keraguan, berarti keputusan yang diambil dianggap tepat.&lt;br /&gt;Dari suatu keputusan, otomatis akan memunculkan pihak yang kontra atau menolak keputusan tersebut. Orang yang hendak mengambil keputusan harus memikirkan beberapa cara untuk bisa menangkis argumen-argumen yang disampaikan mereka, berimajinasi menjadi pihak yang kontra, merasakan apa yang mereka rasakan, menyadari sepenuhnya segala konsekwensi yang akan timbul, dan menggunakan kepekaan hati nurani. Ini memerlukan kemampuan untuk melihat suatu keputusan dari sudut pandang berbeda, kemampuan yang bisa dimiliki dengan cara berusaha menjadi pihak yang kontra terhadap keputusan yang dibuat.&lt;br /&gt;Pada tahap akhir sebelum keputusan dibuat, Anda harus memberikan penilaian secara hati-hati, teliti, objektif,  dan menerima pertimbangan-pertimbangan dari hati nurani. Evaluasi pada keputusan yang hendak dibuat mampu menghasilkan sebuah keputusan yang benar-benar terbaik, sehingga efek-efek negatif yang ditimbulkan telah diantisipasi jauh hari sebelumnya. Inilah yang disebut dengan menangkap ikan di air keruh tanpa menimbulkan riak air sedikit pun. Sayangnya cara-cara ini belum diterapkan di Indonesia, sehingga berbagai keputusan yang menyangkut orang banyak justru menimbulkan masalah yang lebih besar tanpa bisa diantisipasi. Mungkin, ini akan menjadi tugas mulia orang-orang yang belajar otodidak sepanjang hayat.&lt;br /&gt;Menurut Michael R. LeGault “Cara kita membuat keputusan yang tepat dan menghasilkan kerja yang baik adalah sebuah teknik mental yang tidak seragam yang melibatkan emosi, observasi, intuisi, dan nalar kritis. Emosi dan intuisi adalah bagian mudahnya, bagian yang otomatis, skill observasi dan nalar kritis adalah bagian yang sulit, bagian yang didapatkan kemudian. Latar belakang penting bagi semuanya itu adalah dasar pengetahuan yang kuat. Semakin besar dasarnya, semakin mungkin seseorang memahami dan menguasai berbagai macam konsep, model, dan cara menginterpretasi dunia…”44&lt;br /&gt;c. Mengoptimalkan Seluruh Potensi &lt;br /&gt;Imajinasi mengembara dalam dunia samudera khayalan untuk mencari citra-citra tentang suatu hal, lalu citra-citra yang ada dikumpulkan; baik yang sama, berbeda atau yang bertentangan, lalu dicari beberapa citra utama. Citra-citra utama diperas lagi menjadi satu citra yang bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh pikiran untuk dikembangkan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Senantiasa melatih cara berpikir kritis dan kreatif, menggunakan pikiran untuk menemukan formulasi yang tepat dalam menarik kesimpulan dari sesuatu, menerusuri berbagai macam sudut pandang berbeda tentang kesimpulan tersebut, memikirkan alternatif-alternatif berbeda dari kesimpulan yang dibuat, mencari alasan-alasan yang tepat tapi bukan dibuat-dibuat dalam makna  -alasan-alasan dijadikan pembenaran terhadap kesalahan yang dibuat-, dan berusaha menemukan ide-ide orisinil.&lt;br /&gt;Perasaan perlu dicerdaskan; sebuah keberhasilan membutuhkan proses waktu yang lama, membutuhkan tenaga, membutuhkan semangat pantang menyerah, membutuhkan kegigihan agar berhasil sampai akhir, membutuhkan pengorbanan perasaan dalam hal-hal yang bertolak belakang dengannya (bertentangan dengan perasaan belum tentu salah), mengelola perasaan-perasaan negatif dengan baik, berusaha memahami perasaan orang lain dan menjalin hubungan harmonis dalam masyarakat, serta upaya pemaknaan keberhasilan dalam perspektif baru.&lt;br /&gt;Hati nurani membisikkan suara-suara terntentu yang bisa jadi bertentangan dengan pertimbangan pikiran, untuk itu perlu sintesis antara keduanya agar menghasilkan sesuatu yang “benar”. Nurani juga akan memberikan pertimbangan moral yang harus diperhatikan. Terkadang dari suara hati nurani pilihan alternatif muncul yang bisa menjadi “nilai baru.”&lt;br /&gt;Dalam bertingkah laku berusaha selalu dalam keadaan sadar, meski kesadaran saja tidak cukup untuk berbuat benar, tapi dengan kesadaran yang terjaga baik, otodidaktor bisa memaksimalkan semua potensi yang dimiliki manusia. Alam bawah sadar berusaha dikelola dengan baik, khususnya lewat bimbingan Al-Qur’an, sunnah dan hati nurani, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, kebajikan, ketulususan dan amal sholeh.&lt;br /&gt;Tubuh senantiasa dijaga untuk tetap sehat dengan makan secara teratur, bergizi dan halal, bekerja optimal sesuai kondisi tubuh, istirahat yang cukup, dan berolah raga secara rutin. Sedang jiwa diberi waktu untuk relaksasi, berdzikir, beribadah, dan meresapi kehidupan dalam perenungan. Keduanya berjalan beriringan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik penuh makna, sehingga menjemput kematian dengan senyum dikulum.&lt;br /&gt;Semua potensi manusia; pikiran, perasaan, imajinasi, kesadaran, hati, dan tubuh saling bersinergi dalam BO. Sebagai misal, imajinasi menerawang dunia citra atau khayalan yang mungkin untuk menemukan sesuatu yang berbeda, pikiran mengekplorasi lebih jauh guna membaca secara cerdas dan menghasilkan ide yang brilian, perasaan berusaha mewujudkannya dengan penuh kerja keras, semangat, kegigihan, ketekunan dan pantang menyerah, hati mengasahnya dalam dunia batin yang luas untuk menghasilkan kebenaran hakiki, melakukannya dengan penuh kesadaran tapi tetap memperhatikan saran alam bawah sadar, dan tubuh senantiasa sehat dalam proses pembelajaran seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------&lt;br /&gt;1 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, &lt;br /&gt;penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, 2002), hal 77&lt;br /&gt;2 ibid hal 48-52&lt;br /&gt;3 ibid hal Hal 64-65&lt;br /&gt;4 Howard Gradner awalnya menyebut 7kecerdasan menurut Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution,  Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, (Bandung: Kaifa, 2001), hal 343-345. Tapi kemudian memperbaiki menjadi 8 kecerdasan menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, hal 160, saya menyempurnakan menjadi 10 kecerdasan, lihat Lampiran II.&lt;br /&gt;5 Doug Hall, 3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis, &lt;br /&gt;penerjemah Mursid Widjanarko, (Bandung: Kaifa, 2004), hal 145&lt;br /&gt;6 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit Hal 71-72&lt;br /&gt;7 Donald B. Calne, BATAS NALAR, Rasionalitas dan Perilaku Manusia, (Jakarta: KPG, 2004),  hal 19&lt;br /&gt;8 ibid hal 22&lt;br /&gt;9 ibid hal 25&lt;br /&gt;10 Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos, op cit hal 300&lt;br /&gt;11 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 53&lt;br /&gt;12 Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara, Trans Media Jakarta, cet.1 2006, hal 80&lt;br /&gt;13 op cit hal 53&lt;br /&gt;14 op cit hal 171&lt;br /&gt;15 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 279&lt;br /&gt;16 H. Tedjoworo, Imaji dan Imajinasi Suatu Telaah Filsafat Postmodern, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal 21&lt;br /&gt;17 Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, Sastra dan Kultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta,  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar S.U, 2005), hal 314&lt;br /&gt;18 H. Tedjoworo, op cit hal 23&lt;br /&gt;19 Carmel Bird, Menulis Dengan Emosi, Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Penerjemah Eva Y, Penyunting Femmy Shahrani, (Bandung: Kaifa, 2001), hal 96&lt;br /&gt;20 H. Tedjoworo, op cit hal 71&lt;br /&gt;21 Budiono MA,  Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Dilengkapi dengan: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indoensia, Tata bahasa-Pemahaman bahasa kosakata-kesusastraan, Karya Agung Surabaya 2005&lt;br /&gt;22Valentino Dinsi, SE, MM, MBA dkk, Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, penyunting Iqbal Setyarso, riset M. Hariyanto, Ssi, MM, Jakarta: LET’s GO Indonesia 2004, hal 75 &lt;br /&gt;23 Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin edisi terjemahan, Kitab Keajaiban Hati&lt;br /&gt;24 Ismail Haqqi Al-Buruswi , Terjemah Tafsir Ruhul Bayan Juz IX&lt;br /&gt;, penyunting Prof. Dr. H.M.D Dahlan, hal 143&lt;br /&gt;25 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001),  hal 103&lt;br /&gt;26 Paulo Qoelho, The Alchemist, Sang Alkemis, penerjemah Tanti Lesmana, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), op cit  hal 169&lt;br /&gt;27 Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press, 2005), hal 17-18&lt;br /&gt;28 ibid hal Hal 229-230&lt;br /&gt;29 ibid hal  111-112&lt;br /&gt;30 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, (Surabaya, pt bina ilmu, 1993), hal 50&lt;br /&gt;31 Michael R. LeGault, op cit hal 23&lt;br /&gt;32 Alwisol, op cit hal  52-53&lt;br /&gt;33 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, op cit Hal 299&lt;br /&gt;34 Ismail Haqqi Al-Buruswi , Terjemah Tafsir Ruhul Bayan Juz XI, op cit  hal 210-219&lt;br /&gt;35 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid II, op cit hal 156&lt;br /&gt;36 Gilles Deleuze, Filsafat Nietsche, penerjemah Heri Winarno, penyunting Suryanto Abdullah, Ikon Teralitera Yogyakarta, September 2002, hal 56&lt;br /&gt;37Dani Cavallaro, Critical and Cultural Theory, Teori Kritis dan Teori Budaya, penerjemah Laili Rahmawati, penyunting Helmi Mustofa, (Yogyakarta: Niagara, 2004), Hal 179&lt;br /&gt;38 ibid hal 180&lt;br /&gt;39 ibid 191-192&lt;br /&gt;40 H. Tedjoworo, op cit hal 25&lt;br /&gt;41 John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, penerjemah A Gunawan Admiranto, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal 171&lt;br /&gt;42  Imam Al-Ghazali, Terjemah Mukhatsyar Ihya Ulumuddin, Kitab Keajaiban Hati&lt;br /&gt;43 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, op cit hal 257-259&lt;br /&gt;44 Michael R. LeGault, op cit hal 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Hidup (PH)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kertas putih bertuliskan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini aku berjalan dalam kelam tak bertepi&lt;br /&gt;setiap jejak langkah yang kulalui tak menemukan ujung yang pasti&lt;br /&gt;perjalanan kehidupan mengalir dalam lautan mati&lt;br /&gt;nafas-nafas kehidupan sesak dalam batin yang sunyi&lt;br /&gt;dalam dunia luas imajinasi yang tak bertepi&lt;br /&gt;aku merasakan hidup dalam deru&lt;br /&gt;kehidupan manusia terbatas waktu&lt;br /&gt;aku merasa terhimpit dalam lorong-lorong gelap tanpa cahaya&lt;br /&gt;bumi tak lebih dari sebesar bola dunia&lt;br /&gt;aku hidup dalam bayang-bayang kematian&lt;br /&gt;---kematian---kematian---kematian&lt;br /&gt;ujung hidup segenap insan&lt;br /&gt;aku pernah dekat dengan suara-suara &lt;br /&gt;tersiksa dua Malaikat tak kenal kompromi&lt;br /&gt;tubuh tak kuasa menahan sakit tak terhingga&lt;br /&gt;pikiran sirna dalam buaian derita segala derita&lt;br /&gt;perasaan lebur dalam seliput nestapa&lt;br /&gt;hati menjerit pilu menikmati sengsara&lt;br /&gt;aku pernah dekat dengan suara-suara &lt;br /&gt;memanggil lembut dalam daun telinga yang menganga&lt;br /&gt;menghadirkan dunia lain yang tak sama&lt;br /&gt;darah mengalir cepat ke ujung batas&lt;br /&gt;jantung terpompa cepat ke pojok hempas&lt;br /&gt;nafas mengalir sendu dalam selimut senja&lt;br /&gt;diri tak mampu menguasai apa yang dialami&lt;br /&gt;mendadak secarik kertas putih bertuliskan perjanjian&lt;br /&gt;menawarkan kematian dan kehidupan&lt;br /&gt;mati sirna segala rasa berganti neraka&lt;br /&gt;hidup hadir segala macam derita dunia&lt;br /&gt;aku linglung dalam menentukan yang mesti kujalani&lt;br /&gt;aku bingung tak tahu menempuh jalan yang mana&lt;br /&gt;aku tersesat dalam belantara tanpa jalan yang pasti&lt;br /&gt;aku terombang ambing ombak tengah lautan  fatamorgana&lt;br /&gt;dalam kondisi carut marut tak menentu&lt;br /&gt;aku tetap hidup dalam dunia penuh derita&lt;br /&gt;kan menjalani apa yang ada&lt;br /&gt;sampai secarik kertas menawarkan pernjanjian baru&lt;br /&gt;Wonosari, 05 Juni 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masa Lalu Merupakan Pengalaman Berharga&lt;br /&gt;a. Pentingnya Pengalaman Masa Kecil&lt;br /&gt;Pengalaman masa kecil adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Anda, baik atau buruk masa kecil yang dialami. Seringkali saat dewasa, Anda mengkhayalkan diri menjadi anak kecil yang melakukan segala sesuatu menurut kesenangan sendiri; bermain-main, berpura-pura menjadi orang dewasa, dan melakukan hal-hal yang menggembirakan lainnya tanpa memikirkan cara beradabtasi dengan lingkungan  dan orang lain, tanpa memikirkan cara memperoleh uang, dan tanpa memikirkan hal-hal sulit yang membuat orang dewasa hidup dalam ketidaktenangan.&lt;br /&gt;Sebagian Anda mengalami masa kecil buruk; terlempar ke jalanan dengan berbagai macam sebab, tidak memperoleh kasih sayang memadai dari orang tua, dan hidup serba kekurangan. Trauma masa kecil merupakan pengalaman yang menyakitkan bagi yang mengalaminya. Namun percayalah, jika mampu menanganinya dengan baik, justru sedang mempersiapkan diri menjadi “orang besar” di kemudian hari. Penderitaan, kesusahan, pengalaman buruk atau traumatis dan ketidakberuntungan merupakan sarana memperkuat mentalitas, supaya di kemudian hari mampu menghadapi segala masalah dengan cara yang tepat. Sayangnya, sebagian di antaranya tak mampu melakukan hal ini, sehingga apa yang dialami justru memperburuk keadaan saat dewasa yakni terjebak menjadi penjahat, pelacur, perampok, maling, dan tindakan-tindakan buruk lainnya, bukan menjadi “orang besar”, melainkan merupakan sumber masalah baru. Semoga tulisan ini mengetuk hati orang yang mengalaminya agar berupaya merubah diri, paling tidak menjalani hidup apa adanya dengan penuh rasa syukur seperti apa pun jalan hidup yang dilalui.&lt;br /&gt;Otodidaktor yang ingin menjadi penulis profesional, bisa menjadikan pengalaman masa kecil atau remaja sebagai harta tak ternilai, dan sumber tulisan yang paling berharga. Pengalaman masa kecil diramu sedemikian rupa menggunakan imajinasi, direnungkan dengan pikiran, diselami dengan perasaan, dan dinikmati dengan belaian hati nurani, sehingga menjadi sumber tulisan yang tidak pernah kering, membantu upaya menghasilkan tulisan yang berkualitas dan master piece atau karya terbaik. &lt;br /&gt;Pengalaman masa kecil, kenangan berharga yang harus dinikmati, bukan diratapi sebagai trauma masa lalu. Menikmati hal-hal yang indah di masa kecil atau remaja adalah sebuah perjalanan masa lalu yang menyenangkan, bisa dinikmati dalam kesendirian di atas tempat tidur atau sambil duduk menatap pemandangan yang indah. Lupakanlah pengalaman buruk, jika tidak ingin digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat bagi diri atau orang lain.&lt;br /&gt;b. Masa Lalu Bukan Barang Antik&lt;br /&gt;Sebagian orang menganggap masa lalu sebagai barang usang yang tidak bermanfaat, sehingga berusaha dihilangkan dalam ingatan dengan berbagai cara. Nyatanya, siapa pun tak mampu menghapus begitu saja masa lalu, maka cara yang tepat yakni bersikap tepat terhadap masa lalu. Masa lalu jangan dijadikan barang usang tak berguna, melainkan dijadikan “sampah organik” yang bisa diolah ulang menjadi pupuk, yang berguna untuk menyuburkan tanah dan menghidupkan tanaman.&lt;br /&gt;Sebagian yang lain menganggap masa lalu seperti barang antik yang dibeli dengan harga mahal yang harus dijaga sedemikian rupa, dirawat, diayomi, dan dipajang agar enak dilihat, sedangkan kegunaannya dalam kehidupan masa kini tidak dipedulikan. Barang antik memang berharga mahal, namun semahal-mahalnya barang antik hanya pajangan yang enak dilihat. Barang antik tersebut harus dikelola agar bernilai bagi diri dan orang lain.&lt;br /&gt;Ingatan masa lalu yang paling melekat, biasanya yang paling berkesan dalam kehidupan seseorang, itulah hakikat dari ingatan yakni mengingat hal-hal yang paling diingat. Alam bawah sadar setiap orang menyimpan berjuta-juta data atau bermilyar-milyar data sepanjang hidup, untuk itu yang diingat adalah sesuatu yang tak terlupakan. Pengalaman mengesankan ini dijadikan harta berharga untuk menjalani hidup masa kini, bukan malah dijadikan hambatan atau penghalang untuk menikmati hidup pada masa kini.&lt;br /&gt;Masa lalu merupakan sesuatu yang sangat berharga melebihi barang antik dari jenis apa pun, baik masa lalu yang baik atau buruk, asal Anda mampu mengelolanya dengan cara yang baik. &lt;br /&gt;Pengalaman buruk dijadikan pembelajaran sisi gelap kehidupan, sisi yang kadang perlu dilihat kembali agar tidak terjerembab ke dalam terowongan gelap yang sama. Pengalaman buruk dijadikan sarana memperkuat mentalitas seseorang, apa pun yang dihadapi nantinya bisa ditangani dengan baik. Pengalaman buruk dijadikan sarana mengokohkan motivasi, sehingga kualitas hidup  dapat  ditingkatkan.&lt;br /&gt;Justru pengalaman baik terkadang membuat Anda terlena, terbuai dalam kemalasan, terbawa lamunan panjang tak bertepi, dan membuat lupa diri dengan keadaan sekitar. Jadi, tidak selamanya pengalaman baik bernilai baik, malah sebaliknya, jika tidak mampu disikapi secara proporsional. Pengalaman baik merupakan sesuatu yang senantiasa disyukuri, suatu tantangan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, dan memompa semangat hidup supaya menjalani hidup penuh arti.&lt;br /&gt;c. Dengan Masa Lalu Menuju Masa Kini&lt;br /&gt;Pintu masa kini dilewati dengan membuka pintu masa lalu, berarti masa lalu adalah sarana menuju masa kini. Mengaitkan masa lalu dengan masa kini merupakan upaya setiap orang agar mampu menjalani hidup lebih baik.&lt;br /&gt;Pada masa lalu, terhitung semenjak dilahirkan ke muka bumi. Ketika lahir pertama kali, tangis adalah pembelajaran awal setelah mengalami “dunia lain” di rahim ibu tanpa mampu memahami maknanya. Dalam Islam; sewaktu di rahim ibu, janin telah melakukan perjanjian dengan Allah untuk hanya menyembah satu Tuhan yakni Allah; “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS Al-A’raf 172). Untuk itu, begitu lahir disunnahkan untuk diadzankan agar “perjanjian itu” melekat dalam sanubari anak-anak Muslim. Ketika dewasa mereka diharapkan menjadi muslim dan mukmin sejati.&lt;br /&gt;Proses pembelajaran dilanjutkan pada masa kanak-kanak yakni belajar berbicara, belajar berjalan, dan belajar melihat keadaan sekitar dengan caranya masing-masing. Memang ilmu pengetahuan baru mengungkap studi tentang pengalaman anak-anak setelah umur dua tahun, sebelum itu pengalaman hilang tanpa seseorang pun memahami ke mana perginya. Pada masa ini, bayi belajar menggunakan gerakan tubuh, perasaan dan sebagian pikirannya. Satu hal yang harus diingat para orang tua, segala perlakuan mereka terhadap anak-anaknya dan tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari akan diingat dan dijadikan tiruan. Orang tua yang baik, menjaga tingkah lakunyanya, jangan sampai bertengkar di depan mereka. Hal ini diperkuat fakta bahwa Ryan sang pembunuh berantai, salah satu sebabnya karena orang tuanya sering bertengkar di depannya. Sekali lagi, JANGAN BERTENGKAR DI DEPAN ANAK ANDA.&lt;br /&gt;Masa  sekolah adalah sesuatu yang menyenangkan bagi setiap anak, mereka mulai belajar dalam suatu lingkungan yang kondusif bagi keingintahuannya terhadap berbagai hal. Sayangnya sistem sekolah di Indonesia, cendrung “menyamaratakan” rasa keingintahuan anak dalam bingkai pengetahuan yang seragam, padahal sesungguhnya setiap anak ingin belajar dengan cara sendiri, ingin mengembangkan bakat yang dimiliki sesuai kemauan diri, dan ingin menjadi “orang” di kemudian hari sesuai dengan yang disenanginya. Sekolah yang baik di masa depan adalah sekolah yang mampu mengembangkan bakat, kecerdasan, intelegensia, emosi dan potensi sesuai dengan yang disenangi anak didiknya. Melakukan sesuatu yang disenangi membuat setiap anak mampu mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki. Ini bisa dilakukan siapa saja lewat proses BO yang akan menjadi alternatif pembelajaran pada masa depan.&lt;br /&gt;Masa sekolah ini sangat penting bagi setiap orang yang ingin berhasil BO, sebab dalam masa ini proses pembelajaran bahasa; Indonesia, Arab (untuk pesantren), Inggris dan bahasa Asing lainnya, dilakukan secara intensif. Kemampuan di bidang bahasa ini harus dioptimalkan agar memudahkan saat BO. Di samping bahasa, persiapan untuk memperdalam bidang tertentu telah ditentukan pada waktu sekolah; bidang teknik, komputer, sosial, alam, budaya, politik,  dan agama, sehingga ketika memutuskan untuk BO, “bekal masa lalu sekolah” telah memadai. &lt;br /&gt;2. Beradabtasi dengan Kehidupan Masa Kini &lt;br /&gt;a. Masa kini adalah Kenyataan Yang dihadapi&lt;br /&gt;Masa kini bisa di artikan dengan berbagai macam sudut pandang; situasi yang dihadapi dalam konteks kekekinian, ruang dan waktu yang mengitari seseorang dalam konteks kekinian, dan dalam kaitannya dengan BO adalah proses awal untuk belajar seumur hidup.&lt;br /&gt;Setuasi sekarang menyulitkan bagi setiap orang Indonesia; krisis dalam berbagai aspek tanpa kunjung akhir, musibah datang silih berganti bagai hujan yang turun di musim hujan, kehidupan sosial masyarakat yang rentan konflik karena berbagai kepentingan, dan belum pulihnya ekonomi mikro semakin memperburuk keadaan.&lt;br /&gt;Secara global, dunia masa kini berada dalam masalah yang semakin kompleks, kerancuan nilai-nilai mewarnai segala aspek kehidupan, manusia sebagai makhluk “beradab” justru semakin tidak beradap, masalah ekologi yang tidak teratasi, semakin menyempitnya ruang dunia dengan adanya globalisasi, perkembangan teknologi atau digitalisasi, melambungnya harga minyak dunia dan berbagai problematika lainnya. Untuk semakin memahami dunia sekarang, pandangan Yasraf Amir Pilliang berikut ini, perlu dijadikan bahan perenungan dan pemikiran.&lt;br /&gt;“Dunia yang dilipat  adalah dunia yang mengarah pada tingkat entropi tinggi tersebut, yang di dalamnya pesan dan makna di dalam bahasa tidak lagi dianggap penting. Yang dianggap penting adalah kegairahan dalam permainan bahasa tanda (free play of sign) dan permainan bahasa (language game) itu sendiri, yang dengan itu orang mendapat kejutan (surprise), penarik perhatian (eye catcher), dan keterpesonaan. Di dalam dunia yang dilipat, unsur-unsur pembentuk bahasa dan komunikasi dimampatkan, diacak dan dipermainkan, bukan sebagai cara untuk penyampaian pesan atau penawaran makna, akan tetapi sebagai tindak ekstasi komunikasi, yaitu kegairahan dan kesenangan dalam proses komunikasi itu sendiri.”1 &lt;br /&gt;“Dunia yang dilipat, dengan demikian, adalah sebuah dunia ekses, yaitu dunia yang bertumbuh dan membiak ke dalam bentuk-bentuk yang berlebihan, melampaui, dan melewati batas. Masyarakat global kini hidup di dalam dunia ekses tersebut, yang didalamnya segala bentuk yang banal, tak berguna, remeh-remeh, enteng, murahan, diproduksi, disirkulasikan, dan dikonsumsi, sebagai cara untuk memenuhi tuntutan ontologis, bahwa segala sesuatu harus hadir (precence), ditampilkan, ditayangkan, ditampakkan, diimanenkan di dalam ruang waktu, yang di dalamnya, meme, ide, dan informasi harus terus berproduksi, tidak peduli apakah semuanya masih berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan, kemakmuran, dan kualitas hidup manusia.”2&lt;br /&gt;Kehidupan yang semakin membingungkan ini bermakna dua hal; satu aspek hal ini menyulitkan dan aspek  lain justru menjadi peluang bagi para otodidaktor. Ini menyulitkan karena sandaran nilai semakin rancu, ambigu, membingungkan dan tidak terpahami, jalan keluarnya adalah memperkuat keyakinan beragama Islam dalam diri setiap otodidaktor agar mampu menghadapi semua itu dengan cara yang benar, sebab keyakinan beragama meneguhkan mentalitas dan moralitas otodidaktor untuk mampu menghadapi segala sesuatu dengan tepat. Ini merupakan peluang bagi otodidakor dalam rangka menemukan nilai-nilai baru yang sesuai dengan ruang dan waktu kekinian, yang bisa menjadi alternatif bagi orang lain dalam menjalani hidup pada masa kini dan mendatang.&lt;br /&gt;b. Menjalani Hidup Masa Kini &lt;br /&gt;Hidup pada masa kini adalah sesuatu yang sangat bernilai bagi setiap orang, sebab tidak setiap orang mengalaminya. Maka menjalani hidup pada masa kini dengan semua keterbatasan dan ketakterbatasan, kekurangan dan kelebihan, kesusahan dan kesenangan, penderitaan dan kegembiraan, kesengsaraan dan kebahagiaan, nasib buruk dan baik, dengan senyum dikulum dan mentalitas baja.&lt;br /&gt;Menghadapi segala sesuatu dengan senyum merupakan sebuah hasil dari proses panjang seseorang dalam menjalani kehidupan, sebab tidak mudah menghadapi segala sesuatu dengan senyum dikulum, padahal keadaan, lingkungan dan budaya memaksa untuk menumpahkan amarah yang menggumpal di dada. Orang yang banyak senyum berarti mampu menghadapi kehidupan ini secara tepat, asal tidak senyum-senyum sendiri biar tidak dianggap gila.&lt;br /&gt;Mentalitas baja juga merupakan proses dari hasil menjalani segala aspek kehidupan sampai sekarang. Mentalitas baja yang kuat menjadikan seseorang mampu menghadapi kompleksitas kehidupan ini, menjadikan kemarahan sebagai potensi, kesusahan sebagai proses penguatan mental, tantangan sebagai sesuatu yang dihadapi dengan kepala dingin, dan menyelesaikan masalah dengan tanpa menimbulkan masalah.&lt;br /&gt;Agar kehidupan yang dijalani pada masa kini memiliki arti, otodidaktor senantiasa membaca tentang berbagai hal dalam kehidupan ini, belajar sendiri dengan banyak membaca buku, belajar sendiri untuk bisa memberikan manfaat pada orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki, belajar sendiri untuk memahami semesta, belajar sendiri untuk mengerti tanda-tanda, dan belajar sendiri untuk memahami arah kehidupan pada masa kini.&lt;br /&gt;Hasil pembacaan dipraktikkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, digunakan sebagai bahan tulisan, dan disampaikan pada orang lain  tanpa pamrih. Ini menjadikan hidup yang dijalani pada masa kini lebih memiliki arti bagi diri dan orang lain. &lt;br /&gt;Prinsip menjalani hidup masa kini ialah melakukan segala suatu yang nampak jelas di depan pelupuk mata dengan tidak menunda-nundanya, mengoptimalkan segenap potensi diri dalam belajar dan bekerja, dan menikmati hidup apa adanya. &lt;br /&gt;c. Menikmati Masa Kini tanpa Melupakan Masa Depan&lt;br /&gt;Jika masa lalu merupakan pijakan menuju masa kini, maka masa kini merupakan kelanjutan untuk menuju pada masa depan. Masa depan tidak akan menjadi “sesuatu” tanpa masa lalu dan masa kini.&lt;br /&gt;Untuk itu, dalam menjalani hidup  masa kini harus turut pula memikirkan dan mengantisipasi masa depan, supaya Anda tidak menjadi “orang purba” di masa depan. Ingatlah! Segala sesuatu yang dilakukan pada masa kini akan “membentuk” masa depan Anda menjadi lebih baik atau lebih buruk.&lt;br /&gt;Sayangnya kebudayaan modern Barat mengajarkan untuk menikmati hidup pada masa kini; masa kini adalah kenyataan, masa lalu hanya khayalan dan masa depan adalah fatamorgana. Kebudayaan yang salah ini juga dikuti masyarakat Indonesia yang senang hidup dengan “meniru-niru” segala sesuatu yang berasal dari Barat karena dianggap “maju, adiluhung, mulia, dan baru”, padahal hanya “sampah” yang dibuang ke negara kita dan kita ikuti secara patuh.&lt;br /&gt;Karena hidup untuk masa kini, maka menikmatinya dengan rasa senang; pesta, alkohol, seks bebas, dan obat-obatan terlarang, dan menjalani hidup tanpa pijakan moral agama dijadikan “gaya hidup”, akibatnya kehidupan masa depan tidak dihiraukan lagi. Otodidaktor tidak boleh ikut-ikutan dengan gaya hidup ini, mereka harus menemukan gaya hidup alternatif; tetap menjalani hidup dengan penuh kegembiraan, tapi tidak melanggar nilai-nilai moral agama.  Bagaimana caranya? Mari kita imajinasikan, pikirkan, rasakan dan renungkan dengan hati nurani agar jawabannya bisa ditemukan. Beberapa ilustrasi berikut sebagai perbandingan.&lt;br /&gt;Ibadah spritual dijadikan kebutuhan hidup dan komunikasi dengan Allah, bekerja keras dan cerdas supaya dapat hasil maksimal, menikmati hasil jerih payah sesuai kebutuhan dengan menyisihkan sebagian kecil untuk bersenang-senang (asal  tidak melanggar  ajaran Islam) dan dibagikan pada orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika tidak mampu menyumbang materi, otodidaktor dapat menyumbang tenaga, pikiran dan doa.&lt;br /&gt;Alam semesta dijaga kelestarian dan ekosistemnya agar kehidupan yang dijalani tidak terancam. Isu Globang Warning akibat pemanasan global dikarenakan rusaknya lingkungan, efek rumah kaca, industrialisasi, ekploitasi kekayaan alam secara berlebihan, dan hawa nafsu manusia untuk hidup secara berlebihan. Jika Anda ingin hidup lebih nyaman, jaga kelestarian dan keasrian lingkungan Anda sendiri. Jika setiap orang di bumi bersikap seperti Anda, maka dunia semakin nyaman didiami.&lt;br /&gt;Sebagai sesama manusia, tanpa mengenal perbadaan Suku, Agama, Ras dan Keturunan, hidup saling berdampingan secara harmonis. Setiap pemeluk agama menjalankan keyakinan agama masing-masing. Sebab dalam setiap agama mengajarkan kasih sayang, keharmonisan, kebajikan, kepedulian, tolong menolong, juga menolak segala bentuk kejahatan, kemaksiatan, keculasan, kebohongan, korupsi dan manipulasi.&lt;br /&gt;3. Masa Depan yang Tidak Pasti&lt;br /&gt;a. Memahami Nilai-Nilai Baru&lt;br /&gt;Paradigma yang diulas Yasraf Amir  Pilliang dalam buku Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, mengenai nilai-nilai baru yang mewarnai kehidupan masyarakat dunia pada masa sekarang (meski dalam tulisan disebut masa mendatang, hakikatnya sedang berlangsung saat ini). Berikut ini uraian lengkapnya.&lt;br /&gt;“Beberapa indikator perspektif kebudayaan pada masa mendatang; Pertama, perkembangan sistem teknologi tampaknya akan terus berlanjut dan akan mempengaruhi keputusan-keputusan estetik. Ia bahkan berkembang ke arah complex system (misalnya stock market, ekosistem, sosio-politikal sistem, sistem ruang angkasa, sistem kultural), bahkan ke arah chaos (istilah chaos di sini tidak dalam konotasi negatif). Bersamaan dengan itu akan tercipta pula semacam kompleksitas kebudayaan, baik dalam objek, teknologi, metodologi, dan idiom.&lt;br /&gt;Kedua, tekanan ekonomi pasar bebas telah merubah konsep manusia posmodern tentang waktu, diri, individu, keluarga, masyarakat, ruang, waktu, bangsa dan negara. Ekonomi pasar bebas menuntut bahwa cara-cara fragmentasi budaya, kelenyapan batas, pastiche, kolase yang mencirikan posmodernisme tampaknya akan berlanjut pada abad 21. Namun, sekali lagi ia akan berhadapan dan dipengaruhi oleh batasan-batasan moral.&lt;br /&gt;Ketiga, tekanan moral menyangkut kemanusiaan dan lingkungan yang terus berlanjut, termasuk tekanan-tekanan pada objek kebudayaan. Berkaitan dengan tekanan tersebut, Viktor Papanek menawarkan sebuah bangsa baru objek abad 21 yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut; mengutamakan keberlangsungan hidup di planet, etis dalam pengertian ramah lingkungan dan ekologis; makna dan bentuk baru objek didasari kebutuhan nyata, bukan kebutuhan atifisial, mengutamakan pemakai ketimbang penampakan, tema, semiotika, gesture, dan sebagainya; landasan estetik adalah moral dan etika ekologis. Keharusan untuk memenuhi label produk hijau untuk setiap produk ekspor di dalam ekonomi pasar bebas nanti, dapat dikatakan merupakan satu keberhasilan konsep-konsep budaya Papanek. Meskipun, pada kenyataannya banyak pihak industri yang memanipulasi label hijau ini sebagai senjata dalam persaingan global.” 3&lt;br /&gt;Pemahaman yang benar terhadap nilai-nilai baru bisa menjadikan Anda mampu mengantisipasi masa depan dengan tepat. Yang pertama mencoba menerangkan tentang pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia, yang kedua lebih mengarah pada globalisasi dengan proyek utama yakni pasar bebas yang banyak mempengaruhi tingkah laku manusia, dan yang ketiga mengarah pada perlunya moralitas dijadikan sandaran hidup manusia masa depan.&lt;br /&gt;Sesuatu yang menarik di sini adalah penekanan pada moralitas agar mampu mengatasi efek-efek negatif dari perkembangan teknologi dan informasi, globalisasi, digitalisasi, dan perubahan tingkah laku manusia. Sebagai Muslim, sudah selayaknya apabila Anda memperkuat keyakinan beragama, ingat “keyakinan” bukan sekadar “kepercayaan”, meskipun yang pertama berasal dari yang kedua.  Ketika Islam menjadi keyakinan; nilai-nilai apa pun yang masuk dan dari mana pun; Barat, Timur, Selatan dan Utara, tidak akan mampu merubah keyakinan terhadap Islam.&lt;br /&gt;Di samping itu, ledakan informasi dalam era globalisasi dan digitalisasi diperhatikan dengan seksama. Menurut Kevin Miller, salah satu akibat paling mengkhawatirkan dari ledakan Informasi bagi pengetahuan dan pemikiran kita adalah lebih banyak informasi yang disampaikan dengan buruk dan tidak dimengerti. Informasi yang berlebihan dengan kualitas minim akan menimbulkan kebingungan, menghambat upaya berpikir kritis dan malah tidak bisa berpikir jernih, dan efek yang paling berbahaya ialah “ketidaktahuan adalah rahmat,” dari pada tahu banyak tapi tak berguna, lebih baik tidak tahu, suatu kesimpulan yang menggiring manusia pada kebodohan. Untuk itu perlu mengingat kembali perkataan Enstein “informasi bukanlah pengetahuan,” 4  jika belum diolah, dianalisa, diverifikasi, dan dipikirkan secara kritis dan kreatif. &lt;br /&gt;Masa depan bagi umat Islam juga bermakna kehidupan setelah kematian. Jika kita meyakini kehidupan setelah kematian, maka masa kini merupakan jembatan untuk mengarungi kehidupan masa depan. Perlu bekal yang cukup memadai untuk mengarungi kehidupan masa depan tersebut. Bekal bisa berupa amal sholeh (perbuatan baik), memiliki niat yang baik untuk melakukan sesuatu yang baik, menjadikan ibadah srpitual (shalat, puasa, zakat, dzikir, doa dan haji) sebagai kebutuhan bagi diri, berusaha tulus dalam melakukan kebaikan, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, memperkuat keimanan dan ketakwaan, rendah hati bukan rendah diri, sabar, menepati janji, jujur dan menjadikan Islam sebagai alternatif kehidupan masa depan.&lt;br /&gt;b. Memaknai Nilai-Nilai Baru &lt;br /&gt;Para otodidaktor memiliki peluang untuk belajar lewat elektronik dalam  abad 21 ini, “Untungnya, revolusi teknologi-informasi menciptakan bentuk baru pendidikan interaktif berbasis elektronik yang akan berkembang menjadi sistem pembelajaran sepanjang hayat yang memungkinkan hampir setiap orang belajar tentang hampir setiap hal dari mana saja dan kapan saja,” Willian E. Halal dan Lesowit dalam The Futurist.5 Peluang ini dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara belajar memahami teknik belajar lewat elektronik ini.&lt;br /&gt;Bentuk pembelajaran berbasis internet disebut dengan e-learning  yang kini mulia diterapkan sebagian masyarakat Indonesia, sebagai contoh Aa Gym mempopulerkan pesantren Virtual atau maya, dan para santri Qoryah Thayyibah di Salatiga, mempelajari metode bertani secara organik, lalu mempraktikkannya. Para otodidaktor harus mampu mempelajari hal ini, sekaligus mempraktikkan langsung.&lt;br /&gt;Sebagai gambaran cara belajar melalui Dunia Maya. Pertama; manfaatkan mesin pencari www.google.co.id atau www.yahoo.co.id untuk mencari informasi yang Anda inginkan, setelah itu copy atau downloud ke flash disk, Ipod, Hp atau Laptop. Kedua; bergabung dengan wibe site gratis sesuai dengan yang Anda sukai, untuk Ensklopedi gratis di www.wikipedia.com, untuk yang senang sosial dapat bergabung dengan www.facebook.com, untuk yang berwirausaha www.pengusahamuslim.com, untuk yang senang informasi dapat bergabung dengan www.kaskus.us, www.detik.com, www.pembelajar.com, dan melalui beberapa media yang online. Ketiga; membuat email atau blog, jika email berfungsi sebagai surat menyurat via internet, maka blog (www.wordperss.com atau www.multiplay.com) menjadi sarana Anda untuk menulis secara bebas, tidak peduli tulisan Anda bagus atau jelek, yang penting bermanfaat. Keempat; berkorespondensi dengan siapa saja di internet; penulis, pelajar, dosen, guru, profesor, pengusaha, pejabat, atau rakyat biasa, baik lewat Chatting, surat menyurat dengan email, dan sarana lainnya sebagai upaya berdiskusi guna menambah ilmu pengetahuan. Kelima; analisa dan kritisi setiap informasi yang diperoleh, jangan langsung diterima apa adanya.&lt;br /&gt;Untuk menaklukkan era global, kemampuan BO tentang dunia maya atau internet benar-benar sangat dibutuhkan. Jack Ma, Chairman &amp; Ceo Alibaba Group yang merupakan salah satu dari lima perusahaan internet terbesar di dunia dengan omset sekitar USD 4 milyar, padahal mulai belajar komputer pada tahun 1995, tapi berkat semangat pantang menyerah untuk belajar membuatnya berhasil. Awalnya dia mendirikan China Pages, lalu pada tahun 1999 mendirikan Alibaba.com, sempat mengalami pasang surut, sebelum mampu menjalin kerja sama dengan Yahoo.com tahun 2005. Inilah cikal bakal Alibaba Group yang terdiri dari situs maya e-comerce global, Alibaba.com dan Taobao, search engine, pembayaran online (Aliplay), dan bisnis perangkat lunak (Alisoft). (Seputar Indonesia, Juli 2007).&lt;br /&gt;Untuk itu, semua potensi yang merupakan anugerah Allah yang berupa; imajinasi, pikiran, perasaan, hati nurani, intuisi, kesadaran dan tubuh yang harus dimanfaatkan secara optimal. Optimalisasi  semua potensi dalam rangka memaknai nilai-nilai baru adalah suatu keharusan menuju hidup pada masa mendatang.&lt;br /&gt;Imajinasi dibiarkan bebas untuk menemukan kemungkinan baru. Pikiran diasah untuk memikirkan beberapa alternatif jalan keluar dari kompleksitas masalah. Perasaan dijadikan penyeimbang pikiran dalam mencari jalan keluar yang tepat untuk masalah yang tepat, berbicara dengan hati nurani tentang berbagai hal agar ditemukan kedamaian, menghidupkan intuisi, menjadikan tingkah laku selalu dalam kesadaran yang benar, dan menjadikan tubuh sebagai orkestra yang memainkan irama yang indah.&lt;br /&gt;Eksplorasi terhadap semua potensi dimanfaatkan dalam proses BO, sehingga otodidaktor berhasil menemukan nilai-nilai baru yang tetap berpijak pada landasan moral agama. &lt;br /&gt;Kesuksesan otodidaktor salah satunya diukur sejauh mana mampu memberikan alternatif terhadap nilai-nilai baru yang  tidak memanusiakan manusia. Jadi, meskipun menghasilkan banyak karya; baik karya tulis atau karya nyata di masyarakat, harus dilanjutkan dengan langkah mencari alternatif-alternatif baru secara kreatif lewat proses pembelajaran seumur hidup.&lt;br /&gt;c. Menjadi Tokoh Seribu Tahun Lagi&lt;br /&gt;Anda diam-diam bermimpi seperti Khairil Anwar yakni hidup seribu tahun lagi. Hidup seribu tahun lagi adalah hidup yang tetap bisa dijalani dalam bentuk “nilai dan makna”, walau nyawa telah berpisah hidup dari badan. Kematian hanya mengubur jasad seseorang, sedang jiwa, nilai dan makna dari sumbangsih yang diberikan tetap abadi dalam benak orang-orang yang menjalani kehidupan pada masa depan.&lt;br /&gt;Khairil Anwar tidak akan hidup seribu tahun lagi, jika dirinya tidak berpikir tentang masa depan, merasakan setiap hembusan kata dalam puisinya yang menginspirasi kehidupan masyarakat Indonesia sampai saat ini. Jadi, masa depan sama pentingnya dengan masa kini, jika ingin merasakan hidup seribu tahun lagi.&lt;br /&gt;Untuk itu, setiap otodidaktor sesuai bidang yang disukainya, perlu memikirkan, mengimajinasikan, dan merenungkan masa depan agar bisa diwarnai dengan tinta-tinta emas sejarah yang bisa bersifat abadi. Ini akan terwujud bila dilakukan sepenuh hati, rasa, dan jiwa, dengan tanpa memikirkan imbalan apa yang diperoleh. Ingatlah! Sesuatu yang abadi tidak mesti bernilai harta.&lt;br /&gt;Memang, kehidupan pada zaman ini memaksa setiap orang untuk menilai kesuksesan dari materi semata. Inilah gaya berpikir kapitalis yang harus dikikis perlahan-lahan, bahkan di negara maju hal ini mulai ditinggalkan. Jika segala sesuatu dinilai dengan uang atau materi, maka agama akan hilang di muka bumi, sebab nilai-nilai agama dibangun bukan dari fondasi materi atau uang. Ini bukan berarti uang dan materi tidak penting, keduanya tetap penting asal tetap dijadikan “alat” bukan “tujuan”.&lt;br /&gt;Otodidaktor yang ingin hidup seribu tahun lagi perlu beberapa langkah berikut; menjadikan belajar sebagai kebiasaan hidup, melakukan pembacaan secara kritis dan kreatif, belajar melalui dunia maya, belajar pada tanda-tanda yang muncul dalam kehidupan dan sunnatullah, meneropong masa depan untuk dimaknai dalam konteks masa kini, mendalami Al-Qur’an yang otentik sepanjang masa, menggali nilai-nilai baru, dan menulis apa saja asal bermanfaat. Lewat media tulisan puisi Khairil Anwar bisa hidup seribu tahun lagi, maka otodidaktor bisa melakukan hal yang sama. Sedang pengetahuan yang berhubungan dengan karya tulis diuraikan dalam bab kelima. Ini harus dikuasai otodidaktor nantinya.&lt;br /&gt;d. Meraih Masa Depan dengan Berpijak pada Masa Kini&lt;br /&gt;Pandangan Carl Gustav Jung tentang pentingnya masa depan bagi manusia sangat menarik sekali, Jung menolak pandangan Freud tentang pentingnya seksualitas, baginya kebutuhan seks sama dengan kebutuhan manusia terhadap makan, minum, spritual dan religius, dia juga menolak pandangan Freud yang terlalu terjebak pada masa lalu, baginya pandangan orang tentang masa depan, tujuan dan aspirasinya sama pentingnya dengan pengalaman masa lalu.6&lt;br /&gt;Pintu masa depan terbuka depan di pelupuk mata, hanya akankah Anda mampu hidup di masa depan dengan cara yang benar, atau justru menjadi “sumber masalah” masa depan. Jika Anda terjebak menjadi yang kedua dari yang pertama, maka bisa dikatakan upaya BO gagal total, tapi jika sebaliknya, itu berarti salah satu pilar kehidupan telah ditegakkan, kesuksesan tinggal menunggu momentum.&lt;br /&gt;Prinsip bahwa masa depan dibangun masa kini dan masa lalu dipegang teguh, dan terus menerus diperbaharui agar bisa menyesuaikan diri sekaligus menjadi pelopor pada masa mendatang. Menjadi “pelopor” dalam berbagai bidang yang ditekuni akan berhasil bila mampu menyikapi masa lalu sebagai sumber masa kini, dan masa kini merupakan sarana dan bekal menuju masa depan.&lt;br /&gt;Penting untuk diingat mengenai kehidupan masa kini yakni kehidupan dijalani dengan penuh semangat, kerja keras, mental baja, kemampuan menggabungkan antara kerja dan pengetahuan, belajar tiada henti dengan berbagai cara, sabar, dan bertawakkal pada Allah apa pun hasil yang diperoleh, tawakkal adalah hal terakhir yang dilakukan setelah usaha yang super sangat optimal. Kehidupan masa kini memang harus dinikmati, tapi ingatlah bahwa kehidupan masa depan selama masih hidup dan setelah kematian menanti sumbangsih apa yang bisa diberikan pada kehidupan ini. &lt;br /&gt;Arah kehidupan memang senantiasa berputar seperti halnya bumi berputar pada porosnya, jika saat ini Barat menjadi penguasa tunggal dunia dipimpin AS, tiada beberapa lagi China mungkin menyusul, nanti insya Allah ada kekuatan lain yang akan memimpin. Semoga kekuatan tersebut adalah Islam, sebab Islam memenuhi syarat untuk memimpin dunia dengan lebih bijaksana. &lt;br /&gt;Menurut Hasan Hanafi “.... Spirit dunia, pergerakan sejarah, dan perubahan nasib boleh jadi merupakan fenomena global yang dialami setiap budaya. Tantangan adalah bagaimana mengetahui arah masa depan. Dunia global bagi pusat bisa jadi akhir masa modern dari Cogito (Descartes) ke Cogitatum (Husserl), dari Discours a la methode (Descartes) ke Againt Methode (Fayerabend), dari Critique of Pure Reoson (Kant) ke Farewel to Reason (Fayerabend), dari great restoration (Bacon) ke Dekonstruksionisme (Derrida), dari awal modern ke akhir era modern. Lingkaran eurosentrisme mungkin telah berakhir. Zeitgeist baru mungkin sedang berhembus dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, tanda ataukah realita, pertanda ataukah hukum sejarah, janji atau pemenuhan, siapa bisa menjawab? Tidak ada seorangpun yang tahu.” 7 Saya yakin yang dimaksud Hasan Hanafi adalah kebangkitan dunia Islam. &lt;br /&gt;Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim memenuhi syarat untuk menjadikan semua itu menjadi kenyataan bukan impian semata. Itu bisa terjadi, bila jutaan umat Islam mampu menjadikan masa lalu Islam sebagai sarana menuju masa kini, memberi warna pada masa kini, mengantisipasi depan dengan langkah-langkah brilian, dan menjadi otodidaktor yang sejati dengan tidak menyempitkan ruang belajar hanya di “sekolah atau universitas”  saja.&lt;br /&gt;4. Menjadi Pelopor Perubahan&lt;br /&gt;Untuk menjadi pelopor perubahan ke arah yang lebih baik, perlu dedikasi,  usaha gigih, mental kuat, semangat pantang menyerah, pengetahuan, keyakinan Islam dan kemampuan untuk membaca masa depan. Untuk lebih jelasnya, uraian berikut mencoba mengulas tentang makna dan karakteristik perubahan, mengelola efek-efek negatif dari masa transisi dalam suatu perubahan, memulai perubahan dari diri sendiri, dan mempelopori suatu perubahan.&lt;br /&gt;a. Makna Perubahan&lt;br /&gt;Perubahan menurut Heddy Shri Ahimsa Putra: pertama; sesuatu dianggap berubah mencerminkan asumsi-asumsi yang ada pada diri seseorang dengan mengatakan sesuatu telah berubah, ini biasanya dilekatkan pada sesuatu yang dianggap berbeda dengan sebelumnya, kedua; apa yang dikatakan berubah hakikatnya merupakan kelanjutan dari masa silam.8 Dari pendapat ini intinya ialah adanya asumsi tentang suatu perubahan, adanya sesuatu yang berbeda sehingga dianggap berubah, dan perubahan yang terjadi merupakan proses dari masa lalu menuju masa kini. &lt;br /&gt;Makna perubahan ini mengindikasikan bahwa kehidupan manusia mengalami perubahan terus menerus, dengan kecendrungan ke beberapa bentuk; perubahan biasa, perubahan alami, perubahan radikal, dan perubahan yang tak terkendali. Perubahan biasa; perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik disadari atau tidak. Perubahan alami; perubahan yang terjadi karena proses alamiah atau berlangsung secara perlahan-lahan. Perubahan radikal; perubahan yang terjadi secara frontal sampai manusia kebingungan menghadapinya. Perubahan tak terkendali; perubahan yang menimbulkan kekacauan, sehingga manusia tak bisa memegang kendali atas perubahan tersebut.&lt;br /&gt;Hakikat kehidupan senantiasa berubah senyampang kehidupan masih ada. Ini berarti setiap orang akan mengalami berbagai perubahan dalam hidupnya, hanya saja yang membedakan yakni cara menghadapi perubahan yang terjadi. &lt;br /&gt;Orang yang optimis berusaha menghadapi perubahan, meski yang terburuk sekalipun, berupaya mencari jalan keluar yang tepat, menghadapi dengan kepala dingin, melakukan perenungan dan pemikiran yang matang, sehingga mampu menjadi salah seorang aktor perubahan. Orang yang pesimis cendrung bersikap defensif, malah akan menolak perubahan, mereka didukung kekuatan status quo atau kelompok mapan yang menikmati masa kejayaan kala sebuah perubahan belum terjadi. Sintesis keduanya cukup menarik untuk direnungkan, satu aspek tidak boleh terlalu optimis, sebab perubahan terkadang justru membawa dampak-dampak negatif yang tidak bisa diatasi, satu aspek sedikit rasa pesimis akan membuat orang-orang yang berusaha mempelopori atau terlibat dalam perubahan menjadi mampu mengantisipasi setiap permasalahan yang muncul.&lt;br /&gt;Kelompok optimis biasanya memiliki semangat baja untuk menggerakkan perubahan, tapi karena optimisme yang tidak disertai visi, misi, paradigma dan tujuan dari perubahan, menjadikan perubahan yang ada di luar kendali mereka, sehingga perubahan justru memperburuk keadaan yang sudah buruk, bukan menjadi solusi yang tepat terhadap kompleksitas permasalahan yang muncul. Sebagai misal; pelopor reformasi memiliki semangat baja menggerakkan mahasiswa dan massa, demikian juga kelompok intelektual, sebagian militer, dan birokrat yang merasa mendapat peluang untuk “tampil”, tapi saat bersamaan visi, misi, paradigma dan tujuan tidak jelas, penuh kontradiktif, dan rancu, sehingga begitu reformasi berhasil menumbangkan Soeharto, justru krisis multi dimensi yang melanda Indonesia tanpa bisa diatasi sampai sekarang, meski kepemimpinan nasional telah berganti sebanyak empat kali.&lt;br /&gt;Kelompok pesimis biasanya bersikap pasif dan menolak segala perubahan yang terjadi. Berhubung mereka bersikap pasif, maka mereka cendrung dijadikan “alat” kelompok tertentu yang menginginkan perubahan agar tidak terjadi. Contohnya; berhubung reformasi tidak mampu menawarkan solusi dari kompleksitas permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat krisis, ini diperparah dengan semakin menurunnya daya beli masyarakat atau pertumbuhan ekonomi tidak dapat dinikmati rakyat kecil, maka orang-orang yang pesimis ini merindukan masa-masa “jaya” Soeharto dulu, padahal sesungguhnya munculnya krisis karena kesalahan Soeharto yang menganak emaskan para konglomerat, salah mengelola perbankan sehingga menyebabkan krisis ekonomi, korupsi yang dibungkus rapi, dan sikap represif menjadikan rakyat seperti kambing-kambing yang digembalakan seorang pengembala, akibatnya ketika reformasi muncul seperti kuda yang lepas dari kandang setelah puluhan tahun tak pernah keluar kandang.&lt;br /&gt;Reformasi mau tidak mau harus diterima masyarakat dengan segala konsekwensinya, sebab reformasi  telah membawa perubahan yang sangat berarti di berbagai bidang; produk undang-undang lebih bisa “mengakomodasi” kepentingan rakyat (ada sebagian yang membela kepentingan kelompok tertentu), aparat kepolisian di bawah Jendral Soetanto menunjukkan perubahan yang positif dengan berbagai prestasi yang mencengangkan dan perubahan peran polisi yang lebih bisa memberikan pelayanan dari pada menakutkan rakyat (meski di daerah tertentu masih belum berubah), reformasi di militer terus menerus dilakukan yang bisa membawa efek positif, demokrasi bisa dilaksanakan tanpa menimbulkan pertumpahan darah, kerusuhan di berbagai daerah mulai bisa diatasi, proses demokrasi menuju arah yang positif, dan adanya semangat yang besar untuk memasukkan nilai-nilai Islam dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Semua itu menimbulkan optimisme menatap masa depan, meskipun di sana-sini masih banyak masalah yang belum teratasi; usaha kecil dan menengah yang kurang mampu dijadikan basis ekonomi utama, belum banyaknya investor asing yang masuk membuat lapangan pekerjaan semakin sulit, menurunnya daya beli masyarakat, meningkatnya pengangguran dan kemiskinan. Jika semua permasalahan ini diatasi, kita optimis terhadap masa depan Indonesia.&lt;br /&gt;b. Karakteristik Perubahan&lt;br /&gt;Beberapa karakteristik perubahan menurut Rhenald Kasali, Ph.D dalam bukunya Change: pertama; ia begitu misterius karena tak mudah dipegang, kedua; change memerlukan change maker(s) orang-orang yang berinisiatif melakukan perubahan, ketiga; tidak semua orang bisa diajak ke arah perubahan, malah bersikap sebaliknya, keempat; perubahan berlangsung setiap waktu, maka perubahan diciptakan setiap saat pula, kelima; perubahan memiliki sisi keras (uang dan teknologi) dan sisi lembut (manusia dan organisasi), keduanya harus diberi perhatian yang seimbang dan saling mengisi, keenam; perubahan pasti memerlukan biaya, waktu dan kekuatan, ketujuh; memerlukan usaha-usaha khusus dalam melakukan perubahan terhadap nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat, kedelapan; setiap perubahan memunculkan banyak mitos seperti perubahan menciptakan kemajuan, padahal bisa sebaliknya bila salah mengelola, kesembilan; perubahan akan menimbulkan espektasi yang bisa menggugah emosi, memunculkan harapan, dan sekaligus menimbulkan kekecewaan-kekecewaan, kesepuluh; setiap perubahan akan menimbulkan rasa takut dan kepanikan, yang harus diantasipasi sedini mungkin.9 &lt;br /&gt;Misteri adalah sesuatu yang muncul penuh dengan berbagai pertanyaan yang sulit menemukan jawaban pasti. Misteri adalah sebuah kegelapan tanpa cahaya. Misteri adalah rahasia yang sulit dimengerti setiap orang yang mengalaminya. Menjadikan perubahan sebagai sesuatu yang misterius adalah memunculkan pertanyaan kritis yang sulit ditemukan jawabannya, untuk itu perlu perenungan dan pemikiran supaya ditemukan jawaban yang mendekati, meski bukan jawaban yang paling benar. Kegelapan diatasi dengan berusaha menemukan “obor” penerang yang berupa semangat untuk belajar terus menerus, membersihkan hati agar ditemukan sebintik cahaya penerang. Sedang sebagai sebuah rahasia, tentu dipahami setelah perubahan benar-benar terjadi, maka ketika perubahan tak terhindarkan, setiap orang harus memiliki tanggung jawab untuk turut serta memberi makna terhadap perubahan yang terjadi, sehingga perubahan menuju ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;Dalam  proses perubahan, biasanya memunculkan orang-orang yang terlibat langsung untuk mempelopori atau menggerakkan perubahan, sebab setiap perubahan memunculkan aktor-aktor yang berjasa di balik itu. Otodidaktor diharapkan mampu menjadi salah seorang aktor perubahan, sebab dengan semangat belajar seumur hidup untuk memahami, mengerti, mendalami, memaknai, dan berbudi pekerti yang luhur, dilaksanakan tanpa mengenal rasa lelah dan putus asa. Setiap kesalahan, kekeliruan dan krisis dijadikan sarana pendorong untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.&lt;br /&gt;Karena tidak setiap orang bisa diajak untuk mengikuti perubahan yang ada, malah sebagian di antaranya justru berusaha menghalangi dengan segala cara, meskipun gagal juga. Otodidaktor harus masuk ke dalam arus perubahan, tapi bukan sebagai pengikut arus perubahan, melainkan berusaha memberi warna terhadap perubahan yang terjadi. Ini bisa dilakukan jika seluruh potensi manusia; imajinasi, pikiran, perasaan, kesadaran, hati nurani dan tubuh, bisa dioptimalkan.&lt;br /&gt;Perubahan yang terjadi setiap saat dibaca dengan kritis, dipilah-pilah mana perubahan yang membawa dampak yang positif terhadap diri dan masyarakat, dan mana yang justru berakibat negatif. Perubahan yang tidak dihindarkan, harus diantisipasi dengan berusaha mencari nilai-nilai baru yang sesuai, yang mana nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam. Malah, Islam dijadikan sandaran nilai untuk menghadapi segala perubahan, tentu saja setelah mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan praktis sehari-hari masyarakat, bukan dijadikan semboyan dan simbol semata.&lt;br /&gt;Untuk melakukan perubahan dibutuhkan manusia dan organisasi, di samping uang dan teknologi. Sumber daya manusia ditingkatkan sedemikian rupa lewat jalur belajar sendiri, waktu kosong dimanfaatkan dengan kegiatan yang bernilai, dan kompetensi senantiasa ditingkatkan agar bisa merekayasa perubahan. Organisasi bukan sekadar sarana berkelompok, melainkan upaya berdialog untuk melahirkan paradigma perubahan, memperkuat kemampuan berogranisasi untuk menghadapi perubahan, dan membentuk organisasi solid yang bisa bekerja sama dengan segala macam organisasi lainnya supaya turut andil dalam perubahan yang terjadi. Uang dimanfaatkan untuk membiayai “ongkos-ongkos” perubahan dengan biaya yang seefisien mungkin, sehingga tidak sampai “menggadaikan diri” pada kepentingan tertentu yang menginginkan perubahan sesuai keinginan mereka. Pemanfaatan teknologi-teknologi baru yang bisa diajak bekerja sama dengan manusia, dan menanggulangi efek-efek buruk yang dibawa.&lt;br /&gt;Pengorbanan waktu, tenaga, dan kekuatan dari setiap orang yang terlibat perubahan harus dipikul bersama agar lebih ringan. Untuk itu, orang yang mempelopori suatu perubahan dituntut mencetak orang-orang yang akan terlibat dalam perubahan tersebut, memanfaatkan waktu yang ada dengan baik, dan mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki untuk melahirkan perubahan. &lt;br /&gt;Nilai-nilai dasar yang terlanjur dianut masyarakat dilihat dari berbagai macam sudut pandang; yang menghambat perubahan positif berusaha dihilangkan perlahan-lahan, yang mendukung arus perubahan berusaha diperkuat, yang tidak membawa efek buruk pada perubahan dibiarkan, dan mencoba mencari nilai-nilai baru yang lebih baik. Dalam konteks ini, konsep; menjaga nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik, dijadikan sandaran utama dalam memberikan penilaian terhadap tradisi-tradisi yang dianut masyarakat.&lt;br /&gt;Mitos-mitos perubahan diarahkan pada sesuatu yang positif. Maka tidak setiap mitos dimusnahkan, melainkan mitos yang bisa dijadikan sarana motivasi untuk menggerakkan perubahan, justru disosialisakan, asal tidak dilihat secara hitam putih. Artinya mitos-mitos itu tetap harus dilihat secara kritis.&lt;br /&gt;Setiap perubahan menimbulkan harapan sekaligus kecemasan, harapan terhadap sesuatu yang lebih baik pasti melewati jalan berliku-liku yang dilalui perubahan, sehingga tantangan apa pun berusaha diatasi dengan baik. Kecemasan pada segala sesuatu, justru menimbulkan masalah-masalah baru tanpa ditemukannya solusi yang tepat. Kecemasan dikelola agar tidak menghalangi, sebaliknya harapan jangan terlalu muluk, melainkan diwujudkan pada sesuatu yang mungkin bisa dicapai.&lt;br /&gt;Manusia hidup antara rasa takut dengan berani, takut pada perubahan yang memperburuk keadaan, dan terlalu berani melakukan perubahan juga kurang baik. Bersikap di antara keduanya lebih baik. Ada kalanya perubahan ditakuti, sehingga segala sesuatu dipertimbangkan dengan matang, sedang keberanian dibutuhkan dalam melaksanakan suatu perubahan yang terencana. &lt;br /&gt;Dalam melakukan perubahan, diperlukan strategi yang jitu. Strategi perubahan menurut Black &amp; Gregersen (2002) via Rhenald Kasali Ph.D, yang membaginya dalam tiga kategori. Pertama; perubahan antisipatif; orang-orang yang menginginkan perubahan harus mengantisipasi segala sesuatu; positif dan negatif, sehingga dampak-dampak negatif bisa dicarikan solusi yang tepat, untuk itu diperlukan visi, paradigma dan misi yang jelas dari para pelopor peruhan. Kedua; Perubahan Reaktif, orang-orang melakukan reaksi terhadap perubahan yang terjadi, suatu reaksi yang tepat dibutuhkan agar tidak menjadi korban perubahan. Ketiga; Perubahan Krisis, dalam masa krisis, tidak stabil dan chaos, perubahan memaksa setiap orang untuk berubah, sebab orang-orang membutuhkan nilai-nilai baru yang dianggap bisa beradabtasi dengan perubahan yang ada, maka bagi para pelopor perubahan, krisis adalah suatu kesempatan, peluang dan momentum yang tepat untuk mempelopori suatu perubahan, sekaligus menawarkan nilai-nilai baru yang lebih baik.10 &lt;br /&gt;c. Mengatasi Efek-efek Negatif dari Suatu Perubahan&lt;br /&gt;Kebudayaan laten negatif yang dibawa masa transisi menurut Deal &amp; Kennedy (1998) via Rhenald Kasali Ph.D;&lt;br /&gt;1. “Budaya Ketakutan (culture of fear)&lt;br /&gt;2.  Budaya Menyangkal (culture of denial)&lt;br /&gt;3. Budaya Kepentingan Pribadi (culture of self &lt;br /&gt;interest)&lt;br /&gt;4. Budaya Mencela (culture of cynicism)&lt;br /&gt;5. Budaya Tidak Percaya (culture of distrust)&lt;br /&gt;6. Budaya Anomi (culture of anomie)&lt;br /&gt;7. Budaya Mengedepankan Kelompok (the rise of  underground subcultures)”11&lt;br /&gt;Ketakutan dikelola dengan baik, beberapa cara yang dikemukakan Doug Hall berikut, bisa ditempuh otodidaktor untuk menghadapi ketakutan; melakukan hal yang benar dalam betingkah laku, berbicara, dan dalam segala aspek kehidupan, memanfaatkan penderitaan yang dimiliki untuk mendapatkan keuntungan, ingat orang-orang besar adalah orang-orang yang banyak menderita, berusaha mencoba, dan selalu mencoba untuk berani, sebab tetesan air secara terus menerus dapat melubangi batu, mengurangi ongkos kegagalan dan meningkatkan keberanian; belajar dengan biaya murah untuk sukses, gagal dengan cepat dan bangkit dengan cepat, mengelola ketakutan sebagaimana mengelola modal usaha perdagangan atau pinjaman dari Bank; melakukan perencanaan jangka pendek dan panjang, memainkan kemungkinan bukan kepastian dengan cara memahami setiap resiko dan mengurangi efek negatifnya, melakukan sesuatu yang tidak sama dengan norma umum keliru yang berlangsung di sekitar kita, dan merubah kerangka acuan dengan melihat ke belakang secara menyeluruh.12&lt;br /&gt;Menyanggah atau menyangkal pendapat orang lain, bahkan menolak apa pun yang dikatakannya dengan tanpa dasar dan argumen yang jelas, justru memicu timbulnya berbagai masalah baru. Ini berlangsung dalam era reformasi sampai sekarang; senang mencari-cari kesalahan orang lain, senang membicarakan keburukan orang, senang bergosip ria, senang mencari kambing hitam, dan senang melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain dengan perkataan-perkataannya. Otodidaktor dituntut mampu berbicara sesuai kebutuhan, lebih baik diam dari pada berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahui. &lt;br /&gt;Kepentingan menjadi sesuatu yang diagungkan sebagaimana akal pernah sangat diagungkan kebudayaan Barat. Setiap tindakan selalu dinilai sejauh mana kepentingan diri bisa diakomodir, jika tidak, maka pasti ditolak, meskipun itu sesuatu yang baik atau suatu perubahan yang bisa membawa umat Islam pada kehidupan yang lebih baik.  Parahnya, orang-orang yang berusaha bersikap tulus dianggap memiliki kedok tertentu di balik sikap-sikapnya itu. Sehingga menimbulkan rasa takut berlebihan untuk bersikap tulus tanpa pamrih.&lt;br /&gt;Suatu kebudayaan akan menjadi lebih baik, jika orang-orang yang ada di dalamnya berusaha bersikap tulus dalam segala tindakan, dengan meminimalisir kepentingan-kepentingan pribadi yang biasanya mengiringi setiap tindakan. Ketulusan untuk membantu orang lain agar berhasil belajar sendiri secara maksimal. Ketulusan membantu orang lain agar mampu melakukan pembacaan secara kritis dan konstruktif. Ketulusan membantu orang lain mampu menemukan solusi yang tepat dari permasalahan yang dihadapi. Ketulusan membantu orang lain agar interaksi sosial berlangsung secara harmonis. Ketulusan membantu orang lain agar  keluar dari kebodohan dan kemiskinan.&lt;br /&gt;Mencela orang lain atas tindakan keliru yang dilakukannya, padahal terkadang diri melakukan kekeliruan yang sama. Mencela bisa menjadi suatu budaya, jika saling mencela dilaksanakan bahan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga seakan-akan tiada hari tanpa mencela orang lain. &lt;br /&gt;Supaya tidak membiasakan diri mencela orang lain, cobalah untuk menjadi orang yang dicela, rasakan penderitaan menjadi orang yang dicela, jika ternyata justru menggelisahkan, menimbulkan kecemasan dan menimbulkan rasa takut, maka sedikit demi sedikit mulai mengurangi untuk mencela orang lain, sampai suatu kelak bisa menghilangkan sama sekali. Otodidaktor bukan sekadar menghindarkan diri mencela orang lain, melainkan juga berusaha menghibur orang-orang yang dicela dan memberikan pengertian pada mereka.&lt;br /&gt;Kepercayaan, kini menjadi sesuatu yang mahal harganya, padahal dalam interaksi sosial justru nilai kepercayaan sangat penting sekali. Ketika seseorang berhubungan dengan perbankan, maka kepercayaan menjadi pegangan nomer satu. Ketika orang tua bekerja agar anaknya berhasil kelak, maka kepercayaan orang tua akan menjadi tanggung jawab bagi anaknya. Ketika seseorang berusaha beradaptasi dengan lingkungan, faktor kepercayaan sangat penting. Ini semua menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi salah satu pijakan manusia. Namun bersikap selalu percaya pada orang lain, terkadang ditipu dan dipermainkan orang. &lt;br /&gt;Dengan demikian otodidaktor perlu menumbuhkan sikap percaya pada orang lain,  namun tetap berhati-hati agar kepercayaan tidak disalah artikan. Artinya otodidaktor percaya dengan proporsi tertentu, dan menyimpan sedikit rasa curiga. Tapi ingat, jangan sampai rasa curiga selalu menguasai diri, sehingga kepercayaan menjadi hilang, inilah yang terjadi pada bangsa Indonesia sekarang ini.&lt;br /&gt;Serbuan kebudayaan luar akibat globalisasi menjadikan masyarakat Indonesia memiliki gaya hidup meniru orang Barat secara instan. Apa pun yang berasal dari Barat dianggap bagus, sedang apa pun yang berasal dari bangsa Indonesia sendiri dianggap jelek dan ketinggalan zaman. Sayangnya media cetak dan elektronik cendrung membenarkan hal ini dengan berbagai macam cara, simulasi, kemasan, dan bentuk, sehingga disadari atau tidak, masyarakat Indonesia perlahan-lahan kehilangan jati diri. &lt;br /&gt;Ini harus menjadi bahan pemikiran bagi otodidaktor; pendapat, konsep, paradigma, dan filosofi mereka harus kebalikan dari hal itu. Mereka senantiasa berupaya menggali jati diri bangsa Indonesia dengan berusaha mewarnainya dengan nilai-nilai Islam yang luhur, suatu perangkat nilai yang pernah mampu membawa umat Islam di puncak kejayaan. Cara berpakaian masyarakat Indonesia yang sederhana dipadu dengan cara berpakaian Islam yang sopan, sehingga melahirkan fashion yang berasal dari jati diri bangsa. Dalam berpikir, Barat dijadikan obyek pembelajaran, sedang subyek  tetap diri sendiri, sehingga bisa memberikan penilaian yang obyektif terhadap kebudayaan mereka. Gaya hidup Barat sangat kering dari nilai-nilai spritual, sebab mereka memisahkan agama dari kehidupan nyata sehari-hari, sedang umat Islam memadukan antara nilai spritual dan sosial untuk bisa berjalan beriringan.  &lt;br /&gt;Secara internal, kelompok-kelompok Islam yang ada cendrung berdiri sendiri tanpa mengadakan sinergi dengan kelompok-kelompok Islam yang lain, kecuali jika menyangkut masalah Palestina dan Libanon mereka kompak. Padahal sesungguhnya banyak masalah yang dihadapi umat Islam; kapitalisme pendidikan secara berlebihan, pengangguran, ketidakmapuan menggabungkan antara kerja dan pengetahuan, menjadikan ruang belajar hanya di sekolah dan universitas, kemiskinan secara struktural dan kultural tanpa bisa diatasi, dan setumpuk masalah lainnya yang harus dihadapi secara bersama-sama.&lt;br /&gt;Secara eksternal, umat Islam diharapkan hidup berdampingan dengan orang-orang Kristen, Hindu, Budha, Khonghuchu, dan agama lainnya, sehingga paradigma “Islam Rahmatan Lill’alamien” (Islam menjadi rahmat bagi semesta) bisa diwujudkan dalam kenyataan. Dialog antar agama senantiasa dilakukan agar setiap permasalahan yang timbul bisa diatasi bersama. Dalam Islam tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam, sebab orang yang mendapat hidayah Allah yang memeluk agama tersebut. Maka, manakala menyangkut Indonesia atau kemaslahatan dunia, seluruh umat beragama harus bersatu padu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Melakukan Perubahan terhadap Diri Sendiri&lt;br /&gt;Untuk mempelopori perubahan, otodidaktor dituntut mampu memahami dirinya sendiri dulu, pengembangan seluruh potensi yang dimiliki, dan melakukan perubahan terhadap diri sendiri. Menurut Soemarsono Soedarsono “…Bahwa proses mewujudkan perubahan adalah harus dimulai dengan mengubah diri sendiri dan tampil untuk menjadi suri tauladan.”13&lt;br /&gt;Untuk mengubah diri sendiri perlu kesadaran personal dalam diri para otodidaktor, kesadaran personal berkaitan dengan usaha menjadi Muslim yang baik; memadukan antara ibadah spritual dan ibadah sosial, memiliki iman yang kokoh, dan keyakinan kuat dalam hati terhadap agama yang dianut. Dengan kemampuan ini, apa pun yang datang dari luar; budaya global, budaya konsumtif, budaya Barat, budaya Timur, bisa diseleksi dengan filter diri yang kuat, sehingga tidak perlu ditakuti, melainkan dipelajari guna menghasilkan nilai-nilai baru pada masa mendatang. &lt;br /&gt;Aplikasi dari kesadaran personal berusaha disebarkan menjadi kesadaran sosial, artinya berusaha agar orang lain memiliki kesadaran yang sama. Cara efektif untuk sosialisasi adalah dengan bertingkah laku yang baik, melakukan kebajikan, mengerjakan amal shaleh, bersikap tulus pada segala sesuatu yang dilakukan, jujur, memenuhi komitmen janji, disiplin dalam makna positif, bijaksana, jujur, rendah hati, dan lebih banyak berkarya daripada berbicara. Ini semua akan menjadi suri tauladan yang baik bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia, sesuatu yang lebih berpengaruh dari ceramah-ceramah yang “kering”.&lt;br /&gt;Perubahan diri mampu mendorong perubahan sosial secara perlahan-lahan asal diikuti dengan upaya untuk menghasilkan karya yang dinikmati orang banyak; membuat yayasan yatim piatu, membuka pendidikan gratis bagi pemulung, anak jalanan dan orang miskin seperti PKBM Master Terminal Depok, mengajar di sekolah atau pesantren dengan tidak mendahulukan bayaran, membantu orang lain sesuai kemampuan diri, dan menghasilkan karya tulis yang dapat mendorong suatu perubahan, bahkan menciptakan suatu perubahan. Ini bisa dicapai dengan menjadikan belajar sendiri sebagai proyek seumur hidup yang berusaha diwujudkan dalam tindakan nyata, paling tidak menyediakan waktu 1-3 jam sehari untuk membaca dan menulis.&lt;br /&gt;Ibarat setitik cahaya, diri seperti satu bintang di langit di antara ribuan bintang lainnya. Bintang yang satu tiada akan menerangi sebintik cahaya jika awan menutup langit. Dalam rangka menggeser awan lewat bantuan angin, sehingga satu bintang dapat bercahaya sempurna tuk menerangi manusia dan semesta, maka cahayanya harus jernih, kuat dan berbinar. Itu bisa dilakukan, jika eksistensi satu bintang sudah ditemukan (perubahan diri), terus menerus diasah supaya jernih dengan melajar otodidak, hasilkan sinar perubahan. &lt;br /&gt;e. Mau Menjadi Pelopor atau Pengikut&lt;br /&gt;Pernyataan W Warner Burke; “You don’t change culture trying to change culture,”14  (kamu tidak bisa membuat perubahan budaya, tapi berusaha untuk melakukan perubahan budaya). Manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik, tapi hasil dari usaha ditentukan pada akhir dari suatu peristiwa atau permainan hidup. Ini merupakan pemicu semangat  agar lebih mementingkan proses dari hasil.&lt;br /&gt;Dari pengalaman menekuni usaha BO sampai mampu menghasilkan  tesis “S2” ini, proses selalu dijadikan pegangan hidup bukan hasil. Saya berusaha sekuat tenaga untuk berdagang sambil membaca buku, membaca realitas masyarakat, dan menghasilkan karya tulis bermacam-macam. Sebelum buku pertama terbit, penolakan demi penolakan saya terima, sehingga pernah hampir membuat saya putus asa. Tapi keyakinan saya pada Allah dan Islam, membuat saya mampu bertahan, dan justru menjadikan semua kegagalan sebagai energi positif untuk berhasil. Salah satu rahasianya karena saya lebih percaya pada proses; kerja keras, ketekunan, kegigihan, semangat pantang menyerah, mental yang kuat, spritualitas Islam yang kokoh, hati nurani yang dihidupkan, terus menghasilkan karya yang bermacam-macam meski dicibir banyak orang, terus belajar tiada henti, dan berbagi ilmu dengan yang membutuhkan, sedang hasil dipasrahkan pada Allah. &lt;br /&gt;Di samping itu, diam-diam dalam pikiran dan hati nurani, saya membisikkan bahwa kebangkitan Islam akan lahir di Indonesia, itu mungkin dipelopori umat Islam yang memegang prinsip “rahmatan lil’alamien” dan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat. Suara ini lahir, setelah melakukan perenungan terhadap prediksi kebangkitan Islam yang disampaikan Jamaluddin Al-Afghani, Moh. Abduh, Iqbal, Fazlurrahman, Nurkholis Madjid, dan Hasan Hanafi. Sebagai otodidaktor, saya berusaha membantu proses pencapaian itu semua dalam bentuk karya tulis.&lt;br /&gt;Menjadi salah seorang yang turut andil terhadap perubahan besar yang dialami umat Islam menjadi energi yang selalu memompa semangat hidup. Jadi, impian sebagai pelopor perubahan bisa menjadi pemicu semangat bagi para otodidaktor untuk berusaha secara maksimal. Syukur-syukur dalam proses itu, para otodidaktor bisa menjadi pelopor di bidang masing-masing yang dikuasai, sesuatu yang akan menjadi tinta emas sejarah dan dikenang generasi mendatang. Jika pun tidak bisa menjadi pelopor, paling penting sudah berusaha sekuat tenaga, mengerahkan segenap potensi yang dimiliki dan bertawakkal pada Allah, perkara “hasil” atau “nasib” yang kurang baik tidak perlu diratapi. Allah akan menilai dari usaha yang dilakukan dari pada hasil dari usaha, sedang manusia sebaliknya.&lt;br /&gt;Untuk menjadi pelopor di bidang tertentu; dapat berkaca pada Hatta yang mempelopori koperasi, pendidikan dan dunia tulis menulis, Khairil Anwar yang puisi-puisinya abadi dalam pelajaran sekolah sampai saat ini, Frans Kafka yang mengabdikan hidup untuk menulis, di dalam menulis, dan tanpa mendapat imbalan apa pun dari jerih payahnya, tapi dialah pelopor sastra posmodern, HB Yassin yang mempelopori kritik sastra, dan sejumlah pelopor  lainnya, yang menjadikan hidup mereka sebagai sarana untuk memberikan sesuatu pada generasi mendatang. Generasi mendatang akan menghadapi kompleksitas hidup lebih rumit dari sekarang. Jika kita tidak turut andil memberikan sumbangan ide, pemikiran, perenungan, paradigma, misi, visi, dan wawasan, maka “kebudayaan lain” akan membentuk mereka, sehingga jati diri Indonesia dan Islam akan hilang ditelan deru globalisasi dan digitalisasi.&lt;br /&gt;Di samping itu, kita dapat belajar pada budaya Kaizen yang diterapkan di Jepang. “Kaizen” adalah sebuah metode yang sangat dipegang teguh di Jepang. Ia adalah proses penyempurnaan secara terus menerus dan tiada henti. Kaizen inilah yang telah mengubah Jepang menjadi sebuah bangsa yang memiliki peradaban sangat maju, serta memiliki teknologi yang mengalahkan “Barat”…”15 &lt;br /&gt;Tekad yang kuat, usaha yang gigih, potensi diri yang optimal, dan tawakkal pada Allah adalah serentetan langkah yang harus ditempuh para otodidaktor, sehingga antara proses dan hasil bisa berjalan beriringan. Insya Allah  mereka sukses di dunia seperti Hatta dan sukses di akhirat seperti para Nabi, sahabat dan Ulama’ yang berusaha merasakan penderitaan umat manusia dan memikirkan kemaslahatan mereka di masa kini dan mendatang. Insya Allah, dengan itu semua, pelopor-pelopor perubahan ke arah yang lebih baik, berkualitas, dan bermartabat akan lahir satu persatu sebagaimana bibit-bibit padi menghasilkan beras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;1 Yasraf Amir Pilliang, Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, (Bandung: Jalasutra 2004), Hal 83 &lt;br /&gt;2 ibid Hal 91&lt;br /&gt;3 ibid hal 269-27&lt;br /&gt;4 Michael LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara, Trans Media Jakarta, cet.1 2006, 174-178&lt;br /&gt;5 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, &lt;br /&gt;penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, 2002), hal 340&lt;br /&gt;6 Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press, 2005), hal 52&lt;br /&gt;7 Hasan Hanafi, Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, &lt;br /&gt;penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, IRCiSoD Yogyakarta, September 2003, hal 59-60 &lt;br /&gt;8 Heddy Shri Ahimsa Putra,  Strukturalisme, Levi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra, (Yogyakarta: Galang Press, 2001), hal 393-394&lt;br /&gt;9 Rhenald Kasali, Ph.D,  Change, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2005), Hal xxxiii-xxxv&lt;br /&gt;10  ibid hal 93-95&lt;br /&gt;11 ibid hal 273&lt;br /&gt;12 Doug Hall, 3 Metode Canggih Melejitkan Kreativitas Bisnis, &lt;br /&gt;penerjemah Mursid Widjanarko, Kaifa PT. Mizan Pustaka Utama Bandung, Cet. I 2004, hal 199-200&lt;br /&gt;13 Soemarsono Soedarsono, Character Building, Membentuk Watak, Mengubah Pemikiran, Sikap, dan Perilaku untuk Membentuk Pribadi Efektif guna Mencapai Sukses Sejati, (PT Exel Media Komputindo 2002), hal 288&lt;br /&gt;14 Rhenald Kasali, Ph.D, op cit hal 308&lt;br /&gt;15 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, pengantar Habib Adnan, penyunting Anisi R Handini A (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), hal 184&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca (M) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Tengah Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air hujan mengalir deras membasahi jagad raya, malam yang sunyi hiruk pikuk mendengar nyanyian hujan, suara lembut melelapkan, suara keras memekakkan, suara deru-deru mengkhatirkan, tersimpan gumpalan amarah menghanyutkan.&lt;br /&gt;Dalam pelupuk mata, air menari-menari bersama batu, kayu, tanah, lumpur menjelma prahara di Jember; pasar rata dengan tanah, rumah-rumah penduduk hancur lebur, pesantren tinggal puing-puing, pohon-pohon menerjang tanpa arah, lumpur menggulung apa yang ada di depan mata, mayat-mayat bergelimpangan. &lt;br /&gt;Sketsa kehidupan bergeser ke Banjarnegara, tanah yang dianiya manusia menumpahkan kegusaran, pohon-pohon sebagai penopang telah habis dijarah atas nama pribadi atau diri-diri, ratusan rumah terbenam dalam tanah, bukit berganti tanah datar, orang-orang terkubur bersama, ratusan nyawa melayang sia-sia. &lt;br /&gt;Luka lama akibat tsunami yang membenamkan bumi Aceh, tarian air yang menjelma prahara Situbondo, melumatkan daerah wisata Pacet Mojokerto, longsor gunung sampah di Bandung, nyanyian banjir di segala penjuru, belum hilang benar dalam awang-awang.&lt;br /&gt;Aku menerawang segala peristiwa, hasrat diri hadir dalam tiap peristiwa, mengulurkan tangan, menghibur yang terbenam, memberikan senyum harapan, nyatanya diri diam seribu bahasa.&lt;br /&gt;Aku wajib bertindak bersama terjangan hujan malam ini, kubasuh muka dengan wudhu, memulai irama tahajjud tengah malam, &lt;br /&gt;dibalut hajat pada Ilahi, berdzikir dalam gelap, &lt;br /&gt;menengadahkan tangan harap redam amarah hujan, &lt;br /&gt;perlahan tapi pasti hujan bergerak pelan menjadi rintik-rintik.&lt;br /&gt;Aku tak tahu pasti kaitan doaku dengan rintik air hujan, satu sudut keterkaitan keduanya lemah, kebetulan dijadikan fakta, satu sudut hasil praduga lemah tak bisa dijadikan pengetahuan, satu sudut ada kaitan antara perubahan hujan dengan doa tengah malam. &lt;br /&gt;Aku bertindak sesuai apa yang harus dilakukan, tak peduli pada setiap penilaian, setiap penilaian mengandung kesalahan, setiap tindakan menimbulkan harapan, setiap kebaikan menimbulkan kebenaran, diam sama sekali berarti mati, bertindak tepat berarti hidup dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonosari, 08  Januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Beberapa Cara Membaca &lt;br /&gt;Membaca dilihat dari kaca mata Islam tidak semata supaya memperoleh pengetahuan, lebih dari itu, membaca merupakan perintah Allah yang ditujukan demi kebaikan manusia, baik dalam kehidupan dunia  maupun  akhirat. Allah berfirman “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajari (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al Alaq 1-5)&lt;br /&gt;Membaca diawali dengan menyebut asma Allah agar orang yang membaca mendapatkan manfaat, barokah, ilmu dan hikmah. Bermanfaat dalam makna, pembacaan yang dilakukan memberikan pengaruh positif pada diri dan orang lain. Barokah yakni pembacaan yang dilakukan menjadi langgeng dalam otak seseorang, sehingga kapan pun dibutuhkan tinggal diakses kembali. Ilmu merupakan hasil pembacaan yang dilanjutkan observasi atau penelitian lapangan dan kepustakaan, ilmu yang menggiring manusia mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Hikmah ialah sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada banyak orang. Dalam konteks ini, seluruh pembacaan berhasil memperoleh itu semua dengan menyebut asma Allah SWT; Bismillahirahmanirrahiem.&lt;br /&gt;Pembacaan dikaitkan dengan keterangan tentang proses penciptaan manusia yang berasal dari segumpal darah, mengandung makna; proses pembacaan yang dilakukan, termasuk upaya semakin memahami dirinya, sehingga menjadi sebenar-benarnya manusia. &lt;br /&gt;“Tubuh” manusia telah berusaha dijelaskan sedemikian rupa dengan ilmu kedokteran, tapi belum benar-benar memahami “kompleksitas” kerja organ-organ tubuh manusia, buktinya seringkali penyakit datang tanpa obat yang bisa menyembuhkan. Memang akhir-akhir ini ilmu tentang Genetika memberikan titik terang yang cerah, tapi manfaat besarnya baru dirasakan pada masa mendatang. &lt;br /&gt;Belum lagi jika berbicara keseluruhan potensi manusia; pikiran, perasaan, imajinasi, kesadaran dan hati nurani. Ini mengindikasikan bahwa ilmu tentang manusia seluas ilmu tentang semesta, semakin dipahami semakin meluas dan dalam, itu berarti proses manusia memahami dirinya tidak akan benar-benar terhenti sampai hari kiamat datang.&lt;br /&gt;Kembali diungkapkannya perintah; “bacalah!” bermakna bahwa proses pembacaan harus dilakukan terus menerus, sehingga pemahaman terhadap sesuatu menjadi lebih dalam, luas, dan penuh makna. Perintah membaca dihubungkan dengan sifat Allah yang Maha pemurah, ini menunjukkan bahwa Allah memberikan ilmu pengetahuan pada hamba-hambaNya tanpa mengenal batas kecerdasan, latar belakang sosial, perbedaan agama, melainkan bagi seluruh manusia. &lt;br /&gt;Setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk membaca, dan tentu saja akan memperoleh apa-apa yang diusahakan sesuai dengan kuantitas dan kualitas pembacaan. Ayat ini menjadi bukti kongkrit, mengapa ilmu pengetahuan dan teknologi kini dikuasai Barat, sedang umat Islam hanya menjadi “murid” dalam istilah Hasan Hanafi, umat Islam  menjadi pengikut tanpa mampu berkreasi, dan  tak mampu menjadi aktor, melainkan senang sebagai penonton, sebab mereka belum benar-benar memahami makna hakiki dari ayat ketiga ini. Padahal dengan pemahaman yang benar inilah; Ibnu Shina berhasil mempelopori bidang kedokteran modern, Ibnu Rusyd dan Al-Farabi menjadi pelopor di bidang filsafat, Imam Ghazali yang dijuluki ‘Hujjatul Islam’, Muhammad bin Ahmad menjadi penemu angka 0 (nol), Al-Khawarizmi menemukan ilmu Aljabar, dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang berhasil menemukan ilmu pengetahuan, sayang apa yang mereka peroleh, diambil Barat untuk dipelajari, sedang umat Islam asyik dengan spritual semata tanpa mampu menjadi khalifah Allah di bumi sebagai esensi penciptaan mereka.&lt;br /&gt;Ada sebuah pandangan keliru di kalangan umat Islam yakni hanya Nabi Muhammad saja yang diajari langsung oleh Allah, sedang umat Islam lain tidak dapat melakukannya. Jika “langsung” bermakna pertemuan langsung dalam konteks Isra’ dan Mi’rajnya Nabi Muhammad, pernyataan di atas benar adanya. Tapi makna “langsung” tidak terbatas pada hal itu, melainkan “langsung” dalam  makna perantara, seperti yang difirmankan Allah “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.” Kalam dalam terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia diartikan; “Kalam adalah sarana tulisan dan bacaan sebagai kuncil (sic) ilmu dan pengetahuan agama.”1 Al-Qur’an adalah firman Allah yang diwujudkan teks tertulis, sehingga manusia bisa belajar langsung pada Allah melalui Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu ayat-ayat Al-Qur’an, beliau mengalami sesuatu yang berat, bahkan beliau pernah langsung beruban ketika meneria suatu surat di dalamnya. Itu berarti, untuk mempelajari Al-Qur’an secara mendalam perlu “penguatan rohani manusia”.&lt;br /&gt;Al-Qur’an sebagai firman Allah adalah sarana manusia untuk menimba ilmu langsung dari Allah. Sebagai analogi, Anda bisa jadi belum pernah bertemu dengan Hamka, tapi lewat buku-buku yang ditulisnya, Anda merasa belajar langsung dari Hamka, padahal hanya lewat membaca buku-buku yang ditulisnya. Analogi ini dapat diterapkan ketika Anda membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an mampu menggiring siapa saja untuk memahami semesta, menemukan ilmu pengetahuan, menghasilkan teknologi, memperbaiki akhlak atau prilaku, memahami manusia, berbagai macam hal lainnya, dan sarana belajar langsung pada Allah. &lt;br /&gt;Sayangnya semua itu tidak mampu digali umat Islam, padahal Al-Qur’an bisa dipahami setiap individu dengan caranya masing-masing asal dilakukan dengan niat tulus dan ditujukan untuk kebaikan.  Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, “Aku selalu mengikuti sangka hamba-Ku terhadap diri-Ku dan aku bersamanya jika ia berdoa padaku,” (HR Ahmad) Hadits Qudsi ini sama dengan ayat 128 an-Nahl. Inna Allaha ma’al ladziinat taqau walladziina hum muhsinuun = Sesungguhnya Allah selalu membantu orang yang bertakwa dan mereka yang berbuat baik. (an-Nahl 128). Dan juga firman Allah kepada kedua Nabi, Harun dan Musa: Innanima’akuma asma’u wa araa = Sesunggunya Aku bersamamu mendengar dan melihat. (sura Thaha 46).2&lt;br /&gt;Sedang maksud “penguatan rohani manusia” adalah manusia tidak dapat belajar langsung dengan Allah, jika jiwa, rohani dan hatinya tidak dibersihkan, dikuatkan dan dikokohkan. Pembersihan hati sudah dijelaskan sebelumnya, sedang penguatan atau pengokohan rohani dilakukan dengan melatih mental agar kuat terhadap berbagai macam cobaan, ujian dan musibah, senantiasa memanfaatkan waktu untuk berdzikir pada Allah, baik dzikir lisan atau hati, memikirkan “ayat-ayat” Sunnatullah yang ada pada semesta, bertingkah laku seperti Al-Qur’an berjalan, sesuatu yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, berusaha memberi pada orang lain sesuai kemampuan yang dimiliki tanpa pamrih, memiliki sifat-sifat mulia, dan menjauhkan diri dari segala macam sifat-sifat buruk yang ada dalam diri seseorang. Wah! Kok sangat sulit untuk belajar langsung pada Allah? Karena sangat sulit itulah, maka bila ada orang yang mampu melakukannya berarti pantas disebut Tokoh Islam Sejati.&lt;br /&gt;Di samping itu, Nabi Musa saja dalam suatu pertemuan dengan “cahaya Allah”, langsung pingsan karena tidak kuat, apalagi kita; manusia yang penuh salah dan dosa. Allah menggambarkan peristiwa ini dengan firmannya; “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhan menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikanNYA gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-Araaf 143). Syaikh Abu Manshur berkata: “Maksud ‘bertajalli untuk gunung’ ialah apa yang dikatakan oleh al-Asy’ari bahwa Allah swt. di gunung menciptakan kehidupan, alam dan ru’yat sehingga Musa dapat melihat Tuhannya. Pendapat ini pun menetapkan keberadaan Allah yang dapat dilihat.” Namun setelah melihatNya, Musa jatuh pingsan karena kedasyatan peristiwa itu.3  &lt;br /&gt;Ayat kelima dari surat Al-’Alaq di atas menunjukkan bahwa Allahlah hakikatnya yang menganugerahkan pada manusia segala macam ilmu yang tidak diketahuinya. Coba selidiki kehidupan orang-orang yang berhasil mempelopori ilmu pengetahuan seperti Enstein, Thomas Alva Edison, Newton dan penemu-penemu lainnya, dalam catatan kehidupan mereka pasti disebutkan bahwa untuk mampu menemukan ilmu pengetahuan, mereka terkadang mendapatkan secara tiba-tiba, ilham yang muncul mendadak, dan intuisi atau ilmu yang diperoleh secara langsung. Sebagai ilustrasi pengalaman Newton dalam menemukan teori gravitasi; “Jutaan orang melihat apel yang jatuh dari pohon, tapi hanya Newton yang bertanya kenapa.” – Bernard Baruch, Pebisnis, Politikus.4 Pertanyaannya, dari mana Newton mendapatkan ilham hanya dengan melihat apel jatuh, padahal jutaan orang melihat hal yang sama? Jika tidak dari Allah, dari mana lagi. Lho! Bukankah dia bukan Muslim? Itu menunjukkan anugerah Allah diberikan pada siapa pun yang berusaha sekuat tenaga, semangat pantang menyerah, kerja keras dan cerdas, mengerahkan segenap potensi, dan belajar terus menerus tiada henti. &lt;br /&gt;Umat Islam tidak mampu mencapai semua itu, jika mereka mudah menyerah kalah, mental seperti krupuk yang mudah diremas, ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah, dan tidak mampu menjadikan hadits Nabi “Tuntulah ilmu dari pangkuan ibu sampai ke liang lahat” sebagai sarana untuk belajar seumur hidup, mereka “puas” dengan ilmu pengetahuan, apa yang dimiliki, dan apa yang dicapai, padahal hal itu seperti buih di tengah lautan.&lt;br /&gt;Apa yang saya tulis di atas, jika benar berarti berasal dari Allah, jika salah berasal dari kelemahan saya. Allah yang lebih tahu dengan segala macam kebenaran hakiki.&lt;br /&gt;a. Cara Kreatif Membaca Buku&lt;br /&gt;BO berkaitan dengan cara membaca, memahami, mengerti, dan mengaktulisasikan apa yang dibaca, baik dalam bentuk tulisan atau pun dalam bentuk pemaknaannya terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Maka diperlukan sebuah cara yang paling efektif dalam membaca buku secara kreatif.&lt;br /&gt;Dalam membaca buku secara kreatif ada sekitar sepuluh  tahapan yang bisa dilakukan. Masing-masing dijelaskan dalam pembahasan berikut secara terperinci.&lt;br /&gt;Pertama;  Dalam memilih buku bacaan, Anda harus menemukan yang sesuai dengan apa yang hendak dikuasai, dengan berusaha mencari buku dari sumber pertama, paling tidak penjelasan seorang penulis handal tentang sumber pertama. Jika ingin mendalami tentang cara menulis karya ilmiah, maka buku yang dipilih adalah Komposisi karya Prof. Dr. Gorys Keraf, Lalu membeli buku ilmiah berkualitas di bidang pemikiran, misalnya buku Batas Nalar karya Donald B. Calne, Dunia yang Dilipat karya Yasraf Amir Piliang, dan Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual ESQ: Emosional Spritual Quistion berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam karya Ary Ginanjar Agustian. Buku-buku tersebut ditulis orang pertama, sekaligus ahli di bidang yang digelutinya. Di samping itu, untuk mendalami suatu bidang ilmu dan demi kepentingan penulisan buku dalam upaya menyelesaikan skripsi, tesis dan disertasi, otodidaktor perlu membeli beberapa buku tentang satu bidang dalam jangka pendek, contoh; ingin memperdalam Islam, maka belilah buku-buku keislaman sebanyak 20 buku dalam kurun waktu 2-5 tahun (waktu bagi otodidaktor untuk menyelesaikan skripsi S1), berhubung bidang keislaman juga luas, pilih satu bidang khusus; Islam dalam konteks budaya. Hindarilah membeli buku kumpulan tulisan, sebab biasanya secara kualitas diragukan, kecuali kumpulan esai kritik sastra HB. Yassin, kumpulan kolom Emha Ainun Nadjib dan Gunawan Muhammad, dan kumpulan tulisan ilmiah Nurkholis Madjid.&lt;br /&gt;Kedua; Setelah membeli buku yang cocok dan benar-benar dibutuhkan, Anda baca kata pengantar, baru daftar isi, dan pendahuluan, hal ini sebagai gambaran umum dari buku. Gambaran umum dibutuhkan supaya lebih yakin dengan apa yang dibaca, bila ternyata yang dibaca kurang bermanfaat tinggalkan saja, tapi karena sudah terlanjur memilih sesuai tahapan pertama, mau tidak mau Anda harus melanjutkan pembacaan. Sejelek apa pun sebuah bacaan, pasti ada manfaatnya. Ada sebagian kecil penulis resensi buku yang berhenti sampai tahap ini dan mulai menulis resensi buku, bisa ditebak hasilnya kurang memuaskan. &lt;br /&gt;Ketiga; Menyelesaikan bacaan secara utuh, sehingga sketsa yang ada di otak menjadi lebih jelas, jika kumpulan tulisan yang dibukukan dan kumpulan cerpen kita bebas memilih yang akan dibaca, dan jika buku utuh, Anda dituntut membaca secara utuh pula tanpa memilih sub judul yang sesuai dengan kehendak kita sendiri.&lt;br /&gt;Keempat; membaca ulang secara cepat dengan membuat garis bawah atau menandai poin-poin penting yang bisa dibuat kesimpulan,  ada yang mampu membaca utuh (poin ketiga) sambil mengambil garis bawah dengan resiko; kadang yang Anda garis bawahi ternyata sama, maka lebih baik kita baca ulang dan dilanjutkan dengan menggaris bawahi poin-poin penting. Proses ini penting, sebab suatu saat hendak membaca buku yang sama, Anda sudah bisa membaca cepat lewat garis bawah yang dibuat.&lt;br /&gt;Kelima; menulis kesimpulan secara acak dalam komputer atau buku tulis. Tulis apa saja yang sudah digaris bawahi di atas, memang tidak semua yang digaris bawahi akan ditulis, melainkan memilih poin-poin yang paling penting saja dan berkaitan dengan tema tulisan yang hendak dibuat. Dalam menulis kesimpulan pada tahap ini, biarkan apa yang Anda tulis itu apa adanya, tanpa melihat keterkaitan antar paragraf. &lt;br /&gt;Keenam; Baru pada tahap ini, Anda mengatur tulisan dalam paragraf-paragraf dengan memperhatikan mana yang paragraf utama dan paragraf penjelas, serta memperhatikan keterkaitan antar paragraf. Artinya Anda mengatur ulang paragraf-paragraf yang hendak ditulis, bila menggunakan komputer lebih mudah sebab tinggal memindah paragraf, bila menggunakan buku tulis sebaiknya ditandai dengan pensil mana paragraf utama dan mana paragraf penjelas, serta mengaitkan semua paragraf yang ada. &lt;br /&gt;Ketujuh; Untuk memudahkan tahap keenam, Anda buat sub judul baru yang berbeda dari buku asli, mirip juga boleh asal tidak persis sama, sebab ini menandakan pemahaman kita terhadap buku. Dari sub judul yang dibuat, lantas mengatur paragraf sedemikian rupa dengan memasukkan pada sub-sub judul yang sudah dibuat.  Dalam  tahap ini, Anda bisa membuat judul tulisan yang akan dibuat, membuat judul diakhir penulisan lebih bagus, karena judul yang dibuat lebih mewakili tulisan, menarik dan sesuai dengan hasil pemahaman.&lt;br /&gt;Kedelapan; melakukan telaah kritis pada beberapa kesimpulan yang ada dalam buku hasil bacaan, sehingga Anda menjadi pembaca yang kreatif. Ingat tidak ada karya tulis yang sempurna, setiap karya tulis pasti ada kekurangan (jangan takut jika tulisan dinilai jelek, sebab sebuah penilain itu relatif, jadi teruslah menulis, jika tidak berguna sekarang, nanti pasti beguna). Lebih berbahaya lagi, karya tulis yang menyimpan misi terselebung yang harus diuangkap agar tidak terperangkap. Di sinilah urgensi pembacaan kreatif ini, ketika Anda mampu menemukan kelemahan sebuah buku, mengungkap maksud yang tersembunyi dari sebuah tulisan, dan mengkritisinya dengan alasan yang masuk akal, maka Anda telah menjadi pembaca yang kreatif meski belum sempurna. &lt;br /&gt;Sebaiknya, jika hendak menulis Resensi Buku pada tahap ini, hasil resensi buku jauh lebih bagus. Dalam menulis Resensi Buku ada beberapa tahap yang ditempuh: a) menulis judul resensi yang menarik dan aktual  b) menulis judul buku yang dibaca, penulis, penerjemah (jika terjemahan), penerbit, cetakan keberapa dan tahun terbitnya c) Beberapa kesimpulan yang dibuat, Anda buang yang tidak perlu dan memperjelas maksud tulisan  d) mengaitkan dengan kondisi yang ada di sekitar agar resensi buku nampak aktual  e) memberi penilaian terhadap buku, kelemahan dan kelebihan serta kritik Anda terhadapnya  f) membandingkan dengan buku yung sama (jarang penulis resensi buku melakukan tahap ini, tapi sebaiknya dilakukan karena menunjukkan wawasan Anda).  &lt;br /&gt;Kesembilan; beberapa buku yang dibaca (minimal 15 buku) ternyata memiliki keterkaitan, Anda dapat menulis buku baru dengan tema baru sesuai kehendak  Anda. Jadi, Anda tidak terus menerus menjadi objek dari buku yang dibaca, melainkan bagaimana caranya menjadi subjek kreator baru dengan cara menjadi penulis berdasarkan apa yang dibaca. Inilah yang dimaksud dengan teori resepsi yakni menjadikan pembaca sebagai sentral baru dalam kebudayaan manusia masa kini. &lt;br /&gt;Kesepuluh; mempraktikkan apa yang dibaca dalam kehidupan sehari-hari, menekuni usaha, meningkatkan karir atau pekerjaan, mengambil keputusan, menemukan kebenaran, menyelesaikan masalah, dan beradabtasi dengan perubahan. &lt;br /&gt;Ingat prinsip utama membaca buku; BUKAN SEBERAPA BANYAK BUKU YANG DIBACA, MELAINKAN SEBERAPA BESAR MANFAAT DARI SATU BUKU. Prinsip ini baru saya temukan setelah membaca bermacam-macam buku, kurang lebih sekitar 100 buku. Makna dari prinsip ini; buku yang dibaca seseorang berusaha dilaksanakan dengan melalui sepuluh tahapan yang ada di atas, sehingga pemahaman terhadap buku menjadi utuh, bisa dimanfaatkan untuk keperluan tertentu; menulis resensi buku, menulis artikel,  kolom, esai atau ilmiah populer, menulis sastra, memanfaatkan untuk membantu orang lain di bidang yang dikuasai, memanfaatkan untuk membentuk kepribadian seseorang, dimanfaatkan siapa pun yang membutuhkan, dan jika 5-20 tahun kemudian dibutuhkan untuk suatu keperluan, catatan masih ada dan tersimpan rapi. Manusia ingatannya terbatas, hanya hal-hal penting yang diingat dirinya, maka mencatat dalam bentuk kesimpulan atau dalam bentuk pembacaan kreatif seperti yang dicontohkan, akan membantu saat ingatan lupa atau mulai tumpul.&lt;br /&gt;b. Cara Membaca Buku “How To”&lt;br /&gt;Buku “How To” adalah buku yang berisi cara-cara praktis melakukan sesuatu, yang biasanya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Buku-buku jenis ini menjadi salah satu “best seller” yang digemari masyarakat, mulai buku-buku “how to” memasak, merawat tanaman, membudidayakan ikan, pengetahuan sofware di bidang komputer, sampai dengan cara menulis. &lt;br /&gt;Buku “how to” bidang usaha  berusaha dimiliki otodidaktor, membacanya secara kreatif, dan mengetahui cara memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya membaca buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar, selesai dibaca dibuat kesimpulan-kesimpulan dan langkah-langkah yang diambil agar menjadi seorang pedagang yang sukses, lalu berusaha diterapkan dalam usaha perdagangan, supaya lebih berkembang. Dari itu semua, dibuat catatan-catatan baru berdasarkan pengalaman-pengalaman sendiri, siapa tahu ternyata apa yang ditulis di buku kurang lengkap, atau memiliki cara-cara lain agar sukses berdagang atau berniaga. Catatan yang dibuat selama bertahun-tahun, tentu eman jika tidak dimanfaatkan, lantas berusaha menyusun buku cara mengelola usaha sendiri, dengan sudut pandang yang berbeda dengan yang dibaca sebelumnya. Ini bisa dilakukan, jika ditambah dengan buku-buku sejenis paling tidak 15 buku.&lt;br /&gt;Buku “how to” bidang sastra,  misalnya buku cara menulis cerpen; Menulis dengan Emosi Pantuan Empatik Mengarang Fiksi karya Carmel Bird. Buku itu dibaca secara kreatif, yang memungkinkan otodidaktor memiliki catatan-catatan khusus. Pada waktu bersamaan, otodidaktor telah menulis beberapa cerpen. Cerpen yang ditulisnya, berusaha dibedah menggunakan cara-cara yang ada dalam buku tersebut. Hasil pembedahan terhadap cerpen,  dibuatlah cerpen baru hasil editorial dari tulisan sebelumnya, insya Allah cerpen yang dihasilkan akan lebih baik. Usahakan jangan berhenti sampai di sana, melainkan melanjutkan dengan menulis cerpen-cerpen dengan sudut pandang berbeda-beda, paling tidak dituntut mampu menghasil 11 cerpen. Dari cerpen-cerpen yang ditulis, beberapa di antaranya dikirimkan ke media cetak; koran, majalah, tabloid dan jurnal yang sesuai dengan isi cerpen yang ditulis, untuk itu sebelum mengirim perlu membaca cerpen-cerpen yang ada dalam media tersebut agar mengetahui “selera” media yang bersangkutan, ini penting agar cerpen yang dikirim bisa dimuat dan menghasilkan uang. Jika setelah sebulan belum mendapat tanggapan, surat disertai perangko balasan agar dibalas (hindari mengirim via email), kirimkan ke media berbeda yang “selera”nya sama. &lt;br /&gt;Bagaimana seandainya masih gagal dimuat? Teruslah menulis menghasilkan cerpen-cerpen yang berbeda, lalu yang memiliki kesatuan tema atau cerpen-cerpen terbaik dikumpulkan dalam kumpulan cerpen, paling tidak berisi 11 judul cerpen, lalu diajukan ke penerbit. Kalau di penerbit ditolak karena belum punya nama, bulatkan tekad untuk menerbitkan dengan uang sendiri dari hasil simpanan uang, uang yang dibutuhkan kurang lebih 5 juta rupiah, dan cari distributor yang bisa mengedarkan buku yang dicetak, lalu tunggu hasilnya. &lt;br /&gt;Hasil terburuk, misalnya buku kumpulan cerpen ditolak media, ditolak penerbit dan tidak punya uang untuk menerbitkan sendiri, masih ada cara lain agar tulisan bermanfaat; kumpulan cerpen yang ditulis difoto copy lalu dijual pada orang-orang yang tertarik dengan cerpen, atau foto copy rangkap tiga dan memberi kesempatan pada tiga orang berbeda untuk membacanya, selesai dibaca, berikan pada tiga orang berbeda lainnya, begitu seterusnya sampai banyak orang yang membaca. Alternatif lain; Anda dapat membuat blog di internet sebagai tempat menuangkan tulisan-tulisan, ini gratis kok! Kenikmatan seorang penulis adalah saat buku dibaca orang lain.&lt;br /&gt;Dengan dibaca banyak orang, hakikatnya telah banyak orang yang mendapatkan manfaat, inspirasi, ilham, ide, gagasan, dan pelajaran, itu berarti tujuan penulisan cerpen telah berhasil. Kumpulan cerpen yang ditulis juga bisa dijadikan mahar perkawinan, cara ini pernah ditempuh Hatta ketika menikahi istrinya, atau bisa diwariskan pada anak cucu kita nantinya, sehingga mereka memiliki “buku” yang merupakan hasil karya orang tuanya sendiri. Jadi tidak ada tulisan atau buku yang tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;Buku “how to” bidang komputer dipelajari otodidaktor sambil mempraktekkan langsung apa yang dibaca. Misalnya sedang membaca buku tentang Page Maker; buku tersebut dibaca dengan teliti per sub-bab, lalu diterapkan setiap bagian yang diajarkan dalam praktik langsung, sehingga apa-apa yang dipelajari lengket dalam ingatan, sekaligus bisa digunakan lagi saat dibutuhkan.&lt;br /&gt;Bagi yang berhasil kuliah Diploma I komputer bidang apa saja, bisa menggunakan metode barter ilmu dengan teman yang kuliah Diploma I di bidang berbeda, contoh; seseorang kuliah Diploma I bidang Desaign Gravis, dia punya teman yang kuliah Diploma I Programer, maka pihak pertama bisa menguasai ilmu pihak kedua, demikian juga sebaliknya, sehingga begitu lulus Diploma I hakikatnya ilmu yang dimiliki seperti lulusan Diploma II. Lalu berusaha untuk belajar sendiri agar bisa menguasai ilmu-ilmu tambahan yang berkaitan dengan bidang yang dikuasai, sampai akhirnya memiliki kemampuan yang setara dengan sarjana S1. Hal ini pernah dipraktikkan Adi yang kini sedang merintis wira usaha di bidang Multimedia dan Company profile dengan teman-temannya di Jakarta.&lt;br /&gt;c. Cara Membaca Buku Sastra&lt;br /&gt;Buku sastra yang terdiri dari kumpulan puisi, cerpen atau esai, novel, naskah drama, dan naskah skenario. Dalam membaca buku-buku tersebut berbeda dengan membaca buku “how to”, perbedaan ini akan dijelaskan sesuai dengan jenis buku sastra yang dibaca.&lt;br /&gt;Membaca kumpulan puisi, seperti mengelana dalam lautan kata penuh imajinasi yang mengembara ke mana-mana, setiap kata mengandung makna, demikian juga setiap bagian dari puisi. Dalam tahap pertama membaca buku kumpulan puisi, bacalah dengan keras dulu agar timbul tema umum dari puisi, lantas setiap kata diartikan berikut hubungannya dalam satu larik, satu bait dan keseluruhan puisi, lalu ditafsirkan makna sesungguhnya yang diinginkan penulis puisi, dan terakhir berilah penilaian pada puisi yang dibaca. Jika seluruh tahapan dilakukan secara tertulis, maka tulisan bisa dibuat dalam bentuk esai sastra atau kritik sastra.&lt;br /&gt;Membaca kumpulan cerpen berbeda, sebab cerpen ditulis dalam bentuk prosa, maka baca dulu satu cerpen, cari tema umum dari cerpen, telusuri cara penulis menceritakan tema tersebut, sudut pandang yang dipilih yang mana, setting cerita menarik atau tidak, gaya bahasanya khas atau meniru penulis lain, lakukan perbandingan dengan cerpen lain yang “mirip” dan beri penilaian pada cerpen. Hasil tulisan bisa dibentuk esai sastra atau kritik sastra.&lt;br /&gt;Novel adalah prosa yang menceritakan sesuatu secara panjang lebar, maka bisa dibaca berhari-hari, kecuali novel pendek yang bisa dibaca lebih cepat. Selesai dibaca, dicari tema umumnya, ide yang disampaikan baru atau sudah kuno, isnpirasi apa yang dipetik dari novel tersebut, bagaimana cara mengaktulisasikan isi novel dalam realitas. Jika ingin menulis dalam kritik sastra, perlu ditelaah lebih mendalam unsur instrinsik dan ekstrinsik dari novel, baru dibuat penilaian terhadap novel tersebut.&lt;br /&gt;Naskah drama dan skenario, biasanya lebih menonjolkan dialog dan karakter tokoh di dalamnya, itu berarti dialog yang ada dibaca secara teliti, dianalisa makna yang dikandung, lantas ditafsirkan maknanya, lalu dicari ide brilian yang disampaikan dan pesan yang diinginkan penulis, barulah diberi penilaian baik atau buruk.&lt;br /&gt;Dalam membaca karya-karya di atas, diakhiri dengan penilaian, ini penting supaya pembaca mampu memberi warna terhadap apa yang dibaca dan bisa bersikap kritis, jadi bukan hanya diwarnai, melainkan juga mewarnai. Seorang pembaca bisa setuju, tidak setuju, menerima dengan catatan, bahkan menolak sama sekali dengan menganggap buku yang dibaca tidak berguna, sehingga ketika memutuskan membeli buku kelak, lebih hati-hati dan membeli buku yang benar-benar berkualitas. Di samping itu, ini akan membentuk otodidaktor menjadi sentral baru seperti yang diharapkan teori Resepsi di bidang sastra.&lt;br /&gt;d. Cara Membaca Buku Ilmiah&lt;br /&gt;Buku ilmiah biasanya buku-buku yang ditulis dengan kerumitan tersendiri, sebab berhubungan dengan kata-kata ilmiah yang sulit, bagi pemula perlu membekali diri dengan kamus bahasa Indonesia atau kamus Ilmiah populer. Bagi yang terbiasa membaca buku hal itu tidak perlu, sebab pemahaman terhadap makna kata yang sulit, biasanya bisa dipahami lewat proses pembacaan atau membaca buku lain yang seide dengan sudut pandang berbeda. Pengalaman saya pribadi, tidak membekali diri dengan kamus, melainkan memahami sebuah buku sejauh pengetahuan yang saya miliki. Biasanya buku ilmiah terbaru menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga lebih mudah dipahami.&lt;br /&gt;Bagi yang ingin memperdalam bidang pertanian, perikanan, peternakan, dan kewiraswastaan, perlu membaca buku jenis tersebut yang diperkirakan benar-benar berkualitas dan bisa menggugah inspirasi, sekaligus dapat diterapkan dalam bidang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Dalam membaca buku ilmiah, lakukan sepuluh tahapan dalam membaca buku secara kreatif, lalu baca ulang buku tersebut di lain waktu dengan membaca cepat dari garis bawah yang dibuat atau membaca kesimpulan yang dibuat, dari sana bisa menulis makalah baru sesuai bidang yang ditekuni, lantas makalah tersebut diedit sampai sempurna dan dikirimkan ke media. Usahakan setiap buku yang dibaca mampu menghasilkan satu naskah. Naskah-naskah yang ada disimpan di file komputer atau di dalam map khusus, jika sudah banyak, lantas dicari yang memiliki keterkaitan tema atara yang satu dengan yang lain. Baru memulai menulis buku  berdasarkan naskah-naskah yang memiliki keterkaitan tema. Agar mudah dibuat kerangka karangan dulu yang detil.&lt;br /&gt;e. Cara Cepat Membaca Buku&lt;br /&gt;Untuk membaca buku dengan cepat, perlu beberapa tahapan yakni menjadikan kegiatan membaca sebagai kesenangan, membiasakan membaca buku, proses membaca cepat dan berlatih membaca cepat. Semua tahapan dilaksanakan satu persatu, sampai timbul sebuah inspirasi “Oh! Inti buku ini ada di halaman sekian”, lalu jabarkan inspirasi itu dalam bentuk tulisan.&lt;br /&gt;Membaca bisa dijadikan kesenangan, bila Anda menganggap bahwa membaca itu sesuatu yang menyenangkan seperti halnya bermain. Pada tahap awal, perlu membentuk anggapan dari dalam diri bahwa membaca adalah menyenangkan, perwujudannya ialah membaca buku-buku cerita; legenda, mitos, biografi, dan cerpen. Dari membaca buku cerita, kesenangan membaca akan timbul dengan sendirinya. Timbulkan semangat dalam diri bahwa dengan membaca hidup akan lebih baik, bermakna dan bahagia, ini berarti bahan bacaan beranjak ke buku-buku ilmiah. Tidak semua buku ilmiah susah dibaca atau “berat”, malah ada kecendrungan buku-buku baru ditulis dengan cara yang ringan, enak dibaca, dan sederhana, sehingga mudah dipahami semua kalangan.&lt;br /&gt;Pembiasaan membaca telah dilakukan dengan menjadikannya sebagai kesenangan. Proses pembiasaan ini diperkuat dengan suatu dorongan dari dalam diri bahwa waktu kosong akan dimanfaatkan untuk membaca; apa pun yang dibaca, sehingga kebiasaan membaca bisa menjadi naluri dan kebutuhan. Rasanya ada sesuatu yang “hilang” bila tidak membaca. Jika perasaan ini benar-benar timbul, berarti membaca telah menjadi suatu kebutuhan dalam hidup.&lt;br /&gt;Sekarang waktunya untuk memulai proses membaca buku secara cepat. Pertama; coba baca peta umum dari sebuah buku, biasanya ada dalam buku-buku best seller seperi Cara Belajar Cepat Abad XXI  karya Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl. Kedua; dari peta umum, pahami semuanya dengan pemahaman diri sendiri, yang tidak dipahami dilihat penjelasannya dalam buku. Ketiga; tulis poin-poin penting dari buku. Keempat; uraikan poin-poin penting menggunakan bahasa sendiri, baik secara lisan atau tertulis. Dengan menjalankan semua proses ini, buku setebal 400 halaman bisa dibaca dalam waktu dua jam. Ini bisa dilakukan dengan melatihnya terus menerus, sehingga menjadi kebiasaan.   &lt;br /&gt;Anda juga bisa menempuh Enam Rencana M-A-S-T-E-R untuk belajar dengan cepat menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl. Pertama, Motivating Your Mind (memotivasi pikiran); kaya akal yakni relaks, percaya diri, dan termotivasi untuk belajar, memiliki sikap benar terhadap pembelajaran, melihat manfaat investasi waktu, tenaga dan uang. Kedua, Acquiring the informasi/fact (memperoleh informasi/fakta); memperoleh informasi, fakta dan ilmu melalui cara yang sesuai dengan gaya pembelajaran masing-masing individu, sehingga menyerap dan menguasai lebih mudah. Ketiga, Searching out the meaning (menyelidiki makna); mengetahui makna atau definisi sesuatu yang dipelajari dan memahaminya, dari proses ini lantas berusaha menesuri makna yang berbeda dari sumber yang lain, dan berupaya menemukan makna baru dari fakta yang ada, perlu diingat mengubah fakta menjadi menjadi makna membutuhkan optimalisasi seluruh potensi manusia. Keempat, Triggering the memory (memicu ingatan); melengketkan apa yang dipelajari dalam ingatan dengan cara; asosiasi (mengaitkan sesuatu dengan hal lain), kategorisasi (membuat pembatasan), mendongeng, kartu pengingat (kata kunci), peta konsep, musik, dan peninjauan. Kelima, Exhibiting what you know (memamerkan apa yang anda ketahui); membuktikan pada diri sendiri bahwa apa yang diketahui benar-benar mendalam, menyampaikan apa yang diketahui pada orang lain, melakukan presentasi atau diskusi, dan mengajar. Keenam, Reflecting how you are learned (merefleksikan bagaimana Anda belajar), mempraktekkan bagaimana cara belajar yang sesuai dengan gaya pembelajaran yang unik, dan merenungkan; sesuatu yang tidak dipahami, proses pembelajaran berlangsung, kesuksesan yang dicapai dalam sehari, dan evaluasi.(Cara Belajar Cepat Abad XXI, Bandung: Nuansa, 2002, hal 94-97)&lt;br /&gt;2. Membaca Universitas Kehidupan&lt;br /&gt;Kehidupan menyimpan misteri yang banyak, penuh teka-teki dan menyimpan beragam  problematika, yang semua itu perlu diungkap dalam upaya menjadikan kehidupan makhluk hidup di semesta ini bisa lebih nyaman. Untuk itu, kehidupan harus dibaca dengan berwarna-warni bentuk bacaan, sudut pandang berbeda-beda, dilihat dengan kaca mata jernih, dianalisa dengan pemikiran yang kuat, dimaknai dengan hati nurani suci, dicerna dalam imajinasi, dirasakan segenap rasa. Dalam konteks inilah urgensi membaca kehidupan bagi otodidaktor.&lt;br /&gt;Allah berfirman; “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya,  (QS. An-Nahl:12) dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl:13) Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:15) Ayat-ayat di atas menerangkan tentang perintah Allah pada manusia agar berusaha memahami semesta, kehidupan, dan beragam ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi manusia. Semua itu dijadikan bahan perenungan, imajinasi, pemikiran, dan dimasukkan dalam hati nurani dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan, sekaligus sarana mendekatkan diri pada Allah.&lt;br /&gt;Akademisi “lebih nampak” berada dalam situasi kampus yang megah, agung, kokoh, dan kuat, yang seakan-akan menjauhkan mereka dari realitas kehidupan, menjauhkan mereka dengan masyarakat sehingga bahasa yang digunakan susah dipahami, menjauhkan mereka dari warna-warna kehidupan sehari-sehari, sampai-sampai banyak sarjana pertanian tidak mau bertani, sarjana manajemen tidak mau berdagang atau berwiraswata, sarjana sosial tidak mau hidup di lingkungan rakyat pedalaman, rakyat miskin atau rakyat kecil, dan sarjana-sarjana dari jurusan berbeda-beda lainnya, yang lebih memilih mencari pekerjaan di perusahaan, pabrik, super market, mall, bidang jasa lain yang tidak berkaitan dengan mata kuliah sekali pun. Dalam konteks ini, beruntunglah para otodidaktor, mereka hidup di tengah-tengah masyarakat sehingga bisa mendalami segala hal, mereka senantiasa bersentuhan dengan masalah-masalah kehidupan begitu membulatkan tekad untuk BO, mereka merasakan setiap penderitaan yang timbul, menjadikan kekurangan sebagai kelebihan, dan menikmati semesta sebagai universitas terbuka untuk belajar banyak hal.&lt;br /&gt;Memang tidak setiap sarjana bersikap seperti digambarkan di atas, sebagaimana tidak setiap otodidaktor mampu bersikap seperti yang digambarkan pula. Namun, tidak ada alasan bagi para otodidaktor untuk merasa rendah diri di hadapan orang-orang yang beruntung kuliah di universitas formal, sebab masing-masing terdapat kelebihan dan kelemahan.&lt;br /&gt;a. Membaca Fenomena Semesta&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dengan siang, dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, juga apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu menghidupkan bumi yang telah mati dan mengeluarkan di atas bumi segala binatang yang melata, dan menjalankan angin, serta awan yang berjalan di antara langit dan bumi, semua itu sebagai bukti kebesaran kekuasaan Allah bagi kaum yang berakal pikiran sehat.” (Q.S Al-Baqarah:164)&lt;br /&gt;Tentang latar belakang turunnya ayat ini, Ibnu Abbas r.a berkata, “Tokoh-tokoh Quraisy datang bertanya kepada nabi Muhammad saw., ‘Ya Muhammad kami mengharap dari padamu supaya minta kepada Tuhanmu untuk menjadikan bukit Shafa emas, untuk kami gunakan membeli kuda dan senjata, dan kami beriman kepadamu dan berjuang berperang bersamamu.’ Nabi Muhammad bersabda, “Kuatkan janjimu jika aku berdoa kemudian Tuhan menjadikan Shafa sebagai emas, sungguh kalian akan beriman kepadaku?” Maka mereka berjanji sungguh (sic). Maka Nabi  saw berdoa, tiba-tiba datang Malaikat Jibril dan berkata, “Ya Muhammad Tuhan akan memberi permintaanmu untuk menjadikan Shafa sebagai emas, tetapi jika kaummu tidak beriman akan disiksa mereka dengan siksa yang tidak pernah disiksakan kepada seorang pun di alam  ini.” Nabi Muhammad saw berkata, “jika demikian tidak ya Tuhan, biarkan aku ajak kaumku, sehari demi hari”. Maka Allah menurunkan ayat 164 ini. (HR Ibnu Mardawaih)5&lt;br /&gt;Dalam konteks belajar seumur hidup,  ayat di atas bermakna agar manusia senantiasa memikirkan tentang berbagai fenomena semesta; kejadian-kejadian yang ada di langit dan bumi, silih bergantinya malam dengan siang, apa yang ada di lautan, anugerah Allah yang berupa air, hembusan angin, awan yang berjalan di antara langit dan bumi, sehingga hasil pembelajaran bisa menguatkan keimanan seseorang sampai ke taraf yakin. Percaya saja tidak cukup, maka perlu observasi, penelitian dan analisa dengan pikiran berkenaan dengan fenomena semesta, inilah yang membawa pada keyakinan.&lt;br /&gt;Kejadian yang ada di langit pernah diteliti ilmuan Muslim yakni Umar Kayyam yang melahirkan ilmu Astronomi, kejadian yang ada di bumi diteliti Al-Kindi sehingga melahirkan Fisika, Silih bergantinya malam dan siang melahirkan beragam ilmu, kehidupan bermasyarakat melahirkan ilmu sosial tentang cara manusia memaknai kehidupan yang dijalani, samudera laut yang luas menyimpan ilmu yang belum banyak diungkap, anugerah air yang menjadi kebutuhan dasar manusia dan seluruh makhluk hidup di bumi, keberadaan awan yang bisa menentukan hujan atau tidak juga perlu diteliti agar kekeringan bisa diatasi. Fenomena-fenomena semesta yang pernah diteliti ilmuan-ilmuan Muslim, lalu diteliti Barat sehingga melahirkan Galileo, Newton, Thomas Alva Edison, Enstein, Hawking dan ilmuan-ilmuan Barat lainnya, mereka memanfaatkannya untuk kepentingan masyarakat Barat, sehingga mampu mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, sedang umat Islam menjadi penonton saja. Memang akhir-akhir ini, muncul ilmuan-ilmuan Muslim yang berhasil menemukan ilmu pengetahuan baru, tapi sayangnya mereka tidak memanfaatkan semaksimal mungkin untuk kemajuan umat Islam secara keseluruhan, kecuali yang dilakukan Muhammad Yunus peraih hadiah Nobel tahun 2006 dari Bangladesh.  &lt;br /&gt;Akhir-akhir ini muncul ilmu pengetahuan baru yakni Nanoteknologi, padahal ide awalnya ialah penelitian intensif terhadap pohon dan tanaman. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa di dalamnya terdapat mesin-mesin canggih yang terdiri dari molekul-molekul, yang bekerja secara otomatis sebagai sunnatullah dalam Islam atau hukum alam dalam paradigma Barat. Sayangnya umat Islam tidak mampu membaca sunnatullah yang ada di semesta, sehinggga mereka tidak mampu menciptakan ilmu Nanoteknologi. Pemanfaatan Nanoteknologi sedang merambah di berbagai aspek; tekonologi, ilmu pengetahuan, sosial budaya, dan alam. &lt;br /&gt;Cara termudah BO dari semesta ialah; menikmati indahnya bintang-bintang di langit, bulan dan matahari yang menyinari bumi sesuai masa masing-masing; siang sarana bekerja untuk menghidupi keluarga, malam untuk perenungan, pemikiran, intuisi dan menelaah Al-Qur’an, sewaktu memakan binatang laut, senantiasa bersyukur karena merupakan salah satu rahmat Allah, air yang menjadi kebutuhan utama manusia dijaga dan diatur dengan baik agar menimbulkan kemaslahatan bukan mudharat seperti banjir dan tanah longsor, dan pada waktu hujan tidak turun-turun yang mengakibatkan berkurangnya air dan tanaman banyak yang mati, memohon pada Allah supaya menggerakkan awan yang dapat menghasilkan hujan. Bentuk pembelajaran seperti inilah yang bisa memperkokoh keimanan, sesuatu yang bisa membawa umat Islam dalam kebahagiaan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;b. Membaca Krisis Tak Kunjung Usai&lt;br /&gt;Indonesia dalam situasi sulit semenjak krisis multi dimensi melanda, khususnya krisis ekonomi yang tanpa kunjung berakhir. Sesungguhnya Allah telah membuat sebuah perumpaan indah dalam Al-Qur’an tentang hal ini; “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus 24) &lt;br /&gt;Indonesia adalah negeri yang makmur, menanam sesuatu tumbuh sendiri, tanah-tanahnya subur, kekayaan alam luar biasa berlimpah, tapi sayangnya mulai zaman dulu sampai sekarang tidak bisa dikelola dengan baik. Ketika krisis melanda, orang-orang Indonesia kelimpungan, stres dan putus asa, padahal mereka telah menikmati hidup enak, tentram dan tenang sebelumnya. Padahal Jepang dengan sumber daya alam terbatas mampu menjadi negara maju dengan peningkatan sumber daya manusia sampai taraf maksimal, sedang sumber daya manusia Indonesia “berjalan di tempat” jika tidak mau disebut antara hidup dan mati.&lt;br /&gt;Krisis multi dimensi pada akhir abad 20 sampai awal abad 21, belum dapat diatasi secara keseluruhan. Orde Reformasi yang menjadi pengganti Orde Lama dan  Orde Baru, justru tak mampu mengatasinya, sebab kehadiran reformasi tanpa disertai paradigma, konsep dan diskursus yang jelas, sehingga yang terjadi adalah hiruk pikuk “kemenangan palsu” yang berakhir dengan kekalahan demi kekalahan. Salah satu penyebabnya karena terlalu lama hidup “enak” dalam era Soeharto. Menurut Rhenald Kasali, Ph.D “Perjalanan bangsa-bangsa sebenarnya sama saja. Mereka yang terlalu lama menikmati kesenangan akan mengalami masa-masa sulit. Kata Jim Collins (2003), “Good is the enemy of great”. Kondisi bagus adalah lawan dari kejayaan. Bangsa yang sudah puas akan berhenti belajar dan menjadi angkuh. Pada saat itulah hidup kita mengalami ujian yang sesungguhnya.”6 &lt;br /&gt;Demokrasi memang sudah berlangsung dengan baik, bahkan melebihi yang dicapai AS sekali pun, sebab di sini setiap pemimpin, mulai dari desa sampai negara, dipilih melalui pemilihan umum langsung. Semoga di masa mendatang mampu melahirkan Pemimpin Sejati guna mengatasi hal ini, khususnya mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan korupsi. &lt;br /&gt;Krisis multi dimensi bukan kesalahan pemerintah semata, kita sebagai rakyat Indonesia turut bertanggung jawab terhadap apa yang dialami. Sebab kita “diam” seribu bahasa ketika Soeharto memerintah dengan semena-mena, berhutang sana sini sampai menumpuk, menanggung beban hutang BLBI akibat kekeliruan perbankan, mengeruk ekonomi rakyat banyak untuk kepentingan sebagian kecil konglomerat, IMF mengatur Indonesia seenaknya sendiri dan kesalahan-kesalahan lainnya yang dibiarkan begitu saja. Apalagi kita hidup penuh rasa curiga, saling menyalahkan, saling menjatuhkan, dan saling tidak percaya.&lt;br /&gt;Kelemahan masyarakat Indonesia lainnya ialah mentalitas rapuh yang mudah menyerah kalah pada keadaan, kegagalan, kerancuan, dan pada orang lain, sehingga tidak mampu beradabtasi dengan arus perubahan yang terjadi, apalagi mewarnai perubahan dan menjadi pelopornya. Mentalitas inilah yang membuat Indonesia tidak akan pernah mampu merdeka dalam pengertian yang hakiki dalam berbagai aspek kehidupan.&lt;br /&gt;Para otodidaktor harus mampu membaca semua itu, lalu berupaya menemukan alternatif-alternatif baru bagi masyarakat agar bisa mengatasi permasalahan, memberikan inspirasi dalam tulisan-tulisan yang ditulis dengan sepenuh jiwa dan raga, menyebarkan ketulusan atau sikap tanpa pamrih sebagai kebiasaan hidup keseharian, menjadikan moralitas sebagai pegangan hidup, menjadikan agama sebagai jalan hidup di dunia dan akhirat, menjadikan kejujuran sebagai sikap hidup, menerangi dengan cahaya-cahaya nurani yang mulai tertutup kegelapan, menghadirkan kedamaian, melahirkan ide-ide baru yang cemerlang dan aplikatif, dan menemukan solusi-solusi baru dalam kehidupan. Inilah makna pembacaan terhadap krisis di negeri ini.&lt;br /&gt;c. Membaca Bencana-Bencana Alam&lt;br /&gt;Bencana alam datang silih berganti, gempa dan tsunami Aceh yang menelan korban jiwa ratusan ribu orang dengan kerugian materi yang sangat besar sekali, banjir bandang di Situbondo, Pacet, Jember, dan NTB, tanah longsor di Banjar negara dan gunung sampah Bandung yang menimbun ratusan nyawa, gempa dasyat di Yogyakarta yang efeknya sangat besar dengan korban jiwa ribuan orang, puluhan ribu orang terluka berat dan ringan, kerusakan yang dasyat terhadap bermacam-macam jenis bangunan, dan trauma mendalam bagi mereka yang mengalami, dan banjir bandang di beberapa daerah di Sulewesi, khususnya Sinjai Sulawesi Selatan yang banyak memakan korban jiwa, dan lumpur panas Lapindo yang menjadi prahara bagi masyarakat Sidoarjo dan Jawa Timur. Belum lagi ditambah musibah-musibah lain yang tak kalah mengerikan; banjir rutin setiap musim di beberapa kawasan, flu burung, musibah di bidang transportasi dan berbagai penyakit lainnya tanpa ditemukan obatnya. Pertanyaannya apa makna musibah tersebut bagi rakyat Indonesia? Pelajaran apa yang diberikan Allah pada umat Islam? Bagaimana menyikapi hal ini?&lt;br /&gt;Setiap musibah dasyat terjadi, otodidaktor memperhatikan detil setiap kejadian, bahkan sangat dianjurkan untuk datang langsung membantu, jika tidak bisa bantulah dengan tulisan. Sebagai perbandingan, saya menulis tiga tulisan dalam bentuk opini ke harian Republika; Membudayakan Kesadaran Personal, ke harian Kedaulatan Rakyat; Gempa Yogya Bagi Indonesia, ke harian Media Indonesia; Islam Menangis, honor semua tulisan jika dimuat akan diberikan pada korban gempa di Yogyakarta dan Sebagian Jawa Tengah lewat media yang memuat tulisan, meski belum ada konfirmasi atas pemuatan tiga tulisan tersebut sampai buku ini ditulis, paling tidak saya telah berusaha membantu.&lt;br /&gt;Cara kreatif memahami makna bencana alam adalah seperti yang dilakukan tokoh Hari dalam novel Bidadari Posmodern, ketika dirinya mengalami puncak putus asa, sehingga timbul ide untuk bunuh diri, tiba-tiba timbul dalam benaknya gambar-gambar orang-orang yang mati menggenaskan disapu gelombang tsunami di Aceh,  diterjang banjir bandang di Situbondo, Pacet Mojokerto dan Jember, lalu dia sadar bahwa bunuh diri bukan jalan keluar terbaik dari penyelesaian masalah. Kesadaran muncul setelah merenungkan makna bencana-bencana alam bagi kehidupan manusia.7&lt;br /&gt;Bencana alam yang terjadi seringkali karena kelalaian manusia dalam mengelola sumber daya alam, sehingga alam menjadi “marah” dan menyerang balik. Untuk itu, perubahan fungsi kawasan tertentu, penebangan hutan yang berlebihan, pemanfaatan sumber daya alam tanpa mengindahkan lingkungan, dihentikan mulai saat ini juga. Harus ada evaluasi menyeluruh terhadap eksploitasi sumber daya alam di Indonesia, sehingga bencana alam bisa dihindari.&lt;br /&gt;Orang-orang yang belum ditimpa bencana alam, pandai-pandai membaca keadaan, jika ada tanda-tanda akan terjadinya bencana alam diantisipasi sedini mungkin dengan memelihara dan memperbaiki lingkungan sekitar. Sebagai seorang muslim, mereka bisa memohon pada Allah lewat dzikir yang tulus, shalat Tahajjud tengah malam dan hajat, membaca Al-Qur’an dan berdoa dengan khusu’ agar tidak tertimpa musibah. Ini dilakukan sepanjang waktu seumur hidup. &lt;br /&gt;d. Membaca Kehidupan Sehari-Hari&lt;br /&gt;Menjalani hidup dalam rutinitas sehari-sehari seperti menjalani segala sesuatu secara sama namun berbeda, mengalami berbagai hal yang menyenangkan dan menyedihkan, melewati tantangan-tantangan, melakukan hal-hal yang sia-sia, sepele, kecil, dan remeh, bergaul dengan masyarakat dengan segala problematikanya, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup; makan, minum, berkarya (bagi yang tidak berkarya berarti nonsens), dan tidur. Semua itu harus dibaca dengan bacaan yang kritis, kreatif, konstruktif, dan dari berbagai macam sudut pandang untuk mampu melahirkan kebijaksanaan dan kearifan.&lt;br /&gt;Suatu hari Anda merasa dimusuhi orang lain tanpa sebab yang jelas, sebagai manusia biasa pasti marah, gelisah, risau, dan khawatir. Ini harus dikelola dengan baik, selidiki apa yang menyebabkan semua itu, temukan akar permasalahan, cari solusi terbaik, lakukan solusi tersebut, lalu perhatikan apa ada perubahan tingkah laku atau tidak. Jika tidak ada perubahan, lakukan sekali lagi sampai benar-benar yakin dengan solusinya. Jika tetap tidak ada perubahan, doakan pada Allah agar mereka yang memusuhi kita menjadi sadar terhadap apa yang dilakukan.&lt;br /&gt;Pada hari yang berbeda, Anda berusaha melakukan sesuatu yang baik demi kepentingan masyarakat, namun mereka menganggap yang dilakukan menyimpan kepentingan terntentu, ada udang di balik batu, ada maksud di balik kebaikan, dan kecurigaan lainnya. Hadapi hal ini dengan kesabaran, sebab memiliki kesabaran dalam diri adalah anugerah terbesar dalam hidup. Dengan kesabaran, Anda kelihatan kalah dari luar, namun dilihat dalam aspek berbeda kitalah pemenangnya. Dengan kesabaran, Anda akan mampu menangkap makna di balik apa yang terjadi. Jika tidak percaya, alamilah hal ini dan bersikaplah sabar. &lt;br /&gt;Ada seorang pengemis yang menggigil kedinginan di sebuah sudut pasar, malam telah beranjak, hati Anda merasa iba melihat keadaannya, maka tergeraklah untuk memanggil becak dan membawanya ke Puskesmas terdekat. Anda biayai biaya pengobatan, dan mengantarkannya sampai di rumah gedeknya yang pengap, sempit dan tidak terurus. Lalu keesokan harinya, Anda kunjungi dengan membawa kebutuhan pokok yang diperlukan. Di mata orang yang dibantu hal itu bernilai sangat besar sekali,  pasti berulangkali dia akan berterima kasih, mendoakan kebaikan Anda, dan bersyukur pada Allah, padahal nilai bantuan yang diberikan tidak seberapa. Ini dakwah yang paling efektif dibanding berdzikir sambil menitikkan air mata, namun sikap hidup tidak berubah, berdakwah di masjid besar atau televisi, namun orang-orang yang hadir hanya menangkap kelucuan-kelucuan dari isi dakwah yang disampaikan.&lt;br /&gt;Dalam konteks membaca kehidupan sehari-hari, Anda berusaha melakukan sesuatu yang bermakna bagi diri, keluarga, orang lain dan orang-orang yang hidup dalam kekurangan, sehingga makna kehidupan di balik semua peristiwa dalam kehidupan sehari-hari menjadi terang seperti terik matahari atau terang bulan pada pertengahan bulan Hijriah.&lt;br /&gt;e. Membaca Nasib Sebagai Pemicu Semangat&lt;br /&gt;Nasib adalah ketentuan Allah yang sulit dipahami, susah ditebak, tidak jelas, dan hanya diketahui setelah suatu kejadian terjadi. Untuk itu, perlu dimengerti makna-makna nasib yang dialami setiap orang dalam perjalanan hidupnya. Sebagai perbandingan, tentu saja pengalaman pribadi saya akan diceritakan agar bisa menjadikan garis nasib sebagai perjalanan hidup yang wajar, namun mampu memicu semangat untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dalam hidup umat manusia.&lt;br /&gt;Sebagai alumni Pesantren Al-Amien (mondok selama 8 tahun), saya membiasakan diri terlibat dalam berbagai organisasi, aktif membaca buku semenjak masuk pondok sampai keluar, aktif menulis semenjak kelas III di pesantren -setingkat kelas III SMP-, mempelopori penerbitan mading SUASA dan majalah AL-HIKAM, meraih juara I berbagai lomba penulisan cerpen dan ilmiah populer, juara I lomba baca tulis cerpen se Madura di Talang Sumenep, pada usia 22 tahun tulisan dimuat di harian Surya berbentuk Kolom Mahasiswa, tapi garis nasib menaqdirkan saya gagal kuliah di Undip Semarang meski beasiswa ICMI sudah di tangan, jika lulus UMPTN.  Gairah untuk kuliah di IAIN tidak tertarik, sebab lebih tertarik pada sastra, manajemen dan ilmu komunikasi. Pada saat yang sama orang tua jatuh bangkrut dan tidak mampu membiayai kuliah. Pertanyaannya, akankah upaya untuk belajar akan terhenti dengan gagal kuliah?&lt;br /&gt;Cara membaca taqdir buruk tersebut adalah dengan merintis kembali upaya membaca kembali mulai tahun 2000 sampai sekarang. Setiap tahun, saya sediakan uang antara Rp. 150.000,- s/d Rp. 250.000,- untuk membeli buku bermacam-macam. Awalnya membeli dan membaca buku-buku filsafat, lalu mempelajari sastra; puisi, cerpen, novel, drama, skenario, kritik sastra, buku-buku marketting, dan terakhir memperdalam Islam kembali. Dari hasil pembacaan, saya menghasilkan; empat skenario, dua novel, 2 ontologi puisi dan 1 ontologi terbaik dari keduanya berikut puisi-puisi baru, satu kumpulan cerpen, satu buku pemasaran.&lt;br /&gt;Garis nasib kembali membimbing pada kegagalan demi kegagalan, cerpen-cerpen ditolak berbagai media, beberapa Resensi Buku yang dikirim ke beberapa media juga gagal dimuat, ketika berangkat ke Jakarta tahun 2005 untuk menerbitkan kumpulan cerpen dan novel, menawarkan skenario ke beberapa PH di Jakarta, bahkan mengangkat seorang manajer untuk mempromosikan skenario, namun hasilnya kembali gagal. Lalu ada harapan meminta dana pada BAMUIS BNI untuk menerbitkan tulisan, namun lagi-lagi ditolak. &lt;br /&gt;Terus terang, saya hampir putus asa, stres, sedih, kecewa dan menangis pilu sendirian. Dalam perenungan terhadap semua kegagalan ini, lalu terlintas dalam imajinasi; apa tidak sebaiknya saya terus menulis asal bisa bermanfaat untuk orang lain? Bukankah Frans Kafka seumur hidup karyanya yang berupa novel dan kumpulan cerpen tidak ada yang terbit, begitu terbit disebut pelopor sastra posmodern? Dari sini timbul semangat menulis kembali, maka lahirlah buku Berniaga dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar dan skenario Bidadari Modern yang digubah menjadi sebuah novel dengan judul Bidadari Posmodern. &lt;br /&gt;Saya kembali berusaha menerbitkan tulisan ke Yogyakarta dengan melakukan pinjaman uang terhadap asuransi Bumiputra sebesar Rp. 3.000.000,- dengan cicilan Rp. 162.000,- selama 2 tahun. Uang tersebut digunakan untuk membiayai penerbitan tulisan. Mulailah saya berhubungan dengan penerbit Pilar hampir dua Minggu, namun perjanjian deadlock atau gagal, lalu saya dipertemukan dengan Gus Zainal penerbit Kutub, alhamdulillah novel Bidadari Posmodern bisa diterbitkan bulan September lalu dengan jaminan saya menyumbang sebagian biaya penerbitan sebesar Rp. 2.000.000,-. Lalu buku Berniaga Dengan Iman, Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses juga sudah diterbitkan Kha-tulis-tiwa Press. Sesuatu yang gelap, berubah menjadi titik terang. Namun ini belum berakhir, dua buku yang terbit berhadapan dengan merosotnya daya beli masyarakat terhadap buku, sehingga belum laku secara optimal.&lt;br /&gt;Garis nasib yang buruk juga dialami dalam upaya mencari jodoh, setelah cinta pertama dan kedua kandas dalam jurang terjal, saya sampai mengalami kegagalan meminang gadis untuk dijadikan istri sebanyak 7 kali, sehingga hidup sunyi, sepi, dan hampa, -alhamdulillah kini saya menemukan jodoh saya-. Tapi saya menangkap kegagalan ini sebagai cara bijak Allah agar terus menerus berkarya, dan bisa jadi, jika kawin, istri saya tidak akan mengizinkan pinjam uang untuk menerbitkan buku. Dengan kesendirian, saya bisa bebas mengatur keuangan, khususnya membiayai cita-cita mulia menjadi penulis, pelopor pendidikan Kuliah Alternatif bagi yang tidak mampu kuliah formal, dan merancang Pelatihan Learning For Living (LFL) sebagai pendukung utama.&lt;br /&gt;Hampir dua tahun saya berusaha mewujudkan Kuliah Alternatif; dari Wonosari, Depok, Lombok Tengah NTB, Palembang, Samarinda, dan terakhir balik lagi ke Depok, tapi sulit sekali merealisasikannya. Memang saya dapat resistensi dari beberapa kelompok tertentu yang berusaha dengan segala cara menggagalkan impian ini. Tapi saya tidak pernah menyerah, sehingga Allah buka jalan kesepakatan dengan  Nurrohim; PKBM Bina Insan Mandiri Terminal Depok. &lt;br /&gt;Jika Pramudya Ananta Toer menganggap nasib buruk adalah hantu menakutkan, sehingga tidak percaya Tuhan  sang penentu nasib. Sebaliknya, saya mempercayai nasib sebagai cara arif dari Tuhan untuk mengajarkan pada manusia agar mereka melakukan yang terbaik dalam hidupnya, menguji dengan musibah agar diuji secara psikis, mental dan fisik, dan memicu manusia agar mengoptimalkan semua potensi sampai ambang batas yang bisa diraih. Garis nasib adalah guru terbaik dalam kehidupan yang sangat bermakna bagi manusia, garis nasib adalah cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia dengan cara yang lebih kreatif, jenius, penuh misteri, dan mengajarkan rahasia-rahasia tersembunyi dari diriNYA. Terima kasih bung Pram! Ucapan Anda untuk tidak percaya Tuhan membuat keyakinan saya pada Allah semakin dalam, saya selalu bersama dengan Allah dalam segala keadaan yang dialami; sedih atau senang, menangis atau gembira, sengsara atau bahagia, gagal atau berhasil, putus asa atau dalam keadaan baik, stres atau tenang, nasib buruk atau baik. &lt;br /&gt;3. Belajar dari Mana, Siapa dan Apa Saja&lt;br /&gt;Nasihat orang bijak bahwa untuk menjadi orang yang baik harus bergaul dengan orang yang baik pula. Jika ini diterapkan dalam cara BO, maka untuk menjadi otodidaktor yang baik harus berlajar pada guru yang baik. Padahal dalam realitas kehidupan, mencari guru yang baik sulit sekali, maka dari itu dalam konteks BO, nasihat orang bijak di atas hanya bisa dimanfaatkan pada tahap awal, pada tahap lanjutan harus mampu memiliki paradigma baru.&lt;br /&gt;Paradigma baru tersebut adalah mampu belajar dari mana saja tanpa melihat latar belakang, siapa saja orangnya, dan dari apa saja yang ditemui, dijumpai, dirasakan, dialami, dipikirkan, diimajinasikan, dan dibisikkan hati nurani. Dengan paradigma baru ini, maka tempat otodidaktor adalah dunia yang terbuka lebar, guru bagi otodidaktor adalah siapa saja yang mampu mengajarkan sesuatu yang sepele sekalipun, dan apa saja bisa dipelajari untuk dipetik maknanya, ditetemukan hikmah yang dikandung, didalami maksud tersembunyi, dan dijadikan sarana membentuk karakter diri yang mempuni terhadap tantangan zaman seberat apapun juga.&lt;br /&gt;Tujuan dari semua pembelajaran adalah suatu supaya mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna, dan tidak membiarkan waktu berlalu dengan sia-sia. Menurut Benjamin Franklin; “Kalau anda cinta kehidupan, maka janganlah sia-siakan waktu, karena bahan mentah kehidupan tersusun dari waktu.”8&lt;br /&gt;a. Belajar dari Mana Saja&lt;br /&gt;Ada pemahaman sempit dari sebagian umat Islam, bahwa segala sesuatu yang berasal dari Barat itu buruk, sampah, tidak berguna, tidak bermanfaat, sesuatu yang sia-sia, dan nonsens, sedang segala sesuatu yang berasal dari Timur Tengah yang merupakan asal muasal Islam dianggap baik, bermoral, bagus, dan benar. Pandangan sempit ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang kerdil di Barat yang mengganggap bahwa segala sesuatu yang bukan berasal dari mereka adalah salah, keliru, menyimpang, dan tidak berguna. &lt;br /&gt;Cara pandang ini harus dirubah, dengan cara mampu mempelajari apa pun dan dari mana pun asalnya. Pada awal pembelajaran, perlu memperdalam Islam sesuai sumber aslinya dalam upaya memperkuat keislaman dan mempertebal keimanan. Ketika keyakinan sudah mengakar dalam jiwa dan hati nurani, mulailah membuka diri, termasuk yang berasal dari Barat; film, fiksi, sastra, pengetahuan, dan ilmiah. Apa yang berasal dari Barat tidak akan mengganggu keislaman dan keimanan kita, malah seperti yang terjadi pada saya, justru memperkuat keislaman dan keimanan, sebab saya mampu mengkritisi setiap pemikiran, buku, imajinasi, dan pengetahuan yang berasal dari Barat. &lt;br /&gt;Anda juga harus mampu belajar tidak hanya pada Barat atau Timur, melainkan juga Selatan dan Utara, jika arah dijadikan pedoman. Setiap sesuatu bermakna dalam kehidupan asal bisa dilihat dengan kaca mata pikiran yang jernih, imajinasi yang kreatif, perasaan yang tenang, dan hati nurani yang suci.&lt;br /&gt;Dari Barat Anda  BO cara mereka sampai bisa mencapai kemajuan seperti sekarang ini, sebab selama ini umat Islam hidup di angan-angan; mereka bermimpi shalat di bulan, padahal orang Barat yang pertama kali mendarat di Bulan, mereka ingin kaya raya tapi pemalas dan mental rapuh, mereka bermimpi hidup di planet Mars, namun orang AS yang bereksprimen secara intensif ke Planet tersebut. Realitas ini menunjukkan bahwa dari sutut ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, dan metodologi, umat Islam perlu belajar dari Barat agar mereka tidak menumpuk kertas seminar untuk sampai ke bulan, melainkan berangkat dengan teknologi, ilmu pengetahuan, dan cara yang benar. Untuk itu generasi Muslim masa depan harus mampu menguasai bidang-bidang yang dimiliki orang Barat, asal tidak merubah keyakinan terhadap Islam.&lt;br /&gt;Satu contoh sederhana belajar pada orang Barat; saya menonton film (sorry lupa judulnya, sebab film lama), dalam film tersebut seorang anak kecil yang menjadi aktor utama berusaha membantu 3 orang di sekitarnya secara tulus sampai orang yang dibantu keluar dari kesulitannya, 3 kebaikan yang dilakukannya juga dilakukan tiga orang yang dibantu, begitu seterusnya, sehingga kebaikan tulus tanpa pamrih ini menyebar di seluruh AS, pada ending film anak tersebut mati ditusuk teman sekolah yang dipukulnya sehari sebelumnya karena menganiaya sahabatnya. Dari film tersebut terbersit inspirasi, bagaimana jadinya jika setiap masyarakat Indonesia membantu 3 orang tanpa pamrih agar yang dibantu bisa mengatasi kesulitannya, maka kebaikan tanpa pamrih yang mulai hilang di bumi pertiwi, menjadi menyebar di bumi Indonesia. Sehingga mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam berhasil keluar dari kesulitan-kesuilitan yang dihadapi, hal ini akan membantu mengatasi krisis multi dimensi yang menimpa mereka. Di samping itu, Allah tidak pernah tidur, Dia selalu melihat tingkah laku hamba-hambaNYA, siapa tahu dengan itu, Dia membuka pintu barokah, rahmat, inayah, hidayah, dan rizki pada seluruh umat Islam di Indonesia. Insya Allah, kebangkitan Islam di dunia akan lahir di Indonesia, akan berlangsung tidak lama lagi. Inilah contoh sederhana BO pada orang Barat dengan cara yang benar.&lt;br /&gt;“Meskipun terdapat persamaan esensi antara Islam dan Barat, aspek kesejarahan keduanya berbeda. Periode sejarah Barat bermula dua puluh abad yang lalu dan telah melalui masa klasik, pertengahan dan modern. Sejarah Islam baru mulai empat belas abad yang lalu dan hanya melewati dua periode; klasik, tujuh abad pertama, dan pertengahan, tujuh abad setelahnya. Islam datang pada akhir periode klasik Barat. Karena itu, masa klasik Islam berbarengan dengan masa pertengahan Eropa. Sementara masa pertengahan Islam berbarengan dengan masa modern Barat. Ketika Islam menjadi guru, Eropa menjadi muridnya. Tetapi ketika Eropa menjadi guru, dunia Islam menjadi muridnya. Eropa sekarang sedang mengakhiri masa modern dan belum tahu mau menuju kemana. Sementara Islam sedang mengakhiri masa pertengahan dan bergeser dari masa reformasi dua abad yang lalu menuju masa pencerahan.”9  Pendapat Hasan Hanafi ini menunjukkan bahwa Islam sedang dalam proses untuk mencapai kemajuan di segala bidang.&lt;br /&gt;Tidak hanya BO dari Barat, tapi juga harus mampu belajar dari mana saja, termasuk dari orang-orang komunis China atau Rusia, Jepang, Afrika, dan Amerika Latin. Misalnya dari orang-orang China belajar tentang gaya hidup hemat dan prinsip berdagangnya yang luar biasa yakni menjual harga barang murah dengan kualitas tinggi atau paling tidak sama, dari Rusia yang merupakan perubahan dari Uni Sofyet kita belajar bahwa menjalani hidup tanpa Tuhan akan berakhir dengan kehancuran, dari Jepang kita belajar cara mengelola sumber daya alam yang terbatas, cara mengelola kehancuran dan keterpurukan, mentalitas baja, dan cara mengelola perekonomian sehingga berhasil menjadi salah satu negara maju, dari Afrika kita belajar bahwa warna kulit hakikatnya adalah warna kehidupan yang harus diterima apa adanya tanpa berusaha bersikap rasis, dari Amerika Latin kita belajar tentang bakat-bakat alam di bidang Sepak Bola khususnya yang mampu menghasilkan anak-anak ajaib seperti Pele, Maradona, Ronaldo dan Ronaldinho.&lt;br /&gt;b. Belajar dari Orang-Orang Terbaik di Bidangnya&lt;br /&gt;Dalam kehidupan yang dijalani, seringkali Anda mengagumi, mengidolakan, mendambakan, bercita-cita, dan berambisi menjadi tokoh-tokoh tertentu yang dianggap berhasil dalam bidang mereka masing-masing. Mengidolakan seseorang memang sesuatu yang lumrah, namun menjadi kebablasan manakala sikap hidup yang salah, keliru, sesat, dan keluar dari koridor agama Islam diikuti tanpa bantahan. Inilah efek negatif mengidolakan seseorang.&lt;br /&gt;Dunia ini melahirkan beragam  tokoh yang berhasil sesuai dengan bidang yang digelutinya. Bill Gates menjadi terdepan di bidang software komputer, Enstein di bidang ilmu pengetahuan, Shalahuddin Al-Ayyubi seorang pemimpin militer yang bijaksana, Michael Schumacher dan Valentino Rossi menjadi pemecah semua rekor di bidang balap mobil dan motor, Iqbal menjadi salah satu tokoh Islam terkemuka, Jalaluddin Rumi menjadi penyair sufistik, Albert Camus menjadi pelopor sastra absurd. Masih banyak daftar tokoh-tokoh terbaik di bidangnya, mereka berhasil menjadi yang terbaik berkat usaha yang terbaik, pemikiran yang terbaik, kerja keras yang terbaik, dan melakukan segala sesuatu dengan standar tinggi, khususnya di bidang yang digeluti.&lt;br /&gt;Indonesia juga melahirkan tokoh-tokoh hebat yang bisa dipelajari. Dari Soekarno kita belajar cara menghadapi penderitaan di penjara, memimpin bangsa sewaktu masih Dwi Tunggal dengan Hatta, kemampuannya berorasi di depan jutaan orang dan berbagai forum besar dalam dan luar negeri, dari Hatta kita belajar kreativitas menulis yang tak pernah mati, belajar berorganisasi yang benar, belajar dari buku dengan kreatif dan kritis, mempelopori ekonomi kerakyatan dan bidang pendidikan dan karakter diri yang kuat, dari Soeharto belajar cara mengelola ekonomi supaya mampu mensejahterakan rakyat, dari SBY kita belajar cara menangkap aspirasi rakyat lewat SMS dan pertemuan langsung dengan rakyat lewat open house, dan cara menghadapi rakyat yang sedang tertimpa bencana, dari Amien Rais kita belajar kemampuan intelektualnya yang luar biasa, dan kemampuan lobi yang brilian, dari Jendral Soetanto kita belajar ketegasannya mengungkap kasus-kasus besar yang selama ini menjadi misteri, kejujuran, dan keberaniannya mengatasi berbagi permasalahan, dari Tiger Wood kita belajar bahwa bermain golf itu sulit, banyak tantangan, penuh rintangan dan jalan berliku untuk berhasil menjadi yang terbaik, dari Valentino Rossi kita belajar cara menghadapi dan mengatasi tantangan dengan cara yang benar, bersikap tepat di saat yang tepat, dari Michael Schumacher kita belajar tentang kerja keras pantang menyerah, usia bukan halangan untuk meraih prestasi, kegigihan mencapai apa yang diinginkan, dari Ronaldo kita belajar bahwa kaki patah bukan halangan meraih prestasi lebih tinggi begitu sembuh dari sakit, kecaman, makian, dan hujatan adalah sarana melakukan sesuatu yang lebih baik di masa mendatang. &lt;br /&gt;Mengambil pelajaran dari orang-orang terbaik yang berhasil dengan prinsip Jika anda tidak mau menerima apapun kecuali yang terbaik, anda akan sangat sering mendapatkannya dalam hidup Somerset Maugham10. Maka belajar dari mereka tidak sekadar berupaya sekuat tenaga untuk menjadi seperti mereka, melainkan menelusuri lebih dalam pada daya upaya, jerih payah, kerja keras, jatuh bangun, kegagalan, kesialan, dan masa-masa sulit yang dialami, sebelum menjadi yang terbaik. Semuanya terjadi tidak seperti membalikkan telapak tangan atau menggunakan sulap “abracadabra” langsung jadi, melainkan butuh proses.&lt;br /&gt;Setiap otodidaktor memiliki motivasi, semangat, kerja keras, kegigihan, kecerdasan, keuletan, hati nurani dan imajinasi seperti mereka agar kelak menjadi yang terbaik di bidang yang digeluti. Dengan itu semua, setiap usaha untuk menselaraskan antara bekerja dan belajar, dijalankan dengan sepenuh jiwa dan perasaan senang, sehingga dijalankan secara maksimal, mengenai hasil lihatlah secara bijaksana dalam konteks masa kini dan akan datang.&lt;br /&gt;Bisa jadi usaha terbaik yang dilakukan di bidang tulis menulis mengalami kegagalan seperti halnya Frans Kafka, seumur hidup karyanya tidak ada yang diterbitkan, tapi dialah pelopor sastra posmodern. Kita bisa belajar dari Frans Kafka dalam dua hal. Pertama; karya tulis yang diciptakan berusaha membuat dunia yang penuh teka-teki dan keanehan; pembaca bisa menemukan sesuatu untuk dirinya dalam karya-karyanya. Hal ini menyentuh salah satu elemen penting yang dijalani masyarakat modern. Kedua; membuka cakrawala baru tentang cara meng-ada seorang penulis pada masa mendatang, yang mana Kafka hidup demi karyanya, hidup di dalam karyanya, dan dalam pengertian fisik dibentuk olehnya. Sebagai bukti; bukan menjadi penulis profesional, malah pekerja di perusahaan asuransi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan hidup pada siang hari, sore dan malam hari baru bisa menulis, dan Kafka ingin agar Max Brod membakar semua karyanya setelah dia meninggal dunia. Tapi Max Brod tidak setuju, dia justru menerbitkan lima volume karya lengkapnya, sehingga Kafka menjadi abadi, terkenal dan diakui sebagai pelopor sastra posmodern, padahal ketika hidup, dia tidak menikmati semua itu.11 &lt;br /&gt;Hal ini penting ditekankan, sebab para otodidaktor yang belajar  secara sungguh-sungguh kemungkinan menghadapi realitas ini, dikhawatirkan saat ini benar-benar terjadi, segala daya upaya untuk membaca, menulis dan berkreasi terhenti karena hasil yang buruk dalam konteks kekinian. &lt;br /&gt;c. Belajar dari Orang-Orang Biasa&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita temukan orang-orang biasa, namun sikap hidup, hati nurani, mata batin, ketenangan, dan kemulyaan dirinya melebihi orang-orang terkenal, jika dilihat dengan kaca mata bijaksana. Kita harus banyak belajar dari mereka tentang cara menjalani hidup menjadi orang biasa, tapi kreativitas, karya, sumbangsih, pemikiran, hati nurani dan imajinasi dikerahkan untuk menghasil sesuatu yang terbaik bagi diri, keluarga, masyarakat, umat Islam dan umat manusia.&lt;br /&gt;Orang-orang biasa bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian kecil di antaranya tidak menjadikan pekerjaannya sebagai tujuan, sekadar sarana agar bisa menjalani hidup, namun sebagian besar lainnya bersikap sebaliknya. Dalam bekerja, mereka berusaha dengan gigih, kerja keras dan pantang menyerah, lalu dalam aspek berbeda mereka berupaya memberikan sumbangsih bagi orang lain dalam bentuk yang mereka bisa. Misalnya, yang punya kreativitas tangan, membantu menyumbangkan kreativitasnya tanpa pamrih, yang punya keahlian menulis menyumbangkan tulisannya untuk orang yang membutuhkan, yang punya kekuatan fisik yang bagus, menjadi sukarelawan saat bencana datang melanda di sebuah kawasan.&lt;br /&gt;Memang, untuk menemukan orang biasa yang bersikap luar biasa, dalam zaman ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tapi itu bukan alasan untuk tidak belajar dari mereka. Sebab keberadaan mereka hakikatnya ada di mana-mana, sayangnya banyak orang yang tidak menyadari, atau malah tidak menyukai keberadaannya. Sebab dalam zaman yang mana segala hal diukur dengan materi, jika masih ada orang yang tulus membantu orang lain, ini aneh namanya, suatu keanehan yang tentu tidak disukai kebanyakan orang.&lt;br /&gt;Dalam berkarya, apa pun bentuk karya yang dihasilkan, lakukanlah yang terbaik, meski tetap menjalani kehidupan ini sebagai orang biasa dengan sikap hidup yang luar biasa. Inilah gabungan dari konsep belajar dari orang yang terbaik dan orang biasa yang luar biasa.&lt;br /&gt;Di samping itu, Anda bisa belajar dari siapa pun juga, termasuk dari seorang pengemis. Suatu hari saya memberikan uang pada pengemis sebesar Rp. 1.000,- (biasanya diberi 100 sampai 500 rupiah) dia berterima kasih sekali dan mendoakan dengan tulus, padahal uang yang diberikan nilainya tidak seberapa. Dari pengemis itu, saya belajar mensyukuri sebesar apapun rizki yang diperoleh, dan menerima apa saja taqdir atau nasib yang dialami; baik atau buruk. &lt;br /&gt;Saya belajar dari Khairi Husni Afrendy dan Bapak Subhan Khotib yang berpuasa sepanjang tahun (sudah dilakukan lebih dari 5  tahun) untuk mencari kebenaran hakiki, cara melakukan shalat khusyu’, cara berkomunikasi dengan Allah, menikmati ibadah spritual sebagai kesenangan hakiki, belajar tentang kehidupan dari makna-makna yang tersembunyi, dan demi kebahagian keluarga di dunia dan akhirat, dari tokoh kecil dalam film lama, bisa belajar ketulusan tanpa pamrih, dari pengemis yang benar-benar menderita, bisa belajar cara mengatasi kesulitan hidup, dari guru kecil di desa yang berjuang dengan gaji seadanya, bisa belajar cara berjuang yang benar dan memaknai “jihad” dalam makna hakiki, bukan yang diterjemahkan secara salah oleh para terorisme. Semua orang yang disebutkan adalah tokoh-tokoh kecil yang mungkin bagi orang lain tidak bermakna, namun bagi saya sangat bermakna sekali.&lt;br /&gt;Perbedaan antara intelektual, penulis, saintis, sastrawawan, penyair Muslim sejati dengan orang Barat adalah keyakinan terhadap Islam membuat mereka mampu menghadapi kehidupan dan kematian dengan senyum, sebaliknya orang-orang Barat menghadapi kehidupan dan kematian dengan kepiluan, keresahan dan bunuh diri sebab keyakinan agama dan ilmu pengetahuan mereka tak mampu menopang hidupnya.  &lt;br /&gt;d. Belajar dari Penyakit, Penderitaan, dan Kesedihan&lt;br /&gt;Setiap orang pasti pernah sakit dalam hidupnya, sakit yang diderita biasanya bermacam-macam sebab, namun yang membedakan dari setiap orang adalah cara menghadapi suatu penyakit. Ada cara orang biasa menghadapi penyakit, ada cara orang hebat menghadapi penyakit dan ada orang yang mampu belajar secara kreatif dari penyakit yang diderita.&lt;br /&gt;Apa pun penyakit yang diderita, membuat paling tidak bagian-bagian tubuh terasa sakit, yang tentu saja berakibat pada rasa sakit di sekujur tubuh. Orang biasa akan menghadapi penyakit ini dengan berobat ke dokter, untuk yang tinggal di pedesaan terpencil mungkin pergi ke dukun, lalu diobati sampai sembuh dan penyakit sembuh. Begitu sembuh, penyakit yang diderita tidak berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya, sehingga terkadang penyakit itu kambuh lagi atau terserang penyakit berbeda. Begitu berobat, sembuh lagi, dan sekali lagi tidak ada sesuatu pun yang bermakna dari penyakit yang diderita.&lt;br /&gt;Ada orang yang hebat menghadapi penyakit, konon ada seorang sufi yang dari “duburnya” terus menerus keluar kotoran atau cairan, sehingga dia terpaksa berbaring di ranjang. Sebagai manusia biasa, awalnya dia mengeluh terhadap penyakitnya yang tidak sembuh-sembuh, lalu syahdan suatu waktu penyakitnya sembuh kembali, namun anehnya pengalaman batin yang dasyat yang senantiasa hadir menamani sewaktu sakit, ikut hilang ketika sembuh dari sakit. Akhirnya dia memohon agar bisa “menikmati” penyakitnya kembali, ternyata memang penyakitnya kambuh lagi. Saat bersamaan pengalaman batin yang luar biasa dialaminya sambil menikmati rasa sakit yang diderita. Suatu waktu ada teman sufi lain yang berusaha menyembuhkan, sang sufi justru melarangnya, sebab dia mencari ridha Allah berikut pengalaman-pengalaman batin luar biasa yang tak ternilai harganya.&lt;br /&gt;Untuk bersikap seperti halnya sufi di atas memang sulit, namun dari apa yang dialaminya, ada pelajaran penting yang bisa dipetik yakni berusaha “menikmati” penyakit sebagai anugerah Allah bagi hamba-hambaNya. Sebagai sebuah anugerah tentu harus diterima dengan lapang dada, senyum, senang dan bahagia, siapa tahu dengan itu semua kita mampu mencapai keridhaan Allah, sesuatu yang paling dicari umat Islam. Di samping menikmati, juga menjadikan penyakit sebagai sarana memperbaiki cara diri memperlakukan fisik sesuai kemampaunnya, tidak menggunakan secara berlebihan. Dan tentu saja, tidak menggerutu, banyak mengeluh, dan membenci orang lain karena penyakit yang diderita. Inilah beberapa hal yang dilakukan untuk menjadi orang yang hebat dalam menyikapi penyakit.&lt;br /&gt;Bagi otodidaktor sejati, penyakit dianggap sebagai ujian hidup yang dijalani dengan penuh kesabaran, berusaha mempelajari cara-cara makan, minum, tidur, dan bekerja agar tidak terulang kembali. Penyakit juga dijadikan sarana mendalami penderitaan, sebab banyak di luar sana orang yang lebih menderita dari yang dialaminya; orang-orang meninggal dalam banjir bandang, orang-orang yang meninggal tertimbun tanah longsor, orang-orang yang meninggal dihempas tsunami, orang-orang yang meninggal menjadi korban gempa, orang-orang yang menderita penyakit lebih parah, orang-orang yang menjalani hidup sangat menyedihkan, memilukan dan penuh penderitaan yang lebih parah dari sekedar ditimpa suatu penyakit tertentu. Dengan menyelami setiap penderitaan, maka hidup akan dijalani dengan arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;e. Belajar dari Film, Televisi dan Dunia Maya&lt;br /&gt;Menonton film, baik di bioskop, televisi, dan  DVD, adalah sebuah hiburan bagi setiap orang. Hiburan ini  bermakna lebih, jika menyaksikan film tidak sekadar menonton, melainkan untuk mendapatkan ilmu, ide, ilham, inspirasi dan pelajaran yang berarti dalam kehidupan, dalam konteks inilah gaya otodidaktor menonton film. Dengan prinsip ini berarti sambil menyelam minum air,  sambil menikmati tontonan yang mengasikkan,  bisa belajar berbagai hal dari film.&lt;br /&gt;Film-film yang ditonton film Barat, mandarin atau Bollywood, dan film Indonesia. Memang geliat film Indonesia sedang dalam proses menjadi raja di negeri sendiri, namun paradigma yang ditawarkan terkadang masih berkiblat ke Barat, hanya sebagian kecil film yang berhasil menggali nilai-nilai keindonesiaan  atau budaya suatu daerah, sayangnya film-film jenis ini biasanya gagal di pasaran, kecuali sinetron, masyarakat Indonesia cendrung menyukai sinetron buatan sendiri. Padahal apa yang diterima dari Barat, khususnya lewat media hiburan adalah “sampah” yang dijual ke negeri kita, “…orang-orang barbar tidak lagi sedang sedang menghantam pintu kota kita, mereka sudah masuk dan makan bersama kita. Nama mereka adalah J.lo, Ja Rule, dan Paris Hilton. Melalui kehebatan mantra jaringan televisi, perdiksi ilmiah mengenai adanya multi jagad dan realita telah diwujudkan melalui sistem hiburan di rumah kita. Realita apa yang anda saksikan? Temptation Island? Extreme make over? Fear Factor? Ah, terlalu banyak realita, tidak cukup waktu.”12&lt;br /&gt;Dalam menonton, otodidaktor tidak sekadar bersifat pasif menjadi obyek suatu tontonan. Misalnya, sekarang sedang booming sinetron yang berlatar belakang Islam, sinetron-sinetron yang ditonton jenis ini harus diperhatikan dengan seksama, apakah Islam sekadar dimanfaatkan untuk hiburan atau benar-benar berusaha disebarkan ke dalam masyarakat dengan cara yang benar. Jika Islam hanya dijadikan tameng, topeng, kedok, figuran, dan pelengkap saja, maka harus dikritisi, sebab bisa merusak nilai-nilai Islam yang hakiki. Bahkan, sebagai otodidaktor dituntut untuk menulis skenario yang benar-benar Islami. Dalam konteks sinetron berhasil diwujudkan Kiamat Sudah Dekat dan Para Pencari Tuhan. Ini bisa dijadikan proyek percontohan dalam menggarap sinetron, sebab nilai-nilai Islam ditampilkan apa adanya, dan juga disukai penonton.&lt;br /&gt;Dalam film-film Box Office Barat, kita belajar bagaimana imajinasi seseorang mengembara demikian jauh, produk-produk teknologi canggih dalam film Matrix, James Bond, Star Wars dan Mission Impossible, bisa dijadikan contoh perkembangan teknologi mampu mengungguli manusia pembuatnya, sehingga manusia dipacu untuk mengembangkan diri sampai taraf  maksimal, sekaligus mengukuhkan secara spritual, agar perkembangan yang ada bisa diikuti lahir dan batin. Film-film Barat yang cendrung menafikan moral, Tuhan dan agama, justru menjadi pemicu untuk memperkuat keislaman dan keimanan seseorang, sebab dengan berpegang pada Islam akan jaya dari luar dan dalam, sedang Barat walau dari luar nampak sukses, gemilang dan berhasil, namun hakikatnya kehidupan mereka hampa, kosong, gersang dari dalam. Dari film-film Mandarin belajar  cara mengoptimalkan fisik lewat ilmu bela diri agar senantiasa sehat. Dari film-film Bollywood belajar cara orang Timur menghadapi kemajuan, apakah dengan mencampakkan harga diri dengan meniru Barat utuh atau tetap berpegang pada jati diri suatu masyarakat atau bangsa dengan mengambil nilai-nilai yang lebih baik dari Barat. Tentu cara setiap orang berbeda dalam belajar pada sebuah film, ini sekadar sebuah ilustrasi umum cara belajar dari film.&lt;br /&gt;Di samping itu, perlu mengingat batasan-batasan untuk menonton, jangan sampai sebagian besar waktu digunakan untuk menonton. Menonton TV sekadar untuk relaksasi dan hiburan sesaat, hal ini diperkuat dengan pernyataan Michael R. LeGeult “Menghempaskan badan di depan televisi dan mengosongkan pikiran dalam jangka waktu pendek setiap hari dapat menyegarkan kita; mengosongkan otak kita dalam jangka waktu yang lama akan merugikan diri kita sendiri.”13&lt;br /&gt;Kini dunia maya di internet menawarkan beragam informasi yang canggih, cepat, aktual dan menampilkan dunia yang luas di layar komputer yang kecil. Dari internet dapat belajar apa saja sesuai bidang yang ingin diperdalam, tinggal mengklik mesin pencari misalnya www.google.co.id, lalu ketik topik apa yang ingin dipelajari, dalam waktu singkat muncul beberapa pilihan yang berkaitan dengan topik tadi, lalu klik topik yang diinginkan, maka informasi akan muncul dengan sendirinya, hanya perlu menyediakan flash disc untuk  mendownload atau simpan di Hp/Ipod yang meory cardnya besar. Dari dunia maya juga bisa mencari teman lewat chating dari seluruh dunia, dan menikmati realitas maya yang berbeda dengan realitas kehidupan sehari-hari. Bagi yang tinggal jauh dari warnet (belum punya Hp atau Ipod yang bisa email), bisa belajar di dunia maya sebulan sekali, sedang bagi yang punya Hp canggih atau Ipod bisa belajar kapan saja sesuai kebutuhan dan kemauan. Ingat efek negatif dunia maya seperti informasi yang berlebihan, pornografi, kriminalitas, penipuan via maya harus dihindari, dan memahami mana yang “palsu dan hakiki”.&lt;br /&gt;Namun  perlu diingat, bahwa proses pembelajaran yang menggunakan media cetak, elektronik, teknologi digital dan internet harus berhati-hati,  “Teori konspirasi dan TV/media sepertinya terus bergandengan tangan. Sekelompok kritikus sosial dan akademisi mengatakan bahwa mereka telah melihat berbagai tanda aliansi kotor antara media, korporasi, dan kekuasaan pemerintah selama lebih dari satu abad. Elemen utama dari semua pintalan konspirasi ini adalah sejenis aliansi antara antara media dan korporasi (termasuk para  pemasang iklan) yang mengendalikan informasi, dan juga cara kita berpikir, atau bahkan mengendalikan kapan kita berpikir.”14&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------&lt;br /&gt;1 Al-Qur’an Terjemahan Berbahasa Indonesia, Penyusun DISBINTALAD, Drs. H.A. Nazri Adlani, Drs. H. Hanafie Tamam, Drs. H.A. Faruq Nasution, (Jakarta, Sari Agung, 2001)&lt;br /&gt;2 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, penerjemah; H. Salim Bahreisy, H. Said Bahreisy, (Surabaya, pt bina ilmu, 1993), hal 321&lt;br /&gt;3 Ismail Haqqi Al-Buruswi , Terjemah Tafsir Ruhul Bayan Juz IX, penyunting Prof. Dr. H.M.D Dahlan, (Bandung, c.v Diponegoro, 1998) hal 148-149&lt;br /&gt;4 Martin J. Grunder Jr, Cara Gampang Menjadi Kaya Melalui Bisnis, 9 Strategi Praktis membangun Bisnis yang Sukses, Penerjemah Lovely, (Bandung: Kaifa 2006), hal 195&lt;br /&gt;5 Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid I, op cit hal 285-286&lt;br /&gt;6 Rhenald Kasali, Ph.D, Change, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2005), hal 50&lt;br /&gt;7 Zamhari Hasan, Bidadari Posmodern, (Yogyakarta: Lintang Sastra. 2006), hal 142-144&lt;br /&gt;8 Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, penerjemah Dedy Ahimsa, editor Purwanto, (Bandung: Nuansa, 2002), hal 120&lt;br /&gt;9 Hasan Hanafi, Cakrawala Baru Peradaban Islam, Revolusi Islam untuk Globalisme, Pluralisme dan Egaliterisme Antar Peradaban, penerjemah Muhammad Saiful Anam dan Abduh, penyunting Arif Fakhruddin, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), Hal 63-64&lt;br /&gt;10  Gordon Dryden &amp; Jeanette Vos, Revolusi Cara Belajar, The Learning Revolution,  Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, penerjemah Word ++ Translation Service, penyunting Ahmad Baiquni, Cet. III Kaifa Bandung 2001,  hal 270&lt;br /&gt;11 John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, penerjemah A Gunawan Admiranto, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal 366-368&lt;br /&gt;12 Michael R. LeGault, Think, penyunting Rani Andriani Koswara, (Jakarta: Trans Media, 2006), Hal 126&lt;br /&gt;13 ibid hal 139&lt;br /&gt;14 ibid hal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian Menulis (KM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS TUHAN&lt;br /&gt;CaraMU sampaikan pesan sungguh memukau, Kau buat diriku tersenyum terima berkah, Kau buat diriku tertawa riang terima hadiah, Kau kabulkan doa tengah malam dalam luapan air dari langit yang melimpah, daku terbang ke langit melewati pelangi, menerobos awan, berkedip bersama bintang, memeluk rembulan.&lt;br /&gt;Dalam sekejap, semua hilang mengerjap, daku tersungkur ke jurang terdalam tak bertepi, terombang ambing dalam terjangan ombak ganas dalam malam sunyi, terjerembab dalam longsor prahara, terhempas ke karang terjal merana, daku terkulai tak berdaya.&lt;br /&gt;Hidup atau mati, mundur atau maju,  diam atau bergerak, stagnan atau kreatif, berhenti atau memulai, vakum atau menulis, sejumlah pilihan terpampang di depan pelupuk mata.&lt;br /&gt;Batas antar pilihan dalam dunia lama nampak jelas, dalam dunia baru menjadi tidak jelas, kabur, abu-abu, samar, memilih tidak memilih sama dengan memilih, memilih untuk memilih sama dengan tidak memilih, menunda sementara waktu, diri berpusar dalam diri, menghirup semua raih apa yang ada, &lt;br /&gt;meminum air kehidupan lepas dahaga.  &lt;br /&gt;Biarkan setiap pilihan berjalan seperti air mengalir ke tengah lautan!&lt;br /&gt;Wonosari, 10 Januari 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengapa Anda Ingin Menjadi Penulis?&lt;br /&gt;Menulis adalah sebuah cara untuk memahami, menginterpretasi, memberi makna, dan mewarnai kehidupan. Dalam konteks ini, menulis bisa dijadikan sarana untuk berkarya, berkreasi, dan mengekplorasi potensi diri yang dianugerahkan Allah, sehingga cita-cita, tujuan mulia, dan harapan mampu diwujudkan menjadi nyata.&lt;br /&gt;Untuk menjadi penulis, perlu menumbuhkan motivasi dalam diri Anda agar mau menulis dan berusaha sekuat tenaga menghasilkan karya tulis yang berkualitas. Di samping itu, juga perlu pemahaman tentang fungsi penulis bagi diri,      orang lain, dan semesta. Dengan motivasi yang kuat dan pemahaman fungsi diri sebagai penulis yang baik, maka menulis bisa dijadikan salah satu keahlian, suatu keahlian yang dibutuhkan bagi yang ingin memberikan sumbangsih pada umat Islam, bangsa Indonesia dan dunia. &lt;br /&gt;a. Menumbuhkan Motivasi untuk Menulis &lt;br /&gt;Hal-hal yang memotivasi orang untuk menulis menurut George Orwell: pertama; Sekadar Egoisme, suatu dorongan dari dalam diri agar terkenal, dianggap jenius dan dikenang saat meninggal dunia, kedua; Antuisme Estetis, suatu dorongan perasaan untuk menyenangi hal-hal yang indah, menginspirasi orang lain dengan keindahan yang diciptakannya, dan kesenangan “mempermainkan” kata, kalimat dan bahasa agar bisa dinikmati dalam nuansa berbeda, ketiga; Impuls Historis, hasrat untuk melihat benda sebagaiman adanya, menemukan fakta-fakta yang sesungguhnya, dan suatu keperluan agar dipahami asal usulnya, keempat; Tujuan Politis; keinginan untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik, berusaha mempelopori suatu perubahan, dorongan menggugah orang lain agar mau mengeksplorasi pikiran-pikirannya, dan hasrat untuk memberikan sumbangsih pada masyarakat dalam bentuk tulisan.1 &lt;br /&gt;Sebagian besar orang ingin menjadi terkenal, siapa tahu dengan menjadi terkenal menjadi lebih bermanfaat. Setiap orang ingin disebut jenius, sebuah pengakuan yang membawa seseorang mampu mengoptimalkan pikiran dan imajinasinya. Setiap orang ingin dikenang, sehingga saat meninggal ada sesuatu yang diwariskan pada generasi mendatang, sesuatu yang siapa tahu membawa arus perubahan baru ke arah yang lebih baik. Ketiga jenis motivasi ini ditumbuhkan dalam diri, disimpan dalam alam bawah sadar untuk bisa diakses kapan saja ketika merasa malas, bosan, jenuh, dan hampir putus asa. &lt;br /&gt;Dalam proses menjadi terkenal, jenius dan dikenang, jangan sampai menghalalkan segala cara; membajak karya orang, lalu mengakuinya sebagai karya sendiri, melakukan apa saja asal terkenal, termasuk menjual harga diri, memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri untuk mencapai tujuan, dan segala tindakan buruk lainnya asal tujuan terlaksana. Semua itu berusaha dihindari, agar ketika terkenal demi asas manfaat, diakui sebagai orang jenius digunakan untuk mencari dan menemukan paradigma baru yang membawa kehidupan pada kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan, sedang dikenang setelah meninggal tentang segala sesuatu yang positif, bernilai, berpengaruh, dan bermakna bagi orang lain.&lt;br /&gt;Keindahan adalah anugerah terbesar dari Allah yang diterima manusia, sebab keindahan membimbing manusia untuk menikmati, berkreasi, mencipta, berkarya, dan memaknai demi kepentingan mereka. Menjadi seorang penulis, salah satunya karena menyenangi setiap keindahan, apa pun bentuknya. Keindahan berusaha ditranformasikan dalam tulisan sastra, karya seni, dan entertainment, sehingga memberi manfaat pada orang banyak, memberi warna pada dunia, dan menghiasi semesta dengan kedamaian. &lt;br /&gt;Dalam menulis, Anda berusaha merangkai kata, dari kata menjadi kalimat, kalimat membentuk wacana atau diskursus, lalu terbentuklah bahasa. Bermain-main dengan kata untuk memperindahnya, sekaligus berusaha memaknai kata-kata yang ada dengan makna baru sesuai perubahan yang dihadapi manusia. Ini semua membimbing pada kreativitas menulis yang terus menerus mengalir seperti aliran air yang mengalir menuju laut, tak ada yang bisa menghalangi, justru penghalang-penghalang diterobos kekuatan air yang dasyat. Dalam konteks ini, wajar jika penulis bisa menghadirkan karya yang abadi.&lt;br /&gt;Seorang penulis berusaha memahami benda sebagaimana adanya, tanpa merekayasa dengan teknologi yang tercanggih sekalipun, sebab benda-benda “menyuarakan” sesuatu yang berbeda pada setiap orang jika dilihat dari sudut pandang berbeda. Ia juga berusaha menemukan fakta-fakta yang sesungguhnya, fakta-fakta yang bisa membantu menuju kebenaran demi kebenaran. Bagaimana menuju kebenaran, jika fakta atau realita yang ada sudah direkayasa untuk kepentingan tertentu, yang pasti kebenaran tak pernah berhasil ditemukan. Menemukan fakta-fakta yang sesungguhnya membutuhkan penelitian yang seksama, penilaian kritis, dan melihat dari bermacam-macam sudut pandang. Kedua hal ini menggiring Anda untuk  memahami sesuatu lebih mendalam, bersikap lebih bijaksana, dan mengetahui sumber asli dari sesuatu yang berusaha ditulis.&lt;br /&gt;Keinginan untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik, berusaha mempelopori suatu perubahan, dorongan menggugah orang lain agar mau mengeksplorasi pikiran-pikirannya, dan hasrat untuk memberikan sumbangsih pada masyarakat dalam bentuk tulisan yang dibuat, itu semua hakikatnya bermakna politis, tapi di sini politik dalam arti luas, bukan sekadar  perebutan kekuasaan semata. &lt;br /&gt;Terkadang situasi politik yang tidak menentu, krisis, dan kekacauan bisa melahirkan para penulis hebat dari rahim sejarah. Ini  terjadi jika para penulis mampu menangkap peluang untuk menjadikan kehidupan manusia ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;Jika Anda sudah memiliki keempat motivasi di atas, paling tidak tiga di antaranya seperti George Orwell, maka yakinkan diri Anda bahwa siapa tahu Andalah orang yang dilahirkan sejarah untuk menjadi penulis seperti yang dilakukan Imam Ghazali, Iqbal, J
